Dulu, demi ambisi karier militer, Kolonel Victor melepaskan Ayu, cinta sejatinya. Lima tahun berlalu dalam penyesalan, takdir seolah mempermainkan Victor saat keluarganya justru mualaf setelah Ayu telanjur menikah dengan pria lain.
Dipertemukan kembali dalam satuan Markas Militer yang sama. Victor harus menelan pil pahit melihat Ayu yang kini begitu anggun berhijab dan setia pada suaminya.
Namun, takdir tidak pernah benar-benar berhenti berputar. Lalu, sebuah masalah besar telah terjadi. Ketika pertemuan dadakan yang tak pernah Victor bayangkan membuatnya berpikir.
Akankah ini menjadi kesempatan kedua bagi Victor untuk menebus dosa masa lalunya? Sanggupkah ia meruntuhkan benteng hati Ayu yang terlanjur mati rasa akibat kekecewaan masa lalu? Ataukah Victor harus mengikhlaskan bahwa beberapa dermaga memang hanya diciptakan untuk disinggahi, bukan untuk menjadi pelabuhan terakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: KETIKA EGO RUNTUH DI DEPAN KETULUSAN
Tebakan Ayu mengenai kondisi putranya rupanya keliru besar. Rasa hangat yang menjalar di tubuh kecil Arkan saat digendong pulang oleh Kolonel Victor tadi malam, ternyata bukanlah sebatas rasa hangat biasa akibat kelelahan bermain setelah tiga hari menahan rindu. Ketika sunyi malam merayap semakin dalam dan waktu menunjukkan tepat pukul tiga dini hari, suasana di dalam kamar dinas yang tenang itu mendadak berubah menjadi mencekam.
Ayu tersentak bangun dari tidurnya karena merasakan hawa panas yang luar biasa menyengat dari balik selimut. Saat menyentuh kulit putranya, Arkan sudah berada dalam kondisi demam tinggi yang sangat hebat. Tubuh mungilnya gemetaran, napasnya memburu satu-satu, dan bibir keringnya terus-menerus mengigau gelisah, memanggil satu kata dengan nada merintih.
"Ayah... Ayah..."
Panik luar biasa seketika menyergap dada Ayu. Ia segera mengambil termometer digital dari kotak obat dan menyisipkannya ke ketiak sang anak. Begitu alat itu berbunyi, angka yang tertera di layar LCD membuat jantung Ayu serasa berhenti berdetak 39,4 derajat Celsius. Angka yang sangat krusial dan berbahaya untuk anak seusia empat tahun.
Dengan tangan yang gemetar hebat dan air mata yang mulai merebak, Ayu menyambar ponselnya. Ia langsung mencari nama suaminya di daftar kontak. Di dalam pesan singkat terakhir beberapa hari lalu, suaminya yang bekerja sebagai staf administrasi di rumah sakit pusat ibu kota bagian timur itu mengatakan bahwa malam ini ia sedang mendapatkan giliran dinas malam. Ayu menekan tombol panggilan. Nada sambung terdengar, namun sampai panggilan itu terputus sendiri, tidak ada jawaban.
Ayu mencoba lagi. Dua kali, tiga kali, hingga belasan kali panggilan darurat ia layangkan di tengah kepanikan buta. Hasilnya nihil. Tak satupun panggilan telepon dari istrinya yang sedang ketakutan setengah mati diangkat atau direspons oleh pria itu. Hingga akhirnya, Ayu berada di ambang batas kesabarannya sebagai seorang wanita. Didorong oleh rasa emosi yang meluap-luap dan rasa kecewa yang telanjur berkarat di dalam dada, Ayu mengetik sebuah pesan singkat berisi makian dan tumpahan kemarahan yang sangat kasar, lalu mengirimkannya pada suaminya. Persetan dengan etika, saat ini anaknya sedang bertaruh nyawa dengan suhu tubuh yang membakar.
Arkan terus mengigau dengan wajah yang kian memucat pasi. Ayu meremas ponsel yang ia genggam dengan frustrasi, bingung harus berbuat apa lagi. Haruskah ia menghubungi Yunita? Tidak, otak intelijennya langsung menolak. Suami Yunita sedang tidak berada di tempat, dan Yunita sendiri pasti repot mengurus Alif. Pikiran Ayu kemudian bergeser pada satu nama, yaitu Shaneen. Ya, Lettu dr. Shaneen adalah pilihan terbaiknya saat ini. Walaupun Shaneen adalah seorang dokter militer spesialis kesehatan fisik dan rehabilitasi yang tidak secara khusus menangani kasus anak, setidaknya sebagai seorang dokter, sahabat karibnya itu pasti tahu langkah-langkah medis darurat apa yang harus diambil untuk menurunkan demam tinggi sebelum terjadi kejang.
Ayu menekan nomor Shaneen dengan sisa-sisa harapannya. Beruntung, pada dering ketiga, panggilan itu langsung dijawab. Mendengar suara Ayu yang gemetar dan terisak, Shaneen tidak membuang waktu untuk banyak bertanya melalui telepon. Dokter wanita itu langsung menyambar jaket dan tas medis daruratnya, lalu segera membelah kegelapan malam ksatrian menuju ke rumah dinas Ayu.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Ayu?" tanya Shaneen dengan nada suara yang tenang namun tegas, mencoba meredam kepanikan di dalam kamar.
Tangan cekatan Shaneen bergerak cepat menempelkan stetoskop di dada Arkan, memeriksa detak jantung anak itu yang berpacu cepat, lalu menyentuh kening serta lipatan lehernya untuk merasakan radiasi panas tubuh sang bocah.
Ayu yang berdiri di tepi ranjang dengan mata sembap hanya bisa menggelengkan kepala lemah.
"Ceritanya panjang, Nin..."
Shaneen menghentikan gerakannya sejenak, lalu menatap tajam mata sahabatnya dengan sorot menyelidik khas seorang dokter sekaligus seorang intelijen yang peka.
"Jangan bilang kamu sedang menyembunyikan sesuatu yang besar dari aku, Ayu."
Pertanyaan telak dari Shaneen itu seolah menjadi hantaman terakhir yang meruntuhkan seluruh sisa kekuatan dan kepura-puraan Ayu. Pertahanan emosional yang selama bertahun-tahun ia bangun dengan kokoh demi terlihat sempurna di mata publik seketika tumbang total. Ayu tersungkur, mendudukkan tubuhnya yang lemas di atas lantai semen yang dingin, bersandarkan dinding tembok kamar yang kaku. Kedua tangannya menutupi wajah seiring dengan tangisan yang pecah sejadi-jadinya. Isak tangisnya terdengar begitu pilu dan menyedihkan, menyuarakan rasa lelah yang teramat sangat atas garis hidupnya.
Melihat pemandangan itu, Shaneen tentu saja langsung panik. Namun, ia tetap mendahulukan tugas medisnya. Dengan cekatan, Shaneen mengambil handuk kecil yang telah dibasahi air hangat, lalu mengompres dahi, kedua ketiak, serta lipatan leher Arkan—titik-titik pembuluh darah besar yang paling efektif untuk menguapkan panas tubuh. Setelah kondisi Arkan sedikit lebih tenang di bawah pengaruh kompresan, Shaneen beranjak mendekati Ayu. Ia duduk di lantai dingin itu, menarik tubuh Ayu ke dalam pelukannya, dan mengelus lembut pundak sahabatnya yang terguncang hebat.
"Ada apa, Ayu? Ayo, katakan sama aku. Kita ini sahabat, jangan simpan beban ini sendirian," bisik Shaneen lembut.
Di dalam dekapan hangat itu, dengan suara yang tersendat-sendat oleh sisa tangis, Ayu akhirnya menumpahkan rahasia yang selama ini ia pendam sendiri. Ia menceritakan kronologi kejadian yang terjadi belakangan ini di ksatrian. Ayu mengaku bahwa Arkan entah bagaimana caranya telah menganggap Kolonel Victor sebagai ayahnya. Padahal, jika dihitung, Victor baru satu hari mengajak anak itu bermain di ruang kerja Mako setelah pertemuan tidak sengaja mereka di lapangan hijau.
"Tapi sejak awal pertemuan itu, Arkan selalu dengan sangat antusias menceritakan sosok 'Ayah Besar' itu padaku, Shaneen," ucap Ayu lirih. "Dan kemarin malam, sekitar jam tujuh, Arkan tertidur di Mako dan digendong pulang sendiri oleh kakakmu sampai ke depan pintu rumah ini."
Shaneen memejamkan matanya erat-erat mendengarkan penuturan itu. Jantungnya berdenyut kencang. Ia tahu betul bagaimana masa lalu antara kakaknya dan Ayu, dan ia tidak menyangka takdir akan mempermainkan mereka seketat ini di Bukit Raya. Sebagai seorang dokter dan wanita dewasa, Shaneen langsung mengambil keputusan logis.
Untuk kali ini, ia menyarankan agar Ayu kembali menghubungi suaminya di ibu kota timur guna melaporkan kondisi kritis Arkan. Ayu hanya bisa tersenyum pahit, menyorongkan ponselnya yang menunjukkan puluhan riwayat panggilan darurat yang diabaikan dan tidak pernah diangkat oleh ayah kandung Arkan.
Tak lama kemudian, ponsel di saku jas Shaneen bergetar. Layarnya menampilkan nama suaminya, Letkol Reyes. Begitu panggilan diangkat, suara berat Reyes terdengar di seberang sana, mengabarkan bahwa putri kecil mereka, Rania, terbangun dan menangis histeris mencari ibunya. Apalagi anak kembar mereka yang lain juga masih sangat kecil dan membutuhkan ASI serta perhatian intensif di jam-jam krusial seperti ini.
Shaneen menatap Ayu dengan perasaan yang luar biasa dilematis. Sebagai seorang ibu dari anak-anak yang masih balita, ia harus pulang. Namun sebagai seorang sahabat, ia tidak tega meninggalkan Ayu sendirian dalam kondisi rapuh seperti ini.
"Ayu, maafkan aku... Rania menangis di rumah," ucap Shaneen dengan gurat penyesalan yang mendalam. Ia membereskan peralatannya, lalu menggenggam erat tangan Ayu. "Bibi Ningsih sudah kamu pecat, kan? Ini obat penurun panas sirup, coba suapkan pelan-pelan kalau Arkan terbangun. Ingat pesan aku, jika sampai jam lima pagi nanti demamnya tidak kunjung turun atau justru bertambah tinggi, jangan tunggu lama-lama lagi. Segera bawa Arkan ke poliklinik ya?"
Ayu hanya bisa mengangguk pasrah. "Iya, Shaneen. Terima kasih banyak. Pulanglah, kasihan anak-anakmu."
Selama perjalanan pulang menyusuri jalan setapak ksatrian yang gelap dan berkabut, pikiran Shaneen sama sekali tidak bisa tenang. Cerita pilu Ayu mengenai Arkan yang mengigau memanggil "Ayah" dan bagaimana kakaknya, Victor, terlibat dalam pusaran emosi anak itu terus-menerus berputar di dalam kepalanya. Shaneen tahu betul watak kakaknya, Victor bukanlah tipe pria yang suka mengurusi anak kecil, kecuali jika anak itu memiliki keterikatan batin yang teramat kuat dengan wanita yang paling dicintainya seumur hidup.
Langkah kaki Shaneen mendadak berhenti di sebuah persimpangan jalan aspal ksatrian. Bukannya berbelok ke arah kanan menuju rumah dinasnya sendiri tempat Reyes dan anak-anaknya berada, Shaneen justru memutar langkahnya menuju ke arah kiri. Jalur itu mengarah langsung ke sebuah rumah tengah-tengah yang berdiri kokoh, besar, luas, dan paling megah di deretan protokoler. Ya, bangunan itu adalah rumah jabatan resmi milik Komandan Pusat Pendidikan Militer, rumah milik Kolonel Victor.
Shaneen melangkah tegas menghampiri pos penjagaan depan rumah jabatan tersebut. Dua orang prajurit yang sedang piket malam langsung berdiri tegap dan memberikan hormat militer yang sempurna saat mengenali bahwa wanita yang datang adalah Lettu dr. Shaneen, adik kandung dari komandan mereka.
"Siap, selamat malam, Dokter! Ada yang bisa kami bantu?" tanya salah satu prajurit jaga dengan sigap.
"Katakan pada Komandan... adiknya yang bernama Shaneen berada di depan dan membutuhkannya sekarang juga. Ini urusan darurat," ucap Shaneen dengan nada suara yang tidak menerima bantahan.
"Siap, laksanakan!"
Prajurit itu segera berlari masuk ke dalam rumah jabatan melalui pintu samping. Tidak butuh waktu lama—mungkin kurang dari dua menit—pintu utama rumah jabatan yang besar itu terbuka lebar. Beginilah kehidupan dan insting yang tertanam kuat di dalam diri seorang perwira menengah; mereka selalu siap bergerak dalam hitungan detik meski di jam tidur sekalipun. Victor keluar dengan masih mengenakan celana kain hitam dan kaus dalam militer berwarna hijau tua yang mencetak jelas lekuk tubuh tegapnya.
"Shaneen? What happened? Kenapa kamu ke sini jam segini? Ada masalah di rumah dengan Reyes?" tanya Victor beruntun dengan raut wajah yang tampak cemas melihat kedatangan adiknya yang mendadak.
Shaneen tidak membalas pertanyaan itu dengan basa-basi. Ia melangkah satu tapak lebih maju, menatap lurus ke dalam sepasang manik mata kakaknya yang tajam.
"Kakak sekarang juga, lebih baik Kakak pergi ke rumah Ayu," ucap Shaneen dengan nada dingin namun penuh penekanan. "Arkan sekarang sedang mengalami demam tinggi yang sangat kritis. Dan sejak tadi dia terus-menerus mengigau gelisah memanggil sebutan Ayah. Karena Kakak yang sudah memulai semua permainan emosi ini sejak awal, jadi sekarang Kakak harus bertanggung jawab atas kondisi batin anak itu."
Mendengar kalimat bahwa Arkan—putra dari Ayu—sedang didera demam tinggi dan terus mengigau memanggil dirinya, detak jantung Victor seolah berhenti berdenyut selama satu detik. Topeng ketenangannya pecah seketika. Tanpa berkata-kata lagi, Victor langsung berbalik badan masuk ke dalam rumah untuk menyambar kemeja seragam harian dan jaketnya. Hanya dalam waktu singkat, ia sudah kembali keluar, berjalan dengan langkah-langkah lebar yang tergesa-gesa ditemani oleh ajudan setianya, Sertu Johan, yang juga langsung siaga di belakangnya.
Sementara itu, di dalam kamar rumah dinasnya, Ayu yang mendengar suara ketukan pintu depan yang beritme cepat seketika didera rasa panik yang luar biasa. Kondisi di dalam kamar saat ini sedang sangat kacau; Arkan baru saja terbangun sesaat hanya untuk memuntahkan seluruh isi perutnya ke atas lantai dan sebagian mengenai seprai kasur. Ayu berada dalam titik terendahnya sebagai seorang ibu, ia merasa begitu panik, lelah, dan tidak tahu harus mendahului pekerjaan yang mana—apakah harus membersihkan muntahan anaknya terlebih dahulu, mengurus Arkan yang kembali lemas, atau membuka pintu depan.
"I-iya, sebentar... tunggu dulu," ucap Ayu dengan nada suara yang bergetar hebat dibarengi oleh isak tangis yang tertahan di tenggorokan.
Dengan tangan yang masih membawa kain lap basah, Ayu melangkah setengah berlari menuju pintu depan dan memutar anak kuncinya. Begitu daun pintu terbuka, Ayu seketika terkesiap mundur satu langkah. Matanya membelalak kaget melihat siapa sosok yang kini berdiri tegak di ambang pintunya di jam empat pagi yang buta ini.
"Komandan... Maaf, untuk apa... untuk apa Anda kemari?" tanya Ayu terbata-bata, mencoba menegakkan wibawa militernya di depan sang pucuk pimpinan ksatrian meski wajahnya sudah berantakan oleh air mata.
Victor sama sekali tidak menjawab pertanyaan formal kedinasan tersebut. Pria itu hanya memandang Ayu dengan pandangan mata yang menyiratkan rasa marah yang teramat sangat—marah bukan karena benci, melainkan marah melihat bagaimana wanita yang dicintainya ini mengabaikan kesehatannya sendiri demi menanggung beban seberat ini sendirian.
Ini sama sekali bukan waktu yang tepat bagi Ayu untuk mengajukan pertanyaan birokrasi yang konyol. Tanpa menunggu dipersilakan masuk atau meminta izin dari sang pemilik rumah, tubuh tinggi besar Kolonel Victor langsung menerobos masuk begitu saja melewati bahu Ayu. Langkah kaki panjangnya berderap cepat menuju ke arah kamar utama, mengikuti insting tajamnya yang langsung tertuju pada ranjang tempat di mana Arkan sedang terbaring lemah.
Begitu matanya menangkap kondisi fisik Arkan yang sangat memprihatinkan—dengan bibir pecah-pecah, wajah pucat pasi, dan napas yang sesak—Victor tidak menunjukkan jijik sedikit pun pada sisa muntahan yang ada di sekitar ranjang. Dengan gerakan yang sangat cekatan namun penuh kelembutan, Victor meletakkan jaket militernya di kursi, lalu tangannya bergerak membuka seluruh kancing kemeja seragam lorengnya sendiri hingga terlepas, menyisakan kaus dalam hijau tipisnya.
Setelah itu, Victor membungkuk di atas ranjang, dengan hati-hati membuka pakaian luar yang dikenakan oleh Arkan. Tanpa ragu, Victor mengangkat tubuh mungil yang panas membara itu ke dalam dekapannya, menempelkan dada telanjang Arkan langsung pada permukaan kulit dadanya sendiri yang kokoh.
Sebagai pria yang cerdas, Victor tahu betul tindakan darurat ini, metode skin-to-skin contact atau kontak antar-kulit. Walaupun ia tahu betul bahwa dirinya bukanlah ayah kandung dari anak ini, Victor sangat berharap bahwa transfer suhu tubuh dari badannya yang sehat dan bugar dapat membantu meredam dan mengurangi gejolak demam tinggi yang sedang membakar pembuluh darah Arkan.
Arkan yang merasakan kehangatan fisik yang sangat ia kenali dan rindukan, perlahan menghentikan igauan gelisahnya. Tangan mungilnya yang lemas bergerak refleks mencengkeram erat pinggiran kaus dalam Victor, lalu menyandarkan kepalanya yang panas di ceruk leher kokoh sang Kolonel. Napas anak itu berangsur-angsur mulai stabil di dalam dekapan raksasa sang perwira.
Sembari terus menepuk-nepuk pelan punggung Arkan dengan tangan kanannya agar anak itu kembali tenang, Victor memalingkan wajahnya menatap Ayu yang masih berdiri mematung di ambang pintu kamar dengan tubuh gemetaran.
"Istirahatlah, Ayu..." ucap Victor dengan nada suara bariton yang melunak drastis, melepaskan seluruh atribut kepangkatan militernya di dalam kamar itu. Sebelum Ayu sempat memprotes, tangan kiri Victor yang bebas bergerak ke depan, menepuk pelan dan lembut pucuk kepala Ayu selama beberapa detik—sebuah sentuhan penyayangan yang teramat dalam yang sudah lima tahun ini tidak pernah Ayu rasakan lagi—sebelum akhirnya Victor kembali mengalihkan fokus dan perhatian penuhnya pada bocah kecil yang ada di dalam gendongannya.
Tentu saja, pemandangan magis yang tersaji di depan matanya malam ini justru jauh lebih mengiris-iris hati Ayu. Hal itu membuat dadanya terasa sesak berlipat ganda, memicu keinginan kuat di dalam dirinya untuk menangis sejadi-jadinya meratapi nasib. Kontras kenyataan hidup menamparnya dengan sangat telak dan menyakitkan.
Beberapa menit yang lalu, ponsel di atas nakasnya akhirnya bergetar, menampilkan satu pesan balasan singkat dari suaminya yang baru saja bangun atau sengaja membaca makian Ayu. Pria sipil yang berstatus sebagai suaminya itu hanya menuliskan kalimat balasan yang sangat santai, dingin, dan egois.
"Itu urusanmu sendiri, Ayu. Siapa suruh kamu keras kepala memilih menerima penempatan kerja yang letaknya begitu jauh dari kota pusat? Urus anakmu sendiri, aku sedang sibuk di rumah sakit." Sebuah kalimat yang meremukkan sisa-sisa harga diri Ayu sebagai seorang istri.
Sementara itu, lihatlah pria yang kini berada tepat di hadapannya. Pria yang berstatus sebagai masa lalunya. Kolonel Victor, dengan segala kemegahan pangkat melati emas dan wibawa militernya yang ditakuti seluruh ksatrian, justru dengan sigap dan tanpa berpikir dua kali langsung datang menerobos badai malam menuju ke rumah dinasnya saat mendengar kabar bahwa Arkan sedang sakit.
Tak ada satu pun kata keberatan atau keluhan yang keluar dari bibir tegas pria itu. Bahkan, pria itu rela menanggalkan kemeja seragamnya, duduk di tepi ranjang yang kotor demi bisa melakukan metode skin-to-skin dengan Arkan guna meredam demam pada anaknya. Di dalam keheningan sepertiga malam itu, Ayu hanya bisa menggigit bibirnya erat-erat untuk menahan jeritan tangisnya, menyadari bahwa pria yang selalu ia anggap "menyebalkan" dan kaku itu sesungguhnya memiliki ketulusan hati yang luasnya melampaui samudera yang memisahkan masa lalu mereka.