NovelToon NovelToon
Jangan Sentuh Anak-anakku

Jangan Sentuh Anak-anakku

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / CEO / Balas Dendam
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ummu Umar

Biah merupakan seorang Single parent yang membesarkan ke-tujuh orang anak, dan diantaranya adalah anak dari adiknya sendiri yang meninggal dalam kecelakaan.

Hidupnya yang dulu bisa berada dirumah setiap hari kini harus berjuang seorang diri untuk membesarkan mereka.

Suaminya meninggal karena menolong seorang perempuan yang hendak diperkosa oleh beberapa orang, dia meninggal sehari sebelum adiknya meninggal dunia dan menitipkan kedua putranya kepadanya

Mampuka dia membesarkan mereka dengan segala himpitan ekonomi dan juga penghinaan orang-orang??

Novel terbaru kami yang penuh kisah inspiratif dan juga tangis

Silahkan dukung kami🙏🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11

Sang ibu hanya bisa menghela nafas, dia berusaha meredam emosinya melihat anaknya bertingkah seperti itu, dia menatap anaknya yang mengamuk dan menendang disekitarnya melampiaskan emosinya dan rasa tidak terimanya.

Dia teringat bagaimana keadaan anak Biah yang sangat lembut dan sopan bahkan pada ibunya sendiri, inilah perbedaan yang mencolok diantara mereka.

Hatinya mencolos sempurna, suaminya benar melihat sikap sopan dan baik anak Biah itu akan membuat siapa saja akan membandingkan anak mereka dengannya, mereka tidak hanya penuh sopan santun tapi juga sangat menjaga ucapannya pada sang ibu dan sangat bertanggungjawab.

"Hentikan tingkahmu itu Romi, kamu akan membuat kita celaka kalau bertingkah seperti itu dijalan". Bentaknya dengan penuh emosi

Dia tidak bisa menahan dirinya untuk melupakan amarah dan kekesalannya kepada sang anak, kepalanya sudah berdenyut hebat karena banyaknya masalah yang datang akhir-akhir ini.

"Aku tidak mau tahu bu, aku harus sekolah besok, aku akan menghancurkan isi kamarku kalau aku tidak kesekolah". Bentaknya mengikuti sang ibu.

Melisa mengepal kan tangannya, hatinya bagai diremas benda tak kasat mata mendengar bentakan dan teriakan sang anak kepadanya, dia masih belum sadar jika dirinya dan suaminya lah yang membuat sang anak seperti ini.

"Diam Romi, aku akan menyuruh ayahmu untuk mendidikmu jika kamu bertingkah lagi, kamu tahu seperti apa ayah kamu kan? ". Jawabnya dengan tajam dan dingin.

Romi mendengus kesal, walau dia sangat marah dan tidak suka tapi mendengar kata ibunya nyalinya menciut seketika, dia tahu bagaimana ayahnya jika dia bertindak dan ketahuan melakukan sesuatu hal yang keterlaluan dan ibunya melaporkannya karena tidak bisa sama sekali diatur.

"Ayolah bu, aku ingin sekolah, bosan dirumah karena tidak ada orang, kalian semua sibuk bekerja dan aku selalu kalian tinggal, setidaknya jika disekolah aku punya banyak teman". Rengeknya seperti biasa jika dia menginginkan sesuatu.

Dia memang sengaja mengeluarkan jurus terakhirnya, dia yakin ibunya akan menuruti segala keinginannya seperti biasa karena dia anak satu-satunya dan anak kesayangan sang ibu.

"Ayolah bu, lakukan sesuatu". Rengeknya menggoyangkan tangan sang ibu dengan wajah dibuat semelas mungkin.

Sang ibu hanya mendengus kesal mendengar rengekan sang anak, dia paling tidak bisa mendengar ucapan sang anak yang satu itu, dia memang menyadari jika dirinya dan suaminya sibuk dengan pekerjaan apalagi suaminya berada di perbatasan dan jarang pulang kerumah karena tugas negara.

"Untuk kali ini ibu tidak bisa Romi, kepala sekolah sudah membuat keputusan dan itu akan dirapatkan pada rapat komite nanti, tapi ibu akan mengusahakan kamu tetap berada disekolah, ibu janji itu jadi nurut dulu untuk sementara, kamu tidak mau melihat ayahmu semakin marah kan? ".

Romi hanya mendengus kesal dan jengkel, tapi dia tidak bisa berbuat apapun karena ayahnya sudah tahu dan akan turun tangan apalagi ternyata keluarga Umar adalah sahabat ayahnya, bisa dalam masalah besar dirinya jika dia bertindak macam-macam.

"Terserah ibu sajalah, aku tidak mau keluar dari sekolah itu, aku akan membalas Umar karena berani melawan ku". Cicitnya pelan tapi masih bisa didengar oleh sang ibu.

Dia menatap sang anak dengan sangat kesal, apa anaknya ini tidak mendengar apa yang dia ucapkan padanya tadi sampai mau kembali berurusan dengan Umar.

"Hentikan itu Romi, ayahmu tidak akan mentoleransi sikapmu kali ini, Umar adalah anak dari dua sahabatnya dan kakek Umar adalah orang yang membiayai sekolah ayahmu hingga seperti ini, jangan membuat semuanya rumit, ibu peringatkan kamu karena ibu mungkin tidak akan bisa membantumu kalau kamu mencari gara-gara dan ayahmu yang bertindak".

Dia sengaja memberi tahu anaknya agar anaknya menghentikan tingkahnya dulu, dia tidak mau terjadi sesuatu karena tingkah anaknya ini, Biah bukan orang sembarangan, dia baru sadar jika dirinya dan suaminya berada dibawah level dengannya.

Dia hanya bisa menghela nafas, dia tidak menyangka jika ornag yang dia dan anaknya Hina ternyata lebih segalanya darinya, dia hanya bisa mengepalkan tangannya erat-erat pada setir mobilnya, dia merasa sangat terhina karena sikap Biah yang tenang tapi mematikan.

"Tapi bu". Ucapnya tidak terima.

"Terserah apa yang kamu katakan Romi, kamu mau bertingkah kali ini maka ibu tidak akan membantumu, sudah bagus kamu tidak dikeluarkan dari sekolah karena memukul donatur utama sekolah".

Romi mengepalkan tangannya, matanya menatap lurus kedepan dengan penuh dendam, dia tidak akan pernah melupakan penghinaan ini, Umar akan dia beri pelajaran jika semuanya sudah berlalu dan ibu dan ayahnya kembali sibuk dan tidak memperhatikannya.

Sedangkan dirumah Biah, dia memeluk ketiga anaknya itu dengan sayang, selama ini mereka tidak pernah mendengar bentakan dan teriakan dirumah, dia yakin anaknya pasti terkejut.

"Tidak apa kak, jangan pikirkan mereka, kalian bisa lihat sendiri jika Romi bisa seperti itu karena kedua orangtuanya memberikan contoh kepada anaknya, kalian semua sudah besar dan sudah tahu membedakan yang baik dan buruk jadi kalian nilai sendiri perbandingannya".

Dia memang mengajarkan anaknya untuk berdiskusi jika terjadi suatu hal, selain mendekatkan ikat akan emosional, dia juga mengajarkan pada anaknya terutama anak lelaki untuk berdiskusi untuk mendapatkan hasil yang baik jadi kelak ketika mereka berada diluar rumah dan akhirnya menikah mereka tahu bagaimana bersikap dan mengambil keputusan.

"Iya bunda, kasihan Romi tumbuh dalam keluarga penuh bentakan dan teriakan seperti itu, dia pasti tertekan".

Umar bergidik ngeri jika dia tinggal ditempat Romi berada yang penuh tekanan, intimidasi dan amarah seperti itu, bunda dan ayahnya tidak pernah melakukan itu kepadanya, jika bundanya marah dia anak diam seribu bahasa sedangkan sang ayah tidak banyak berbicara tapi sangat tegas jika dirinya dan sang adik melakukan kesalahan fatal.

"Iya nak, kelak kalian semua jika sudah dewasa pilihlah gadis yang lemah lembut tapi tegas, kita memang tidak tahu jodoh kita tapi kita harus memantaskan diri supaya Allah memberikan kebaikan dari pasangan kita kelak, kalian adalah pemimpin dan contoh dari anak kalian nanti".

Mereka semua mengangguk kecuali ketiga anaknya yang masih kecil itu, Aminah yang bahkan masih bayi ikut menatap sang ibu seakan mendengarkan nasehat itu.

"Hidup itu singkat nak, jangan memperberat timbangan dosa kita dengan melakukan sesuatu yang tidak baik, kita baik saja belum tentu orang menyukai kita apalagi kita dengan sengaja menyakitinya".

Mereka kembali mengangguk, ibu mereka memang sangat tegas dan penuh emosional jika ada yang mengganggu atau menindas mereka tapi penuh ketenangan dan perencanaan dengan bukti yang matang.

Dia memang baru melihat ibunya yang penuh amarah seperti itu karena om nya memang pernah mengatakan bundanya itu sangat tenang tapi jika ada yang menganggu orang yang dia sayangi dia akan berubah jadi singa yang siap menerkam siapa saja.

"Bunda memang the best". Cicitnya sambil menatap kagum sang ibu

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!