Bejo Mulyorejo pemuda berusia 18 tahun, dia hidup sendirian di Desa Krajan jauh dari hiruk-pikuk kota. Dia mendapatkan warisan dari leluhurnya menjadi Penggali Makam melanjutkan peninggalan sang kakek buyut.
Kehidupan sehari-hari Bejo terbilang cukup, dia selalu hemat dalam pengeluarannya. Walaupun sesekali dapat bantuan dari orang tak terduga tapi dia berusaha membuka usaha kecil-kecilan, akan tetapi perjalan panjang Bejo sedikit sulit.
Bukan kesulitan tentang kebutuhan tapi kesulitan dalam menghadapi segala penampakan setelah menggali makam, dia yang memiliki mata peka dan terbiasa dengan makhluk gaib namun dia juga memiliki rasa takut tersendiri.
Bagaimana kehidupan Sang Penggali Makam ini, kita lanjutkan dalam perjalanan panjangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D.P. Auzora., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Bidadari Pulang
"SAYANG!"
Dengan kompak Bang Jali dan istrinya berkata, mereka melihat dua gadis muda datang.
Bejo menggelengkan kepalanya, ia tak menyangka jika Intan akan memanggilnya seperti itu.
"Eittss.. mau ngapain?," tanya Bejo.
"Mau peluk calon suamikulah mau ngapain lagi" balas Intan.
Bejo menolak berkali-kali, hingga akhirnya pasrah oleh tingkah Intan. Dinda yang di belakang tertawa kecil, lalu ia berjabat tangan dengan Bejo.
"Siapa ini Mas?"
"Ini Bang Jali dan istrinya Mbak Andin"
Bara mengenalkan pada Dinda dan Intan, namun mereka belum sadar kalau mereka sebenarnya sudah kenal.
"Siapa nih Jo?"
"Ini Dinda sama Intan Bang"
"Astaga! Sudah sebesar ini kalian berdua, cantik-cantik semua"
Dinda dan Intan saling pandang, mereka bingung kenapa bang jali berkata seperti itu.
"Dulu, kalau gak salah Dinda masuk selokan sama Intan. Masih ingat gak kalian berdua?"
Seketika wajah Dinda dan Intan memerah karena Malu, mereka sangat penasaran kenapa Bang Jali bisa mengetahuinya.
"Kok Abang kenal kita!"
"Kalian lupa sama Abang?,"
Dinda dan Intan kompak mengangguk.
"Aku anak Abah Acan, Jaliudin"
Seketika mereka berdua tersentak kaget. Bang Jali tersenyum kecil, sedangkan Bejo menghela napasnya.
"Jadi intan ini calon istrimu?"
"Bisa di bilang begitu bang"
"Terus Dinda siapamu?"
"Kita berdua calon istri Bejo bang"
Dengan malu-malu kucing Intan berkata, Dinda juga ikut menahan perasaan malunya.
Bang Jali dan istrinya saling pandang kebingungan, Bejo sudah pasrah akan semua ini. Ia menghela napas panjang lalu berkata, "Kalian berdua masuk, istirahat dulu" ucap Bejo.
Bejo kembali mengobrol santai dengan Bang Jali dan Istrinya. Mereka bertanya tentang hubungan Bejo dengan begitu perhatian, mereka sangat khawatir jika nanti ada konflik atau semacamnya.
Bang Jali hanya bisa menggelengkan kepalanya, ia tak menyangka bahwa Bejo akan memiliki dua istri sekaligus.
"Jo, caranya gimana?"
"Cara apa Bang!"
"Bisa dapat dua istri"
Andin menatap tajam kearah suaminya.
"Aduh! Aduh! Sayang ampun, aku cuman nanya aja kok"
"Nanyak doang tapi ada niatan"
Bejo menahan tawa melihat Bang Jali di jewer istrinya.
Namun Bejo merasakan sesuatu yang aneh, dimana sejak tadi Anton belum kembali pulang. Bejo menelponnya tapi tidak bisa, hal itu membuat Bejo sangat panik dan Khawatir.
Setelah mengobrol setengah jam, akhirnya Anton kembali.
Namun wajahnya aneh.
"Lu kenapa Ton?," tanya Bejo.
Anton tetap diam, wajahnya pucat pasi.
Jari kanan Bejo menyala redup memberikan sinyal penuh pada Bejo.
Ia menatap lekat-lekat Anton sebelum akhirnya menemukan keanehan dalam pandangan matanya.
Bang Jali ikut kebingungan melihat diamnya Anton.
Setelah mengambil air putih, Bejo berdoa sebentar lalu meminumkannya pada Anton. Kemudian Bejo membasahi wajah Anton, di saat itulah Anton berteriak sekencang mungkin
ARGHHH!
Membuat semua orang yang berada di rumah kaget, termasuk Bejo.
Dinda dan Intan keluar, Mbak Andin melindungi anaknya yang ikut kaget. Bang Jali seketika berdiri, ia sangat terkejut melihat nya.
"Bang tolong pegang tangan Anton"
Bejo terus melafalkan doa, ia merasakan energi hitam pekat dalam diri Anton.
"DASAR MANUSIA BODOH! KAU JANGAN IKUT CAMPUR URUSANKU"
"Siapa Anda? Kenapa masuk dalam raga teman saya!"
"INI PERINGATAN BAGIMU, JANGAN CARI KEBENARANNYA!"
SLAP!
Seketika Anton tak sadarkan diri.
Bang Jali menahan tubuh Anton, sedangkan Bejo merasakan energi jahat itu melesat pergi. Bukan kearah luar namun akan menghampiri Dinda, Seketika Bejo berdiri hadapan Dinda.
PEST!
Tangan Bejo merah padam seperti terbakar Bara api, asap mengepul di tangan Bejo.
Dinda menutupi wajah ketakutan, Intan memeluk Dinda.
Bejo merasakan panas luar biasa, ia menahan sekuat tenaga.
"Ada apa sebenarnya Jo?"
"Nanti dulu bang. Rebahkan Anton di sofa bang"
Kemudian Bejo menyembunyikan tangannya, tapi Intan menyadari bahwa tangan Bejo terluka.
Bejo menghampiri Anton, ia mengeceknya sebentar. Setelah selesai, ia duduk dengan napas tersengal-sengal.
Bang Jali terdiam, ia tak mengerti dengan apa yang terjadi. Andin sama seperti Bang jali, ia merasakan takut dengan peristiwa singkat.
"Mas, tanganmu terluka?"
Kemudian Bejo melihatnya. Benar saja, tangan Bejo terlihat melepuh. Ia menghela napasnya, menahan rasa sakit, nyeri di tangan kanan.
"Dinda ambilkan kotak P3K!"
Dinda mengambilnya.
"Astaghfirullahalazim.. kenapa tanganmu Mas?"
"Sudah tak apa"
"Seperti tadi Mas Bejo menahan asap hitam tipis yang akan mengarah ke dirimu"
Dinda terdiam, ia melihat tangan Bejo terlihat melepuh.
Intan mengobati luka Bejo. Dinda duduk dengan wajah penyesalan, ia menundukkan kepalanya.
"Sudah tak apa kok"
"Kenapa kamu melindungiku? Biarkan saja tadi energi itu mengarah kepadaku"
Bejo menarik tangan yang di obati.
Ia menghadap kearah Dinda, lalu memegang wajahnya.
"Aku sudah berjanji untuk melindungimu, jadi kamu tenang saja"
"Tapi mas-sudah tak perlu tapi-tapi, yang terpenting kamu baik-baik saja" potong Bejo.
Dinda menangis sesenggukan, ia sangat sedih melihat kondisi tangan Bejo terlihat parah menurutnya. Bejo terus menenangkan Dinda dalam pelukannya, Intan ikut memeluk Dinda memberikan kekuatan nyata.
Bang Jali dan Andin tersenyum, mereka merasa senang melihat keakuran dan kepedulian mereka berdua. Satu sisi memberikan perhatian, satu sisi merasa bersalah. Namun dua orang menguatkan satu orang yang merasa itu kesalahannya.
Dinda mulai tenang, ia melihat kearah Bejo. "Sudah ya Dinda, kamu jangan merasa bersalah" sambil mengusap air mata Dinda, Bejo berkata.
"Makasih ya mas"
Dinda tersenyum, lalu kembali memeluk Bejo. Bejo menghela napasnya, ia kebingungan dengan kata-kata dari Anton tadi. Siapa sosok yang berada di dalam tubuh Anton?!.
"Ishh! Aku juga mau di peluk" keluh Intan.
Wajahnya cemberut, tangannya menyilang sambil memalingkan wajahnya. Dinda dan Bejo yang melihatnya tertawa kecil, lalu saling berpelukan.
"Ehem! Ehem!"
Bang Jali batuk pelan, Mbak Andin tersenyum kecil.
Bejo, Dinda dan Intan tersadar kalau masih ada orang lain di sana.
Kondisi Anton masih pucat, Bejo dan Bang Jali kebingungan harus bagaimana. Sedangkan Dinda, Intan dan Andin kini mengobrol bersama.
"Sebenarnya apa yang terjadi Jo?," tanya Bang Jali.
"Aku juga tidak tau Bang" jawab Bejo.
"Tapi tadi sosok yang masuk dalam tubuh Anton seperti marah padamu!"
"Sepertinya"
Bejo mengecek kembali kondisi Anton.
Selang satu jam lebih.
Anton sadar kembali.
Ia membuka mata dengan kebingungan nyata. "Aku dimana!" Suaranya berat, seperti di tahan paksa oleh sesuatu.
"Lu di rumahku Ton"
Anton memalingkan wajahnya. "Kok bisa!"
"Ya gak tau, tiba-tiba wajahmu pucat saat pulang"
Anton terdiam, ia mengingat kembali apa yang terjadi dengan dirinya.
"Sebenarnya lu kenapa?," tanya Bejo.
"Tadi habis beli nasi aku ketemu seseorang memakai pakaian putih-putih, tepat banget di jalan menuju pulang. Aku berhenti sejenak, siapa tau orang itu membutuhkan bantuan. Tapi saat aku dekat, dunia yang pijak seketika berubah"
Bejo dan Bang Jali saling pandang, mereka berdua sangat terkejut mendengar cerita Anton. Bagaimana mungkin bisa berubah tempat dalam waktu singkat, seperti ada sesuatu kejanggalan pada peristiwa yang di alami Anton.