Aruna mencoba segala cara agar pertunangannya dengan seorang Panglima TNI bernama Axel dibatalkan. Tapi semua cara yang ia lakukan itu justru tidak membuahkan hasil sama sekali. Axel justru semakin menyukai dirinya, dan memberikan apapun yang dia mau. Bagaimana kelanjutan kisahnya? ikuti terus hanya disini..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nakorang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 : Dilema.
Di dalam kehangatan ciuman itu, pikiran Aruna bekerja cepat. Ia benar-benar tak menyangka... tak pernah menyangka bahwa pria yang dikenal kejam berdarah-darah dan penuh tipu daya ini ternyata bisa memiliki perasaan seindah dan sedalam itu padanya.
Pengakuan Zayn barusan, tentang dirinya yang merasa "terlalu kotor" dan "tidak pantas" menyentuh bagian terdalam hati Aruna. Ia bisa merasakan ketulusan itu rasa cinta yang besar namun tertahan oleh tembok tebal berupa kenyataan pahit akan identitas mereka yang sangat bertolak belakang.
"Zayn... kau membuatku gila... jelas aku terpesona padamu sejak lama... hanya saja, egoku yang inginkan kebebasan selalu jadi penghalangnya, dan kini... setelah aku tahu kamu adalah bos Mafia... Aku jelas takut, takut terlalu jauh tenggelam dalam dekapan cintamu... aku tak akan kuat dengan dunia gelapmu... dengan semua resiko itu..." ucap Aruna dalam palung hatinya yang paling dalam.
Akal sehat Aruna tetap berjalan. Ia sadar betul. Zayn memang mencintainya, tapi Zayn juga bahaya. Sangat berbahaya. Dunia tempat Zayn hidup adalah dunia yang gelap penuh darah, penuh kebohongan, dan kematian yang selalu mengintai di setiap sudut.
Jika ia memilih Zayn... jika ia memutuskan untuk meninggalkan Axel dan benar-benar menjadi milik pria itu. Aruna tahu, ia tidak akan pernah bisa bahagia sepenuhnya.
Hidupnya akan selalu di bawah bayang-bayang ketakutan, selalu waspada, dan terikat dalam aturan-aturan keras dunia bawah tanah. Kebebasan yang ia cintai akan hilang digantikan oleh rasa was-was yang tak akan selalu menghantuinya.
Zayn terlalu kelam. Dan Aruna... Aruna adalah gadis yang terbiasa dengan cahaya dan kehangatan. Mereka bagaikan dua kutub yang saling tarik menarik, namun tak akan pernah bisa benar-benar menyatu tanpa salah satu dari mereka harus hancur atau berubah menjadi monster juga.
"Bukan salahmu mencintaiku, dan bukan salahku juga aku juga merasakan hal yang sama. Kamu lebih dulu, masuk kedalam hidupku Zayn... hanya saja, kita memang tak bisa bersama." Teriak batinnya perih.
Aruna memejamkan matanya, membiarkan air mata bahagia sekaligus sedih itu bercampur menjadi satu di antara bibir mereka, menerima kenyataan pahit bahwa cinta segitiga ini... memang tak akan ada yang benar-benar menang.
"Aruna... You Drive me Crazy... " Bisik Zayn parau di sela ciuman panas itu.
"I Know... " Balas Aruna lemah, pasrah dengan setiap sentuhan yang diberikan Zayn padanya.
"Do you want more? " Tanya Zayn dengan senyuman memikatnya yang mengoda.
"Yeah... i want more.m. " Jawab Aruna tak menolak. Menarik wajah sang bos mafia kembali mendekat, kembali menyambung ciuman penuh gairah yang akan menjadi kenangan tak terlupakan diantara mereka.
Setelah puas menghabiskan waktu berdua dan menikmati momen perpisahan itu, akhirnya dengan berat hati namun penuh kesadaran, Zayn mengantar Aruna kembali ke rumahnya. Bahkan Zayn memberikan sebuah kalung berlian dengan pemata biru yang langka, sebagai hadiah perpisahan sekaligus harta karun yang sempat diminta Aruna. Mengecup singkat tangan dan keningnya, untik beberapa saat.
"Masuklah... kamu bebas sekarang... berbahagialah Aruna... jangan biarkan siapapun membuatmu meneteskan setetes pun air mata darimu berjanjilah padaku Ratuku... " ucap Zayn penuh penekanan, mengusap lembut wajah cantik itu sebelum akhirnya Aruna memilih masuk tanpa membalas sepatah katapun.
Suasana di rumah Aruna terlihat sangat sepi dan mencekam. Bahkan kedua orang tuanya pun saat itu belum ada di rumah. Jelas ikut mencarinya. Hanya beberapa pelayan rumah yang bergegas menghampiri Aruna dengan wajah pucat dan mata terbelalak kaget.
"Non-nona Aruna?!!" seru salah satu dari mereka terbata-bata, sambil berlari menghampiri diikuti yang lain. "Apa ini benar-benar Nona Aruna??"
"Ya... ini aku. Kenapa sih kalian semua kelihatan panik begitu?" jawab Aruna santai sambil melangkah masuk seenaknya.
"B-bagaimana bisa Nona ada di sini? Bu-bu... kannya... Nona Aruna diculik ya?" tanya pelayan itu terbata-bata. Napasnya tersengal karena panik.
"Hm... enggak tuh. Bukan diculik," jawab Aruna santai setengah berbohong.
"Terus Nona kabur dong ya?" tebak salah satu pelayan lain yang berdiri di dekat pintu.
"Bisa dibilang begitu... iyalah, aku kan bosan," ceplos Aruna, berusaha santai agar mereka tidak terlalu panik. Tapi justru jawaban itu membuat mereka semakin tak habis pikir dengan kelakuan majikannya itu.
Dan mendengar jawaban seenaknya itu, para pelayan justru makin panik dan geleng-geleng kepala.
"Ya ampun Non... Tuan Axel marah besar lho. Gila banget." cerita salah satu pelayan dengan nada takut. "Dia bahkan mengamuk di sini, sampai barang-barang pecah dilempar sembarangan cuma karena Nona hilang. Bahkan penjaga yang waktu itu bertugas sampai dipecat seketika."
"Hah... emang dia orangnya gitu deh, lebay banget!" komentar Aruna mendengus kesal, sama sekali tidak tergugah dengan kekacauan yang ada. Tapi bukan berarti dia tak perduli, dalam hati tentu dia cemas juga pada Axel. Dia bersikap demikian, hanya agar para pelayan tidak terlalu tegang.
"Dimana dia sekarang??" tanya Aruna lagi.
"Mencari Nona kesana kemari... sampai ke setiap sudut kota kayaknya. Semua anak buahnya disebar semua," jawab pelayan itu cepat.
Akhirnya, Aruna pun mengambil ponselnya dan menekan nomor Axel. Tidak butuh waktu lama, panggilan tersambung. Dan begitu mendengar suara Aruna, Axel langsung menghentikan seluruh operasi pencariannya.
Dalam waktu singkat, mobil hitam itu melaju kencang dan berhenti tepat di depan rumah Aruna. Axel turun dengan napas memburu, wajahnya lelah namun matanya langsung menyala saat melihat sosok gadis itu berdiri tegap di ruang tamu.
"ARUNA!!"
Tanpa menunggu sedetik pun, Axel langsung berlari mendekat dan memeluk tubuh gadis itu dengan sangat erat, seolah ingin memastikan bahwa Aruna benar-benar ada di sana dan tidak hilang lagi.
"Kemana sebenarnya kamu pergi?!" tanya Axel parau, suaranya terdengar sangat cemas dan lelah.
"Kabur... soalnya bosan dikurung terus," jawab Aruna santai tanpa beban.
Jantung Axel rasanya ingin meledak saat itu juga. Ia rasanya ingin memecahkan kepalanya sendiri mendengar jawaban itu. Ia sudah panik setengah mati sudah siap berperang dengan dunia tapi ternyata gadis ini hanya bosan?!
Tapi ia tak kuasa untuk benar-benar marah. Melihat Aruna utuh di depannya, amarahnya berubah menjadi rasa sayang yang meluap-luap.
"Aruna?!!! Keterlaluan sekali... kamu sayang... kamu tahu tidak? aku takut setengah mati karna kehilangan kamu!" ucap Axel emosi.
Tangannya meremas agak kuat bahu gadis itu, lalu tanpa aba-aba dan tanpa ampun ia langsung menyambungkan bibir mereka.
Ciuman itu ganas, penuh tuntutan, dan penuh rasa lega bercampur marah. Axel melahap bibir Aruna seakan ingin menghapus semua rasa cemas yang ia rasakan. Namun... ciuman penuh gairah dan rasa lega itu tiba-tiba terhenti di tengah jalan.
Axel menepikan wajahnya perlahan, matanya menyipit tajam. Indra penciumannya menangkap sesuatu yang salah. Ada aroma asing... aroma parfum maskulin yang sangat ia kenal, aroma yang sangat ia benci bercampur dengan wangi tubuh Aruna.
"Aruna..." desisnya rendah, suaranya berubah menjadi dingin dan mencekam.
Ia menatap lurus manik mata gadis itu dengan tatapan menembus. "Kamu sebenarnya dari mana? Katakan sejujurnya padaku sekarang."
"Hah? Aku kan udah bilang..." Aruna mencoba tetap tenang meski jantungnya mulai berdegup kencang. "Tadi jalan-jalan ke mall, terus nyobain parfum baru di counter. Wanginya enak kan?" ucapnya berbohong seenaknya.
"Parfum baru?" Axel mendengus sinis, senyum miring terbentuk di bibirnya namun tidak sampai ke matanya. "Kenapa baunya... justru bikin aku yakin kalau kamu sedang berbohong."
"Gak percaya yasudah! Ngapain juga aku dipermasalahkan terus." Aruna mencoba mengalihkan topik dengan kesal.
"Aruna... sayang... tolong katakan jujur..." Axel mendekatkan wajahnya lagi, tangannya mencengkeram kedua bahu gadis itu kuat-kuat. "Kamu habis dipeluk siapa? Kamu ketemu sama siapa? Jangan bilang... kalau Zayn yang kamu temui?!"
"Ah lebay deh kamu. Bukan kok!" tolak Aruna cepat, wajahnya mulai memerah karena gugup.
"Tak mungkin aku harus jujur padanya... alasan dibalik semua itu... memang Zayn. Maafkan aku Axel, aku... aku mengecewakanmu. Maaf... tapi jujur, aku juga takut jika Zayn berbuat nekat padaku, aku takut... " jerit batin Aruna bingung.
"Lalu... ini apa?!"
Jari telunjuk Axel dengan kasar menyentuh dan mengusap area leher jenjang Aruna yang tertutup samar oleh make up. Di sana, jelas terlihat bercak-bercak kemerahan... bekas ciuman dan gigitan kecil yang baru saja dibuat Zayn beberapa jam yang lalu.
"Gila... bisa-bisanya mata dan penciuman Axel setajam itu. Aku terlalu meremehkannya... aku makin terpojok, bagaimana ini..." Aruna mulai gelisah dalam hati.
Wajah Axel berubah pucat, lalu memerah padam menahan amarah yang luar biasa. Tatapannya sedingin es memandang Aruna, tapi di saat yang sama hatinya hancur dan lemas seketika.
Aruna menggigit bibir bawahnya dengan kuat. Ia bingung setengah mati, tidak tahu harus menjawab apa, tidak tahu cara mengelak lagi. Semua bukti sudah ada di depan mata.
"Axel... aku..." Aruna ingin mencoba menjelaskan perlahan, sudah siap jika Pria di depannya itu akan kecewa. Sudah siapa dengan semua konsekuensi yang ada. Meski Axel ingin pergi sekalipun, dia sudah siap. Tapi jelas, Axel lah yang tak siap mendengar semua itu.
"Sudah."
Potong Axel dingin, menghentikan ucapan Aruna.
"Istirahatlah... kamu pasti lelah. Besok pagi acara pertunangan kita masih harus berjalan. Jangan buat keributan lagi."
Nada suaranya datar, hampa, dan sangat menyakitkan. Tanpa menunggu jawaban, tanpa memarahi atau membentak Aruna, Axel langsung berbalik badan dan berjalan pergi meninggalkan ruangan itu begitu saja.
Ia memilih untuk tidak menanyakan detailnya. Ia sadar, jika ia memaksa tahu lebih dalam, ia hanya akan menemukan kenyataan yang lebih menyakitkan dan membuat kecewa dirinya sendiri. Maka dari itu, ia memilih untuk pura-pura tidak tahu, menelan semua rasa sakit itu sendirian demi esok hari.
Baru saja Axel melangkah keluar dari ruangan, ia berpapasan langsung dengan kedua orang tua Aruna yang baru saja pulang. Wajah mereka terlihat cemas luar biasa, mata mereka merah dan lelah karena seharian ini juga ikut mencari putri mereka yang hilang tanpa kabar, selama berjam-jam tadi.
_____________