Di puncak tertinggi Sembilan Ranah, Yu Fan adalah legenda—seorang Master Tingkat 9 yang menyentuh ranah kedewaan. Namun, kepercayaan adalah pedang bermata dua; ia dikhianati oleh sahabat masa kecilnya dan dibuang ke Dunia Fana dalam keadaan hancur.
Setelah 50.000 tahun tersegel dalam kegelapan yang sunyi, Yu Fan terbangun di dunia yang telah berubah total. Kekuatannya sirna, ingatannya terkikis, namun api amarah di jiwanya tetap membara. Di dunia baru ini, sang pengkhianat dipuja sebagai Dewi Kebajikan, dan sekte yang membantainya telah menjadi penguasa tunggal yang paling disegani.
Mengenakan jubah hitam dan memikul kutukan energi Yin yang dingin, Yu Fan harus memulai kembali perjalanannya dari titik terendah. Di antara kepingan ingatan yang hilang dan dunia yang penuh kebohongan, Sang Ashura akan bangkit kembali—bukan untuk menjadi pahlawan, melainkan untuk menghancurkan langit yang telah memuarakannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fandy syahputra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Fajar Sang Pahlawan dan Gema yang Mengguncang Benua
Dua minggu. Empat belas hari penuh siksaan batin telah berlalu, namun pemuda yang terbaring di ranjang paviliun medis inti itu masih belum menunjukkan tanda-tanda akan kembali dari dunia fana yang hampa. Segala jenis metode penyembuhan, mulai dari ramuan herbal tingkat tinggi, alkimia pemurni jiwa, hingga penyaluran energi batin murni dari para tetua, telah dikerahkan sampai batas maksimal. Namun, hasilnya tetap nihil. Tubuh Yu Fan tetap sedingin es, mengunci rapat seluruh kesadarannya dari dunia luar.
Pagi itu, atmosfer di dalam kamar medis terasa semakin berat dan menyesakkan. Dekan Akademi dan Wakil Dekan kembali melangkah masuk dengan raut wajah yang dipenuhi kecemasan mendalam. Langkah kaki mereka yang berat seolah mempertegas keputusasaan yang mulai merayap di lingkungan institusi tersebut.
"Bagaimana kondisinya hari ini, Nona Yan Er?" tanya Wakil Dekan seraya melangkah mendekati sisi ranjang, sepasang matanya yang tua menatap lekat pada wajah kaku Yu Fan.
Yan Er, yang lingkaran hitam di bawah matanya kini terlihat semakin jelas akibat menolak untuk beristirahat dengan layak, hanya bisa menggelengkan kepala pelan. Jemarinya yang halus masih setia menggenggam telapak tangan kiri Yu Fan, mencoba menyalurkan riak kecil sihir rembulan yang ia pelajari di Akademi Saint-Aurelius, meskipun ia tahu energi itu akan kembali terpental.
"Tidak ada perubahan sama sekali, Wakil Dekan," jawab Yan Er dengan suara yang serak dan bergetar menahan tangis. "Denyut batinnya masih sangat dalam, seolah-olah dia berada di tempat yang tidak bisa dijangkau oleh sihir atau energi spiritual mana pun. Benteng di dalam tubuhnya terlalu kokoh."
Di seberang ranjang, Jin Yuexin hanya bisa terdiam seribu bahasa. Keangkuhan khas putri kekaisaran yang biasanya melekat pada dirinya kini telah sirna sepenuhnya, digantikan oleh tatapan kosong yang sarat akan kepedihan. Di dalam pangkuannya, Chen Yang kecil tampak meringkuk lemas. Bocah delapan tahun itu telah menangis hingga kehabisan air mata, tertidur dalam dekapan Yuexin sambil terus menggenggam erat ujung selimut yang menutupi tubuh Yu Fan. Yuexin mengusap rambut Chen Yang secara perlahan, mencoba memberikan ketenangan yang bahkan tidak bisa ia berikan kepada dirinya sendiri.
"Kita tidak bisa terus menunggu tanpa melakukan apa-apa," gumam Yuexin dengan nada parau, matanya menatap tajam ke arah Dekan. "Kakek Dekan, apakah benar-benar tidak ada formasi kuno lain di dalam menara suci yang bisa kita gunakan untuk memaksa kesadarannya keluar? Aku bersedia menanggung seluruh biayanya, bahkan jika harus menguras isi gudang harta Kekaisaran Tianwu sekalipun!"
Dekan Akademi mengembus napas panjang, jubah kebesarannya tampak sedikit longgar karena beban pikiran yang ia pikul selama dua minggu terakhir. "Ini bukan masalah sumber daya atau batu spiritual, Yuexin. Seperti yang sudah pernah aku katakan, jiwanya saat ini sedang berada dalam fase isolasi mandiri. Jika kita memaksakan energi luar untuk mendobrak gerbang batinnya secara brutal, itu justru bisa menghancurkan Dantian dan merobek jiwanya secara permanen. Dia sedang bertarung di dalam sana, dan kita hanya bisa..."
HUMMMMMM!
Belum sempat Dekan menyelesaikan kalimatnya, sebuah dentuman batin yang sangat berat tiba-tiba menggema dari dalam tubuh Yu Fan. Gelombang tekanan spiritual yang begitu pekat mendadak melesat keluar, menghantam dinding-dinding kamar medis hingga membuat seluruh botol ramuan herbal di atas meja bergetar hebat dan retak.
"Apa yang terjadi?!" pekik Yan Er spontan, terpaksa melepaskan genggaman tangannya karena rasa panas yang mendadak menyengat jemarinya.
Di depan mata mereka semua, tubuh kaku Yu Fan perlahan-lahan terangkat dari atas kasur. Tubuhnya melayang di udara, setinggi tiga jengkal dari permukaan ranjang. Detik berikutnya, dua warna aura yang saling bertolak belakang keluar secara meledak-ledak dari pori-pori kulitnya. Dari sisi kanan tubuhnya, memancar keluar cahaya emas murni yang sangat cerah dan hangat, sebuah manifestasi energi batin yang agung. Namun, dari sisi kiri tubuhnya, menyembur aura merah pekat sewarna darah yang sangat dingin, pekat, dan sarat akan hawa membunuh yang mengerikan.
Kedua aura tersebut tidak menyatu, melainkan saling bertabrakan dengan sangat brutal di udara. Suara gemercik energi yang beradu terdengar bagai sambaran petir kecil di dalam ruangan. BZZZZT! BANG! "Mundur! Lindungi anak itu!" perintah Dekan dengan cepat, langsung merentangkan tangannya untuk membentuk perisai transparan di depan Jin Yuexin dan Chen Yang yang baru saja terbangun dengan wajah panik.
Yan Er menolak untuk mundur terlalu jauh; sepasang matanya menatap horor pada pusaran dua warna yang sedang menyelimuti tubuh Yu Fan. "Aura merah itu... itu adalah energi pekat yang sama dengan yang dia gunakan malam itu! Tapi dari mana datangnya aura emas cerah tersebut? Mereka seperti sedang berperang untuk memperebutkan kendali atas tubuhnya!"
Sementara situasi di dunia nyata berada dalam kondisi genting, jauh di dalam dimensi kesadaran batin yang terdalam, sebuah pertempuran yang jauh lebih mengerikan telah berlangsung selama belasan hari tanpa henti.
BOOM!
Yu Fan terlempar beberapa meter ke belakang, telapak kaki batinnya menggesek permukaan air hitam yang kini bergejolak hebat. Di dalam dunia jiwanya, wujud Yu Fan dilapisi oleh armor cahaya emas cerah yang memancar dari inti batin murninya. Di seberangnya, berdiri sosok dirinya yang lain, manifestasi dari sisa-sisa esensi haus darah kuno yang diselimuti oleh aura merah pekat bagai kabut darah neraka.
Wajah sosok merah itu tampak sangat murka, taring spiritualnya mencuat samar saat dia meraung dengan suara yang mengguncang dimensi jiwa. "Kau sebut aku apa?! Hanya sebuah instrumen?! Hanya sebuah kekuatan yang tidak punya hak?! Berani sekali kau, Yu Fan! Aku adalah bagian dari garis darah yang membuat tiga master tingkat tujuh bertekuk lutut! Tanpa energi merah pekat ini, kau hanyalah tumpukan daging hancur di tangan mayat-mayat hidup itu!"
Sosok merah itu melesat maju, kecepatannya melampaui batas logika, meninggalkan jejak robekan spasial di dalam dimensi jiwa. Sebuah cakar energi merah pekat mengarah lurus ke arah tenggorokan Yu Fan, berniat untuk merobek kesadaran utamanya dan mengambil alih wadah fisik secara paksa.
Namun, sepasang mata Yu Fan tetap tenang bagai telaga purba. Selama dua minggu terjebak di dalam sini, dia telah memahami satu hal: kekuatan sejati tidak terletak pada seberapa besar amarah yang dilepaskan, melainkan pada seberapa mutlak kendali atas diri sendiri.
"Kau terlalu berisik," ucap Yu Fan datar.
Sret!
Dengan satu gerakan tangan yang sangat presisi, Yu Fan menghindar ke samping. Cahaya emas di sekujur tubuhnya mendadak meledak dengan intensitas yang berkali-kali lipat lebih cerah, menekan hawa dingin dari kabut merah tersebut. Insting bertarung tingkat sembilan yang telah terasah selama puluhan ribu tahun di Alam Atas membuat setiap pergerakannya menjadi sangat efisien dan mematikan.
Yu Fan memutar tubuhnya, memanfaatkan momentum kegagalan serangan sosok merah itu. Tangan kanannya yang diselimuti oleh aksara segel emas murni melesat maju bagai kilat.
CHAK!
Cengkeraman lima jari Yu Fan mendarat dengan sangat akurat, langsung mengunci dan mencekik leher sosok merah itu dengan kekuatan yang absolut. Tekanan energi emasnya begitu besar hingga membuat seluruh aura merah pekat yang membakar di tubuh sosok itu mendadak meredup dan terdistorsi.
"Ugh... K-Kau..." Sosok merah itu tercekik, sepasang matanya yang merah menyala menatap Yu Fan dengan campuran antara rasa tidak percaya dan ketakutan yang mendalam. Dia mencoba mencakar tangan Yu Fan, namun setiap kali energinya menyentuh kulit Yu Fan, cahaya emas itu langsung membakarnya hingga menjadi asap.
"Aku sudah mengatakannya kepadamu dua minggu lalu," ujar Yu Fan, suaranya bergema dengan otoritas yang tidak bisa diganggu gugat, menatap lurus ke dalam mata batinnya yang memberontak. "Kau kekuatan atas dari garis darahku, maka kau harus tunduk di bawah kehendakku. Aku tidak akan membiarkan amarah liar atau dendam masa lalu mengendalikan langkahku di dunia fana ini. Jika kau menolak untuk menjadi kekuatanku yang setia, maka tempatmu adalah di dalam kurungan terdalam dari kesadaran ku."
Yu Fan mengangkat tangan kirinya, menjalin sebuah segel batin kuno yang sangat rumit dengan kecepatan tinggi. Aksara-aksara emas berukuran kecil mulai melesat keluar dari telapak tangannya, merayap naik ke tubuh sosok merah itu, mengikat dada, lengan, hingga mengunci seluruh inti energinya.
"Segel Batin Sembilan Matahari: Kunci!" seru Yu Fan lantang.
"TIDAKKKK! YU FANNN!!! KAU AKAN MENYESALINYA!!!"
"Aku akan berusaha tidak menggunakan dirimu, aku akan berusaha menggunakan kekuatan ku sendiri." Ujar Yu Fan.
Sosok merah itu menjerit histeris saat tubuh energinya mulai meleleh dan tersedot masuk kembali ke dalam pusat Dantian terdalam Yu Fan, dipaksa tunduk dan disegel di bawah tumpukan energi emas cerah yang kini mendominasi seluruh lanskap jiwa. Pusaran air hitam di bawah kaki Yu Fan perlahan-lahan kembali tenang, menjadi sejernih cermin yang memantulkan cahaya fajar yang agung.
Di dunia nyata, pertempuran aura yang menegangkan di dalam kamar medis mendadak berhenti. Aura merah pekat yang tadinya meledak-ledak seketika tersedot masuk kembali ke dalam dada Yu Fan, menyisakan pancaran aura emas cerah yang sangat lembut dan menenangkan di sekujur tubuhnya.
Seiring dengan meredupnya cahaya emas tersebut, tubuh Yu Fan yang melayang perlahan-lahan turun kembali, mendarat dengan sangat lembut di atas kasur kayu tempatnya semula terbaring.
Hah...
Sebuah tarikan napas yang dalam dan panjang berembus dari bibir Yu Fan. Kelopak matanya yang telah terpejam selama empat belas hari perlahan-lahan bergerak, sebelum akhirnya terbuka sepenuhnya. Sepasang mata hitam normal yang jernih, tanpa ada sisa kilatan merah haus darah—kini menatap lurus ke arah langit-langit langit kayu paviliun medis.
"Kakak Yu Fan!!!" pekik Chen Yang yang pertama kali menyadari hal itu. Bocah itu langsung melompat dari pangkuan Yuexin dengan wajah yang dipenuhi kebahagiaan luar biasa.
Yu Fan mengedipkan matanya beberapa kali, mencoba menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya matahari yang masuk melalui celah jendela. Dia menggerakkan lehernya yang terasa sangat kaku, menoleh ke sisi kiri dan kanan ranjang. Di sana, dia melihat wajah-wajah yang sangat familiar, Jin Yuexin, Yan Er, Chen Yang, serta Dekan dan Wakil Dekan yang langsung mengembuskan napas lega yang sangat panjang.
"Yu... Yu Fan? Kau benar-benar sudah sadar?" tanya Jin Yuexin, suaranya bergetar hebat dengan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Suamiku!" Yan Er tidak bisa menahan diri lagi. Dia langsung maju selangkah, mencondongkan tubuhnya ke depan ranjang dengan wajah penuh kelegaaan yang teramat sangat. "Syukurlah... demi Dewa Bulan, kau akhirnya kembali!"
Yu Fan mencoba menyangga tubuhnya untuk duduk, namun rasa lemas yang teramat sangat langsung menjalar di seluruh otot-ototnya. Dua minggu tanpa asupan energi eksternal dan makanan membuat wadah fisiknya membutuhkan waktu untuk kembali beradaptasi dengan aliran meridian baru.
"Jangan memaksakan dirimu dulu, Yu Fan. Tubuhmu masih sangat lemah setelah pertempuran batin yang begitu hebat," ucap Dekan Akademi dengan senyuman hangat yang tulus, melangkah maju untuk menahan pundak Yu Fan agar tetap bersandar di bantal.
Melihat kondisi Yu Fan yang masih lemas dan bibirnya yang tampak pecah-pecah karena dehidrasi, Yan Er dengan sigap langsung mengambil mangkuk ramuan obat dan segelas air hangat yang ada di atas meja kecil.
"Ini, minumlah ini perlahan. Biar aku bantu suapi," ucap Yan Er dengan nada suara yang teramat lembut, duduk di tepi ranjang Yu Fan. Dia meniup ramuan hangat itu dengan sangat hati-hati sebelum mengarahkannya ke bibir Yu Fan.
Melihat pemandangan yang sangat intim tersebut, sudut mata Jin Yuexin seketika berkedut tajam. Rasa cemburu yang teramat sangat langsung membakar dadanya, membuat wajah cantiknya cemberut maksimal. Dia mengepalkan kedua tangannya di sisi jubah kuning-merahnya, menatap Yan Er dengan pandangan yang seolah ingin menusuk gadis dari Benua Barat itu.
"Heh, Yan Er! Dia baru saja bangun, jangan terlalu menempel padanya seperti itu! Lagipula, ini adalah paviliun medis Akademi Langit Biru kami, akulah yang seharusnya merawatnya!" ketus Yuexin dengan nada ketus yang tidak bisa disembunyikan.
Yan Er bahkan tidak menoleh, dia tetap menyuapi Yu Fan dengan gerakan yang sangat telaten. "Putri Yuexin, jika kau hanya bisa mengomel dan tidak bisa bergerak cepat, lebih baik diam saja. Suamiku membutuhkan asupan energi saat ini, bukan suara berisik mu."
Melihat tingkah kedua gadis muda tersebut, Dekan Akademi dan Wakil Dekan hanya bisa saling bertukar pandang sebelum akhirnya meledak dalam tawa kecil yang tertahan. Mereka menggeleng-gelengkan kepala dengan geli.
"Aha... sepertinya mengurus keamanan seluruh kota akademi dari serangan monster kuno jauh lebih mudah daripada berurusan dengan masalah dua wanita yang sedang memperebutkan seorang pemuda," bisik Wakil Dekan kepada Dekan dengan nada berguyon, yang dibalas anggukan setuju oleh sang Dekan.
Di tengah situasi tersebut, Chen Yang merangkak naik ke atas ranjang, memeluk lengan kanan Yu Fan dengan sangat erat sembari menyandarkan kepala kecilnya di sana. "Kakak Yu Fan... maafkan Chen Yang... Ini semua karena Chen Yang bodoh malam itu... Hiks... Chen Yang berjanji tidak akan nakal lagi, asalkan Kakak tidak tidur lama-lama seperti ini lagi..."
Yu Fan yang masih merasa lemas mengulas senyuman tipis yang sangat jarang dia tunjukkan. Tangan kanannya bergerak dengan sisa kekuatannya, mengusap kepala Chen Yang dengan lembut. "Ini bukan salahmu, Chen Yang. Jangan menangis lagi. Kakak sudah berada di sini, semua akan baik-baik saja."
Jin Yuexin yang melihat itu melangkah mendekat, rasa gengsinya perlahan runtuh saat dia menatap mata Yu Fan yang jernih. "Yu Fan... aku juga... aku minta maaf karena malam itu tidak cukup kuat untuk membantumu. Aku membiarkan diriku terluka dan membuatmu harus menggunakan kekuatan terlarang itu..."
"Kau sudah melakukan yang terbaik, Yuexin. Perutmu... apakah sudah membaik?" tanya Yu Fan pelan, mengingat luka tusukan mengerikan yang dialami gadis itu seminggu lalu.
Yuexin tertegun, tidak menyangka bahwa hal pertama yang ditanyakan Yu Fan setelah siuman adalah kondisi kesehatannya sendiri. Jantungnya berdegup kencang, dan wajahnya merona merah. "A-Aku sudah sembuh total berkat kekuatan mu dan energi emas dari Chen Yang. Jangan khawatirkan aku, urus saja dirimu sendiri, dasar bodoh..." gumamnya, memalingkan wajahnya yang memerah karena malu sekaligus terharu.
Tiba-tiba, Yan Er meletakkan mangkuk obat yang telah kosong ke atas meja. Tanpa memedulikan keberadaan orang lain di dalam kamar, dia langsung menjatuhkan tubuhnya ke depan, menyandarkan kepalanya di atas dada bidang Yu Fan. Air matanya mengalir deras, membasahi kain jubah putih yang dikenakan pemuda itu.
"Aku sangat takut, Yu Fan... saat mendengar kabar dari Benua Timur bahwa kau sekarat, aku merasa seluruh duniaku runtuh... Jangan pernah melakukan hal gila seperti itu lagi tanpa aku di sisimu..." isak Yan Er dengan ketulusan yang teramat dalam dari lubuk hatinya.
Yu Fan merasakan kehangatan dari air mata Yan Er yang merembes ke kulit dadanya, mendengar detak jantung Chen Yang yang ada di lengannya, dan melihat tatapan penuh kelegaan dari Jin Yuexin. Pada momen itulah, di dalam lubuk jiwa Yu Fan yang paling dalam, sebuah dinding es yang sangat tebal perlahan-lahan mulai mencair. Jiwa Ashura-nya yang selama ini dikenal sangat dingin, hampa, dan dipenuhi oleh api dendam masa lalu akibat pengkhianatan Xe Yu'er di Alam Atas, perlahan-lahan mulai terkikis. Dia menyadari bahwa di dunia fana yang awalnya dia anggap sebagai tempat sampah ini, dia telah menemukan sesuatu yang tidak pernah dia miliki di Alam Atas, orang-orang yang tulus mencintai dan mengkhawatirkan keberadaannya tanpa ada motif tersembunyi.
Dekan Akademi melangkah maju, memecah keheningan haru tersebut dengan senyuman berwibawa. "Yu Fan, atas nama seluruh jajaran petinggi, guru, dan murid Akademi Langit Biru, kami ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepadamu. Jika bukan karena keberanianmu menahan tiga anomali tingkat tujuh itu sendirian, akademi ini dan bahkan kota ini mungkin sudah lenyap dari peta Benua Timur."
"Saya hanya melakukan apa yang harus saya lakukan, Dekan. Saya tidak mengharapkan imbalan apa pun," jawab Yu Fan dengan nada merendah yang tulus.
"Kau boleh merendah diri, Yu Fan, tapi dunia kultivasi tidak akan membiarkan tindakan kepahlawananmu tenggelam dalam kesunyian," sahut Wakil Dekan dengan tegas. "Kami menganggap mu sebagai pahlawan sejati. Segala bentuk sumber daya medis, batu spiritual, dan teknik kuno yang kau butuhkan untuk memulihkan kultivasi mu akan kami sediakan tanpa batas. Dan satu hal lagi... empat hari dari sekarang, setelah kondisimu sudah kembali normal dan stabil, akademi akan menggelar upacara akbar. Kau akan secara resmi dinobatkan sebagai Pahlawan Agung Akademi Langit Biru."
Yu Fan sedikit mengernyitkan alisnya, merasa tidak terlalu nyaman dengan perhatian publik yang terlalu besar. "Dekan, upacara seperti itu rasanya tidak perlu..."
"Tentu saja perlu, Yu Fan!" potong Jin Yuexin dengan cepat, sepasang matanya berbinar bangga. "Kau telah menyelamatkan nyawaku, nyawa Chen Yang, dan seluruh tempat ini! Kau sangat pantas mendapatkan kehormatan itu!"
"Benar, Suamiku," dukung Yan Er, mengangkat kepalanya dari dada Yu Fan sambil menyeka sisa air matanya, memberikan senyuman tercantik yang dia miliki. "Biarkan seluruh dunia tahu bahwa pria yang aku cintai adalah seorang pahlawan yang tidak tertandingi. Jangan menolaknya."
Melihat desakan dari kedua gadis itu, Yu Fan hanya bisa mengembuskan napas pasrah, tidak memiliki kekuatan untuk berdebat dalam kondisinya yang masih lemas.
...****************...
Empat hari kemudian.
Suasana di lapangan utama Akademi Langit Biru tampak begitu megah namun juga sarat akan sisa-sisa kenangan pertempuran. Di beberapa sudut lantai lapangan, masih terlihat retakan-retakan besar dan bekas tebasan energi sedalam beberapa meter yang sengaja tidak ditutup sepenuhnya oleh pihak akademi, sebagai monumen pengingat akan kekejaman malam penyerangan dua minggu lalu.
Ribuan murid dari seluruh tingkatan, mulai dari murid luar, murid dalam, hingga barisan murid inti yang selamat, telah berkumpul membentuk barisan yang sangat rapi. Di barisan paling depan, tampak Senior Han Fei, Fa Hai, Mo Han, Mei Er, Xueru dan Xiao Feng yang tubuhnya masih dibalut beberapa perban, berdiri dengan tegap penuh rasa hormat. Di atas panggung utama yang tinggi, jajaran tetua agung dan para guru berdiri mendampingi Dekan dan Wakil Dekan.
Dekan Akademi melangkah maju ke depan podium batu. Suara batinnya yang sarat akan energi Ranah Grandmaster menggema ke seluruh penjuru lapangan, menembus setiap sudut telinga para hadirin dengan keagungan yang luar biasa.
"Para murid dan guru Akademi Langit Biru sekalian!" seru Dekan, membuka pidatonya. "Hari ini, kita berdiri di atas tanah yang dua minggu lalu basah oleh darah rekan-rekan kita. Kita telah melewati malam yang paling kelam di dalam sejarah institusi ini. Kita merasakan kehilangan yang teramat dalam, kita melihat paviliun kita runtuh menjadi puing, dan kita menghadapi keputusasaan di hadapan kekuatan era kuno yang ingin memusnahkan eksistensi kita!"
Suasana lapangan mendadak hening, banyak murid yang menundukkan kepala mengingat rekan-rekan mereka yang telah gugur.
"Namun!" suara Dekan mendadak meninggi, bergemuruh bagai guntur di siang bolong. "Di tengah kegelapan yang paling pekat tersebut, fajar keselamatan kita terbit melalui keberanian satu orang! Seorang murid yang berdiri kokoh bagai gunung di garis depan, menolak untuk mundur satu jengkal pun demi melindungi masa depan akademi ini! Hari ini, kita berkumpul untuk memberikan penghormatan tertinggi yang bisa diberikan oleh faksi ini!"
Dekan berbalik, melambaikan tangannya ke arah belakang panggung. "Mari kita sambut, Pahlawan Agung kita... Yu Fan!"
GEMURUH!
Suara tepuk tangan dan sorak-sorai dari ribuan murid meledak seketika, menggetarkan seluruh area lapangan utama. Di bawah tatapan penuh kekaguman, rasa hormat, dan air mata kebahagiaan dari para murid, Yu Fan melangkah maju dari balik tirai panggung. Dia mengenakan jubah hitam baru dengan sulaman benang emas di sepanjang pinggirannya, pemberian khusus dari Dekan membuat postur tubuhnya yang tegap terlihat sangat berwibawa.
Wakil Dekan menyambutnya di dekat podium, menepuk pundak Yu Fan dengan bangga sebelum mempersilakannya berdiri tepat di depan podium utama untuk menyampaikan patah kata.
Yu Fan menatap ke arah lautan manusia yang ada di bawahnya. Angin pagi berembus kencang, membuat jubah hitamnya berkibar dengan megah. Ketika dia membuka mulutnya untuk berbicara, sebuah transformasi aura yang luar biasa terjadi. Suaranya tidak keras, namun mengandung tekanan batin yang begitu dalam, dingin, dan sarat akan otoritas mutlak yang tak tergoyahkan, sebuah kharisma alami yang membuat semua orang, termasuk para tetua, mendadak merasa seolah-olah mereka sedang berdiri di hadapan seorang kaisar agung atau raja diraja yang menguasai sembilan ranah langit.
"Kehilangan adalah hal yang mutlak di dalam jalur kultivasi," ucap Yu Fan, suaranya mengalir datar namun berwibawa menembus batin setiap pendengar. "Malam itu adalah bukti bahwa kedamaian yang kalian nikmati saat ini hanyalah sebuah ilusi rapuh yang bisa dihancurkan kapan saja oleh kekuatan yang lebih besar. Menangis dan meratapi puing-puing tidak akan pernah bisa menghidupkan kembali mereka yang telah mati."
Para murid tertegun, tidak menyangka pidato sang pahlawan akan diawali dengan kalimat yang begitu dingin dan realistis.
"Jika ada satu hal yang harus kalian pelajari dari pertempuran dua minggu lalu, itu adalah kenyataan bahwa di dunia ini, kelemahan adalah sebuah dosa," lanjut Yu Fan, sepasang mata hitamnya berkilat tajam menyapu seluruh lapangan. "Musuh di masa depan tidak akan pernah peduli dengan air mata atau latar belakang kalian. Oleh karena itu, mulai detik ini, ubahlah rasa duka kalian menjadi api motivasi. Berhentilah merasa puas dengan pencapaian kalian saat ini. Jadilah pribadi yang terus bertumbuh kuat tanpa batas, karena badai yang lebih besar pasti akan kembali melanda di masa mendatang. Hanya mereka yang memiliki kekuatan absolutlah yang berhak menentukan takdirnya sendiri dan melindungi apa yang berharga di sekitarnya. Jadilah kuat!"
Pidato yang sangat singkat, padat, namun dipenuhi oleh kharisma kekaisaran yang luar biasa itu seketika membakar semangat yang tertidur di dalam dada setiap murid dan guru. Tidak ada kata-kata manis atau janji kosong, Yu Fan memberikan sebuah kebenaran mutlak dari jalur kultivasi yang menyentuh esensi terdalam jiwa mereka.
Keheningan satu detik berlalu, sebelum akhirnya lapangan utama itu meledak dalam sorak-sorai yang berkali-kali lipat lebih dahsyat dari sebelumnya.
"HIDUP YU FAN!!! JADILAH KUAT!!!" teriakan para murid berulang bergemuruh membelah langit kota akademi, dipimpin oleh Senior Han Fei yang mengangkat pedangnya tinggi-tinggi di udara. Dekan Akademi menatap Yu Fan dari samping dengan tatapan takjub, menyadari bahwa pemuda ini bukan sekadar pahlawan biasa; dia memiliki jiwa seorang pemimpin sejati yang mampu menggerakkan zaman.
...****************...
Dalam waktu singkat, kabar mengenai penobatan Yu Fan sebagai Pahlawan Agung Akademi Langit Biru serta keberhasilannya menumbangkan tiga anomali tingkat tujuh dari era kuno menyebar bagai api liar yang ditiup angin topan. Burung-burung spiritual pembawa pesan melesat melintasi sekat benua, membawa berita tersebut ke seluruh penjuru kerajaan, sekte, dan kekaisaran besar. Nama Yu Fan mendadak menjadi topik pembicaraan paling hangat di seluruh dunia kultivasi fana.
Berita besar ini tentu saja sampai ke Kerajaan Tianwu, wilayah tempat Yu Fan bernaung dan memulai awal barunya di dunia fana.
Di dalam istana megah Kerajaan Tianwu, Raja Jin Tianwu duduk di atas singgasana emasnya dengan wajah yang dipenuhi oleh tawa kepuasan yang menggelegar. "Hahaha! Luar biasa! Anak itu yang dibawa putriku dari Hutan Terlarang itu benar-benar telah mengguncang benua! Menumbangkan tiga master tingkat tujuh sendirian... benar benar luar biasa, aku sebagai Raja Tianwu merasa sangat bangga!"
Di sudut ruangan aula leluhur yang tersembunyi, sesosok pria tua dengan jubah abu-abu sederhana namun memancarkan aura batin yang sangat dalam dan tak terukur, Leluhur Jin Taixu perlahan membuka sepasang matanya. Sebagai leluhur pendiri yang masih memegang peran penting di balik layar kekaisaran, senyuman tipis terukir di wajah keriputnya yang bijaksana.
"Yu Fan... anak itu benar-benar luar biasa, sesuai ekspektasi ku, hahahaha!," gumam Jin Taixu dengan nada suara yang dipenuhi rasa bangga yang teramat sangat. "Dia tidak hanya memiliki garis darah yang istimewa, tapi tekad batinnya telah melampaui ekspektasi ku. Menjadi pahlawan yang diakui oleh dunia kultivasi luar... Kerajaan Tianwu kita benar-benar telah memiliki perisai kerajaan yang kuat."
Atas perintah langsung dari Raja Jin Tianwu, seluruh wilayah kerajaan seketika menggelar pesta perayaan yang sangat megah selama tiga hari tiga malam. Lentera-lentera emas dinyalakan di sepanjang jalanan kota kerajaan, makanan dan anggur spiritual dibagikan secara gratis kepada seluruh rakyat jelata sebagai bentuk rasa syukur dan kebahagiaan atas prestasi luar biasa yang diraih oleh murid yang membawa nama baik Tianwu di kancah internasional tersebut.
Namun, di saat Kekaisaran Tianwu sedang bersuka cita, sebuah atmosfer yang sama sekali berbeda menyelimuti wilayah bagian selatan Benua Timur.
Jauh di wilayah selatan, berdiri sebuah entitas penguasa absolut yang sangat masif. Kekaisaran Tianhuang. Kekaisaran ini adalah raksasa militer dan kultivasi yang telah berhasil menaklukkan dan menguasai puluhan kerajaan kecil di bawah kendali cengkeraman besi mereka. Ambisi mereka hanya satu, menyatukan seluruh Benua Timur di bawah panji Tianhuang. Namun, ambisi tersebut selalu terbentur oleh keberadaan kerajaan Tianwu, yang dikenal memiliki kekuatan militer terhebat dan pertahanan faksi yang tidak bisa ditumbangkan dengan mudah, serta enam kerajaan besar kuat lainnya yang terus melakukan perlawanan aliansi.
Di dalam aula pertemuan utama Istana Tianhuang yang dilapisi oleh batu hitam legam dan ornamen naga perunggu, atmosfer terasa sangat dingin dan mencekam.
Sesosok pria bertubuh kekar dengan jubah kekaisaran berwarna hitam-emas bermahkotakan tanduk perunggu duduk bersila di atas singgasananya. Pria itu adalah Kaisar Xuanyuan Lie, penguasa tertinggi Kekaisaran Tianhuang yang terkenal kejam dan gila perang seorang master tingkat 6 akhir dan rumor nya akan naik menjadi master tingkat 7. Di tangan kanannya, dia memegang sebuah gulungan kertas pesan spiritual yang berisi informasi mengenai penobatan Yu Fan di Akademi Langit Biru.
Remas!
Kaisar Xuanyuan Lie meremas gulungan kertas tersebut hingga hancur menjadi debu spiritual di dalam genggamannya. Bukannya marah, sebuah senyuman miring yang penuh kegilaan justru terukir di wajahnya yang tegas.
"Yu Fan... Pahlawan Agung dari Langit Biru... Hahaha!" Kaisar Xuanyuan Lie meledak dalam tawa yang bergemuruh berat, membuat beberapa pengawal di dalam aula menundukkan kepala ketakutan. "Menarik! Sangat menarik! Kemunculan pemuda misterius ini di pihak Tianwu jelas merupakan sebuah ancaman besar bagi rencana penyatuan benua kita di masa depan. Tianwu sendiri sudah cukup merepotkan untuk dihancurkan, dan sekarang mereka memiliki monster baru yang mampu membasmi tingkat tujuh di usia muda!"
Kaisar Xuanyuan Lie berdiri dari singgasananya, memancarkan aura batin Ranah Grandmaster puncak yang sangat menekan ke sekeliling ruangan. Sepasang matanya berkilat penuh hasrat bertarung yang membara. "Tapi... darahku bergejolak mendengarnya! Jika suatu hari nanti aku bertemu dengan pemuda bernama Yu Fan ini di medan perang, aku akan bertarung dengannya menggunakan seluruh kekuatan yang aku miliki! Darah Xuanyuan yang mengalir di tubuhku ini hanya ada untuk satu tujuan: mengalahkan semua yang terkuat dan menjadi nomor satu yang absolut di dunia fana ini!"
Di bawah tangga Singgasana, berdiri beberapa pangeran dan putri dari Kekaisaran Tianhuang yang mendengarkan ucapan ayahanda mereka dengan ekspresi dan respons yang berbeda-beda.
Pangeran tertua, Xuanyuan Cheng, yang memiliki tatapan mata licik, mendengus pelan sambil melipat kedua tangannya di depan dada. "Ayahanda terlalu memuji anak ingusan itu. Menurut laporan, dia bisa menang malam itu hanya karena memaksakan teknik terlarang hingga koma selama dua minggu. Kekuatan pinjaman seperti itu tidak akan bertahan lama di hadapan pasukan besi Tianhuang kita."
Di sampingnya, putri kedua, Xuanyuan Qing, yang mengenakan gaun perang perak dengan busur panah spiritual di punggungnya, justru menatap puing-puing kertas di lantai dengan tatapan yang sarat akan rasa penasaran yang mendalam. "Kakak Besar terlalu meremehkannya. Mampu menahan konflik batin dari energi tingkat tujuh tanpa membuat Dantiannya meledak adalah bukti bahwa fondasi tubuhnya berada di tingkat yang tidak masuk akal. Yu Fan... aku sangat ingin melihat secara langsung seberapa tajam pedang yang dia miliki."
Sementara itu, pangeran ketiga, Xuanyuan Feng, yang terkenal pendiam dan selalu membawa pedang hitam panjang, hanya terdiam dengan tatapan mata yang dingin menatap ke arah utara. Di dalam hatinya, sebuah percikan persaingan baru saja tersulut.
Kekaisaran Tianhuang telah mulai melirik ke arah utara. Gema kepahlawanan Yu Fan telah membuka gerbang bagi konflik baru yang jauh lebih besar yang kini mulai mengintai di balik cakrawala Benua Timur.