NovelToon NovelToon
Purnama Tertutup Mega

Purnama Tertutup Mega

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Laviolla

Aku sibuk mengurus ibumu di atas pembaringan, sedangkan kamu sibuk menggoyang bosmu yang haus belaian. -Wulan-

Seperti cahaya purnama yang tertutup mega, semua kebaikan dan juga bakti yang sudah diberikan oleh Wulan untuk keluarganya sama sekali tak nampak di mata Awan. Wulan yang sudah dengan sabar merawat sang mertua yang lumpuh karena stroke di sela-sela kewajibannya menjadi seorang ibu muda sampai membuat wanita itu tidak memiliki waktu untuk dirinya sendiri tidak lantas membuat wanita itu mendapatkan balasan kesetiaan.

Wulan memilih untuk berpisah saat memergoki Awan berselingkuh. Wanita itu rela menjanda daripada batinnya selalu tersiksa karena Awan telah terpikat pada seorang janda kaya yang merupakan bos di tempat sang suami bekerja.

Lantas, bagaimanakah Wulan menjalani hari-harinya sebagai seorang janda? Dan bagaimana kehidupan Awan setelah kepergian Wulan? Apakah istri baru Awan bisa menjadi sosok istri dan menantu yang sempurna atau justru durhaka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laviolla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PTM 24. Amanat Sang Nenek

"Woiii berhenti kamu. Jangan lari!"

Di sebuah pasar tradisional, terlihat beberapa orang tengah mengejar pencopet yang melarikan diri. Pencopet itu mulai keluar dari pasar dan berlari sekencang mungkin untuk bisa menghindar dari kumpulan orang yang mengejarnya.

Wulan yang baru saja keluar dari dalam pasar dan berdiri di pinggir jalan untuk menunggu tukang ojek, pandangannya langsung tertuju pada orang-orang yang sedang berlarian itu. Seketika ia langsung paham jika mereka tengah mengejar pencopet atau jambret.

Melihat orang yang menjadi target pengejaran itu menuju ke arahnya, dengan gerak cepat Wulan menjulurkan kaki untuk menjegal si pencopet, hingga akhirnya...

Bugg!!!

"Aaahhhhh sialan....!" pekik si pencopet yang tersungkur di atas aspal. Dengan gerak cepat orang-orang yang berlarian mengejar copet itu bisa langsung menyergap si pencopet.

"Terima kasih banyak Mbak. Berkat Anda, pencopet yang sudah menjadi incaran kami bisa tertangkap."

Seorang lelaki berumur empat puluh tahun mengucapkan terimakasih kepada Wulan. Copet yang sudah lama menjadi target operasi para pedagang di pasar akhirnya tertangkap berkat bantuan dari Wulan.

Tak berselang lama seorang lelaki berusia tiga puluh tahun dengan pakaian casualnya juga terlihat ikut mengerumuni pencopet itu. Jika dilihat dari penampilannya, lelaki inilah yang merupakan pemilik dompet yang dicopet.

"Sama-sama Pak. Tapi saya mohon jangan main hakim ya. Kasihan," ucap Wulan dengan raut wajah yang sedikit iba melihat si pencopet.

"Kasihan bagaimana Mbak? Pencopet ini sudah sangat meresahkan para pedagang dan pengunjung pasar. Bagaimana mungkin kita malah mengasihani?" protes si bapak.

"Pak, barangkali pencopet ini dalam keadaan terdesak. Bisa jadi ada anak yang sedang kelaparan menunggu di rumah. Atau hal-hal mendesak yang lainnya."

"Tapi jangan mencopet juga lah Mbak. Masak ngasih makan anak dengan cara haram begini."

"Betul Pak, maka dari itu saya bilang barangkali keadaan pencopet ini memang terdesak dan pada akhirnya memilih untuk mencopet."

"Lalu harus kita apakan pencopet ini Mbak? Masak dibiarkan saja?"

"Langsung bawa ke kantor polisi saja Pak."

Mendengar ucapan Wulan, membuat orang-orang yang tadinya berniat menghajar si pencopet seketika mereka urungkan niatnya. Mereka saling bertatap netra seakan membenarkan semua yang diucapkan oleh Wulan. Meski pencopet ini bersalah karena sudah bertindak kriminal namun tidak ada hak bagi mereka untuk main hakim sendiri.

Seorang pengendara ojek memberhentikan laju motornya di dekat kerumunan. Hal itu tak luput dari perhatian Wulan. Wanita itu bergegas mendekati si tukang ojek.

"Pak, bisa antar saya?"

"Oh bisa Mbak. Mari saya antar!"

Wulan mendaratkan bokongnya di atas jok motor. Tak berselang lama Wulan dan tukang ojek itu menghilang dari penglihatan orang-orang yang masih berkerumun di tempat ini.

"Mas, ini dompet Anda kan?" tanya si bapak kepada lelaki tampan yang berpakaian casual sembari mengulurkan dompet kulit berwarna cokelat.

"Betul Pak, ini dompet saya," ucapnya sembari menerima dompet itu. "Oh iya Pak, apa Bapak kenal dengan wanita yang menggendong anak tadi?" sambungnya pula.

Si bapak menggeleng. "Tidak Pak, saya tidak kenal. Memang kenapa ya?"

"Oh tidak apa-apa. Saya hanya ingin tahu rumahnya saja. Saya ingin mengucapkan terimakasih karena sudah menjegal pencopet ini sehingga dompet saya terselamatkan."

"Emmmmm.. Begini saja Mas. Nanti Anda bisa tanyakan di mana rumah wanita tadi kepada tukang ojek yang mengantarnya. Kebetulan tukang ojek itu sering mangkal di depan pasar."

"Baiklah kalau begitu Pak. Biar saya tunggu sebentar."

Akhirnya drama pencopetan kelar setelah kumpulan bapak-bapak itu membawa si pencopet ke kantor polisi. Sedangkan lelaki tampan dengan pakaian casual itu masih berdiri di tempatnya untuk menunggu kabar dari si tukang ojek untuk mengetahui di mana wanita itu tinggal.

***

"Ini ongkosnya ya Pak, terima kasih."

Wulan mengulurkan satu lembar uang lima puluh ribuan kepada tukang ojek pengkolan yang membawanya pulang ke rumah. Rumah yang hampir tiga tahun ia tinggalkan dan hari ini tanpa terduga, ia datangi kembali.

"Sebentar saya ambilkan kembaliannya Mbak!"

"Tidak perlu Pak. Kembaliannya Bapak bawa saja."

"Ini benar kembaliannya untuk saya Mbak?" tanya si tukang ojek dengan wajah yang sumringah.

"Betul Pak. Kembaliannya bisa Bapak pakai untuk beli es teh atau es campur."

"Terima kasih banyak ya Mbak. Semoga hidup Mbak nya dipenuhi oleh kebahagiaan dan keberuntungan," doa tulus si tukang ojek.

"Aamiin. Terima kasih banyak untuk doanya Pak."

Bapak tukang ojek kembali menyalakan mesin motornya. Lelaki itu bergegas meninggalkan Wulan untuk kembali ke pangkalan. Wulan berbalik punggung. Kedua matanya menatap lekat sebuah rumah yang ada di hadapannya.

Sebuah rumah yang terbuat dari anyaman bambu dan hanya beralaskan tanah. Atap rumah terlihat sudah lapuk yang bisa jadi sewaktu-waktu akan runtuh. Perlahan, Wulan menyeret langkah kakinya untuk masuk ke dalam rumah. Dengan seksama ia melihat kondisi rumah yang sudah hampir tiga tahun ia tinggalkan ini.

"Sepertinya banyak PR yang harus aku kerjakan untuk merenovasi rumah ini. Bukan renovasi total, tapi hanya sekedar menjadi layak untuk bisa aku tinggali bersama Bagas."

Wulan menghela napas panjang dan kemudian ia hembuskan pelan. Ia mengambil dompet yang ada di dalam tas yang ia bawa. Di dalam sana masih terdapat beberapa lembar uang nominal seratus ribuan pemberian Risma yang rencananya akan ia pergunakan untuk bertahan hidup sementara.

"Jika aku menggunakan uang pemberian Risma untuk sedikit memperbaiki rumah ini lantas bagaimana aku bisa bertahan untuk hidup? Tapi jika tidak segera aku perbaiki, bagaimana dengan anakku?"

Wulan mendaratkan bokongnya di atas kursi kayu masih dengan menggendong Bagas. Ia bahkan belum bisa meletakkan Bagas di atas kasur karena masih banyak debu yang menempel. Wulan mengusap wajahnya sedikit kasar. Dalam keadaan seperti ini ia benar-benar bingung harus melakukan apa.

Wulan bangkit dari posisi duduknya. Tungkai kakinya terayun menuju sebuah almari tua yang berada di sudut kamar. Sebuah almari yang dulu merupakan tempat menyimpan pakaian sang nenek. Wulan membuka almari itu. Terlihat pakaian-pakaian sang nenek yang masih tersimpan di sana. Wanita itu tersenyum kecil ketika teringat masa-masa di mana ia menghabiskan waktu bersama sang nenek di rumah ini.

Srek... Srek... Srek...

Suara sandal yang bergesekan dengan lantai tanah rumah ini membuat Wulan terhenyak. Wanita itu berbalik punggung dan bersegera berjalan ke depan untuk melihat siapa gerangan yang datang.

"Wulan? Kamu pulang?" pekik seorang lelaki paruh baya yang sedikit terkejut melihat keberadaan Wulan.

"Pak Sastro?" lirih Wulan. Ia tersenyum simpul dan menyalami ketua RT di wilayah ini. "Iya Pak, saya pulang. Dan saya memutuskan untuk tinggal di sini."

Dahi Sastro mengerut. "Lalu suamimu?"

Wulan hanya tersenyum tipis. Rasa-rasanya saat ini bukan waktu yang tepat baginya untuk menceritakan perihal rumah tangganya kepada orang lain. Biarkan waktu yang pelan-pelan akan memberitahu kepada dunia jika ia sudah bercerai dari sang suami.

"Maaf Lan, jika pertanyaanku menyinggungmu," ucap Sastro setelah sadar jika Wulan memang sedang menghadapi satu masalah.

"Tidak apa-apa Pak."

"Karena kamu sudah kembali, aku ingin menunaikan amanat yang pernah disampaikan oleh nenekmu, Lan."

"Amanat dari nenek? Maksud pak RT apa?" tanya Wulan yang semakin kebingungan.

"Ayo ikut aku ke rumah. Di sana, kamu nanti akan tahu semuanya."

.

.

.

1
Laviolla
selamat membaca semua.. jangan lupa untuk like komen subscribe follow dan share ya... mkasih
Laviolla
selamat membaca semua... jangan lupa untuk like, komen, subscribe, follow dan share ya.. mkasih
Hanindia
waaaowww dapat warisan,,, selamat Lan.. semoga beruntung hidupmu ke depannya
Hanindia
amanat apa ya kira -kira??? semoga hal yang bermanfaat Lan
suciati
tuh kan bener dapat warisan.../Tongue/ semoga bermanfaat untuk merubah hidupmu lan
suciati
uhuuyyyy dapet warisan kayaknya.../Drool/ bener2 beruntung kamu Lan
Laviolla
selamat membaca semua.. jangan lupa untuk like, komen, subscribe, follow dan share ya.. mkasih
sunaryati jarum
Sepertinya kamu anak yang ditemukannya Nenek Inah,Wulan.Semoga kehidupan kamu selanjut lebih baik Wulan.
linda
rezeki nomplok lan... 🤣🤣
Anonim
Laki goblok tinggalin lan,run
sunaryati jarum
Semoga nenek Wulan Mempunyai peninggalan barang atau ilmu yang dapat mengubah hidup Wulan menjadi baik dan sukses
Laviolla
selamat membaca semua. jgn lupa untuk like komen subscribe follow dan share mkasih
linda
wulan dapat warisan😍😍😍 itu si cowok tampan sepertinya yg bakal jadi jodoh wulan selanjutnya
sunaryati jarum
Semoga langkah kamu menuju kebebasan , kesuksesan dan kebahagiaan. Wulan
linda
bagus Lan.. selamat melanjutkan hidupmu,, smg sukses
suciati
semogq sukses lan
Hanindia
selamat berjuang Lan... semoga kamu sukses
Hanindia
kalian emang serasi... penghianat dan pelakor bersatu
Hanindia
wuiiihh,, udah berani nampar??? emang gila tuh awan
Hanindia
selamat Lan, lelaki kayak awan emg gk pantes dipertahankan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!