NovelToon NovelToon
Devil Dragon System

Devil Dragon System

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Balas Dendam / Sistem
Popularitas:203
Nilai: 5
Nama Author: BE SA

Mereka membunuhnya karena dia manusia murni.

Kesalahan terbesar yang pernah Benua Sangakama buat.

Arjuna Sasrabahu bangkit dari kematian membawa sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari dendam, sebuah sistem kekuatan warisan naga abyss yang haus akan darah dan kekuasaan. Di dunia yang memandang ras manusia sebagai kotoran paling hina, seorang pria yang seharusnya sudah mati justru sedang menghitung satu per satu nama di daftarnya.

Tujuh prefektur. Tujuh ras. Satu manusia murni dengan kalkulasi yang tidak pernah meleset.

Pertanyaannya bukan apakah dia akan menang? Pertanyaannya adalah berapa banyak yang akan jatuh sebelum Benua Sangakama menyadari kesalahan mereka?

[Ding!]

[Devil Dragon System teraktivasi sepenuhnya. Inang diterima]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BE SA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 Bayangan Di Prefektur Draconis

Harjasa dan para tetua masih berdiskusi di sudut ruangan. Suara mereka rendah, tapi mengandung bobot keputusan yang besar.

Arjuna tidak memperhatikan mereka.

Matanya beralih ke mayat Panthera yang tergeletak di lantai aula. Tubuh sub ras Warbeast itu sudah tidak memancarkan aura apapun, dan  sisik hitam legamnya memudar menjadi abu-abu dingin.

Sesuatu mengganjal di kalkulasinya sejak tadi.

Phantom adalah organisasi pemburu bayaran profesional. Mereka tidak bergerak tanpa informasi yang akurat, dan terverifikasi. 

Akan tetapi Panthera muncul tepat saat Arjuna baru saja menyelesaikan terobosan ke ranah Spirit Awakening Realm di hotel Nararya, dan saat momen paling lemah setelah energi Ether terkuras 95%.

Itu bukan kebetulan, tetapi analisa, dan kalkulasi yang matang.

Arjuna berlutut di samping mayat Panthera. Tangannya memeriksa setiap lipatan jubah hitam yang melapisi tubuh itu dengan gerakan yang presisi, dan tidak terburu-buru.

"Apa yang kau cari?" tanya Dyah Ayu dari belakang, suaranya pelan agar tidak menarik perhatian Harjasa dan para tetua.

"Jawaban," jawab Arjuna singkat.

Tangan Arjuna menemukan bracelet tipis di pergelangan tangan kiri Panthera. Berbeda dari bracelet penyimpanan biasa. Bracelet tersebut lebih tipis, dan lebih gelap, dengan panel kristal kecil yang tertanam di permukaannya.

Itu adalah sebuah Komunikator.

Arjuna melepasnya dengan gerakan yang efisien, lalu berbalik ke arah Dyah Ayu.

"Kau pernah melihat bracelet seperti ini sebelumnya?" tanya Arjuna  menunjukkan komunikator Panthera ke hadapan Dyah Ayu.

Dyah Ayu mengamati bracelet itu sebentar. Mata itu memindai panel kristal kecil di permukaannya dengan ekspresi yang berubah dari ragu menjadi sesuatu yang sangat ia tahu.

"Komunikator enkripsi standar pemburu bayaran," ucap Dyah Ayu pelan, suaranya hati-hati. "Aku pernah melihatnya beberapa kali di guild. Para ksatria yang datang dari Alliance sering membawanya."

"Bisa dibuka?" tanya Arjuna singkat.

Dyah Ayu menghela nafas tipis, dan tangan tersebut menerima bracelet itu dari Arjuna dengan jari-jari yang masih sedikit gemetar.

"Enkripsi standar Alliance punya pola yang sama," jawab Dyah Ayu, jari-jari mulai bergerak di atas panel kristal dengan gerakan yang lebih percaya diri dari yang Arjuna ekspektasikan. "Tujuh lapis, tapi tiga lapis pertama selalu menggunakan kode yang sama untuk semua unit produksi yang sama."

Arjuna tidak berkata apapun, hanya mengamati dengan mata yang tidak berkedip.

Empat menit berlalu.

Dyah Ayu menghela nafas panjang, lalu menyerahkan bracelet itu kembali ke tangan Arjuna.

"Tiga lapis pertama sudah terbuka," ucap Dyah Ayu, wajah pucat menampilkan ekspresi campuran antara lelah dan kepuasan kecil. "Empat sisanya aku tidak bisa. Enkripsi personalnya berbeda untuk setiap pengguna."

Arjuna menatap bracelet itu sebentar, lalu panel hologram Devil Dragon System melayang di hadapannya.

[Enkripsi personal terdeteksi. Memindai pola energi vital inang sebelumnya]

[Enkripsi terbuka]

Riwayat percakapan komunikator Panthera terbuka sepenuhnya di hadapan Arjuna. Komunikator itu menampilkan deretan pesan, dan rekaman suara yang tersusun rapi dari yang paling lama, hingga yang paling baru.

Arjuna membaca sekilas, mata merah membara bergerak cepat dari satu baris ke baris berikutnya.

Lalu berhenti di satu rekaman suara terakhir yang dikirim empat jam sebelum Panthera muncul di hotel Nararya.

Suara yang sangat dia kenal.

"Eksekusi jika ada kesempatan," ucap suara itu di dalam rekaman, dingin seperti baja yang baru ditempa. "Kau tidak boleh membiarkan manusia itu keluar dari Prefektur Draconis dalam keadaan hidup."

Itu adalah suara Komandan Wiryo.

Senyuman paling berbahaya malam itu merayap di wajah Arjuna.

"Ditemukan," bisik Arjuna, suaranya tidak lebih dari hembusan angin. "Kalkulasi berikutnya dimulai."

Arjuna berdiri, matanya beralih ke arah Harjasa yang masih berdiskusi dengan para tetua di sudut ruangan.

Kalkulasi sudah selesai.

"Jendral!” panggil Arjuna, suaranya memotong diskusi para tetua dengan presisi yang tidak meminta izin.

Harjasa berbalik, mata emas murninya menatap Arjuna dengan ekspresi yang belum sepenuhnya damai.

"Ada lagi?" tanya Harjasa, nada suaranya mengandung kesabaran yang sudah tipis.

"Ada sesuatu yang Jendral perlu ketahui sebelum menghadap Kaisar," jawab Arjuna, langkahnya mendekat dengan tenang.

Dia mengangkat bracelet komunikator Panthera. Kemudian panel hologram kecil melayang di udara menampilkan riwayat percakapan yang sudah terbuka.

"Ini milik anggota Phantom yang menyerang kami tadi malam," ucap Arjuna, suaranya presisi. "Rekaman terakhirnya menunjukkan bahwa operasi pembunuhan ini diperintahkan langsung oleh Komandan Wiryo dari Prefektur Ethereal.” 

“Operasi yang dijalankan di dalam wilayah Prefektur Draconis. Kemungkinan besar klan Wyvern juga ikut andil dalam hal ini.”

“Mengingat mereka menyerang manusia berlencana klan Hydra tepat di malam yang sama dengan operasi Phantom."

Harjasa menatap panel hologram itu, para tetua bergerak mendekat tanpa diundang.

Rekaman diputar.

Keheningan jatuh setelah rekaman itu selesai.

Tetua pertama mengerutkan dahi dalam. "Komandan Prefektur Ethereal yang mengutus pembunuh bayaran ke wilayah kita?"

Arjuna mengangguk, dan matanya tidak berkedip menatap Harjasa.

"Menurut keyakinan prediksiku, Komandan Wiryo akan datang ke Prefektur Draconis setelah mengetahui Phantom gagal," ucap Arjuna, suaranya rendah dan presisi. "Tidak. Dia sudah datang."

Harjasa berdiri tegak, aura Void Anchoring Realm: Morning Star miliknya memancar tipis menahan sesuatu yang jauh lebih besar dari kemarahan biasa.

"Kau yakin?" tanya Harjasa, suaranya rendah dan mengerikan.

"Ini hanya prediksi manusia," sergah Tetua pertama, matanya memandang Arjuna dengan keraguan yang tidak disembunyikan. "Tidak ada bukti konkret bahwa Komandan Wiryo sudah berada di wilayah kita."

"Benar," timpal Tetua kedua, tangannya bergerak gelisah di atas jubah klan. "Kita tidak bisa menghadap Kaisar hanya berdasarkan prediksi manusia murni yang baru kami kenal malam ini."

"Terlalu berisiko," desah Tetua ketiga, tubuh bungkuknya bergetar pelan. "Jika prediksi ini salah, klan Hydra yang akan menanggung malu di hadapan Kaisar. Bukan manusia ini."

Arjuna menatap ketiga tetua itu satu per satu, matanya merah membara tidak berkedip.

"Tiga tahun aku berada di bawah komando Wiryo," ucap Arjuna, suaranya tenang seperti permukaan danau yang tidak pernah disentuh badai. "Aku mengenal cara berpikirnya, cara bereaksinya, dan cara mengambil keputusannya lebih baik dari siapapun di ruangan ini."

Keheningan jatuh.

"Kalkulasi tidak pernah meleset," lanjut Arjuna, satu langkah maju yang tidak meminta izin. "Tapi jika Tetua masih ragu, kirim satu penjaga ke perbatasan untuk memverifikasi. Hasilnya akan membuktikan prediksi ini benar sebelum fajar."

Harjasa menatap Arjuna dalam keheningan yang panjang, lalu berbalik ke arah para tetua dengan keputusan yang sudah terbentuk di matanya.

"Kirim dua penjaga terbaik ke perbatasan sekarang!" perintah Harjasa, suaranya tidak memberi ruang untuk didebat. "Aku ingin laporan sebelum fajar."

Para tetua saling bertukar pandang sebentar, lalu mengangguk tanpa kata.

Arjuna berbalik, langkahnya menuju sudut ruangan yang paling jauh dengan tenang.

Papan catur kedua baru saja terbentuk sempurna.

Harjasa berdiri, jubah klan Hydra melapisi tubuh besarnya dengan wibawa yang tidak perlu dipaksakan.

"Kita menghadap Kaisar sekarang!" titah Harjasa, suaranya tidak memberi ruang untuk didebat.

Para tetua mengangguk serentak, jubah panjang mereka bergerak mengikuti langkah yang sudah bertahun-tahun terbiasa berjalan di koridor kekuasaan.

Arjuna berbalik ke arah Dyah Ayu yang berdiri di sudut ruangan dengan Light Cyborg Armor Suit putih perak melapisi seluruh tubuhnya.

"Kau tunggu di sini!" seru Arjuna, suaranya singkat dan tidak memberi ruang untuk protes.

Dyah Ayu menatapnya sebentar, lalu mengangguk pelan.

"Jangan buka pintu untuk siapapun," lanjut Arjuna, matanya menatap Dyah Ayu dengan tatapan yang mengandung kalkulasi yang tidak diucapkan, "Apapun yang terjadi di luar."

Dyah Ayu tidak bertanya, hanya mengangguk sekali lagi.

Arjuna berbalik, langkahnya mengikuti Harjasa dan ketiga tetua yang sudah bergerak menuju pintu utama kediaman klan Hydra.

Malam masih gelap di atas kota perbatasan Prefektur Draconis.

Di kejauhan, istana Kaisar Draconis berdiri dengan cahaya keemasan yang memancar dari setiap menaranya, megah dan menakutkan seperti naga raksasa yang sedang tidur di atas takhta.

Arjuna menatap istana itu dari kejauhan, matanya merah membara memindai setiap sudut yang bisa dilihat dari jarak ini.

Papan catur ketiga menunggu di dalam.

***

Di kejauhan perbatasan, Wiryo berdiri dalam kegelapan dengan mata biru yang memindai pergerakan aura di seluruh kota.

Aura merah gelap milik Arjuna bergerak menjauhi satu titik, menuju arah istana.

Wiryo diam sebentar, lalu senyuman tipis merayap di wajahnya untuk pertama kalinya sejak dia menginjakkan kaki di Prefektur Draconis.

"Dia meninggalkan seseorang di belakang," desah Wiryo, matanya berkilau dengan kalkulasi yang baru terbentuk. "Manusia murni tanpa kultivasi apapun."

Suryadewa melangkah maju di sampingnya, mata emas murni memandang ke arah kediaman klan Hydra yang jauh.

"Sasaran yang menarik," balas Suryadewa, suaranya dingin seperti logam yang baru ditempa. "Kita tidak bisa menyentuh Arjuna di sini. Tapi dia?"

Wiryo tidak menjawab, hanya mengangkat tangan memberi isyarat.

“Bawa dia kepadaku hidup-hidup!" perintah Wiryo, suaranya dingin dan mengerikan. "Aku ingin Arjuna melihat sendiri apa yang terjadi pada manusia yang dia tinggalkan di belakangnya, hahahaha …."

1
carat28
Hai kak, boleh follback? Saya mau kirim inbox terkait penawaran kepenulisan. Terima kasih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!