Mereka menyebutnya perempuan api dari Bukit Menoreh.
Putri seorang punggawa sakti yang tumbuh bersama pedang dan dendam.
Saat kematian ayahnya menyeretnya ke dalam pusaran perang dan kesalahpahaman, Srikandi percaya kerajaan telah mengkhianati darah ayahnya.
Namun semakin jauh ia melangkah… semakin ia sadar bahwa luka manusia tak pernah sesederhana hitam dan putih.
Terlebih ketika hatinya justru jatuh pada lelaki yang tak mungkin ia miliki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENGOBATI
Srikandi masih terbaring di ranjangnya. Semua rasa sakit yang kemarin ia rasakan sudah perlahan menghilang. Di luar kamar, Rukmi mengoceh tanpa henti.
"Kandi! Kandi! Coba yo, kamu itu di rumah aja. Lebih baik kamu buat anyaman kain atau menyulam!"
"Bukan lompat sana-sini seperti kera!" omel Rukmi kesal.
Ia memasak makanan untuk keponakannya itu. Semangkuk bubur untuk memulihkan tenaga Srikandi.
"Ayo duduk!" suruh Rukmi ketika masuk.
Srikandi mencoba bangkit, tapi kepalanya masih pusing.
"Aduh!" ia mengaduh pelan.
Rukmi buru-buru meletakkan mangkuk di atas meja. Lalu membantu Srikandi duduk.
"Sini, biar Bibi suapi," Rukmi hendak menyuapi tapi, Srikandi langsung menolak.
"Aku bisa sendiri ...," Rukmi pun diam. Tapi ia tak mengambil mangkuk itu dari sisi Srikandi.
Srikandi menoleh padanya, Rukmi mencibir.
"Katanya kamu bisa sendiri!" sinisnya.
Srikandi diam, ia memang belum mampu banyak bergerak. Bahkan untuk menolehkan badan, ia merasakan sakit luar biasa.
"Maaf, Bi ... Tolong suapi ...," cicit Srikandi malu.
Rukmi hanya mendumal pelan, tapi ia mengambil mangkuk bubur itu dan menyuapi keponakannya.
"Kata Sri Baginda Raja harus habis!" seru Rukmi melotot ketika Srikandi tak mau lagi membuka mulutnya.
"Sri Baginda Raja kesini?" tanyaa Srikandi.
"Kau pikir, tubuhmu itu entah dari belantara mana bisa sampai rumah dalam keadaan utuh itu berkat siapa?" oceh Rukmi cerewet.
"Aku ...," Srikandi tak dapat menjawabnya.
"Kau beruntung ditemukan oleh Sri Baginda Raja, Nduk. Andai tidak. Mungkin tubuhmu sudah jadi santapan binatang liar di atas bukit sana!" oceh Rukmi lagi kesal.
"Jadi, Bibi ketemu Baginda Raja?"
"Iya .... aku yang menerimamu pingsan ...."
"Oh ... Pantas Bibi mau merawatku ...," potong Srikandi yang membuat Rukmi terdiam, tapi ia melotot pada keponakannya itu.
"Kau tak mau ku urus!" serunya marah.
"Mau, Bi ... Kalau bibi berkenan ...."
Rukmi sebenarnya mau marah, tapi ia kemarin sangat takut dengan tatapan rajanya.
"Jaga dan rawat dia. Jika aku mendengar keluhan Srikandi. Aku pastikan kau tak bisa naik lereng ini lagi, Rukmi!" ancam pria penguasa itu tajam.
Rukmi nyaris kencing di tempat. Ia meringkuk ketakutan saat Prabu Laksa tiba-tiba mendobrak pintu dengan membawa Srikandi dalan gendongannya.
Rukmi nyaris histeris melihat Srikandi yang seperti tanpa tulang. Ia mengira keponakannya itu sudah mati.
"Jujur. Bibi memang diancam raja. Tapi bukan itu saja ...," sahutnya pelan lalu menyiapkan sendok terakhir bubur ke mulut Srikandi.
"Apa Bi?" tanya Srikandi. Ia merasa baikan setelah memakan bubur dari bibinya.
"Aku merasa bersalah pada ayahmu ...," aku Rukmi pelan.
"Bibi... merasa bersalah pada Ayah?" tanya Srikandi lirih, memastikan bahwa telinganya tidak salah mendengar akibat sisa ledakan di bukit kemarin.
Rukmi mengembuskan napas panjang, tatapannya beralih ke lantai bambu yang renggang.
"Iya, Nduk. Selama belasan tahun ini, setiap kali Bibi melihat gubuk ini dari bawah lereng, hati Bibi selalu mengganjal. Tapi ego Bibi terlalu besar. Bibi selalu berpikir, Kakanda Abda yang salah karena memilih hidup melarat di sini demi merawat Ibu," ujarnya lagi.
Rukmi menyeka sudut matanya yang mendadak basah dengan ujung kebayanya yang loak.
"Dulu, Bibi yang mengusir Kakanda Abda dan Ibu di malam hari. Bibi takut ketularan sakit, Bibi takut miskin. Tapi Kakanda Abda... dia tidak pernah mendendam. Bahkan saat kalian tidak punya beras, dia tetap membiarkan Bibi mengambil hasil kebunnya tanpa pernah sekalipun menegur atau meminta ganti," lanjut Rukmi, suaranya bergetar menahan tangis.
Srikandi terdiam. Ia ingat betul bagaimana ayahnya selalu tersenyum setiap kali Bibi Rukmi datang mengomel dan pulang membawa sekarung singkong.
“Biarkan saja, Kandi. Kebun kita luas, dan Rukmi itu adik perempuan Ayah satu-satunya,” begitu kata Ki Abda dulu.
"Bibi tidak mau dihukum langit karena terus-terusan memusuhi anak yatim piatu," cicit Rukmi lagi, mencoba mengembalikan ketegarannya walau gagal total.
"Lagipula... kalau kamu mati, siapa lagi yang mau Bibi omeli di lereng ini? Si Doko itu diajak ngomong dikit langsung nangis!" lanjutnya lagi kesal.
Mendengar keluhan konyol tentang Doko, Srikandi tidak bisa menahan senyum tipisnya. Rasa hangat perlahan menjalar di dadanya, meluluhkan sebagian rasa sakit di sekujur tulangnya.
Lalu tiba-tiba, Doko masuk sambil berteriak.
"Ibu!"
Rukmi gegas melangkah keluar dan menatap putranya yang sudah menggelosor ke lantai semen dengan bibir cemberut.
"Eh ... Anak lanang ... Ada apa?" tanyanya kaget lalu mendekat.
"Ibu ... Kok ibu malah ngurusi Srikandi. Yang anakmu iku aku loh!" protes Doko kesal.
Rukmi menghela nafasnya, lalu ia mengambil sesuatu dari balik kebayanya. Sebuah koin emas. Mata Doko langsung membesar.
"Ibu ... Ini uang milik slapa?" serunya.
"Shhhh!! Jangan keras-keras!" perintah Rukmi sambil melirik kamar Srikandi, Doko langsung menutup mulutnya dengan tangan.
"Ini ambillah. Beli apapun yang kau butuhkan!" ujar Rukmi lagi berbisik.
Doko dengan cepat mengambil koin emas itu dengan wajah berbinar-binar.
"Ini bisa dipakai minum kopi di warung Nyimas Padan Laran!" serunya girang.
"Kopi?" kening Rukmi berkerut.
"Iya Ibu, warung Nyimas Padan Laran sekarang selain gadis-gadisnya yang makin aduhai. Ada minuman baru dari tanah seberang, yakni kopi!" jawab Doko semangat.
"Wah ... pasti mahal!" seru Rukmi menerka.
"Iya ... eh ... Bu, di warung Nyimas Padan Laran. Aku dengar kabar jika gerombolan pasukan hitam kemarin berhasil menyerang prajurit Kali Ireng diam-diam," sahut Doko berbisik.
"Shhhh ... Jaga bicaramu, Nak!" peringat Rukmi berbisik.
Doko kembali menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Sudah sana!" usir Rukmi.
Doko pun bangkit dari semen dan langsung keluar rumah dengan senyum lebar. Ia berhenti sesaat karena tabib suruhan istana datang.
"Sampurasun, cah lanang!" sapa tabib itu.
"Rampes!" sahut Doko lalu ia berlalu dari sana.
Rukmi menyambut pria itu dan membawanya ke dalam. Tabib memeriksa keadaan Srikandi. Ia mengangguk puas melihat perkembangan gadis itu.
"Bisa saya bicara secara pribadi dengan Srikandi?" pinta Tabib menatap Rukmi yang duduk di sana.
"Ah ... Baiklah!" angguk Rukmi lalu keluar kamar dan meninggalkan mereka.
Tabib mengerahkan ilmu tenaga dalamnya. Ia berbicara lewat indera hatinya. Srikandi yang baru pulih merasakan sesuatu.
"Anggukan kepalamu jika kau mendengar suara ini, Srikandi!"
Srikandi terdiam, ia menatap Tabib yang tengah menggunakan indera suara dari hatinya bernama telepati.
Srikandi mengangguk dan menggunakan ilmu yang sama.
"Ya, aku mendengarmu, Tabib!"
"Baik lah, Prabu Raja berpesan agar kau memulihkan diri dulu. Baru boleh berkegiatan!"
"Baiklah!" sahut Srikandi dalam hati.
"Sekarang duduk bersila. Prabu Laksa menitipkan sesuatu untuk diberikan padamu!" suruh tabib tanpa menggerakkan bibirnya.
Srikandi pun bersila, ia memejamkan mata dengan sikap tubuh sempurna. Lalu perlahan, ia merasakan sesuatu mengalir dalam darahnya.
"Sri Baginda Raja mengunci aliran racun penghancur raga yang menyatu dalam aliran Godokan Petapa Gua Ijen!"
Srikandi menerima aliran itu tanpa perlawanan. Aliran yang berasa sejuk dan menenangkan. Setelah beberapa lama, aliran energi itu pun menghilang. Tanda jika seluruh ilmu yang dititipkan sudah menyatu di sana.
"Srikandi!" panggil tabib.
"Ya," sahut gadis itu.
"Ini plakat masuk istana. Jangan sampai hilang!" ujar tabib menyerahkan satu benda berupa koin bergambar kerajaan yang diberi tali panjang.
Srikandi menerimanya lalu mengenakannya di leher.
"Aku pergi!" ujar tabib lalu keluar rumah.
"Terima kasih Tabib!"
Tak ada jawaban, Rukmi masuk kamar dan menatapnya penuh curiga.
"Apa, Bi?"
"Cis!" Rukmi berdecih.
"Aku pulang dulu!" ujarnya lalu meninggalkan Srikandi begitu saja.
Bersambung.
Ah....
Next?
nyi padan serem akh
lanjut