Aline terpaksa menyamar sebagai pengasuh polos demi menyelidiki kematian misterius kakaknya di kediaman seorang leader mafia kejam sekaligus CEO, bernama Adrian. Di sana, ia harus mengurus anak kembar Adrian yang sangat genius namun manipulatif. Masalah rumit muncul ketika anak-anak tersebut justru sengaja menjebak Aline dan Adrian agar menikah, sementara Adrian mulai mencurigai identitas asli Aline yang ternyata memegang kunci rahasia masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Insting Predator yang Terusik
Bab 18: Insting Predator yang Terusik
Langkah kaki Aline bergema sunyi di koridor marmer sayap tengah menuju kamar tidur utama Adrian. Di dalam kepalan tangan kirinya yang tersembunyi di balik saku apron, logam dingin hardware token security milik Adrian terasa seperti sebuah bom waktu. Aline tahu, ia hanya punya waktu kurang dari lima menit sebelum Adrian menyadari ada sesuatu yang hilang dari saku jasnya.
Begitu memasuki kamar raksasa bernuansa hitam-abu tersebut, Aline langsung bergerak menuju lemari jati besar di sisi kanan. Ia membuka pintu kaca gelapnya, memilih kemeja putih kustom berbahan katun Mesir terbaik secara acak, lalu berbalik dengan cepat.
Namun, tepat di ambang pintu kamar, sosok tegap Adrian sudah berdiri di sana.
Kemeja abu-abu gelapnya yang basah oleh kopi telah ditanggalkan, menyisakan tubuh bagian atasnya yang telanjang. Siluet dada bidangnya yang tegap, perut berotot yang kokoh, serta guratan beberapa bekas luka tembak dan sabetan pisau di kulitnya memancarkan aura maskulin yang teramat intimidatif. Sepasang mata elangnya menatap Aline lurus-lurus dengan intensitas yang sanggup menghentikan detak jantung pelayan biasa.
"I-Ini kemejanya, Tuan Besar..." cicit Aline dengan wajah yang mendadak merona merah—separuh akting, separuh lagi karena keterkejutan visual yang murni. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, mengulurkan kemeja bersih itu dengan kedua tangan yang gemetar.
Adrian melangkah maju. Alih-alih meraih kemeja tersebut, tangan kekarnya justru bergerak ke arah saku jas hitamnya yang kini tersampir di lengannya. Ia meraba bagian dalam saku kecil tersebut. kosong.
Rahang Adrian mengetat seketika. Tatapan mafianya mendadak berubah menjadi sedingin es kutub. "Nona Sanyoto. Di mana benda persegi berlapisi karet yang berada di saku dalam jas saya?"
Aline tidak membiarkan matanya berkedip panik. Ia langsung menjatuhkan kemeja putih itu ke lantai, lalu ikut berlutut dengan wajah ketakutan yang luar biasa. "B-Benda apa, Tuan Besar? S-Saya ndak tahu... Tadi waktu saya lap-lap baju Tuan, saya cuma lihat serbet putih saya. Apa bendanya jatuh di ruang makan waktu Tuan Muda Kenzo menyenggol tekonya?"
Aline memutar tubuhnya dengan canggung, berpura-pura mencari di sekeliling lantai, namun dengan gerakan mikro yang teramat cepat, ia menjatuhkan token keamanan tersebut dari balik apronnya ke atas karpet tebal di bawah gantungan baju dekoratif dekat pintu kamar—membuat benda itu terlihat seolah-olah baru saja terjatuh dari jas saat Adrian membawanya berjalan ke kamar.
"Eh? Tuan Besar... itu yang hitam-hitam di dekat keset apa ya?" tunjuk Aline dengan jari gemetar, wajahnya polos tanpa dosa.
Adrian mengikuti arah pandang Aline. Ia melihat token enkripsinya tergeletak di atas karpet. Pria itu membungkuk, memungut benda tersebut, dan memeriksanya dengan saksama. Tidak ada cacat fisik, dan secara logika, benda itu memang bisa saja tergelincir jatuh dari sakunya yang longgar saat ia panik menghindari tumpahan kopi panas tadi.
Namun, insting predator Adrian yang telah terlatih selama belasan tahun di dunia bawah tanah berteriak bahwa ini bukan sekadar kebetulan. Terlalu banyak kebetulan yang terjadi sejak gadis desa ini menginjakkan kakinya di mansion.
"Pakai kemeja ini dan keluar," ucap Adrian rendah, menyerahkan kemeja yang jatuh di lantai kepada Aline dengan suara yang teramat dingin.
Aline menerima kemeja itu dengan membungkuk berkali-kali. "B-Baik, Tuan Besar... Maafkan kecerobohan saya..." Ia langsung melesat keluar ruangan secepat yang ia bisa, mengembuskan napas panjang begitu pintu kamar tertutup. Penyamarannya aman, namun ia sadar, Adrian mulai mencium sesuatu yang janggal.
Satu jam setelah insiden tersebut, Adrian duduk di belakang meja kerja raksasanya di lantai dua. Token keamanan telah terpasang di komputernya, namun ia tidak sedang memeriksa dokumen korporasi. Pria itu sedang menatap layar monitor yang menampilkan profil digital lengkap milik Aline Sanyoto.
Ia menekan tombol interkom di sudut meja. "Rendra. Masuk."
Pintu ruang kerja terbuka, dan kepala keamanan internal klan Dirgantara, seorang pria paruh baya bermata tajam dengan setelan jas hitam taktis, melangkah masuk lalu membungkuk hormat. "Anda memanggil saya, Tuan Besar?"
"Lakukan audit forensik digital ulang terhadap seluruh latar belakang pelayan baru bernama Aline Sanyoto," perintah Adrian, suara baritonnya yang berat terdengar memenuhi ruangan yang sunyi. "Gali sampai ke akar-akarnya. Jangan hanya mengandalkan data pencatatan sipil resmi dari kementerian digital. Aku ingin laporan fisik nyata dari lapangan."
Rendra menaikkan sebelah alisnya. "Bukankah tim siber kita sudah memverifikasi datanya sebelum dia diterima kerja, Tuan? Akta kelahiran, kartu keluarga di desa Jawa Tengah, semuanya valid."
"Lakukan saja," potong Adrian tidak terbantahkan. "Periksa semua foto dokumentasi desa, wawancarai tetangga sekitar secara rahasia. Aku ingin tahu apakah wajah gadis bernama Aline Sanyoto yang asli dari masa kecil memang memiliki struktur tulang wajah yang sama dengan pengasuh yang sekarang ada di rumah ini. Instingku mengatakan ada benang merah yang sengaja diputus di dalam sistem kita."
"Baik, Tuan Besar. Saya akan mengirim tim lapangan malam ini juga secara rahasia," jawab Rendra patuh, lalu berbalik dan meninggalkan ruangan.
Adrian bersandar di kursi kulitnya, memutar-mutar sebuah pulpen emas di jemarinya. Matanya menatap keluar jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan kota dari ketinggian. Bayangan pelukan Aline di gudang bawah tanah dan bekas luka tembak di lengan gadis itu terus mengusik tidurnya.
"Siapa kau sebenarnya, Aline...?" gumam Adrian di dalam keheningan ruang kerjanya, suaranya dipenuhi oleh disonansi kognitif yang parah antara ketertarikan emosional dan kewaspadaan tingkat tinggi seorang bos mafia.