Di hari yang seharusnya menjadi hari bahagianya Sonya Munic terpaksa harus membatalkan pernikahannya dengan Sagara Sardi tepat saat akan mengucapkan janji pernikahan. Batara Moretti datang merampas pengantin atas alasan utang keluarga. Padahal keluarga Munic telah mengatur pernikahan Batara dengan Talitha Munic, adik tiri Sonya. Di bawah ancaman nyawa ketua mafia paling berbahaya, Sagara terpaksa menyerahkan calon istrinya.
Tak mudah bagi Sonya, gadis yang terkenal lemah lembut hidup di lingkungan mafia dan sikap dingin Batara yang hanya menganggapnya sebagai istri pelunas hutang. Selain menagih hak suami istri Batara selalu diam dan acuh, saat Sonia mulai berdamai dengan keadaan, satu persatu kebenaran mulai terkuak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terkurung Dalam Sangkar Emas
Mereka menyeret Sonya masuk ke dalam kamar mandi mewah yang luas. Di sana, sebuah bak mandi besar telah terisi air. Tanpa memedulikan kelembutan, Jenna dan temannya melepas gaun pengantin Sonya dengan paksa hingga beberapa bagian jahitannya robek.
Saat Sonya telah berada di bawah kucuran air, Jenna mengambil spons kasar dan sabun antiseptik.
"Tuan Batara bilang kau kotor dan bau, jadi kami harus memastikan seluruh daki dari keluarga miskinmu itu hilang!" ujar Jenna dengan kejam.
Sret! Sret!
Jenna menggosokkan spons kasar itu ke bahu dan punggung Sonya dengan tekanan yang sangat kuat. Kulit Sonya yang terkenal putih, tipis, dan sensitif langsung merespons dengan rasa perih yang luar biasa.
"Ah! Tolong... pelan-pelan... sakit..." Sonya memohon, air matanya kembali menetes, bercampur dengan air pancuran. Dadanya mulai terasa sesak lagi. Penyakit jantungnya membuat aliran darahnya tidak stabil di bawah tekanan fisik dan mental seperti ini.
"Pelan-pelan katamu? Kulitmu ini terlalu tebal atau bagaimana? Tuan Batara menyukai kebersihan, dan jika kau masih bau saat beliau kembali, kami yang akan dihukum!" Jenna sama sekali tidak mengurangi kekuatannya. Ia justru sengaja menggosok dada dan lengan Sonya hingga kulit gadis itu berubah menjadi kemerahan, bahkan di beberapa bagian seperti di lipatan lengan dan tulang selangka kulit halus Sonya mulai terkelupas dan mengeluarkan bintik-bintik darah kecil.
Sonya hanya bisa menggigit bibirnya sendiri hingga berdarah, menahan rasa perih yang membakar di sekujur tubuhnya. Di dalam hatinya, ia menjerit memanggil nama Sagara, berharap pria itu tiba-tiba datang dan menyelamatkannya dari neraka ini.
Setelah hampir setengah jam penyiksaan yang dibalut dengan kata "membersihkan diri", Sonya dituntun keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang gemetar karena kedinginan dan rasa sakit. Ibu Yooka yang melihat kondisi Sonya terkesiap pelan saat menyadari kulit gadis itu memerah ekstrem dan terluka di beberapa tempat.
Ibu Yooka menatap Jenna dengan pandangan menegur. "Jenna! Apa yang kau lakukan padanya?!"
Jenna langsung menundukkan kepalanya, berpura-pura panik. "Maaf, Ibu Yooka... Kami tidak tahu kalau kulit Nyonya baru ini sangat tipis. Kami hanya berniat menjalankan perintah Tuan Batara untuk membersihkannya sampai benar-benar bersih."
Ibu Yooka menghela napas panjang. Ia tahu Jenna sengaja, namun ia tidak punya waktu untuk berdebat sekarang karena Batara bisa kembali kapan saja. "Sudah, keluar kalian berdua. Biar aku yang mengurus sisanya."
"Baik, Ibu Yooka," ucap Jenna. Sebelum berbalik, ia sempat melirik Sonya dengan tatapan penuh kemenangan.
Ibu Yooka dengan lembut membantu Sonya mengeringkan tubuhnya menggunakan handuk lembut, memastikan tidak menyentuh bagian kulit yang terkelupas. Ia kemudian mengambil sebuah gaun tidur dari dalam lemari besar dan menyerahkannya kepada Sonya.
Saat Sonya melihat pakaian itu, matanya membelalak sempurna. Wajahnya yang pucat mendadak memanas karena rasa malu yang luar biasa. Gaun tidur itu terbuat dari bahan sutra transparan berwarna hitam pekat, sangat tipis, dengan potongan dada yang sangat rendah dan belahan paha yang tinggi. Pakaian itu tidak menyembunyikan apa pun dari bentuk tubuhnya.
"I-Ibu... apakah saya harus memakai ini?" tanya Sonya dengan suara cicitan yang sangat pelan. Rasa jijik merayapi dinding hatinya. Ia belum pernah memakai pakaian sevulgar itu seumur hidupnya.
"Ini adalah perintah langsung dari Tuan Batara, Nyonya muda. Semua pakaian di kamar ini telah dipilih sendiri oleh beliau," jawab Ibu Yooka dengan nada tenang namun tegas, mengisyaratkan bahwa tidak ada pilihan lain bagi Sonya selain patuh.
Dengan tangan yang gemetar, Sonya memakai gaun tidur transparan itu. Rasa perih di kulitnya yang terluka bergesekan dengan kain sutra tipis, menciptakan kombinasi rasa sakit fisik dan kehancuran mental yang sempurna.
Ibu Yooka kemudian memanggil Jenna kembali masuk untuk merapikan rambut Sonya, sementara dirinya keluar untuk mengambilkan obat atau salep untuk luka di kulit Sonya.
Jenna melangkah masuk dengan sisir di tangannya. Ia menyuruh Sonya duduk di depan meja rias besar. Saat melihat bayangan Sonya di cermin yang mengenakan pakaian transparan tersebut, tangan Jenna yang memegang sisir mengetat. Rasa iri dan cemburu membakar dadanya. Jenna telah bekerja di mansion ini selama lima tahun, dan ia selalu memendam obsesi rahasia terhadap ketampanan dan kekuasaan Batara Moretti. Ia selalu berharap suatu hari sang tuan akan meliriknya, namun hari ini, seorang gadis lemah dari Kota Biru tiba-tiba datang dan menempati ranjang utama milik tuannya.
Jenna menarik rambut Sonya dengan sengaja saat menyisirnya.
"Aw!" Sonya mengaduh spontan.
"Dengar ya, Wanita Miskin" bisik Jenna tepat di telinga Sonya, menatap tajam mata Sonya lewat pantulan cermin. "Jangan pernah berpikir bahwa karena kau memakai gaun tidur ini dan tidur di ranjang ini, kau telah menjadi ratu di mansion ini. Kau harus tahu diri."
Jenna tersenyum sinis, mencemooh. "Kau lihat kelopak bunga mawar merah yang ditaburkan di atas ranjang itu? Itu bukan tanda sambutan hangat. Itu adalah tanda bahwa kau hanyalah mainan baru. Layani Tuan Batara dengan baik, jangan banyak tingkah, dan jangan pasang wajah menyedihkanmu itu di depan beliau."
Sonya meremat jemarinya sendiri di atas pangkuan, mencoba menulikan telinganya.
"Tuan Batara adalah pria yang cepat bosan," lanjut Jenna dengan nada yang semakin berbisa, sengaja ingin menghancurkan mental Sonya hingga berkeping-keping. "Gadis-gadis seperti kau... setelah Tuan bosan mencicipi tubuhmu, kau tahu apa yang terjadi pada mereka? Beliau akan membuangmu begitu saja. Atau yang lebih buruk, kau akan dijual ke rumah bordir kelas bawah di wilayah perbatasan Maldav untuk menghasilkan uang bagi klan The Inferno."
Kata-kata Jenna mengalir seperti racun yang langsung membekukan darah Sonya. Rumah bordir? Dijual? Pikiran itu membuat seluruh tubuh Sonya mendingin.
Jenna mencondongkan tubuhnya lebih dekat, menekankan setiap kata dengan penuh kebencian. "Kau hanyalah itik buruk rupa yang berpenyakitan. Jangan pernah bermimpi untuk menjadi angsa di kastil ini. Kau tidak akan pernah pantas bersanding dengan Tuan Batara Moretti."
Setelah menyelesaikan kalimat kejamnya, Jenna meletakkan sisir dengan hentikan keras di atas meja rias, lalu melangkah keluar dari kamar, meninggalkan Sonya sendirian dalam keheningan yang mencekam.
Pintu tertutup rapat. Keheningan langsung menyergap kamar luas itu.
Sonya duduk terpaku di kursi meja rias. Air mata yang sempat mengering kini kembali menetes, perlahan tapi deras, membasahi pipinya yang masih terasa menjijikkan akibat jilatan Batara sebelumnya. Tubuhnya yang mengenakan pakaian transparan terasa begitu kotor dan terhina. Ia meremas kedua tangannya dengan sangat kuat, hingga buku-buku jarinya memutih, mencoba menyalurkan rasa sakit yang bergemuruh di dalam dadanya.
Dengan langkah kaki yang lemas dan gemetar, Sonya berjalan mendekati jendela besar di sudut kamar. Ia menyibak sedikit tirai beludru berat yang menutupi kaca tebal itu.
Di luar sana, hujan masih mengguyur bumi dengan derasnya. Di bawah temaram lampu-lampu sorot berdaya tinggi yang menerangi halaman mansion yang luas luar biasa, Sonya bisa melihat puluhan penjaga bertubuh kekar dengan seragam hitam sedang berkeliling melakukan patroli. Anjing-anjing pelacak jenis Doberman yang tampak ganas menggonggong sesekali, menambah kengerian malam itu.
Tempat ini benar-benar sebuah benteng yang mustahil untuk ditembus. Tidak ada jalan keluar bagi gadis lemah seperti dirinya.
Sonya menyandarkan dahinya pada kaca jendela yang dingin, meratapi nasibnya yang begitu malang. Air matanya terus mengaburkan pandangannya terhadap dunia luar. Hanya dalam waktu satu hari, kehidupannya yang tenang di Negara Laviata telah direnggut paksa. Impiannya untuk hidup bahagia bersama pria yang dicintainya musnah seketika.
'Sagara...' batin Sonya menjerit pilu. Wajah Sagara yang tersenyum hangat, genggaman tangannya yang menenangkan, dan janji-janji manis di altar katedral tadi pagi kembali terbayang dengan sangat jelas di pelupuk matanya. 'Sagara, tolong aku... Tempat ini terlalu menakutkan. Aku tidak tahu berapa lama lagi jantungku bisa bertahan di sini...'
Tiba-tiba, suara klik dari gagang pintu kamar yang berputar memecah keheningan malam.
Sonya tersentak hebat. Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat sebelum kembali berpacu dengan kecepatan yang mengerikan, menimbulkan rasa sakit yang menusuk di dadanya. Ia membalikkan badannya dengan cepat, menyandarkan punggungnya pada dinding di dekat jendela.
Pintu besar itu terbuka perlahan, menampilkan sosok tinggi tegap yang paling ditakutinya. Batara Moretti telah kembali, dan malam pertamanya di dalam sangkar emas The Inferno baru saja dimulai.
kasihan Sonya gx pnrh bahagia ,,
lgan si Sonya lemah amat kak ,,
kasih kekuatan super kek si Sonya ,, 🤭🤭🤭🤭