NovelToon NovelToon
Satu Klikku Menghapus Dunia Mereka

Satu Klikku Menghapus Dunia Mereka

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Anak Genius / Action
Popularitas:425
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Di dunia yang dikendalikan oleh data, kekuasaan bukan lagi milik mereka yang duduk di kursi tertinggi—melainkan milik mereka yang menguasai sistem. Dan di puncak bayangan itu, ada satu nama yang tak pernah benar-benar ada… namun ditakuti semua orang.
Veyra Noctis.
Tak ada wajah, tak ada identitas pasti. Hanya jejak digital yang dingin dan presisi. Ia bukan sekadar hacker—ia adalah arsitek kehancuran. Ambisinya bukan uang, bukan ketenaran… melainkan kendali penuh atas dunia yang pernah merenggut segalanya darinya.
Dulu, Veyra hanyalah seseorang yang percaya pada keadilan. Sampai satu pengkhianatan menghancurkan hidupnya, menghapus keluarganya, dan membuatnya menghilang dari dunia nyata. Namun dari kehancuran itu, lahirlah sosok baru—lebih dingin, lebih cerdas, dan tanpa ampun.
Kini, dengan satu klik dari ujung jarinya, ia bisa menghancurkan reputasi, meruntuhkan kerajaan bisnis, bahkan menghapus keberadaan seseorang dari dunia digital…

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Tiga Detik yang Membuat Dunia Berlutut

Tiga detik.

Kedengarannya singkat.

Tapi malam itu—

tiga detik cukup untuk membuat seluruh dunia lumpuh.

Semua jaringan mati.

Bukan melambat.

Bukan error.

Benar-benar mati.

Pesawat kehilangan komunikasi.

Satelit berhenti merespons.

Sistem pertahanan negara blank total.

Rumah sakit kehilangan akses digital.

Bank, internet, listrik, pusat data—

semuanya hilang dalam satu kedipan.

Dan selama tiga detik itu…

dunia modern kembali jadi dunia kosong.

Lalu ketika semuanya menyala lagi—

ketakutan sudah menyebar lebih cepat daripada berita apa pun.

Karena sekarang semua negara tahu satu hal.

Ada seseorang yang bisa mematikan dunia.

Dan orang itu bernama Veyra.

Di dalam gedung—

semuanya sunyi.

Asap memenuhi udara.

Dinding hampir runtuh.

Alarm sudah mati.

Hanya suara hujan dan napas berat yang tersisa.

Veyra masih berdiri di tengah ruangan.

Namun cahaya biru di tubuhnya kini jauh lebih redup.

Tubuhnya lemas.

Dan kalau bukan karena Lyra yang masih memeluknya—

mungkin ia sudah jatuh sejak tadi.

“...Kamu masih sadar?” bisik Lyra pelan.

Veyra tertawa kecil.

Lemah.

“Sayangnya iya.”

Lyra menghela napas lega.

Namun rasa lega itu tidak bertahan lama.

Karena layar terbesar di ruangan tiba-tiba menyala lagi.

Glitch.

Lalu muncul wajah pria misterius itu.

Namun kali ini—

tak ada senyum.

Tak ada ketenangan palsu.

Ia terlihat marah.

Dan itu membuat suasana jadi lebih buruk.

“Kamu sadar apa yang baru saja kamu lakukan?” tanyanya dingin.

Veyra menatap malas.

“Kalau mau marah, antre.”

“Kamu membuat seluruh dunia panik.”

“Bagus.”

Deg.

Jawaban itu keluar terlalu cepat.

Terlalu dingin.

Dan Veyra sadar itu.

Namun ia terlalu capek buat pura-pura peduli.

Pria itu menatapnya tajam.

“Kamu baru saja membuktikan bahwa manusia tidak akan pernah membiarkanmu hidup bebas.”

Sunyi.

Kalimat itu menghantam lebih keras dari ancaman.

Karena Veyra tahu—

itu benar.

Mulai malam ini…

seluruh dunia akan memburunya.

Bukan cuma pemerintah.

Bukan cuma organisasi.

Semua orang.

Karena manusia selalu takut pada sesuatu yang tidak bisa mereka kendalikan.

Dan Veyra—

sudah melewati batas rasa takut itu.

Selene mendecakkan lidah pelan.

“Yah. Sekarang kita resmi masuk level internasional.”

Pria di belakang terminal terlihat pucat.

“Kita harus pergi dari sini sekarang.”

“Wah, akhirnya ada ide bagus keluar dari mulutmu,” jawab Selene santai.

Namun sebelum mereka bergerak—

seluruh gedung tiba-tiba bergetar lagi.

DUUUUMMM!

Retakan besar muncul di lantai.

Debu jatuh dari atas.

Dan suara mesin berat mulai terdengar dari luar.

Lyra langsung menegang.

“Itu bukan drone.”

Selene berjalan ke jendela pecah.

Lalu perlahan—

ekspresinya berubah.

“...Oh.”

“Apa?” tanya Veyra lelah.

Selene menatap keluar beberapa detik sebelum menjawab.

“Militer.”

Deg.

Di luar gedung—

jalanan dipenuhi kendaraan tempur hitam.

Lampu sorot mengarah ke bangunan mereka.

Puluhan pasukan bersenjata lengkap mengepung area.

Dan di langit—

helikopter mulai muncul satu per satu.

Bukan operasi biasa.

Ini perburuan.

Untuk satu orang.

Veyra.

“Cepat banget,” gumam Lyra.

“Mereka panik,” jawab Selene.

“Dan orang panik selalu bikin keputusan bodoh.”

Tiba-tiba suara keras menggema dari luar menggunakan pengeras suara.

“DENGARKAN BAIK-BAIK!”

Suara pria asing terdengar dingin dan tegas.

“TARGET DENGAN IDENTITAS ZERO HARUS MENYERAH SEKARANG!”

Veyra memutar mata malas.

“Zero lagi. Mereka nggak kreatif.”

“Jika target tidak menyerah…”

Suara itu berhenti sebentar.

“…kami akan menghancurkan gedung ini.”

Sunyi.

Lalu Selene tertawa kecil.

“Wow. Sangat diplomatis.”

Namun Lyra tidak tertawa.

Karena ia tahu—

mereka serius.

Veyra perlahan berjalan mendekati jendela.

Tubuhnya masih lemah.

Namun saat lampu sorot mengenai wajahnya—

seluruh pasukan di bawah langsung tegang.

Karena mereka akhirnya melihatnya.

Gadis yang baru saja membuat dunia mati selama tiga detik.

Dan anehnya—

Veyra tidak terlihat seperti monster.

Ia hanya terlihat lelah.

Sangat lelah.

“Lucu,” gumamnya sambil melihat mereka semua.

“Apa?” tanya Lyra pelan.

“Mereka takut sama satu orang…”

Matanya perlahan menyipit.

“…tapi yang mereka bawa malah pasukan satu negara.”

Selene menyeringai.

“Itu artinya kamu spesial.”

Suara dari luar kembali terdengar.

“KAMU TIDAK PUNYA JALAN KELUAR!”

Veyra tertawa kecil.

Namun kali ini—

tawanya terdengar dingin.

“Manusia memang suka ngomong begitu.”

Cahaya biru di matanya mulai muncul lagi.

Dan seluruh perangkat militer di luar langsung glitch sesaat.

Pasukan panik.

“SISTEM ERROR!”

“JANGAN DEKATKAN DRONE!”

Namun Veyra tidak menyerang.

Belum.

Karena untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai—

ia merasa benar-benar lelah membenci dunia.

Lyra mendekat perlahan.

“Kita bisa kabur lewat bawah tanah.”

Selene langsung mengangguk.

“Aku juga pilih opsi hidup.”

Namun Veyra tidak bergerak.

Tatapannya masih ke luar jendela.

Ke arah ratusan orang yang siap membunuhnya.

“Kalau aku kabur terus…” katanya pelan, “kapan semua ini selesai?”

Sunyi.

Tak ada yang langsung menjawab.

Karena pertanyaan itu terlalu berat.

Pria misterius di layar akhirnya bicara lagi.

“Tidak akan pernah selesai.”

Semua menoleh.

Ia menatap Veyra dengan tenang.

“Selama manusia takut padamu… mereka akan terus memburumu.”

“Dan solusi menurutmu?”

“Jadilah sesuatu yang lebih tinggi dari rasa takut mereka.”

Lyra langsung marah.

“Diam!”

Namun pria itu terus bicara.

“Lihat mereka.”

Tatapannya menuju pasukan di luar.

“Mereka tidak melihatmu sebagai manusia lagi.”

Deg.

Veyra diam.

Karena lagi-lagi—

ia benar.

Hologram yang sejak tadi glitch perlahan muncul kembali.

Namun kini jauh lebih rusak.

Wajahnya pecah-pecah seperti data korup.

“Mereka akan terus menyakitimu.”

“Terus memburumu.”

“Terus mencoba mengendalikanmu.”

Cahaya biru di ruangan kembali berkedip.

Dan Veyra mulai merasakan bisikan itu masuk lagi ke kepalanya.

Halus.

Pelan.

Berbahaya.

“Aku bisa menghentikan semuanya.”

Veyra memejamkan mata.

Napasnya berat.

Karena bagian paling menyeramkan—

ia mulai tergoda lagi.

Tiba-tiba—

DOOOORRR!

Salah satu misil menghantam sisi gedung.

Lantai langsung miring.

Lyra hampir jatuh.

Selene mengumpat pelan.

“Mereka mulai nggak sabar.”

Suara pengeras kembali terdengar.

“INI PERINGATAN TERAKHIR!”

Veyra membuka mata perlahan.

Dan saat ia melihat keluar—

ia melihat sesuatu yang membuatnya membeku.

Di antara kerumunan pasukan…

ada anak kecil.

Seorang bocah laki-laki berdiri di belakang mobil militer sambil menangis ketakutan karena terpisah dari ibunya saat evakuasi.

Deg.

Semua suara di kepala Veyra mendadak pelan.

Karena pemandangan itu—

terlalu familiar.

Ia seperti melihat dirinya sendiri dulu.

Kecil.

Takut.

Sendirian.

“...Sial.”

Lyra langsung sadar ada yang berubah.

“Apa?”

Veyra tertawa kecil.

Namun kali ini—

sangat pahit.

“Aku benci kenyataan kalau aku masih peduli.”

Hologram langsung glitch keras.

“Emosi adalah kelemahan.”

“Tidak.”

Untuk pertama kalinya—

jawaban Veyra datang tanpa ragu.

Ia menatap bocah kecil itu lagi.

Lalu berkata pelan—

“Kalau aku berhenti peduli…”

Matanya perlahan menyala biru terang.

“…maka mereka benar-benar menang.”

1
Frando Wijaya
hee....hanya 1 klik...mka org yg buat Dia menderita... langsung hancurkn reputasi Dan sbgny sampe hancur tanpa sisa sedikitpun ya? luar biasa 👏...gw simpen ini dlo..krn ada novel lain yg gw blom baca selesai
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!