Aira dan Baskara sama-sama tidak menginginkan perjodohan kedua orang tua mereka, tapi mereka memiliki kesamaan, yaitu enggan mengecewakan kedua orang tua yang sangat mereka hormati.
***
Janji masa lalu Hendra dan Gunawan untuk menjodohkan anak-anak mereka menjadi awal baru yang tak terduga bagi Aira dan Baskara.
Awalnya, Aira dan Baskara berpikir bahwa pernikahan adalah hal sederhana dan mudah. Namun, ternyata semua tidak sesederhana yang dibayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NonaAns, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 : Kunjungan dan Pembinaan Prajurit
Hari ini adalah hari kunjungan KSAD beserta istri. Kunjungan yang rutin dilakukan oleh panglima tertinggi ke satuan-satuan dibawah wilayah kerjanya. Kunjungan ini dimaksudkan untuk melihat dan meninjau kondisi satuan dari kesiapan personil, program kerja, persenjataan, hingga melihat kondisi sarana dan prasarana satuan. KSAD juga sering kali meninjau kesejahteraan prajurit, dari kondisi kesehatan hingga rumah dinas yang dihuni oleh para prajurit.
Iring-iringan mobil KSAD dan jajarannya sampai Di Batalyon XXX. Saat mobil KSAD berhenti tepat di depan pintu gerbang Batalyon XXX, Pangdam Mayjen Sumardi sudah berdiri beserta istri, disusul di belakangnya Komandan Batalyon XXX Kolonel Haryo beserta istri dan putrinya, diikuti pejabat batalyon lainnya, dan para perwira yang berjajar di sepanjang jalan masuk menuju Batalyon bersama istri dan keluarga masing-masing.
Hari ini pertama kalinya Aira mengenakan pakaian persit lengkap dengan rambut yang dicepol sesudah resmi menjadi istri Letnan Baskara Wirayudha. Saat keluar kamar tadi, Baskara yang sedang mengenakan sepatunya bahkan sampai tertegun melihat Aira yang tampak anggun itu. Dalam perjalanan menuju lokasi penyambutan, Baskara meraih tangan Aira dan menggenggamnya erat. Hal itu sempat membuat Aira menatap Baskara sepintas sebelum tersenyum simpul dan berjalan beriringan dengan Baskara.
Jenderal Gunawan sampai di lokasi dan segera turun dari mobil, ia berdiri sejenak menunggu sang istri, Sita untuk turun dan meraih tangan Sita untuk digenggam. Gunawan berjalan beriringan dengan Sita, menyambut jabat tangan Mayjend Sumardi beserta istri dengan ramah. Setelah itu, Gunawan juga memberi salam pada Kolonel Haryo beserta keluarga mereka.
Setelah melaporkan kesiapan batalyon menerima kunjungan, akhirnya Gunawan berjalan memberi salam pada para perwira dan prajurit lain yang sudah berjajar di sana.
"Izin, Jenderal, selamat datang di Batalyon kami!" ucap Baskara tegas usai memberikan hormatnya pada Gunawan.
Gunawan membalas hormat dan memberikan salam pada Baskara. Tidak ada kata-kata terlontar selain senyuman lebar dan ekspresi bangga yang tersirat di wajah Gunawan, tapi tidak ada gestur lain yang memperlihatkan jika Gunawan adalah ayah dari Baskara. Pria setengah baya itu tetap menjaga profesionalismenya sebagai komandan tertinggi di Angkatan Darat.
Aira juga memberi sambutan pada Sita dan Gunawan. Namun, Sita tidak bisa berpura-pura. Ia begitu gembira saat melihat Aira berdiri di samping putranya. Sita memeluk dan mencium kedua pipi Aira. Hal itu membuat ia sedikit banyak dilirik oleh istri anggota lainnya.
"Bunda happy banget lihat menantunya," bisik Baskara.
Aira melirik seraya tersenyum dengan wajah memerah.
"Menantunya yang agak nggak sopan karena setelah menikah belum menyapa ke rumah mertua," jawab Aira.
Baskara tersenyum. Ia kembali menarik tangan Aira untuk digenggam dan kembali berjalan beriringan.
Gunawan sudah berjalan jauh di depan. Kunjunganya kali ini menyasar rumah-rumah prajurit. Melihat kelayakan bangunan dan kondisi perumahan prajurit di Batalyon XXX.
"Jadi ini sebenarnya satu rumah? Terus dibagi dua rumah gitu? Disekat kayu triplek?" tanya Gunawan saat ia sampai di rumah salah seorang prajuritnya. Rumahnya terlihat sempit dan penuh. Tidak seperti rumah kebanyakan. Banyak dari bagian rumahnya terbuat dari kayu triplek.
"Harusnya jangan begini, Mas. Kasihan keluarganya jadi kurang nyaman. Kan, harusnya kamarnya dapat dua. Tapi ini cuma satu. Kamar mandi juga di luar, dapurnya juga nggak standart ini," ucao Gunawan mengomentari.
Ia dan Sita duduk di rumah prajurit itu yang hanya menyediakan dua buah kursi plastik. Ia berdialog dengan pemilik rumah itu.
"Jadi, Mas Haryo, kan kita sudah merencanakan membangun beberapa unit di halaman belakang batalyon itu. Rumah-rumah baru yang secara tata kelola bangunannya layak. Nah, Mas Ilham di daftarkan saja. Biar setelah jadi, bisa langsung pindah.
"Lalu, untuk rumah-rumah yang rusak dan kosong di rubuhkan saja sekalian. Dibangun ulang dengan anggaran yang ada. Sekalian saja pakai tukang dari belakang. Bagaimana pun kita juga harus memikirkan kesejahteraan dan kenyamanan keluarga pasukan," ucap Gunawan tegas.
Ia kembali berjalan dan meninjau rumah dinas baru yang sudah selesai dibangun. Beberapa diskusi dilakukan sementara Sita justru gagal fokus pada putra seorang prajurit yang mengalami sakit hidrosefalus. Ia tampak menatap bayi itu dan tersenyum seraya memberikan beberapa mainan pada anak itu.
"Suaminya yang mana?" tanya Sita.
"Siap, izin, saya, Ibu ...."
"Sudah berobat?" tanya Sita.
"Siap, sudah, Ibu. Kemungkinan besar bulan depan akan dijadwalkan untuk operasi sedot cairan di otaknya, Ibu," jawab prajurit itu.
Sita mengangguk paham. Ia memanggil ajudan pribadinya, ia merogoh amplop dari dalam tasnya, lalu ia berikan sembunyi-sembunyi pada prajurit itu.
"Buat tambahan berobat adek," ucap Sita setengah berbisik.
Langkah Gunawan pun akhirnya sampai di Gedung Cakra, tempat pembinaan akan dilangsungkan.
Aira yang saat itu hendak duduk di samping Baskara pun segera beranjak karena Wina memanggilnya.
"Dek Aira, kamu kasih suguhannya sama Pangdam dan ibu," ucap Wina.
Aira menatap Mayjend Sumardi, lalu menggeleng tipis. "Izin, Bu. Maaf. Tapi, saya masih baru di sini. Apa tidak lebih baik yang senior saja yang membawakan suguhan? Saya nggak enak sama yang lain, Bu."
Wina menatap sedikit kesal. "Sudah! Berikan saja! Ini perintah," ucap Wina sedikit meninggi.
Aira mengangguk. Ia pun mengambil nampan yang berisi snack. Aira berjalan sopan menuju meja Pangdam dan memberikan snack itu ke atas meja.
"Lho, ini Aira, kan? Pakai baju persit jadi tambah cantik. Hampir pangling tante. Mama gimana kabarnya? Sekarang sudah tinggal di sini ya sama suami? Wah, ikut senang, Tante. Selamat bergabung di Persit Kartika Chandra Kirana ya, Aira," ucap Yun, istri Mayjend Sumardi ramah usai memberi salam dan mengecup kedua pipi Aira.
Aira tersenyum canggung. Merasa tidak enak jika kedekatannya ini diartikan lain oleh senior-seniornya.
"Eh, kita foto-foto dulu yuk, Aira. Sama Mbak Sita juga. Duh, beruntung banget lho, Mba Sita dapat mantu seperti Aira ini. Kalah cepat saya," kelakar Yun seraya memeluk Aira.
Pangdam juga memiliki satu anak laki-laki yang kabarnya juga seorang dokter yang kini menjadi dokter militer.
Aira meringis. "Maaf, Tante bukannya nggak mau foto, tapi nggak enak sama yang lain," bisik Aira.
Yun tampak menatap sekeliling, lalu menutup bibirnya sebelum akhirnya tertawa.
"Aduh, maaf, Aira. Tante lupa. Ya udah, nanti saja foto-fotonya sebelum pulang aja, ya."
Aira mengacungkan jempolnya, lalu berjalan mundur. Keakraban Aira dengan istri Pangdam itu terpantau oleh Wina dan Baskara yang melihat dari kursinya. Ia menatap Aira, sambil tersenyum saat Aira kembali duduk di sampingnya.
"Kenal sama ibu Pangdam, Ai?"
Aira mengangguk. "Temen sekolah mama dulu."
Baskara mengangguk.
Gunawan mulai maju ke depan podium, mengambil mic dan bersiap memberikan pengarahan dan pembinaan terhadap para prajurit di Batalyon XXX. Namun, ia mencairkan suasana terlebih dahulu dengan mengundang beberapa prajurit dan istri yang tampak terlihat kelebihan berat badan.
"Wah ini kelas berat semua," celoteh Gunawan yang membuat semua orang diruangan itu tertawa.
"Kalau pagi sarapannya apa, Bu?"
"Izin, Bapak. Tidak pernah sarapan, Bapak," jawab ibu berbadan gempal itu.
"Lho, nggak sarapan kok badannya segini. Tunggu, saya harus tanya suaminya. Mana ini suaminya?"
"Ibu sarapannya apa, Mas?"
"Izin, Jenderal, istri kami memang tidak pernah sarapan, tapi kalau anak kami makannya tidak habis, istri kami yang habiskan. Biasanya tambah gorengan sepuluh ribu, Jenderal."
Semua yang hadir pun kembali tertawa.
"Mohon maaf sebelumnya kalau saya meminta yang kelas berat untuk maju ke depan. Saya tidak punya maksud apa-apa. Bukan juga untuk membully, tapi untuk memberikan kesadaran pada kita bahwa olah raga dan makan makanan yang sehat itu penting. Olah raga supaya fisik kita tetap kuat, prima, dan makanan yang sehat mendukung dari dalam.
"Supaya kita tidak terpapar penyakit-penyakit seperti kolesterol, diabetes, dan stroke. Selain menjaga negara, para prajurit, kita semua harus juga menjaga badan. Badan sehat, pikiran tenang, dompet aman karena nggak harus keluar uang untuk berobat.
"Kita harus belajar memimpin diri kita sendiri dulu. Kan, di sini nantinya juga dalam tugas akan ada yang ditunjuk sebagai pemimpin. Kalau belum bisa memimpin diri sendiri untuk konsisten melakukan kebiasaan baik, gimana bisa memimpin keluarga, gimana bisa memimpin teman-teman prajurit yang lain? Bener nggak?
"Jujur, saya selalu meminta staf saya untuk memantau tiap-tiap satuan dan batalyon yang ada di lingkup Angkatan Darat. Dari kesehatan prajurit dan keluarganya, kesejahteraan mereka, ketersediaan sarana dan prasarana pendidikan untuk prajurit dan anak-anaknya, termasuk juga permasalahan yang ada di tiap-tiap satuan dan batalyon.
"Saya hanya memantau bagaimana kerja pejabat-pejabat di satuan itu dalam menyelesaikan permasalahan mereka. Saya serahkan sepenuhnya pada komandan batalyon dan pejabat di batalyon itu. Sekiranya mampu, selesaikan. Sekiranya butuh masukan, silakan saja berkonsultasi pada staf atau saya langsung.
"Yang jelas, dimanapun kita jika ada satu masalah yang mengganggu, mengganjal, harus cepat diselesaikan. Jangan ditunda-tunda karena bisa berdampak pada hal-hal lain. Yang semula sudah baik, bagus, berjalan sesuai rencana dan sistem yang ada, karena masalah yang ditunda penyelesaiannya, semua bisa buyar."
Gunawan menyelesaikan ucapannya sebelum akhirnya kunjungan tersebut berakhir dan Gunawan berpamitan dengan Pangdam beserta jajarannya.
Kunjungan selesai. Semua prajurit kembali pulang ke rumah masing-masing usai membereskan kursi dan membersihkan lokasi kunjungan seperti semula.
Baskara baru saja mengganti pakaiannya dan hendak merebahkan diri di sofa sambil menonton siaran televisi untuk melepaskan lelah seusai berkegiatan sepanjang hari ini. Sementara Aira juga sedang menghabiskan waktu di kamar mandi. Entah melakukan apa, yang jelas wanita selalu jauh lebih lama kalau soal urusan mandi. Baskara mengganti channel televisinya beberapa kali sebelum ponselnya berdering.
Baskara mengerutkan dahi saat melihat nama sang ayah terpampamg di layar ponselnya.
"Halo?"
"Hah? Kapan?"
"Kok mendadak, Ayah? Oke. Nggak masalah."
Aira keluar dari kamar mandi ia bahkan masih menyikat giginya. Aira keluar dengan daster dan handuk yang terikat di kepalanya.
"Siapa, Bas? Kok kayak aku denger kamu sebut ayah?" Tanya Aira dengan sikat gigi masih di mulutnya membuat ucapannya sedikit tidak jelas.
Baskara menutup ponselnya, lalu menatap Aira.
"Ayah sama bunda mau datang. Mau nginep di rumah kita."
Uhuk!
_____________________