Dinzy Aurora, gadis berusia 21tahun yang hidup sebatang kara di Ibukota, mengadukan nasibnya berharap memiliki kehidupan yang layak. Saat ini Dinzy baru saja lulus dari kampus terbaik di kota tersebut, mendapatkan gelar cumlaude bukan berarti Dinzy bisa mendapatkan pekerjaan dengan mudah. Setalah 2 bulan menerima Ijazahnya, Dinzy belum juga mendapat panggilan wawancara kerja. Dan selama 2 bulan tersebut sambil tetap mencari pekerjaan baru, Dinzy masih bekerja di sebuah coffee shop. Selama Dinzy tinggal di Ibukota, Dinzy memang melakukan pekerjaan paruh waktu untuk menyambung hidupnya, meskipun Dinzy mendapatan beasiswa dan juga biaya hidup, namun itu tidak menghalangi Dinzy untuk tetap bekerja. Dinzy tumbuh di sebuah panti asuhan di pesisir Ibukota. Ia tidak mengenal siapa Ayah dan Ibunya. Meskipun ia sangat penasaran, tapi pihak panti juga tidak bisa membantu Dinzy karena saat itu, Ibunya Dinzy hanya menyerahkan Dinzy begitu saja dan meninggalkan Dinzy di panti asuhan tersebut. Hanya nama yang Dinzy terima dari Ibunya, nama pemberian dari sang Ibu...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yayalifeupdate, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1
Dinzy Aurora, gadis berusia 21tahun yang hidup sebatang kara di Ibukota, mengadukan nasibnya berharap memiliki kehidupan yang layak.
Saat ini Dinzy baru saja lulus dari kampus terbaik di kota tersebut, mendapatkan gelar cumlaude bukan berarti Dinzy bisa mendapatkan pekerjaan dengan mudah.
Setalah 2 bulan menerima Ijazahnya, Dinzy belum juga mendapat panggilan wawancara kerja.
Dan selama 2 bulan tersebut sambil tetap mencari pekerjaan baru, Dinzy masih bekerja di sebuah coffee shop.
Selama Dinzy tinggal di Ibukota, Dinzy memang melakukan pekerjaan paruh waktu untuk menyambung hidupnya, meskipun Dinzy mendapatan beasiswa dan juga biaya hidup, namun itu tidak menghalangi Dinzy untuk tetap bekerja.
Dinzy tumbuh di sebuah panti asuhan di pesisir Ibukota. Ia tidak mengenal siapa Ayah dan Ibunya. Meskipun ia sangat penasaran, tapi pihak panti juga tidak bisa membantu Dinzy karena saat itu, Ibunya Dinzy hanya menyerahkan Dinzy begitu saja dan meninggalkan Dinzy di panti asuhan tersebut.
Hanya nama yang Dinzy terima dari Ibunya, nama pemberian dari sang Ibu...
Mendengar suara notifikasi dari ponselnya, Dinzy segera meraihnya dan membaca pesan tersebut. Matanya terbelalak, melihat pesan undangan wawancara kerja di sebuah perusahaan besar yang menjadi mimpi Dinzy untuk bergabung dengan perusahaan tersebut.
Dinzy sontak berdiri, ia segera meninggalkan meja kerjanya dan segera menjawab pesan tersebut bawasannya Dinzy akan datang sesuai dengan jadwal yang mereka berikan.
"Dinzy, are you okay?" tanya seorang temannya
"Iya. Besok aku interview" jawab Dinzy antusias.
Tidak menjawab dengan kalimat, teman Dinzy seketika memeluk Dinzy dengan sangat erat. Kebahagiaan itu seperti ikut ia rasakan sebagai teman Dinzy. Keduanya saling memeluk erat dan menepuk pelan punggung satu sama lain.
"Dinzy, kamu harus segera pulang dan mempersiapkan diri untuk besok. Semoga impian kamu bekerja di perusahaan itu bisa tercapai, sukses untuk besok ya" ucap Tissa
"Tissa, terimakasih banyak ya"
"Sama-sama Dinzy"
Dinzy segera meninggalkan tempat kerjanya dan segera pulang, karena ia harus menyiapkan pakaian dan beberapa barang yang mungkin ia butuhkan saat wawancara kerja.
Dinzy menuju sebuah pusat perbelanjaan, ia membeli pakaian yang cocok untuknya menghadiri wawancara kerja. Karena perusahaan tersebut adalah perusahaan besar, penampilan pasti sangat dianjurkan.
Bukan pakaian mahal, hanya pakaian dengan harga standart namun pakaian tersebut sangat layak untuk di gunakan.
Setelah membeli pakaian dan sepatu, Dinzy segera menuju kerumah kontrakannya dan menyiapkan apapun yang ia butuhkan.
Dinzy juga menghubungi panti asuhan dimana ia dibesarkan, memberi tahu pengurus panti jika besok ia akan melakukan wawancara kerja. Rona kebahagiaan itu ikut dirasakan oleh pengurus panti, mereka begitu bahagia melihat pencapaian Dinzy, meskipun Dinzy belum diterima setidaknya dengan lulus seleksi untuk wawancara kerja itu sudah baik, karena mereka membaca CV yang telah Dinzy kirimkan.
Setelah menghubungi pihak panti asuhan, Dinzy juga mengirim pesan kepada kekasihnya. Meskipun hubungan mereka saat ini sedang tidak baik.
Tidak tahu kenapa, kekasih Dinzy terlihat menghindari Dinzy. Sudah 5 bulan lamanya mereka tidak bertemu dengan alasan kekasih Dinzy sedang sibuk atau berada di luar kota.
Tidak ingin memperkeruh keadaan, Dinzy hanya mengiyakan apapun yang kekasihnya sampaikan. Bahkan komunikasi hanya ucapan selamat pagi dan setelah itu kekasihnya akan menghilang dan akan mengirim pesan keesokan harinya.
Dinzy ingin sekali bertanya tentang kejelasan hubungan mereka, namun ia kesulitan untuk bicara dengan kekasihnya. Meskipun Dinzy mengirim pesan panjang tentang hubungan mereka, kekasihnya tetap tidak merespon.