NovelToon NovelToon
JEBAKAN SANG MANTAN : Membeli Kehancuranmu Dengan Senyuman

JEBAKAN SANG MANTAN : Membeli Kehancuranmu Dengan Senyuman

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Katumbiri Lazuardi

​"Dulu aku adalah bayangan yang kau injak, kini aku adalah cahaya yang akan membutakan matamu."

​Selama lima tahun, Aruna percaya bahwa cinta dan pengabdian adalah kunci kebahagiaan pernikahan. Namun, ia salah. Di rumah megah keluarga Adrian, Aruna tak lebih dari pelayan tak berbayar yang dihina oleh mertuanya dan dianggap "sampah" oleh suaminya sendiri. Puncaknya, Adrian menceraikannya dengan fitnah keji, mengusirnya di tengah hujan badai tanpa sepeser pun uang, demi wanita lain yang dianggap lebih "berkelas".

​Aruna hancur, namun ia tidak mati.
Aruna berjanji akan bangkit, Walau tanpa Adrian sekalipun.

Bagaimana Aruna, membalas sakit hatinya pada Adrian dan Mertuanya..!!
baca novel ini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: Akar yang Dikhianati

​Malam di kediaman Adiwangsa tidak pernah benar-benar sunyi bagi Aruna. Meskipun jam dinding di ruang tengah telah menunjukkan pukul dua dini hari, suara detak jarumnya terasa seperti palu yang menghantam martabatnya berkali-kali. Aruna duduk bersimpuh di lantai kamarnya yang dingin, bukan di atas ranjang king size yang seharusnya ia bagi bersama Adrian. Kamar itu kini terasa seperti penjara berlapis emas.

​Di jemarinya yang gemetar, ia menggenggam sebuah liontin perak kusam yang permukaannya sudah mulai terkelupas. Ini adalah satu-satunya peninggalan almarhum ayahnya, Bapak Surya, pria yang membangun segalanya dari nol. Aruna memejamkan mata, dan seketika memori lima tahun lalu berputar seperti film tua yang menyakitkan.

​Ia ingat betul hari itu. Hari di mana ayahnya terbaring lemah di ranjang rumah sakit, napasnya tersengal, namun matanya menatap Adrian dengan penuh harapan. Saat itu, Adrian hanyalah seorang pemuda ambisius yang bekerja sebagai manajer tingkat menengah di perusahaan logistik milik ayahnya. Adrian terlihat begitu tulus, begitu setia mendampingi Aruna yang saat itu hancur karena berita penyakit ayahnya.

​"Adrian, jaga Aruna. Dia satu-satunya yang kupunya," bisik Ayahnya saat itu. "Ambil alih kargo ini. Besarkan dia. Aku percayakan masa depan putriku dan seluruh keringat hidupku di tanganmu."

​Adrian menangis hari itu. Aruna pun menangis, mengira ia telah menemukan pelabuhan terakhir yang aman. Namun kini, setelah ayahnya tiada dan seluruh aset perusahaan berpindah tangan secara sah, tangis Adrian kala itu terasa seperti akting kelas Oscar.

​Pagi datang dengan cahaya matahari yang menyakitkan mata. Aruna bangun dengan sendi yang kaku. Ia tidak memiliki waktu untuk meratapi nasib karena suara lengkingan Nyonya Adiwangsa sudah menggema dari lantai bawah.

​"Aruna! Mana sarapannya? Kau pikir ini hotel?"

​Aruna segera membasuh wajahnya, menutupi mata sembabnya dengan sedikit bedak tipis, dan turun ke bawah. Di meja makan, pemandangan yang menghancurkan hatinya kembali tersaji. Adrian duduk dengan setelan jas mahal seharga puluhan juta rupiah, sementara di sampingnya, Valerie—wanita yang kini terang-terangan merebut posisinya—sedang sibuk memotongkan steak wagyu untuk Adrian.

​"Selamat pagi, 'Istri Formal'," sindir Valerie dengan nada manis yang dibuat-buat. Ia melirik gaun rumahan Aruna yang sudah mulai pudar warnanya. "Oh, Adrian, apakah kau tidak memberi uang belanja pada Aruna? Kasihan sekali, bajunya terlihat seperti kain pel di kantorku."

​Adrian tidak mengangkat wajahnya dari koran bisnis. "Dia punya cukup uang, Valerie. Dia hanya tidak tahu cara bersolek. Lagipula, untuk apa bersolek kalau hanya di dapur?"

​Ibu mertua Aruna tertawa kecil, suara tawa yang bagi Aruna terdengar seperti gesekan amplas pada luka terbuka. "Sudahlah, jangan bahas baju. Aruna, sini. Karena kau masih di sini sampai bulan depan, aku ingin kau membersihkan gudang di belakang. Aku ingin tempat itu dikosongkan untuk studio senam baru Valerie."

​Jantung Aruna mencelos. "Gudang belakang? Tapi Ma, itu tempat barang-barang peninggalan Ayahku. Semua arsip lama dan barang pribadinya ada di sana."

​"Barang rongsokan, maksudmu?" sela Adrian, kini ia menutup korannya dan menatap Aruna dengan mata dingin yang tak lagi memiliki sisa kehangatan. "Aruna, perusahaan kargo ayahmu itu sudah tidak ada. Sekarang itu adalah Adiwangsa Logistik. Semuanya sudah diperbarui. Barang-barang tua itu hanya memenuhi tempat dan membuat rumah ini terlihat kumuh."

​"Tapi Adrian, itu sejarah kita. Itu modal awalmu membangun semua ini!" suara Aruna mulai meninggi karena emosi yang tertahan.

​"Modal?" Adrian berdiri, tawanya meledak sinis. "Modal itu hanya selembar kertas, Aruna. Kesuksesan yang kau lihat sekarang adalah karena otakku, bukan karena gudang tua ayahmu. Jangan pernah berani mengklaim kesuksesanku sebagai milik ayahmu lagi."

​Valerie bangkit, mendekati Aruna. Ia melirik liontin perak di leher Aruna. Dengan gerakan cepat yang tak terduga, ia menyentuh liontin itu. "Perhiasan murahan seperti ini juga sebaiknya kau buang. Tidak pantas berada di rumah ini."

​"Jangan sentuh!" Aruna menepis tangan Valerie dengan kasar.

​Plak!

​Sebuah tamparan mendarat di pipi Aruna. Bukan dari Valerie, tapi dari Adrian.

​"Jangan berani menyentuh Valerie dengan tangan kasarmu itu!" bentak Adrian. Suasana ruang makan seketika menjadi senyap. "Satu bulan ini adalah kemurahan hatiku agar kau tidak menjadi gelandangan seketika. Jika kau membuat masalah lagi, aku akan memastikan sidang cerai ini berakhir dengan kau tidak mendapatkan satu rupiah pun."

​Aruna memegang pipinya yang panas. Rasa perihnya menjalar hingga ke ulu hati. Namun, di tengah rasa sakit itu, ada sebuah pikiran yang melintas. Gudang. Mengapa mereka tiba-tiba ingin mengosongkan gudang itu sekarang? Padahal selama lima tahun, mereka bahkan takut menginjakkan kaki di sana karena menganggapnya berdebu dan angker.

​Siang harinya, dengan tubuh yang masih gemetar, Aruna berjalan menuju gudang belakang. Di bawah pengawasan ketat mata Ibu mertuanya dari balkon, Aruna mulai memindahkan kardus-kardus tua.

​Debu memenuhi udara, membuat Aruna terbatuk. Namun matanya mencari sesuatu. Ia ingat ayahnya pernah berkata bahwa jika suatu saat dunia berbalik memunggunginya, ia harus mencari "kotak hitam" di balik lemari jati tua.

​Selama ini Aruna terlalu percaya pada suaminya sehingga ia tidak pernah merasa perlu mencari kotak itu. Ia pikir cintanya adalah jaminan keamanan. Betapa bodohnya dia.

​Setelah berjam-jam menggeser barang, di sudut paling gelap di balik tumpukan kayu lapuk, ia menemukannya. Sebuah kotak kecil berbahan besi yang tertutup lapisan debu tebal. Brankas manual.

​Aruna menyembunyikannya di balik tumpukan kain kusam saat ia mendengar langkah kaki mendekat.

​"Sudah selesai?" tanya Nyonya Adiwangsa dengan nada tidak sabar. "Ingat, besok truk sampah akan datang. Semua yang tidak kau bawa keluar dari sini akan dibuang ke tempat sampah. Termasuk kenangan bodohmu itu."

​Aruna menunduk, menyembunyikan kilat di matanya. "Iya, Ma. Besok semuanya akan selesai."

​Malam itu, di dalam kamarnya yang terkunci rapat, Aruna mencoba membuka brankas itu dengan tanggal lahir ayahnya. Klik.

​Pintu kecil itu terbuka. Di dalamnya bukan berisi perhiasan atau emas. Isinya adalah tumpukan map cokelat yang sudah menguning dan sebuah buku catatan kecil bersampul kulit.

​Aruna mulai membaca satu per satu dokumen itu. Napasnya memburu. Ternyata, selama ini Adrian telah melakukan manipulasi besar. Dokumen penyerahan aset yang ditandatangani ayahnya di rumah sakit memiliki klausul tambahan yang selama ini disembunyikan: Aset hanya boleh dikelola Adrian selama ia tetap menjadi suami sah Aruna. Jika terjadi perceraian karena kesalahan pihak pria, maka seluruh aset induk harus dikembalikan kepada Aruna secara utuh.

​Tangan Aruna gemetar hebat. Jadi ini sebabnya Adrian ingin menceraikannya dengan fitnah agar ia terlihat sebagai pihak yang bersalah? Ini sebabnya mereka ingin membuang barang-barang di gudang sebelum Aruna sempat menyadarinya?

​Sebuah senyuman tipis, dingin, dan penuh luka muncul di wajah Aruna.

​"Kau ingin aku pergi tanpa membawa apa-apa, Adrian?" bisik Aruna pada kegelapan malam. "Kita lihat saja nanti. Siapa yang akan keluar dari rumah ini tanpa mengenakan apa-apa."

​Aruna tahu, ia belum bisa membongkar ini sekarang. Ia lemah. Ia tidak punya pengacara, tidak punya relasi, dan tidak punya uang tunai. Jika ia menunjukkan dokumen ini sekarang, Adrian bisa dengan mudah membunuhnya atau menghancurkan bukti itu.

​Ia harus bertahan. Ia harus memainkan peran sebagai istri yang hancur dan tertindas selama masa sidang ini, sambil diam-diam merencanakan langkah catur yang akan menenggelamkan seluruh keluarga Adiwangsa.

​Di luar, hujan mulai turun. Aruna menatap jendela, membayangkan wajah angkuh Valerie dan Adrian. Nikmatilah kemenangan semu kalian, batinnya. Karena setiap senyuman yang kalian berikan padaku hari ini,suatu saat nanti akan kubeli kembali dengan kehancuran kalian esok hari.

1
Katumbiri Lazuardi
berikan saran dan kritiknya ya teman-teman
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!