NovelToon NovelToon
Jejak Kaki Di Kotaku

Jejak Kaki Di Kotaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Cintapertama
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: A.T. Setiawan

Menelusuri lorong kota itu setelah sekian lama meninggalkannya mengusik ingatanku.

Beberapa tempat yang tak berubah, mengingatkan sebagian kisah masa laluku yang menempaku menjadi seperti sekarang .... Laki-laki yang masih tetap menjadi dirinya sendiri.

Aku bisa selembut kapas dan berubah sekeras batu padas seiring kedewasaan hidupku yang dikelilingi kepalsuan dan intrik penumpang gelap di sekitarku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A.T. Setiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

4. Dunia Luar

Hari-hari kelas nol kecilku di TK Santa Maria terus berlanjut.

Setelah kekacauan yang kubuat di awal masuk sekolah, suster Brenda ternyata tidak seseram bayanganku. Dia ternyata ramah dan baik jika bertemu denganku.

Mungkin karena dia takut Aku akan mengamuk dan memelorotkan roknya lagi, atau mungkin juga karena Aku kini duduk anteng di kursiku .... Entahlah ....

Seperti Ibu, ... suster Brenda juga pintar mengambil hatiku.

Dia selalu memujiku di depan bocah-bocah yang setiap hari bersamaku di sekolah. Pujian yang pelan-pelan menghilangkan rasa dendamku akibat tabokannya di pantatku dulu.

Siapa sih yang tidak senang dipuji jika selalu nomer satu di sekolah ?

"Selamat Pras,. .... hari ini fotomu paling atas lagi." Kata-kata itu hampir setiap hari keluar dari bibir suster Brenda.

Di kelasku, siapa saja yang paling cepat mewarnai gambar atau menebak warna akan dipasang fotonya di dinding kelas paling atas .... Dan hampir setiap hari Aku selalu jadi nomer satu.

Aku juga paling jago dan cepat menghapalkan lagu atau syair deklamasi yang diajarkan bu guru Nani.

Jika yang lain takut dan malu, Aku tak takut ketika disuruh menyanyikan lagu wajib Taman Kanak-Kanak setiap pagi di depan kelas ....

Taman yang paling indah

hanya taman kami

Taman yang paling indah

hanya taman kami

Tempat bermain

berteman banyak

itulah taman kami

taman kanak-kanak ... !

Dan Aku akan sengaja mengeraskan suaraku setiap kali suster Brenda kulihat melongok dari balik pintu saat Aku sedang menyanyi.

***

Ada tiga temanku yang satu meja denganku di kelas.

Eliza bocah perempuan yang dulu kulihat menangis sendirian di sudut kelas, Erwin bocah berambut jabrik yang gak bisa anteng, dan Bogi bocah yang menurutku sangat cengeng.

Di kelas, Aku sering memisahkan Erwin yang selalu mengusili Bogi dan Eliza. Ada saja kelakuan bocah jabrik itu yang membuat Eliza merajuk, atau Bogi menangis.

Mulai dari merebut pensil warna Eliza, atau mencoreti buku mewarnai Bogi dan segala tingkahnya yang membuat ribut meja kami.

"Pras, .... pensil warnaku diambil Erwin .... !" Eliza selalu mengadu padaku jika dia kehilangan pensil warnanya.

Mendengar aduan itu, Aku cukup mendelik ke arah Erwin yang pasti akan langsung mengembalikan pensil warna Eliza.

Tak heran Eliza tak mau jauh dariku jika di sekolah.

Hanya kepada Aku saja Erwin tak berani berbuat usil. Mungkin dia merasa Aku tak akan diam jika diganggunya, atau mungkin juga karena tahu, Aku murid kesayangan suster Brenda.

Anehnya kami berempat malah menjadi akrab. Terutama Aku dan Erwin.

Jika bel jam istirahat berbunyi, kami berbagi isi bekal jajan atau makanan. Bogi yang sering tidak membawa bekal selalu paling senang jika bel itu terdengar, karena Aku, Eliza, dan Erwin akan menyisihkan bekal kami untuknya.

Bekal Eliza selalu paling enak dan penuh. Hampir tiap hari ayam atau ikan goreng besar dan sayur-sayuran menenuhi kotak bekalnya.

Erwin sepertinya sangat menyukai mie goreng. Kotak bekalnya selalu penuh berisi mie goreng dan telur ceplok mata sapi di atasnya.

Kotak bekalku lebih sering berisi nasi dengan sejumput abon atau dendeng ikan laut buatan Ibu.

Itulah isi kotak bekal yang sebagian kami sisihkan untuk Bogi, setelah kami tahu kotak bekal Bogi kadang hanya berisi nasi kecap dan kerupuk .... Dan yang sering sih dia tidak membawa kotak bekal.

Eliza-lah yang pertama kali mengajak membagikan isi bekalnya ketika suatu hari melihat Bogi terus memperhatikan kami makan.

"Bagi bekal kalian juga untuk Bogi, kasihan dia belum makan dari pagi !" bentaknya saat Aku dan Erwin hanya diam memperhatikan dia membagikan isi bekalnya ke Bogi.

Aku dan Erwin tergopoh seperti terkena hipnotis si cantik Juwita dalam dongeng majalah Bobo.

Mengikuti kata-kata Eliza, kami berdua mengikutinya membagikan sebagian isi bekal kami ke Bogi.

Sejak itu, bentakan Eliza dan tatapan senang Bogi mengajariku tentang sesuatu.

Sesuatu yang membuat isi hatiku melayang ketika diriku mampu membagikan sebagian yang kupunya kepada yang membutuhkan dan mau menerimanya.

***

"Kita ke penjual mainan Pras." Setelah jam sekolah berakhir, Aku dan Erwin sering keluyuran ke sana sini jika belum ada yang menjemput kami berdua.

Biasanya Aku mengikuti Erwin menghabiskan waktu di depan penjual mainan melihat-lihat gambar kertas seukuran kotak korek api..

"Pilih gambar ini Pras." Bocah jabrik itu jago sekali jika memilih gambar yang dibelinya untuk bermain umbul.

Permainan dua gambar kertas yang disatukan dan dilemparkan ke atas itu dikenalkan Erwin padaku saat pertama kali Aku bermain bersamanya.

Gambar yang jatuhnya tidak terbalik adalah yang menang, dan gambar yang kalah menjadi milik si pemenang.

Entah bagaimana Erwin selalu menang saat bermain umbul denganku.

Sudah banyak gambar umbul yang dimenangkannya. Ada ratusan gambar umbul yang menumpuk di tasnya.

Selain umbul, Erwin juga mengajariku bermain kelereng. Jika sudah bosan keluyuran atau bermain umbul, kami membuat lingkaran di tanah. Menarik garis sepuluh langkah dari lingkaran itu, lalu melemparkan kelereng ke dalam lingkaran dari garis yang kami buat.

Kelereng yang masuk duluan ke lingkaran dipukulkan ke kelereng lain yang ada di luar lingkaran dengan menjentikkan ujung jari tengah atau ibu jari.

Biasanya saat kami sedang asik bermain, Ibuku atau Ibu Erwin yang datang menjemput membubarkan permainan kami.

Ibuku dan Ibu Erwin juga sudah saling mengenal. Kebetulan rumah kami satu kampung. Hanya rumah Erwin ada di luar komplek rumah sakit.

"Perhatikan jalan, jangan ndlenger !"

Jika Ibuku atau Ibu Erwin sudah menjemput, mereka akan bergantian mengingatkan kami berdua yang berjalan di depan saat pulang ke rumah sambil mengobrol.

***

"Antar Aku Bi !" Setelah tidur siang, jika tidak hujan Aku akan menunggu pintu gerbang belakang rumah sakit dibuka pak Darso, dan mulai ribut meminta bibi Yanti untuk mengantarku ke rumah Erwin karena Ibu belum membolehkan Aku ke luar rumah sendirian.

Sejak Aku sekolah, waktu bermainku dengan Elsi dan Christ berkurang. Aku bosan bermain dengan mereka yang selalu mengajakku bermain masak-masakkan atau boneka.

Apalagi Aku harus selalu mengalah jika Christ mulai menyuruhku pura-pura berdandan jadi mbok-mbok penjual sayur saat bermain masak-masakan.

Yang menyebalkan, Christ akan sengaja berteriak kencang pura pura menangis supaya didengar Ibu jika Aku menolak permintaannya.

Itulah kenapa Aku sangat senang jika sudah melewati pintu gerbang yang terbuka.

Bermain di luar sana dengan teman sepantaran membebaskanku untuk tidak perlu mengalah.

Dekat rumah Erwin ada lapangan terbuka yang setiap sore menjadi arena bermain siapa saja.

Di situlah Aku mulai mengenal kecepatan, kekuatan, dan kerja sama untuk memenangkan suatu permainan tanpa harus ada yang perlu mengalah. Semuanya akan berusaha sekuat mungkin untuk menang.

"Ayo Pras .... Tendang !" Bibi Yanti yang menemaniku bermain, berteriak gembira jika Aku mampu merebut bola dari lawanku saat bermain bola.

Dia juga tertawa senang jika Aku menang adu lari saat bermain kucing-kucingan.

Jika Aku jadi kucing, Aku mudah menangkap lawanku yang jadi tikus. Dan jika Aku jadi tikus, lawanku sampai ngos-ngosan tak akan bisa menangkapku.

"Yuk pulang Pras sudah sore, nanti ibu marah."

Kegembiraan di luar sana berakhir jika bibi Yanti mengajakku pulang setelah dilihatnya Aku puas bermain.

***

1
Dhatu Lukita
⭐5 sama 🌹 buatmu thorr,💪💪💪
Dhatu Lukita
ahhh matakuuu 😄. kukira ngac*ng🤭🙏
Wawan: 🤭🤭🤭... ada tuh di Gugel ngeceng ... tren 80an .... sekarang jadi mejeng kali biar gak salah baca 😄🤣
total 1 replies
Dhatu Lukita
🌹❤️
Dhatu Lukita
klo di daerah ku ndableg itu nakal, heheheh
Wawan: angel dikandani 😄✍️
total 1 replies
Dhatu Lukita
oh iya2 ceritanya tahunny masih dibawah 2000 ya, jaman dulu kata mak sih udh banyak uang 200 rupiah ya bang.
Wawan: SD sangu masih 5 perak 🤣🤣🤣
total 1 replies
Dhatu Lukita
menjejeli wae lo😄
Dhatu Lukita: nyuweni og😄
total 2 replies
Wawan
Gug gug ✍️
Zed Analytical Number Nine
boy itu hewan apa?
penulismisterius
ini walaupun latarnya tahun 80, tapi jokes dan ceritanya tidak lekang oleh waktu. tetap cocok di baca kapanpun 🐳🐳
hehe ada ada aja kelakuan Pras sama teman-temannya
Wawan: Tengs atensi nya .... 💪✍️
total 1 replies
penulismisterius
tolong Erwin di karungin dulu, biar tidak mengganggu Eliza🐳
Wawan: 🤣🤣🤣... mau bagaimana lagi .... dalam satu tongkrongan pasti ada biang kerok
total 1 replies
penulismisterius
ternyata ospek jaman dulu begini😭,
sebagai gen z merasa bersyukur karena ospek paling pake name tag kardus, cari tanda tangan osis, 😭😭🐳
Wawan: Wah pokoknya penuh dengan rasa dendam turun temurun 🤣✍️
total 1 replies
SenandikaMaret
malah jadi bahan tontonan 😅
Wawan: bocah laki-laki baru gede tahun 90an ya kayak gini hiburannya sebelum ada hp dan segala macam digital
total 1 replies
SenandikaMaret
berita bohong itu biasanya emang lebih dipercaya 😂 sabar yaa 🤣
Wawan: Begitulah putih abu-abu .... menyenangkan👍
total 1 replies
penulismisterius
3 kali bunga mawar untuk pras, semangat terus thor updatenya
penulismisterius: yoiii sama-sama , thor wawan
total 2 replies
Tio Buki
Ikut meramaikan ya thor🙏🙏🙏🙏🙏
Tio Buki
Bagi dong beberapa ekor
Tio Buki
Ayuk, kemana
Tio Buki
Hahaha. Hahaha.Hahaha...
Tio Buki
Eh, malah minta tolong dia
Tio Buki
Rasain kamu🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!