Tujuh tahun lalu, kerasnya hidup memaksa sepasang kekasih berpisah jalan. Kini, mereka kembali dipertemukan di puncak kesuksesan. Alesha seorang Direktur wanita yang tangguh, dan Zehar telah menjadi perwira polisi yang mapan.
Kesempatan kedua pun diambil. Namun tepat saat hubungan mereka kembali bertaut, sebuah utang budi dari masa lalu datang menagih.
Alesha dihadapkan pada dua pilihan, antara harus berbakti pada perjodohan orang tua, atau mempertahankan cinta sejatinya.
Saat pangkat dan jabatan sudah di tangan, mampukah mereka memenangkan takdir yang dulu sempat gagal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berkirim Pesan di Malam Hari
Malam itu suasana di ruang piket markas kepolisian terasa sunyi namun tetap hidup dengan aktivitas rutin.
Jam dinding baru menunjukkan pukul sembilan lewat tiga puluh menit, namun bagi petugas yang bertugas malam, waktu terasa berjalan lambat dan terasa hening.
Zehar Pradipta duduk di depan meja kerja, mengenakan seragam dinas lengkap, matanya sesekali melirik ke arah buku laporan yang terbuka di hadapannya, namun perhatiannya tidak sepenuhnya terpusat pada tulisan di atas kertas itu.
Di samping tangannya tergeletak ponsel pribadi yang sejak tadi ia genggam sesekali, jemarinya bergerak ragu‑ragu seolah ingin mengetik sesuatu namun terus menahan diri.
Sejak kemarin, ia sudah menyimpan nomor baru itu di dalam daftar kontaknya, namun baru malam ini ia memberanikan diri untuk mengirim pesan pertama.
Ia tidak ingin terlihat terlalu tergesa‑gesa, tapi juga tidak ingin membiarkan kesempatan itu berlalu begitu saja.
Setelah menarik napas panjang dan mengusap wajahnya sejenak untuk menenangkan diri, jari‑jarinya mulai bergerak menekan tombol‑tombol di layar ponsel.
Ia mengetik dengan hati‑hati, memilih kata‑kata yang sederhana namun sopan, tak ingin membuat Alesha merasa terganggu atau tertekan.
Selamat malam, Alesha. Ini aku, Zehar.
Semoga hari ini aktifitasmu berjalan lancar dan harimu tidak terlalu melelahkan.
Setelah mengirimnya, Zehar meletakkan ponsel itu di atas meja, lalu memalingkan wajah seolah ingin sibuk dengan tugasnya lagi.
Namun, matanya sesekali melirik ke arah layar, menunggu balasan yang terasa seperti memakan waktu berjam‑jam meski baru beberapa menit berlalu.
Di dalam hatinya, ia merasa seperti pemuda yang baru pertama kali menyatakan perasaannya. ia terlihat sangat gugup, penuh harap, dan takut akan jawaban yang mungkin diterimanya.
Tak lama kemudian, getaran halus terdengar dari atas meja. Zehar segera meraih ponsel itu dengan gerakan yang tergesa namun berusaha terlihat santai.
Saat membaca balasan yang masuk, sudut bibirnya terangkat perlahan membentuk senyum yang tidak bisa ia sembunyikan.
Dari: Alesha
Selamat malam juga, Zehar. Hari ini cukup sibuk, tapi berjalan dengan baik. Terima kasih sudah menanyakan kabar. Bapak Akp sendiri sedang apa malam ini?
Percakapan itu pun dimulai.
Begitu membaca balasan, ia tidak bisa menahan senyum lagi, bahkan menggelengkan kepala pelan sambil menahan tawa kecil. Punggungnya sedikit melunak, tidak setegap tadi.
Dari: Zehar
Saya sedang bertugas jaga piket di markas. Malam ini tidak ada penugasan ke luar, hanya duduk di ruang pengawasan, memeriksa laporan harian dan memantau keadaan wilayah. Cukup tenang, tapi terasa agak sepi juga. Sudah makan malam belum?
Dari: Alesha
Baru saja selesai makan. Walau hanya lauk sederhana saja, tidak ada waktu untuk menyiapkan makanan yang lebih banyak. Kamu sendiri sudah makan?
Zehar menoleh ke arah meja tempat sisa makanannya masih tergeletak, lalu kembali menatap layar dengan pandangan yang lebih santai dan hangat.
Dari Zehar:
Sudah, tadi dibagikan konsumsi petugas. Cukup mengenyangkan. Bagaimana cuaca di sana? Di sini terasa agak dingin dan berangin, sepertinya sebentar lagi akan turun hujan.
Dari: Alesha
Di sini juga sama, anginnya mulai terasa kencang. Sudah agak gelap dan langitnya tertutup awan tebal. Mudah-mudahan tidak hujan deras sampai pagi.
Zehar mengangguk sendiri seolah setuju, lalu menyandarkan kepalanya sedikit ke sandaran kursi, perasaan tegang yang tadi ada perlahan hilang.
Dari: Zehar
Semoga saja. Kalau hujan lebat nanti jalanan jadi licin dan macet. Ngomong-ngomong, apa saja kesibukanmu hari ini selain urusan kantor?
Dari: Alesha
Hari ini ada rapat panjang dengan mitra usaha dari luar kota. Setelah itu harus memeriksa tumpukan berkas dan laporan operasional yang banyak sekali. Rasanya baru benar-benar selesai saat jam delapan malam. Kadang merasa lelah, tapi tidak apa-apa, sudah menjadi kebiasaan.
Sorot mata Zehar terlihat lebih lembut dan penuh perhatian, seolah bisa membayangkan bagaimana lelahnya wanita itu. Ia mengetik dengan lebih lambat, memilih kata yang penuh rasa peduli.
Dari: Zehar
Pantas saja. Pekerjaanmu itu memang menuntut perhatian dan waktu yang banyak. Jangan lupa istirahat yang cukup ya, jangan sampai memaksakan diri untuk bekerja terlalu keras. Perhatikan juga kesehatanmu.
Dari: Alesha
Terima kasih perhatiannya. Kamu juga, meskipun sedang bertugas, usahakan tetap menjaga kondisi tubuh. Malam ini sampai jam berapa bertugasnya?
Pemuda itu kemudian melirik jam dinding yang tergantung di dinding, lalu kembali menatap layar dengan senyum yang lebih lebar.
Dari: Zehar
Sampai jam enam pagi. Tapi karena tidak ada tugas lapangan, saya bisa sesekali beristirahat sebentar di ruang istirahat kalau sudah tidak ada laporan masuk. Jadi masih cukup aman.
Dari: Alesha
Syukurlah kalau begitu. Semoga malam ini berjalan lancar tanpa ada gangguan yang mengganggu ketenanganmu.
Ia menatap layar lama sekali, seolah ingin menyimpan setiap kata yang dibacanya. Suasana hening di ruang piket terasa tidak lagi membosankan, justru terasa lebih hangat dan menyenangkan.
Dari: Zehar
Aamiin. Kalau sudah lelah, jangan paksakan membaca berkas terus. Lebih baik tidur lebih awal agar besok segar kembali. Saya masih harus memeriksa beberapa dokumen lagi, tapi bisa tetap menyempatkan waktu membalas pesan.
Dari: Alesha
Baik, nanti akan saya ingat. Kalau kamu juga sibuk, tidak perlu terburu-buru membalas. Saya mengerti tugasmu pasti punya kesibukan sendiri.
Sebelum mengirim balasan, Zehar tersenyum-senyum sendiri, lalu menekan tombol kirim dengan perasaan yang jauh lebih bahagia.
Dari: Zehar
Tidak apa-apa. Justru obrolan ini membuat malamku bertugas terasa lebih cepat berlalu dan tidak membosankan.
Zehar pun menceritakan jadwal dan kegiatan jaga piketnya, menceritakan beberapa kejadian lucu, aneh dan tidak terduga saat bertugas.
Sementara Alesha bercerita sebentar mengenai pekerjaan di kantor, pertemuan dengan mitra usaha, dan bagaimana ia harus memeriksa berkas‑berkas penting hingga larut malam.
Gaya obrolan mereka terasa santai, ringan, namun di balik setiap kalimat yang dikirimkan, ada perhatian yang terselip.
Seolah dua orang yang baru saling mengenal lagi, mereka berusaha menemukan topik yang aman dan menyenangkan, menghindari membahas masa lalu, pertanyaan yang belum terjawab, atau alasan perpisahan yang masih menjadi tanda tanya besar.
Mereka hanya ingin menikmati kebersamaan lewat pesan singkat itu, merasakan kembali kehangatan yang sudah lama hilang.
Di tengah obrolan itu, sering kali Zehar tertawa sendiri atau tersenyum lebar hanya karena membaca balasan yang dikirimkan Alesha.
Saat Alesha menyebutkan bahwa ia baru saja menyeduh teh hangat untuk melepas lelah, Zehar langsung membalas dengan candaan ringan, lalu sesaat kemudian ia terdiam sendiri, menatap layar ponsel dengan pandangan yang lembut, senyum tetap terukir di bibirnya seolah masih bisa membayangkan wajah wanita itu saat menulis pesan itu.
Begitu pula dengan Alesha yang berada di rumahnya. Ia duduk di ruang kerja pribadinya, lampu meja menyala terang menerangi tumpukan berkas, namun matanya lebih sering tertuju pada layar ponsel yang ada di tangannya.
Setiap kali pesan masuk, ia segera berhenti membaca dokumen, lalu mengetik balasan dengan hati‑hati, sesekali berhenti sejenak memikirkan kata yang paling pas, lalu tersenyum sendiri saat membaca jawaban yang diterimanya.
Ia merasa seperti kembali menjadi gadis muda yang baru merasakan deg‑degan karena diperhatikan orang yang disukai, perasaan yang sudah lama ia lupakan di tengah kesibukan dan tanggung jawabnya sebagai pemimpin perusahaan.
Namun, perubahan sikap Zehar itu tidak luput dari perhatian rekan‑rekannya yang sedang bertugas piket bersama.
Briptu Bagas yang sejak tadi duduk di meja seberang, sesekali melirik ke arah sahabatnya dengan tatapan curiga.
Ia melihat bagaimana Zehar yang biasanya tegas, serius, dan jarang tersenyum tanpa alasan yang jelas, malam ini terlihat sering menunduk pada ponselnya, tersenyum sendiri, bahkan sesekali menggelengkan kepala sambil tertawa kecil seolah berbicara dengan seseorang yang tidak terlihat.
Setelah tidak tahan lagi melihat keanehan itu, Bagas berjalan mendekat sambil menyandarkan badannya di pinggir meja kerja Zehar, lalu menyeringai penuh rasa ingin tahu.
“Wah, Pak AKP kita malam ini tampak lain sekali ya,” goda Bagas dengan suara yang cukup keras hingga menarik perhatian dua petugas lain yang sedang duduk di sudut ruangan.
“Biasanya duduk tegak, wajah serius seperti sedang menghadapi kasus berat, tapi malam ini matanya tak lepas dari ponsel, mulutnya terus tersenyum-senyum sendiri. Ada cerita apa nih?”
Zehar yanf terkejut, segera menutup layar ponselnya dan meletakkannya menghadap ke bawah, lalu berusaha memasang wajah serius kembali meski pipinya sedikit memerah.
“Tidak ada apa‑apa, Bagas. Hanya pesan singkat biasa saja.”
“Pesan biasa yang membuat orang sekeras Bapak ini tersenyum sampai ke telinga? Jangan bohong, Pak,” sambung Bagas makin penasaran, disertai tawa pelan.
“Sudah lama saya tidak melihat Bapak bersikap begini. Sejak kembali bertugas di Ibu Kota, Bapak selalu sok sibuk, jarang sekali terlihat santai apalagi bersemangat seperti ini. Pasti ada yang spesial di balik layar ponsel itu.”
Petugas lain yang bernama Briptu Dito ikut menyahut sambil tersenyum.
“Benar kata Bagas, Pak. Kalau tidak salah, sejak insiden di persimpangan jalan dan acara pengamanan beberapa hari lalu, perubahan sikap Bapak makin terlihat jelas. Apa jangan‑jangan… sudah ada seseorang yang berhasil menarik perhatian hati Bapak setelah sekian lama sendiri?”
Zehar hanya menghela napas panjang, tidak sanggup menyangkal sepenuhnya karena ia sadar perasaannya memang terlihat jelas.
Ia hanya menggeleng pelan sambil tersenyum tipis.
“Jangan berandai‑andai saja. Kami hanya berkenalan kembali dan saling menanyakan kabar. Belum ada apa‑apa yang perlu dibesar‑besarkan.”
“Tapi sudah mulai serangan kecil-kecilan kan?” goda Bagas makin penasaran.
“Kalau sudah bisa membuat Bapak yang tegas ini tersenyum sendiri di tengah malam, berarti ini bukan hal biasa. Hati‑hati, Pak, jangan sampai tugas terganggu karena pikiran melayang ke mana‑mana.”
“Tugas tetap menjadi prioritas utama, jangan khawatir,” jawab Zehar sambil mengambil kembali ponselnya dengan gerakan yang lebih hati‑hati, seolah ingin melindungi isinya dari pandangan orang lain.
“Dan tolong jaga rahasia ini untuk sementara waktu. Saya juga belum tahu ke mana arahnya nanti.”
“Baiklah, kami mengerti,” kata Bagas sambil menepuk bahu Zehar dengan lembut.
“Tapi kalau memang sudah menemukan orang yang bisa membuat Bapak kembali terlihat hidup dan tidak terlihat mirip batang kayu seperti ini, kami mendukung sepenuhnya. Sudah waktunya Bapak tidak hanya hidup untuk tugas dan tanggung jawab negara semata.”
Malam itu, obrolan ringan dan ejekan‑ejekan santai terus terdengar di ruang piket, namun Zehar tidak merasa terganggu.
Justru perhatian dan candaan sahabatnya itu membuatnya semakin sadar bahwa perasaannya ini bukan sekadar keinginan sesaat.
Ia kembali membuka layar ponselnya, melihat percakapan yang masih berlanjut, dan tersenyum lagi. Senyuman yang lebih tenang, lebih mantap, dan penuh harapan.
Malam semakin larut, namun pesan‑pesan singkat itu terus bergantian terkirim, menjadi jembatan yang menghubungkan dua hati yang telah lama terpisah, membangun kembali kepercayaan dan perhatian yang sempat hilang tertelan waktu.
kalah saing kmu erhan
real sahabat ini mah😍
kalau bisa up banyak y. plis 🙏