NovelToon NovelToon
Siasat Cantik Istri Bercadar

Siasat Cantik Istri Bercadar

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Lia Lby

Fatimah mengira pernikahan paksa dengan Rayhan Khalif adalah akhir dari impiannya.

Namun, saat ia mulai mencintai sang suami yang selalu memanjakannya, sebuah rahasia kelam terbongkar: Rayhan Khalif telah dijebak dan menikah siri dengan wanita dari masa lalunya.

​Alih-alih mengamuk, Fatimah menghadapi pengkhianatan ini dengan cara yang elegan.

Menggunakan strategi psikologis dan ketenangan yang mematikan, sang istri bercadar siap merebut kembali kebahagiaannya. Air mata berbalut iman, siasat paling mematikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Air Mata di Balik Pintu Kamar

Fatimah tidak tahu kapan tepatnya ia tertidur. Yang ia tahu, ketika matanya mengerjap terbuka, azan subuh baru saja selesai berkumandang dari musala dekat rumah.

Kamarnya masih remang-remang, namun hawa dingin pagi itu terasa menusuk hingga ke tulang.

Ia bangkit dengan tubuh yang terasa sangat lemas. Kepalanya berdenyut nyeri akibat menangis semalaman tanpa henti.

Saat melangkah ke arah cermin kecil yang tergantung di dekat lemari pakaian, Fatimah tertegun.

Wajah yang biasanya bersih dan tenang itu kini tampak pucat beralaskan sepasang mata yang bengkak dan sayu.

Dengan perlahan, Fatimah mengambil air wudu di kamar mandi dalam, lalu membentangkan sajadah di sudut kamar.

Di atas kain sujud itulah, semua bendungan air mata yang ia tahan sejak terbangun akhirnya runtuh kembali.

Dalam sujudnya yang panjang, Fatimah menangis tanpa suara. Bahunya terguncang hebat. Tidak ada kata-kata muluk yang mampu ia panjatkan, selain rintihan lirih di dalam hati.

*“Ya Allah... Jika ini adalah ketetapan-Mu, mengapa rasanya sebegini sakit? Bersihkan hatiku dari rasa benci, Ya Allah. Kuatkan hamba jika mematuhi mereka adalah jalan menuju rida-Mu...”*

Setelah menyelesaikan salat dan berzikir sejenak untuk menenangkan dadanya yang bergemuruh, Fatimah melipat mukenanya.

Ia menatap tas ransel hitam besar yang terletak di atas lemari. Dengan gerakan pasti, ia menurunkannya, lalu mulai memasukkan kembali pakaian, beberapa kitab, dan perlengkapan pribadinya yang baru kemarin sore ia rapi-rapikan ke dalam lemari.

Fatimah sudah membulatkan tekad. Ia tidak bisa berlama-lama di rumah ini dalam kondisi hati yang kacau.

Jika ia bertahan, egonya mungkin akan kembali memancing kemarahan sang ayah, dan ia tidak mau memikul dosa karena menjadi anak durhaka.

Ia harus kembali ke pesantren pagi ini juga untuk mengambil sisa barang-barangnya, sekaligus menenangkan diri.

Dari luar kamar, terdengar suara langkah kaki yang samar, diikuti oleh ketukan pelan di pintunya.

"Fatimah... Kamu sudah bangun, Nak?"

Itu suara Ibu. Suaranya terdengar serak,

menandakan bahwa sang ibu kemungkinan besar juga tidak bisa tidur semalaman.

Fatimah menghentikan gerakannya yang sedang melipat gamis terakhir. Ia berjalan mendekati pintu, namun jemarinya tertahan di atas selot kunci.

Ada rasa enggan yang luar biasa untuk membuka pintu tersebut. Ia belum siap melihat tatapan mata ibunya yang penuh tuntutan, atau tatapan bersalah dari ayahnya.

"Fatimah... Ibu tahu kamu di dalam. Ibu mohon, makan sedikit ya, Nak? Ibu sudah buatkan sarapan," suara Ibu kembali terdengar, kali ini bergetar seperti menahan tangis.

"Ibu tahu kamu marah sama Ibu. Tapi... tolong jangan hukum dirimu sendiri dengan mengurung diri seperti ini."

Fatimah menyandarkan keningnya pada daun pintu kayu yang dingin. Air matanya menetes lagi, membasahi tangannya sendiri. Di balik pintu itu, ibunya meratap, sementara di dalam kamar ini, hatinya sendiri sedang berdarah-darah.

"Fatimah tidak apa-apa Bu."

Sahut Fatimah akhirnya, mencoba mengatur suaranya agar terdengar setegar mungkin walaupun getaran serak tidak bisa disembunyikan.

"Kepala Fatimah masih agak pusing. Ibu sarapan duluan saja bersama Ayah dan yang lain."

Hening sejenak di luar kamar. Ibu tampaknya tahu bahwa putrinya masih butuh waktu untuk sendiri.

"Ya sudah... kalau ada apa-apa, panggil Ibu ya, Nak."

Ucap Ibu lirih sebelum terdengar langkah kakinya yang perlahan menjauh menuju dapur.

Fatimah mengembuskan napas panjang, merosot duduk di balik pintu kamar.

Ia memeluk lututnya, menatap tas ranselnya yang sudah terisi penuh.

Di balik pintu kamar yang menjadi saksi bisu kehancuran impiannya, Fatimah sedang mengumpulkan sisa-sisa kekuatan yang ia miliki untuk melangkah keluar dan menghadapi takdir yang sama sekali tidak pernah ia inginkan.

1
Enz99
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!