Mona Gradies, wanita 26 tahun yang ceria, blak-blakan, dan sedikit ceroboh, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah bekerja di Aditama Group—perusahaan milik Wira Aditama, seorang CEO berusia 30 tahun yang dikenal dingin, tegas, berwibawa, dan gila kerja.
Di balik sikapnya yang tampak sempurna, Wira menyimpan dunia yang penuh kontrol, aturan, dan jarak dari siapa pun. Namun Mona hadir seperti gangguan yang tidak bisa ia atur—berisik, ceroboh, tapi jujur dan hangat.
Awalnya hanya kesalahan kecil dan perdebatan sepele di kantor. Tapi semakin lama, batas profesional dan perasaan mulai kabur.
Hingga satu peristiwa mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 17- Langkah yang di sembunyikan
Langkah yang Disembunyikan
Pagi itu kantor Aditama Group terasa sedikit berbeda. Bukan karena suasana kerja, tapi karena bisik-bisik yang tidak pernah benar-benar berhenti sejak beberapa hari terakhir.
“Sekretaris baru itu ya… yang sering bareng Pak Wira?”
“Iya, katanya sampai dibawa dinas ke Bandung.”
“Serius? Pak Wira yang itu?”
“Makanya aneh…”
Mona bisa mendengar potongan percakapan itu setiap kali ia melewati meja karyawan lain dan meskipun ia berusaha tidak peduli… tetap saja, itu mengganggu. Ia duduk di meja kerjanya dengan napas pelan.
“Fokus, Mona…” gumamnya pada diri sendiri.
Namun baru saja ia membuka laptop,
“Pagi.” Suara itu membuatnya langsung menoleh.
Wira sudah berdiri di dekat meja tanpa ia sadari datang. Seperti biasa, rapi, tenang dan sulit ditebak.
“Pagi, Pak,” jawab Mona cepat.
Wira melirik meja Mona sekilas. “Meeting jam sembilan dipindah jam delapan.”
“Hah? Kenapa mendadak?”
“Investor lebih cepat datang.”
Mona langsung panik kecil. “Baik, saya siapkan ulang presentasi.”
Wira mengangguk singkat lalu berjalan menuju ruangannya, namun sebelum masuk, ia berhenti sebentar.
“Jangan pedulikan omongan orang.”
Mona terdiam. Wira tidak menoleh saat mengucapkan itu, tapi Mona tahu… itu untuk dirinya.
***
Di dalam ruangan CEO, Wira berdiri di depan jendela kaca besar. Tangannya memegang ponsel. Nama yang muncul di layar membuat ekspresinya sedikit mengeras.
Sandra. Ia menghela napas pelan sebelum mengangkat telepon.
“Ya.”
Suara Sandra terdengar lembut dari seberang. “Kamu sibuk hari ini?”
“Sibuk.”
“Aku mau ketemu.”
Wira diam sesaat. “Untuk apa?”
“Aku ingin bicara tentang kita.” Kalimat itu membuat ruangan terasa lebih dingin.
Wira memejamkan mata sebentar. “Tidak ada ‘kita’ lagi, Sandra.”
Di seberang, Sandra tertawa kecil. “Tapi kamu masih menghindar.”
“Aku tidak menghindar. Aku bekerja.”
“Kalau begitu, temui aku malam ini.”
Wira membuka mata. “Tidak.”
Jawaban singkat itu membuat Sandra terdiam beberapa detik, lalu suaranya berubah sedikit lebih serius.
“Aku di Jakarta sekarang, Wira.”
“Dan?”
“Aku tidak akan pulang sebelum kita bicara.”
Wira menatap langit kota dari balik kaca dan untuk pertama kalinya dalam beberapa hari… ia merasa sesuatu sedang dipaksa untuk kembali terbuka.
“Aku akan pikirkan,” jawabnya akhirnya sebelum memutuskan panggilan.
***
Sore hari, Mona masih sibuk di ruang kerja Wira, namun kali ini suasana sedikit berbeda.
Wira terlihat lebih sering diam dari biasanya. Tidak terlalu banyak bicara dan itu membuat Mona sadar, ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.
“Pak…” Mona memberanikan diri.
“Apa?”
“Meeting malam ini jadi?”
Wira menatapnya sekilas. “Jadi.”
Mona mengangguk, lalu ragu sejenak.
“Dengan investor atau…”
Wira berhenti menatap dokumen dan kali ini, jawabannya tidak langsung keluar.
“Dengan Sandra.”
Mona langsung diam. Tangan yang memegang tablet sedikit menegang tanpa sadar.
“Oh…”
Hanya itu yang bisa ia katakan dan Wira menyadarinya. Cara Mona mengucapkannya, cara ekspresinya berubah sedikit, tapi Wira tidak berkata apa-apa lagi.
***
Malamnya, restoran rooftop hotel di pusat Jakarta tampak mewah seperti biasa. Lampu kota berkelip di kejauhan.
Sandra sudah duduk lebih dulu di meja. Gaun hitam sederhana. Elegan. Tenang. Saat Wira datang, Sandra tersenyum kecil.
“Akhirnya kamu datang.”
Wira duduk tanpa banyak ekspresi. “Cepat bicara.”
Sandra menatapnya lama. “Kamu masih sama ya.”
“Kalau kamu hanya ingin nostalgia, aku tidak punya waktu.”
Sandra menghela napas pelan. “Aku tidak datang untuk nostalgia.” Ia berhenti sebentar. “Aku datang karena aku masih belum selesai dengan kamu.”
Wira menatapnya dingin. “Sudah selesai dari dulu.”
“Tidak untukku.”
Hening.
Angin malam berhembus pelan. Sandra lalu melanjutkan dengan suara lebih lembut.
“Aku tahu kamu dekat dengan sekretarismu.”
Nama itu tidak disebut, tapi Wira langsung tahu siapa yang dimaksud.
“Jangan bawa dia.”
“Aku hanya bertanya,” Sandra tersenyum tipis. “Atau aku terlambat?”
Wira menatapnya tajam. “Itu urusanku.”
Sandra tertawa kecil. “Dulu kamu juga bilang aku urusanmu.”
Kalimat itu membuat Wira terdiam sesaat dan di saat yang sama…
Di tempat lain, Mona baru saja selesai mengirim dokumen terakhir ke Wira, namun entah kenapa… ia merasa tidak tenang malam ini, seperti ada sesuatu yang sedang terjadi di luar jangkauannya, sesuatu yang mulai mengarah pada titik yang tidak bisa ia hindari.
***
Di rooftop itu, Sandra bersandar pelan.
“Aku tidak mau kamu mengulang kesalahan yang sama lagi, Wira.”
Wira mengernyit. “Apa maksudmu?”
Sandra menatapnya dalam. “Kamu tidak pernah benar-benar selesai dengan masa lalu.” Ia berhenti sejenak. “Dan sekarang kamu mulai membuat masa depan yang salah.”
Wira tidak menjawab, tapi untuk pertama kalinya malam itu… tatapannya sedikit goyah. Karena di pikirannya, tanpa ia sadari… nama Mona muncul di antara semua kebisingan itu.