NovelToon NovelToon
Pendekar Pedang Samudera

Pendekar Pedang Samudera

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Epik Petualangan / Action
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

Pewaris Pedang Samudera yang memilih berlayar ketimbang meneruskan jejak sang ayah. Lantas bagaimana cara dia untuk memanfaatkan pusaka legendaris itu dan mewujudkan perdamaian di Shenzhou jika dia sendiri adalah sampah yang dimanjakan ibu dan kakak perempuannya?

"Ibuku memberiku segalanya kecuali kebebasan. Kakakku memberiku perlindungan meski aku tidak memintanya. Sementara Ayahku memberiku mimpi yang membuatku terus berjalan meski semua orang berkata untuk berhenti. Aku adalah orang paling beruntung sekaligus paling terkekang di dunia."

Novel Xianxia baru dari Dana Brekker, bisa langsung baca aja. Tinggalkan like, vote, dan komentarnya kalau suka. Terima kasih!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11 : KONTRAK DAN KEBEBASAN

Samudera duduk di pasir dengan cara yang sangat tidak sesuai dengan kesan pertamanya, kaki ditekuk ke samping, satu tangan menggambar sesuatu di udara sambil berbicara, dan apa yang digambarnya bergerak dengan ajaib.

Gambarnya hidup seperti tinta yang dibiarkan mengalir sendiri di atas permukaan air, membentuk wajah-wajah dan tempat-tempat serta kejadian-kejadian yang tidak pernah Haifeng saksikan sendiri tapi terasa seperti kenangan yang dipinjamkan.

Wei Changsong pada waktu muda tidak terlihat seperti seorang ayah yang Haifeng kenal. Terlalu kurus, banyak luka di tangannya saat dirinya berdiri di depan pintu perpustakaan klan dengan ekspresi seseorang yang sudah diusir dari tempat yang sama tiga kali dan tidak berniat berhenti mencoba. Orang-orang di sekitarnya berkata bahwa Pedang Samudera sudah hancur, bahwa legenda itu hanya cerita untuk menghibur anak kecil, bahwa laut tidak menyimpan pedang, laut hanya menyimpan tulang belulang orang yang terlalu percaya pada legenda.

Akan tetapi Wei Changsong tetap percaya pada kakeknya. Itu saja. Tidak ada alasan lain yang lebih besar dari itu.

"Tujuh tahun," kata Samudera. "Dia berlayar selama tujuh tahun sampai kapalnya tenggelam dua kali. Krunya meninggalkannya satu per satu, karena tidak ada yang mau terus berlayar bersama orang yang tidak pernah mengubah arahnya meskipun semua tanda menunjukkan bahwa arah itu salah." Tangannya menggambar laut yang luas, ombak yang tidak ramah, satu perahu kecil yang terus bergerak ke depan. "Ketika dia sampai di pulau yang sekarang kau tuju, dia hampir tidak bisa berdiri, dan penghuninya tidak menyambutnya dengan baik."

Gambar di udara berubah menjadi sesuatu yang tidak menyenangkan untuk dilihat. Makhluk-makhluk yang tidak punya nama dalam catatan biasa, penghuni yang sudah ada di pulau itu jauh sebelum manusia pertama belajar berlayar. Wei Changsong menghadapi semuanya dalam kondisi hampir sekarat.

"Hebatnya dia bertahan," kata Samudera. "Kemudian berlatih membelah lautan. Kemudian berbicara dengan bintang-bintang yang tidak pernah mau berbicara dengan manusia biasa." Garis lengkung di bibirnya muncul, bukan yang menggoda, melainkan senyuman seseorang yang menyaksikan sesuatu dari sangat dekat dan masih terkesan sampai sekarang. "Lalu dia pulang membawa namaku... dan membuktikan segalanya kepada semua orang yang pernah berkata bahwa dirinya tidak akan pernah bisa."

Gambar-gambar di udara memudar perlahan.

Haifeng masih menatap tempat gambar-gambar itu berada bahkan setelah semuanya hilang. Ada rasa yang tidak punya nama yang tepat di dadanya, campuran antara bangga dan sedih dan sesuatu yang lebih personal dari keduanya. Dia mendengar kisah ayahnya dari mulut saksi yang paling dekat, lebih dekat dari siapa pun yang pernah bercerita kepadanya sebelumnya.

Adapun Samudera menggeser posisinya dan duduk lebih dekat. "Sekarang giliranmu menjawab pertanyaan yang sama yang dulu kutujukan padanya." Kepalanya miring sedikit. "Apa yang kau inginkan dengan kekuatan Pedang Samudera?"

Haifeng memikirkan pertanyaan itu selama cukup lama sebelum menjawab dengan jujur dan sangat polos bahwa keinginannya sebenarnya sangat sederhana. Dia ingin sampai ke Pulau Xuanyuan tanpa harus terus merepotkan kakaknya. Sudah cukup bagi Qinghan yang mabuk laut berhari-hari, hampir mati melindunginya dari petir merah, melawan ular raksasa, dan masih harus memimpin petualangan mereka. Kalau dia punya kekuatan yang cukup untuk tidak menjadi beban, itu sudah lebih dari cukup.

Samudera menatapnya selama dua hitungan jari sebelum akhirnya tertawa dengan cara yang membuat bahunya naik turun dan tangannya harus menutupi mulutnya, tapi tidak cukup berhasil karena suara tawanya tetap keluar penuh dan panjang, lebih panjang dari yang Haifeng perkirakan, sampai matanya berkaca-kaca dan harus diusap dengan punggung tangannya.

"Kenapa," kata Haifeng karena mulai kehilangan kesabarannya.

Lantas wanita cantik bernama Samudera itu mengangkat tangan meminta waktu karena masih tertawa.

"Kenapa," ulang Haifeng lebih datar. “Aku tidak merasa sedang melucu.”

"Tunggu sebentar, ya." Samudera berusaha mengumpulkan dirinya, tidak berhasil sepenuhnya, masih ada gelombang tawa kecil yang keluar setiap kali dia mencoba bicara. Akhirnya dia mengangkat wajahnya ke arah laut dan mengambil napas panjang. "Lihat ke sana," katanya. "Ke laut itu. Lalu dengarkan."

Haifeng menoleh ke laut yang membentang di depan mereka. Ombak-ombak yang tinggi itu bergerak dengan cara yang berbeda dari ombak biasa karena lebih lambat dan teratur, seperti napas sesuatu yang sangat besar sedang tidur.

"Pedang Samudera," kata Samudera, suaranya kembali tenang meski masih ada sisa kelucuan di dalamnya, "sudah ada sejak sebelum kekaisaran pertama di Shenzhou berdiri. Setiap pemiliknya datang dengan ambisi yang bisa menggerakkan gunung. Kekuasaan. Kekuatan tak tertandingi. Nama abadi, dan pewaris keempatnya datang dengan alasan tidak ingin merepotkan kakaknya."

Haifeng mengerutkan dahi. "Itu alasan yang sangat sah."

"Memang sah-sah saja." Samudera menyeka sudut matanya untuk terakhir kali. "Sangat sah. Juga sangat tidak terduga."

Kontrak abadi akhirnya mulai Samudera jelaskan. Kontrak itu adalah sesuatu yang berbeda dari kontrak biasa yang dikenal dalam dunia kultivasi. Bukan sekadar perjanjian penggunaan tapi juga pengakuan timbal balik antara pemilik dan jiwa pedang (Samudera), ikatan yang membuat Pedang Samudera tidak bisa digunakan siapa pun kecuali yang diakui oleh jiwa di dalamnya, dan sebagai gantinya, jiwa pedang akan membuka kekuatannya secara bertahap mengikuti pertumbuhan pemiliknya.

Haifeng mendengarkan semuanya. Kemudian membisu selama beberapa saat. "Apa yang Ayahku lakukan waktu mendengar penjelasan ini pertama kali?"

Samudera menatapnya. "Apa yang kau lakukan sekarang."

"Diam?"

"Diam. Ragu-ragu. Bertanya hal yang tidak perlu ditanya."

Haifeng menggeser posisi duduknya di pasir. Ada sesuatu yang masih tidak beres di pikirannya, dua hal yang berbeda tapi sama-sama tidak bisa diabaikan. "Itu karena ada dua hal yang membuatku tidak langsung setuju," kata pemuda itu. "Pertama, aku tidak ingin berakhir seperti Ayah. Dia terlalu mengandalkan pedang ini sampai tidak tahu kapan harus berhenti, dan itu yang membunuhnya. Sementara yang kedua..."

"Yang kedua?"

"Kenapa kau betah di tempat ini sendirian?" Haifeng menatap Samudera langsung. "Pantai ini tidak berujung. Tidak ada orang lain. Sudah berapa lama kau di sini?"

Sesuatu bergerak di wajah Samudera, dan bisa terlihat oleh siapa pun yang cukup memperhatikan.

"Itu tidak relevan dengan kontrak."

"Mungkin relevan denganku."

Samudera membuka mulutnya untuk menjawab dengan cara yang kemungkinan besar sudah direncanakan untuk terdengar meyakinkan, kemudian berhenti. Sesuatu keluar dari mulutnya sebelum sempat disaring. "Aku tidak betah. Aku terkutuk di sini."

Diam selama setengah detik sebelum wanita itu menutup matanya dengan ekspresi seseorang yang baru menyadari bahwa mulutnya bergerak lebih cepat dari kebijaksanaannya.

"Terkutuk?" ulang Haifeng.

"A-aku tidak bilang itu."

"Kau baru saja bilang itu."

"Itu salah dengar."

"Kita berdua di tempat ini dan tidak ada angin yang cukup keras untuk mengaburkan suaramu."

Lantas Samudera membuka matanya, menatap laut, pasir, dan tempat mana pun kecuali Haifeng, dengan ekspresi yang jarang muncul di wajah yang biasanya sangat terkontrol itu. Ekspresi ketara sekali kikuk. "Mari kita lanjut ke pertanyaan berikutnya."

Haifeng malah berdiri. Menepuk pasir dari celananya dengan gerakan yang sangat tidak sesuai dengan suasana dramatis sebuah kontrak pedang legendaris, tapi sangat sesuai dengan caranya melakukan segalanya.

"Aku mau menerima kontrakmu," katanya.

Samudera pun mengangkat wajahnya. Tangannya bertepuk cepat, ekspresinya berubah menjadi antusias yang tidak bisa disembunyikan.

"Tapi ada satu syarat."

Tepukan itu berhenti di tengah jalan setelah mendengar ucapan Haifeng.

"Kontrak ini juga harus mencantumkan kebebasanmu," lanjut pemuda itu. "Bagaimana caranya, aku tidak tahu. Tapi cantumkan dulu. Kita pikirkan caranya nanti."

“Eh—“ Samudera menatapnya dengan ekspresi yang memproses beberapa hal sekaligus. "Itu tidak mungkin. Kutukannya bukan sesuatu yang bisa ditulis ulang dengan kontrak biasa."

"Bisa atau tidak, cantumkan dulu."

"H-Haifeng."

"Kalau tidak bisa dicantumkan, tidak ada kontrak."

Samudera menghela napas yang panjang sekali, napas yang terdengar seperti sudah dikumpulkan dari ratusan tahun yang panjang dan sepi. Kemudian menatap Haifeng dengan tatapan yang mengandung sesuatu yang sangat jarang ada di sana, sesuatu yang menyerupai terharu kalau saja ekspresi itu tidak segera disembunyikan di balik nada tenangnya.

"Kau adalah orang pertama," katanya, "yang menolak kekuatan mutlak Pedang Samudera."

"Aku tidak menolaknya. Aku hanya menambahkan syarat."

"Perbedaan yang sangat halus." Samudera menggeser posisinya dan mulai menjelaskan. Dengan syarat kebebasan yang dicantumkan, proses membuka segel akan berlangsung jauh lebih lambat dari biasanya. Segel pertama mungkin baru terbuka ketika Haifeng mencapai tingkat yang cukup untuk menanggungnya, dan setiap segel berikutnya akan membutuhkan lebih banyak waktu dan pengorbanan dari yang seharusnya. Kekuatan pedang tidak akan pernah sepenuhnya optimal karena sebagian energinya akan dialirkan untuk mempertahankan klausul yang belum bisa dipenuhi.

Haifeng jelas mendengarkan semuanya. "Kalau aku mati sebelum kebebasanmu terpenuhi?"

"Kontrak tidak berakhir." Suara Samudera lebih lirih. "Tapi klausul itu akan tetap ada sampai ada yang memenuhinya."

"Baik." Haifeng mengulurkan tangannya. "Kalau begitu kita mulai."

Samudera menatap tangan itu selama beberapa saat. Kemudian menyentuhnya.

Cahaya yang muncul berwarna biru laut dalam yang naik perlahan dari bawah ke atas, hangat dengan cara yang tidak masuk akal untuk sesuatu yang warnanya dingin, dan di suatu titik di antara mimpi dan sesuatu yang lebih nyata dari mimpi, Haifeng merasakan sesuatu di dadanya bergeser, seperti kunci yang sudah lama menunggu tangan yang tepat akhirnya diputar.

Samudera menggenggam tangannya balik. Matanya terpejam, dan di sudut bibirnya ada senyuman yang sangat berbeda dari senyuman-senyuman sebelumnya. Layaknya sesuatu yang sudah sangat lama tidak dirasakan akhirnya diizinkan untuk ada.

1
Ilham Akbar
Mantap thor, apalagi kalo cerita ini sampai finish💪👍
DanaBrekker: Terima kasih atas dukungannya 👍
total 1 replies
Ilham Akbar
Mampus lu,, dasar betina rakus🤭
DanaBrekker: /Smirk/
total 1 replies
GFR31
top 👍
DanaBrekker: terima kasih. sangat disarankan juga buat ikutin kisah Ji Zhen di novelku yang berjudul Lahirnya Kultivator Naga Keabadian 🙏
total 1 replies
DanaBrekker
Selamat datang di karya baru author semoga kalian suka.. Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca cerita ini. Bisa terus kasih dukungan demi kelanjutan karya-karya author, dan kalau tidak suka jangan dipaksa 🤭🙏🤣
DanaBrekker: semoga cocok 🤭
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!