Hidup Angel yang semula tenang berubah menjadi menakutkan setelah melihat sesuatu yang tak seharusnya. Setiap malam, tidur nyenyaknya harus terganggu oleh mimpi-mimpi aneh yang membuatnya terbangun tengah malam. Anehnya, mimpi itu hilang setelah ia bertemu William, generasi ke-3 dari Xun Yi Group tempat ia bersekolah dan bekerja. Sebagai tokoh utama di mimpinya, apakah ini ada kaitannya dengan berakhirnya mimpi yang ia alami selama ini? Meskipun William tidak melakukan apapun terhadapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Li Qiqiu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16
Seseorang mengatakan bahwa cinta adalah fitrah yang berasal dari Tuhan. Ia merupakan perasaan yang mulia dan murni dengan tujuan yang sangat agung. Tuhan menganugerahkan cinta kepada makhluk-Nya agar dapat menemukan jalan cahaya, makna, dan roh kehidupan.
Sebagai seorang yang tumbuh dengan membaca kisah-kisah romantis tokohnya dari novel, Angel mengakui bahwa dirinya masih terlalu naif menganggap sebuah hubungan harus didasari dengan dua orang yang saling mencintai. Tak dapat dipungkiri bahwa manusia-termasuk dirinya sendiri- tak bisa hidup jika setiap langkahnya bukan karena cinta. Seperti Angel yang selalu mencintai karir modelingnya, dia rela berjuang keras demi mendapatkan kesempatan meskipun kecil.
"Bapak tidak pernah mengatakan mencintaiku," Angel berkata dengan penuh ketenangan, ia seolah siap dengan apapun yang akan dikatakan William. "Aku menikmati momen kebersamaan kita selama ini, pak. Setelah mengenal bapak aku belajar banyak hal yang selama ini aku anggap tabu, aku mulai memakluminya. Jadi, jika bapak tidak...."
"Aku mencintaimu, Angel," potong William cepat. Ia menatap netra coklat yang penuh keragu-raguan milik gadisnya. "Aku jatuh cinta padamu sejak pertama kali aku melihatmu berdiri di balik pintu. Mata bulatmu yang polos seolah menyihirku untuk masuk ke dalam duniamu yang sepi, menuntunku untuk terus berlari ke arahmu. Aku ingin selalu bersamamu, Angel...."
"Itu tidak mungkin, pak," sambar Angel. Air mata mengenang di pelupuk matanya. Thinking Out loud milik Ed Sheeran mengalun memecah kesunyian yang sempat tercipta. "Aku sangat berterima kasih atas semua yang bapak lakukan untukku. Kehadiran bapak di hidupku beberapa waktu ini adalah salah satu momen terbaik yang tidak akan pernah kulupakan. Selama bersama bapak aku merasakan rasanya diinginkan oleh seseorang. Itu sangat indah, sungguh," ungkap Angel meyakinkan sambil mengenang kembali momen-momen kebersamaan mereka yang tak banyak orang ketahui. "Tapi keindahan itu tidak bisa menjadi alasan untuk kita bersama, pak. Pun dengan perasaan yang bapak miliki terhadapku. Aku tidak bisa menerimanya." Tangan Angel meraih tisu, menghapus jejak air matanya.
Ekspresi kecewa dan tidak terima tergambar jelas di wajah tampan William. Ia menghembuskan nafas kasar. "Beri aku alasan yang masuk akal, Angel," lirih William tajam. Tangan mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih, rasa sakit dan amarah mendengar penolakan Angel menghujam tepat di jantungnya.
Angel menarik nafas panjang, sebenarnya ini adalah kesempatan bagus untuk menunjang karir modelnya. Ia tak perlu pedulikan gunjingan orang lain dan tetap melangkah maju lagipula William akan melindunginya. Tapi entah mengapa Angel tidak bisa melakukannya. William mencintainya, bukankah itu cukup? Soal perasaannya, itu akan tumbuh seiring dengan kebersamaan mereka.
"Umur kita terpaut sangat jauh, pak."
William berdecih, tak habis pikir dengan alasan konyol yang keluar dari bibir manis Angel. Dia berdiri, berjalan memutar dan menghampiri gadisnya. Tangannya memegang bahu, mengarahkan Angel untuk melihatnya.
Angel berdiri menurut, ia memberanikan diri menatap bola mata sehitam jelaga milik William. Indah namun juga menakutkan membuatnya bergidik ngeri.
William menunduk, ia menulusuri wajah Angel yang memerah karena menangis. Perlahan ia memajukan kepalanya hendak mencium namun Angel menghindar. "Katakan kau tidak jatuh cinta padaku, Angel. Katakan sambil menatap mataku," bisiknya berat. Amarah terlihat di kedua bola matanya hingga tanpa sadar cengkramannya di bahu Angel mengencang.
Sinar mentari masuk melalui celah gorden yang tertutup, mencipta garis-garis cahaya di tengah ruangan. Nyala lilin yang sedikit bergoyang akibat hembusan angin yang menerobos ventilasi. Suasana yang sangat romantis meski tidak dilakukan saat malam hari. Sebaliknya, sinar mentari dan cahaya lilin turut memanaskan situasi. Cengkraman di bahunya mengencang, tanpa sadar ringisan keluar dari mulutnya, ia mudur mencoba melepaskan diri hingga punggungnya menabrak meja dan membuat lilin-lilin bergoyang.
William yang menyadari dirinya hampir kehilangan kontrol menarik tangannya dari bahu Angel. "Kita bicara di tempat lain." Dan menggeret Angel menuju kamar, lalu menguncinya.
Suasana kamar Angel yang tenang dengan warna merah muda kontras dengan ketegangan yang tercipta di antara mereka. Angel masih terpaku di depan pintu, bulir-bulir air mulai muncul di dahinya, telapak tangannya basah karena keringat. William masih berada di depannya dengan muka merah dan nyala api di matanya.
Angel menggeleng pelan, mulutnya terbuka hendak mengatakan sesuatu. Setelah ini ia akan menerima konsekuensi apapun. "Aku tidak mencintaimu, pak." Seharusnya itu cukup untuk mengakhiri semuanya, bukan? William bukan tipe pendedam, kan?
***
Angel salah besar.
William belum pernah menerima penolakan. Akibatnya, penolakan kali ini tidak hanya melukai hatinya tapi juga egonya. Gelak tawa keluar mulutnya berbanding terbalik dengan sorot matanya yang tajam. "Kau yakin? Setelah malam-malam yang kita habiskan bersama kau masih belum mencintaiku?" William memajukan kepalanya, berbisik lalu menggigit kecil telinga Angel.
Angel merintih, tubuhnya sedikit bergetar, tangannya refleks menyentuh telinganya. "Pak..."
Belum berhenti, William membawa kepalanya ke ceruk leher Angel, menghidu aroma khas tubuh gadis itu. "Katakan padaku Angel, kau tidak menyukai semua yang kulakukan padamu," ucap William sambil menciumi leher dan pundak Angel, sesekali menjilat, menggigit hingga meninggalkan bekas.
"Hentikan, pak...," mohon Angel, tangannya mencoba melepaskan diri dari kungkungan William. "Ini tidak benar, pak...," lirihnya dengan suara tertahan menahan desahan.
William menghentikan ciumannya, tangannya memegang kepala Angel, gairah terpancar di matanya, bibirnya bergetar. "Kau milikku Angel. Jadilah milikku, Angel. Aku akan melakukan semua yang kau inginkan. Kau ingin menjadi model papan atas kan? Aku akan mewujudkannya. Kau ingin kuliah dimana? US? London? Or Canada? Kau bebas memilih negara manapun, Angel. Tapi kumuhon, jadilah milikku."
Air mata tak berhenti mengalir di pipi Angel, ia menggelengkan kepala pelan. "Pak, kau membuatku takut," gumamnya dengan suara bergetar. Hanya dia dan William di sini, ia takut William akan benar-benar mencelakainya.
"Apa yang kau takutkan, sayang? Ada aku di sini." William melunak, jemarinya turun, dan membimbing Angel duduk di sofa dekat ranjang. Cuaca hari ini sangat panas, William menyalakan AC, membantu Angel melepaskan blazernya, dan menggantungkan di tiang dekat pintu. Semua dilakukan dengan sangat hati-hati dengan tanpa sepatah katapun keluar. Ia mengambil gelas yang berisi air di atas nakas, menyodorkannya pada Angel. "Minumlah."
Dengan tatapan bingung, Angel menerima gelas tersebut lalu meminumnya hingga tandas. "Sikap bapak yang tiba-tiba berubah seperti ini semakin membuatku takut," lirihnya setelah meneguk air hingga tandas.
William menyeka bekas air di bibir Angel, netranya mengikuti gerakan jempolnya yang memutar-mutar. "Aku yang tergesa-gesa membuatmu takut, pun dengan diriku yang penuh ketenangan. Jadi aku harus bagaimana agar dirimu nyaman untuk bersamaku, Angel?" William berujar pelan, tanpa aba-aba ia mencuri cium bibir Angel.
Angel terkejut namun terlambat untuk menyadari dan melarikan diri. Punggungnya menyentuh sandaran sofa ketika William menariknya lebih dekat tanpa memberi banyak ruang untuk berpikir. Jemarinya menyusup ke pinggangnya, membelainya dengan penuh kelembutan, lalu mencengkram dan menahan tubuhnya seakan takut ia akan menjauh.
"Bagaimana? Apakah kau menyukainya?" tanya William disela ciumannya. Tatapan mereka bertaut sebelum William kembali mencium bibirnya, lebih dalam dan lapar, seolah seluruh kesabarannya telah runtuh.
Ciumannya terasa menuntut. Bukan kasar, tetapi penuh kendali yang membuat dada Angel sesak oleh degub yang semakin cepat. Napas William memburu di sela kecupan yang tak memberinya kesempatan pulih. Sesekali bibir mereka terlepas hanya untuk saling menatap dalam jarak yang terlalu dekat, lalu kembali merebut ciumannya dengan intensitas yang sama.
Angel mengerahkan segenap kekuatannya mendorong William menjauh. "Hentikan, pak! "
***