Dia memulai perjalanannya dari dasar Akademi Master Jiwa Junior dengan tongkat besi biasa yang dianggap sampah. Bertahan hidup dalam diam, dia menunggu saat yang tepat untuk memicu sistemnya. Kini, setiap langkah yang ia ambil adalah bayangan kegagalan bagi musuhnya—karena apa yang mereka miliki, akan menjadi miliknya dalam sekejap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 2
Keheningan yang sejenak melanda ruangan asrama itu bukan hanya karena keterkejutan mendengar rencana Xiao Xuan, tapi juga karena beban berat yang kini terasa menggantung di udara.
Bagi kebanyakan murid yang ada di sana, mencapai tingkat sepuluh dan pergi berburu binatang roh adalah momen sakral, langkah pertama menuju jalan menjadi pendekar roh sejati. Namun bagi Tang San, momen ini justru membawa badai besar di dalam hatinya.
Dia menatap punggung tenang Xiao Xuan, perasaan iri, curiga, dan rasa tidak percaya saling berebut kendali di benaknya. Ajaran Guru Yu Xiaogang tertanam sangat kuat di sanubarinya—bahwa bakat bawaan adalah pondasi utama, dan mereka yang memiliki kekuatan roh rendah sejak lahir akan berjalan sangat lambat dan sulit seumur hidup. Tapi kenyataan di depan matanya kini meruntuhkan semua pemahaman itu.
"Mutasi roh..." gumam Tang San pelan, cukup rendah sehingga hanya dia sendiri yang mendengarnya. Matanya menyipit tajam, penuh analisis. Mungkinkah benar-benar hanya mutasi? Atau ada rahasia lain yang disembunyikan pemuda ini?
Dia teringat kembali setiap kejadian sepanjang tahun ini. Cara Xiao Xuan bertindak, cara dia berpikir, ketenangannya di tengah bahaya, serta pengetahuannya yang kadang terasa jauh melampaui usianya.
Semua itu perlahan menyusun gambaran yang tidak lagi sederhana. Xiao Xuan bukan sekadar anak desa biasa dengan bakat rendah seperti yang terlihat di permukaan. Ada sesuatu yang tersembunyi, sesuatu yang membuat Tang San merasa semakin sulit membaca pemuda itu.
Sementara itu, Xiao Wu masih berdiri di samping tempat tidur Xiao Xuan. Senyum cerianya perlahan memudar, digantikan oleh kerutan halus di keningnya. Dia tahu betul seperti apa Hutan Perburuan Jiwa itu.
Di dalam sana, setiap pohon menyimpan bayang-bayang bahaya, setiap suara gemerisik daun bisa jadi pertanda binatang buas yang sedang mengintai mangsa. Sebagai makhluk yang berasal dari ras binatang roh, naluri alaminya memberitahu betapa ganas dan berbahayanya tempat itu.
"Kamu... kamu benar-benar mau pergi sendiri?" tanya Xiao Wu pelan, suaranya kini tak lagi riuh seperti tadi. Matanya yang merah muda menatap lurus ke manik mata hitam Xiao Xuan, mencari kepastian. "Di sana itu bukan sekadar hutan biasa, lho. Ada binatang roh yang kekuatannya jauh di atasmu. Kalau ada apa-apa... siapa yang akan menolongmu?"
Ada getaran khawatir yang tak bisa dia sembunyikan. Selama ini, dia selalu merasa aman di dekat Xiao Xuan, merasa dialah yang lebih kuat dan bisa melindungi.
Tapi sekarang, mendengar pemuda itu berencana masuk ke sarang bahaya seorang diri, rasa takut yang aneh merayap di dada—rasa takut kehilangan satu-satunya orang yang sering membuatnya tertawa dan merasa nyaman.
Xiao Xuan menatap wajah cemas itu, dan hatinya yang biasanya dingin dan tertutup perlahan melunak. Dia tahu betul perasaan Xiao Wu. Gadis ini polos, tulus, dan rasa sayangnya keluar begitu saja tanpa syarat apa pun.
Dia mengangkat tangan, lalu dengan lembut menyentuh puncak kepala Xiao Wu, gerakan yang begitu wajar namun membuat napas Tang San tercekat di belakangnya.
"Jangan khawatir," ucap Xiao Xuan pelan, suaranya rendah namun penuh keyakinan yang menular. Jarinya menyentuh rambut halus itu sejenak sebelum ditarik kembali. "Aku tidak nekat. Aku sudah mempelajari jalannya, tahu batas kemampuanku, dan tahu jenis binatang roh mana yang bisa kuhadapi.
Aku pergi bukan untuk mencari kematian, tapi untuk menjadi lebih kuat. Lagipula... bukankah aku sudah bilang? Aku tidak akan membiarkan diriku celaka sebelum urusanku selesai. Dan kamu... kamu harus tetap di sini, aman. Mengerti?"
Kalimat terakhir itu terdengar lembut, tapi ada nada tegas yang tak bisa dibantah di dalamnya. Dia melindungi dia dengan cara mencegahnya masuk ke dalam bahaya, bukan dengan mengajaknya serta.
Xiao Wu terdiam, bibirnya sedikit mengerucut menahan protes yang tak sempat keluar. Dia ingin sekali berkata bahwa dia bisa ikut, bahwa dia bisa membantu. Tapi akal sehatnya berkata lain.
Dia tahu dirinya sendiri—meski sudah tingkat enam belas, dia belum punya pengalaman bertarung melawan binatang roh liar. Jika dia ikut, dia hanya akan menjadi beban, atau lebih buruk lagi... menjadi sasaran empuk karena identitas aslinya. Dia tak mau itu terjadi, tak mau menjadi alasan kenapa Xiao Xuan harus terluka atau terancam bahaya.
"Baiklah..." jawabnya pelan, kepalanya menunduk sedikit, suara terdengar sedikit mendung. "Tapi... kamu harus berjanji. Kamu harus berhati-hati. Jangan ambil risiko yang tidak perlu. Kalau ada bahaya besar, kamu harus lari, mengerti? Jangan keras kepala sendiri."
Melihat interaksi keduanya, rasa cemburu dan kepahitan di dada Tang San semakin pekat. Dia melangkah maju, menempatkan dirinya di antara keduanya seolah ingin memisahkan jarak yang terasa terlalu dekat itu. Wajahnya kembali berubah serius, tatapannya tajam menembus ke arah Xiao Xuan.
"Xiao Xuan, kamu sadar kan apa konsekuensinya pergi ke sana sendirian? Hutan Perburuan Jiwa itu luas dan berbahaya. Di pinggiran saja masih bisa diatur, tapi sedikit masuk ke dalam, ada binatang roh tingkat tinggi yang bahkan pendekar roh pun harus berhati-hati.
Kamu baru saja mencapai tingkat sepuluh, kekuatanmu belum sepenuhnya stabil. Pergi sendirian sama saja seperti mencari masalah."
Tang San berusaha menyembunyikan rasa curiganya di balik nada peringatan yang terdengar masuk akal. Di satu sisi, dia memang khawatir akan keselamatan teman sekelasnya.
Tapi di sisi lain, ada rasa ingin tahu yang besar—dia ingin tahu seberapa jauh kemampuan asli Xiao Xuan, dan apa sebenarnya yang membuat pemuda ini begitu percaya diri.
"Terima kasih atas perhatianmu, Tang San," jawab Xiao Xuan tenang, tak terpengaruh sedikit pun oleh nada tajam pemuda itu. Dia sudah lama membaca sifat Tang San—waspada, penuh perhitungan, dan sangat protektif terhadap apa yang dia anggap miliknya atau tanggung jawabnya. "Aku tahu risikonya.
Tapi ada hal-hal yang harus dilakukan sendiri. Cincin roh pertama sangat menentukan arah perkembangan rohku ke depannya. Aku harus memilih sendiri, dengan caraku sendiri."
Dia berhenti sejenak, lalu menatap Tang San tepat ke manik matanya, senyum tipis terbit di bibirnya—senyum yang terasa misterius dan sulit diartikan.
"Dan jangan khawatir... aku bukan orang yang mudah mati. Masih banyak hal yang belum selesai, masih banyak orang yang harus kujaga. Aku tidak akan menyerahkan nyawaku sembarangan di sana."
Kalimat itu mengandung makna yang lebih dalam, yang hanya bisa dipahami sepenuhnya oleh dirinya sendiri. Di dalam benaknya, suara lembut yang hanya dia dengar bergema pelan, seperti bisikan takdir yang setia mendampingi:
[Misi: Mendapatkan Cincin Roh Pertama. Hadiah: Peningkatan Bakat Bawaan, Teknik Menanamkan Roh Tingkat Tinggi. Peringatan: Jangan sampai identitas asli diketahui.]
Sistem itu tidak pernah berbohong, dan keberadaannya itulah yang memberinya kepercayaan diri untuk melangkah lebih jauh dibandingkan siapa pun di usianya.
Suasana di ruangan itu perlahan menjadi lebih tenang. Teman-teman sekelas yang lain, meski masih terkejut, mulai mengerti bahwa keputusan Xiao Xuan sudah bulat. Wang Sheng menepuk bahu Xiao Xuan dengan penuh semangat.
"Kalau begitu, kami doakan yang terbaik untukmu! Hati-hati di jalan. Kami tunggu kabar baik saat kamu kembali membawa cincin roh baru. Jangan sampai apa-apa ya, nanti tidak ada lagi yang bisa diajak bertengkar dan mengerjai Xiao Wu."
Tawa renyah kembali terdengar, mencairkan ketegangan yang sempat mengental. Xiao Wu pun kembali mengangkat wajahnya, meski sorot matanya masih menyimpan kekhawatiran yang tak hilang. Dia tahu, apa pun yang terjadi, keputusan Xiao Xuan sudah tak bisa diubah.
"Pokoknya kamu harus kembali dengan selamat," ucapnya tegas, lalu dia menambahkan dengan suara lebih pelan, hampir berbisik, "Aku akan menunggumu di sini. Ingat itu... aku akan menunggu."
Kalimat sederhana itu terasa begitu berat dan penuh makna, terbang terbawa angin sore yang masuk lewat jendela, menyelinap masuk ke telinga Xiao Xuan dan membuat jantungnya berdetak sedikit lebih kencang.
Tang San melihat semua itu, mendengar semua itu, dan rasa gelisah di hatinya semakin tumbuh subur. Dia menyadari satu hal yang tak bisa dia tolak: posisinya sebagai 'kakak pelindung' perlahan mulai tergeser, dan ada tempat di hati
Xiao Wu yang kini diisi oleh orang lain—orang yang jauh lebih misterius, jauh lebih sulit diprediksi, dan yang paling mengganggu... orang yang tampaknya bisa membuat gadis itu merasa lebih aman dan bahagia.
Xiao Xuan mengangguk pelan pada mereka berdua, lalu berbalik kembali ke tempat tidurnya, seolah mengakhiri pembicaraan itu. Namun di dalam hatinya, dia sudah menyusun rencana matang.
Besok pagi-pagi sekali, saat kabut masih tebal menyelimuti tanah, dia akan berangkat. Dia akan menghadapi bahaya itu sendirian, tidak hanya demi kekuatan, tapi juga demi melindungi mereka yang berharga baginya—terutama gadis berambut hitam panjang yang kini menatap punggungnya dengan pandangan yang begitu dalam.
Langkah pertamanya menuju puncak dunia pendekar roh akan dimulai besok. Dan di balik langkah itu, ada rahasia besar, ada kekuatan tersembunyi, dan ada ikatan perasaan yang perlahan terjalin, siap tumbuh semakin kuat seiring dengan petualangan yang masih panjang di depan mata.