Sebelumya, bunga ini sempat kehilangan pesonanya, dengan kelopak menunduk, bahkan warnanya pudar. Namun, begitu air menyentuhnya, bunga itu pun mekar kembali, mengingatkan kita bahwa kebahagiaan bisa datang jika mau mengusahakannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TastyTeaTime Time, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27
"Papa, sebentar lagi, adek ulang tahun," ujar Valeska di sela perjalanan menuju rumah.
"Iya, Papa tahu, cantik. Memangnya, adek mau hadiah apa?" Girga bertanya lembut, namun tetap fokus pada jalan yang terbentang di depan.
Sebelum menjawab, Valeska tersenyum kecil, "Adek pengen ikut prom night, sama pengen adik,"
Permintaan itu membuat Girga tersentak. Ia menelan ludah, berusaha menenangkan dirinya sebelum menanggapi. Tangannya mengelus lembut lengan putrinya.
"Baiklah, kita bicarakan dulu sama Mama, ya."
"Oke, Papa. Makasih, ya, karena selalu berusaha memenuhi semua yang adek mau. Adek sayang Papa."
Girga tersenyum penuh kasih ke arah Valeska. "Adek itu kuat, seperti ultraman. Semangat sembuh, ya, cantik."
Tawa kecil keluar dari bibir Valeska, "Kok tiba-tiba banget, adek dibilang ultraman?"
"Karena adek, memang sekuat itu. Papa bangga."
Percakapan di dalam mobil sehabis pulang sekolah telah membawa kehangatan dalam hati Girga, hingga Valeska akhirnya memutuskan untuk memejamkan mata, menikmati perjalanan yang menurutnya terasa nyaman.
Beberapa saat kemudian, mobil Girga melambat saat memasuki pekarangan rumah. Deru mesinnya yang semula membelah jalan raya, kini berangsur mereda.
Girga turun lebih dulu, kemudian melepas jas hitamnya. Ia melangkah ke sisi penumpang dan menyelimuti jas itu di tubuh kecil Valeska yang tertidur lelap. Karena tak tega membangunkannya, Girga memilih menggendong Valeska. Tubuh gadis itu terasa ringan dalam dekapan sang papa.
***
Malam itu terasa lengang. Valeska, yang sejak bangun dari tidurnya, dia hanya menghabiskan waktu bermain dengan Moli, kucing kesayangannya. Matanya terpaku pada kerlip bintang di langit yang tenang.
Sementara, Kaivandra baru saja menyelesaikan tugas kuliahnya. Dia berjalan perlahan menuju kamar adiknya, menyadari bahwa hari ini dia belum main bersamanya. Saat membuka pintu, matanya tertuju pada Valeskayang tengah berdiri, membiarkan sinar rembulan menyentuh wajah cantiknya.
"Melihat bintang dari luar pasti lebih leluasa daripada dari balik jendela," Kaivandra berkata pelan, mengikuti arah pandang sang adik.
Valeska menoleh, menyadari kehadiran abangnya. Mata mereka pun saling bertemu. Dengan suara ragu, ia berkata. "Bang, pengen ke luar."
Tanpa banyak bicara, Kaivandra mengangguk. Namun sebelum kel uar, dia menyuruh Valeska mengenakan jaket dan penutup kepala agar tidak kedinginan. Keduanya tidak meminta izin pada mama atau papa nya karena takut mengganggu waktu istirahatnya di kamar.
Di luar, angin malam membawa aroma lembut rumput basah. Langit terbuka, memberikan pemandangan luas yang dihiasi taburan bintang. Beberapa anak muda terlihat berbincang di pinggir jalan, sementara anak-anak kecil riang bermain sepeda mengitari komplek.
"Adek suka banget sama bintang, bang. Bawaannya tenang," ujar Valeska dengan pandangan masih terarah ke langit.
"Nanti, kalau abang rindu sama adek, abang boleh lihat bintang juga." Ucapan itu menusuk Kaivandra.
Perasaan gelisah mulai melingkupinya. Akhir-akhir ini, semua kata yang keluar dari mulut adiknya terasa seperti pesan perpisahan. Kaivandra benci kenyataan itu. Andai saja penyakit tak menyerang tubuh sang adik, mereka pasti bisa menikmati waktu bersama tanpa batas.
"Duduk sini, dek." Kaivandra mengajak Valeska duduk di atas rerumputan. Tangannya mengusap lembut punggungnya, "Maafin abang ya, kalau abang belum jadi abang yang baik buat adek ..."
Valeska tersenyum kecil, menghapus air mata di pipi Kaivandra. "Abang nggak perlu minta maaf. Abang itu yang terbaik buat, adek. Justru dek yang harus minta maaf karena sering bawel, manja, dan selalu minta ditemenin, padahal abang juga pasti capek."
Senyum tipis Kaivandra mengembang, meski hatinya terasa rapuh. Tiba-tiba, seorang anak kecil dengan sepeda hitam mendekati mereka.
"Ih, Kakak udah gede kok nangis? Apa nggak malu sama aku?" ucap anak itu sambil tertawa kecil.
Kaivandra buru-buru menyeka sisa air matanya. "Siapa yang nangis? Nggak kok!" jawabnya, sambil mencoba terlihat biasa aja.
Valeska ikut tertawa, merasa geli melihat abangnya diolok anak kecil. Tak lama, anak itu duduk di depan mereka, lalu memperkenalkan diri.
"Kenalin, nama aku, Sky ..."
Kaivandra menyambut jabatan tangan Sky, diikuti Valeska. "Nama aku, Kaivandra," jawabnya.
"Dan aku Valeska," sambung adiknya.
Sky terdiam sejenak, menatap Valeska dengan mata berbinar. "Namanya cantik banget," katanya, tulus.
Tapi, pandangannya berubah serius saat memperhatikan tubuh Valeska yang terlihat ringkih dengan kulit pucat.
"Kakak sakit, ya?" tanyanya polos.
Valeska menatap Kaivandra sebentar sebelum menjawab. "Iya, Sky. Aku sakit kanker. Rambutku juga udah mulai habis," ucapnya dengan senyuman kecil.
"Boleh Sky, lihat?" Valeska mengangguk, lalu membuka penutup kepala, guna memperlihatkan rambutnya yang menipis. Sky mengalihkan pandangannya pada Kaivandra. Ada kesedihan yang sama di mata keduanya, meski mereka tak saling mengucapkannya.
"Kata dokter, umur aku udah nggak lama lagi, Sky," lanjut Valeska, masih dengan senyuman.Sky langsung mengerutkan alis, marah.
"Ih, dokter itu jahat banget! Memangnya dia Tuhan? Kematian itu nggak ada yang tahu. Kakak jangan dengerin, ya. Kalau perlu, pindah rumah sakit aja, biar nggak bertemu dengan dokter itu lagi."
Kaivandra tertawa kecil melihat keberanian Sky. Dia mengusap kepala anak kecil itu dengan lembut.
"Doain Kakak Valeska supaya cepat sembuh, ya," pintanya.
"Pasti!" jawab Sky mantap.
Tak lama, suara orang dewasa memecah percakapan mereka. "Abang, adek, kalian di sini, ya?" Suara lembut yang memanggil keduanya jelas sangat dikenali.
Delina berjalan terlebih dulu, sedangkan Girga mengikutinya dari belakang. Valeska tersenyum, merasa sedikit bersalah.
"Adek maksa abang untuk ke luar lihat bintang, Ma, Pa. Kita nggak bilang dulu, takut ganggu."
Delina tersenyum lembut. "Nggak apa-apa, sayang. Mama nggak marah."
Namun, Delina pun menoleh pada Sky. "Nak, jam segini kok masih di luar? Cepat pulang ya, nanti orang tua kamu nyariin,"
Sky mengangguk patuh. "Orang tua aku sibuk, Tante, jadi aku bebas pulang kapan aja."
Sebelum pergi, ia mengeluarkan dua permen yupi berbentuk dinosaurus dari dalam saku, lalu memberikannya kepada Kaivandra danValeska.
"Bye, Kakak. Cepat sembuh, ya. Jangan lupa makan permennya,"
Valeska tersenyum. "Makasih, Sky."
Setelah Sky pergi, Girga pun mengajak kedua anaknya pulang. "Di rumah sudah ada dokter Rijal, Nak," ucapnya memberitahu.
Sebelum beranjak, Kaivandra menatap papanya. "Maafin abang ya, Pa. Abang bawa adek, tanpa sepengetahuan Papa, dan Mama,"
"Kayak sama siapa aja, Papa nggak marah kok," balasnya.
Langit malam itu menjadi saksi percakapan sederhana yang sarat makna, sebuah percakapan yang mungkinakan terus terpatri di hati mereka.
***
"Halo, selamat malam Kamis untuk Valeska yang manis," suara Prisha terdengar ceria saat dia ke luar dari dalam mobil.
Valeska yang mendengar suaranya, jelas terlonjak kaget, membuat orang tuanya langsung siap siaga. Namun, reaksi yang berbeda ditunjukkan oleh Kaivandra. Ia hanya menahan tawa sambil menatap tak percaya ke arah Prisha, ternyata dokter Rijal membawa anaknya. Kedatangan Prisha jelas hasil dari rengekan panjang pada sang ayah.
"Valeska, lo kalau kaget makin mirip Karin Aespa, cantik banget," ujar Prisha sambil tersenyum nakal.
Valeska membalas dengan tatapan bingung.
"Siapa dulu yang buat?" tanya Girga sambil mengangkat alisnya dengan gaya bangga.
"Iya sih, Om itu memang ganteng banget. Ayah aja kalah ganteng lho, sama Om," celetuk Prisha.
"Ayah itu vibes-nya suram, sementara Om, vibes-nya kayak CEO."
Kata-kata itu membuat dokter Rijal mengusap wajahnya, sedikit frustasi dengan tingkah putrinya yang tak pernah kehabisan energi. Setelah bercanda, Girga meminta dokter Rijal untuk memeriksa Valeska. Minggu ini, entah kenapa, Valeska menolak untuk ke rumah sakit.
"Om, kenapa anaknya dibawa ke sini?" tanya Valeska dengan mata penuh rasa ingin tahu.
"Dia mau ikut, karena katanya kangen sama, Nak Valeska," jawab dokter Rijal dengan jujur.
Valeska menoleh pada Prisha dan tersenyum nakal. "Takut ditinggal pergi sama gue, ya? Padahal, tadi siang kita masih ketemu udah kangen aja, apalagi kalau ditinggal mati,"
Setelah mendengar perkataan Valeska, alih-alih Prisha langsung menutup mulut Valeska dengan tangan, karena tidak suka dengan perkataan temannya itu.
"Jangan bilang kayak gitu, ih! Nanti semua orang di sini jadi sedih," tegurnya dengan nada lembut.
Valeska hanya terkekeh ringan, kembali menatap langit malam yang semakin gelap. Angin berhembus lembut, menyapu dedaunan yang sudah jatuh dari pohon-pohon di sekitarnya.
"Semua hanya titipan, tidak ada yang abadi," kata Valeska, dengan mata yang masih tertuju pada langit yang seakan mengajarkan tentang kepasrahan.
Delina hanya diam sejenak, kemudian mengajak semuanya untuk masuk ke dalam rumah, karena angin semakin kencang.
"Udaranya semakin dingin, kita masuk saja yuk, sambil adek dipriksa sama dokter."
Valeska pun mengangguk, menyetujui ajakan sang mama.Setelah masuk ke dalam rumah, Delina menemani putrinya yang sedang menjalani pemeriksaan kesehatan di kamar lantai dua. Prisha, yang ikut dengan ayahnya, memutuskan untuk menunggu di lantai bawah bersama Kaivandra. Selama pemeriksaan, Valeska hanya diam, sesekali menjelaskan keluhan yang dia rasakan. Sejak tadi, mata dokter Rijal menatap Valeska dengan penuh perhatian.
"Minggu depan, siap untuk kemoterapi?" tanya dokter dengan suara tenang.
Valeska terdiam. Matanya mencari-cari keberanian, kemudian beralih menatap mamanya, sementara Delina bisa melihat ada ketakutan yang jelas terlihat di mata putrinya.
"Nggak mau," jawabnya pelan.
"Kenapa, Nak?" tanya dokter Rijal dengan lembut, mencoba memahami.
"Takut ..." semua orang yang ada di ruangan itu mengerti bahwa kata 'takut' bukanlah sekadar ketakutan biasa. Itu adalah trauma yang mendalam.
Setiap kali mengingat kemoterapi, Valeska akan teringat pada tubuhnya yang harus menanggung efek samping dari obat yang keras. Terakhir kali menjalani kemoterapi, ia bahkan harus masuk ke ICU.
"Tak apa, Nak. Ini demi kesehatan kamu," dokter Rijal mencoba memberikan penjelasan dengan sabar.
"Kesehatan apa yang dimaksud? Kemoterapi memang bisa membunuh sel kanker, tapi sel sehat juga ikut hancur. Aku nggak mau, Dok." Valeska menunduk, air mata mulai mengalir di pipinya, mengenang betapa perihnya proses itu.
Dokter Rijal menghela napas pelan. "Ya sudah, kalau kamu belum siap, jangan dipaksakan. Tapi nanti, kalau kamu merasa sudah siap, hubungi dokter aja,"
Delina, yang sejak tadi mendampingi, mengusap tangan Valeska yang terasa dingin. "Adek takut, Ma ..."
Valeska berbisik, suaranya hampir tak terdengar.
"Mama di sini, sayang. Mama selalu ada untuk adek, bisa ya," jawab Delina dengan suara lembut, menguatkan hati putrinya.
Hening sejenak memenuhi seisi ruangan. Canda tawa yang mengiringi kedatangan Prisha, kini digantikan dengan ketenangan yang penuh kasih sayang.