Bagi dunia luar, pernikahan Dr. Emmeline Valerio dan Edward Snowden adalah simbol kesempurnaan dinasti papan atas di Los Angeles.
Namun, di balik dinding mansion Snowden yang megah, pernikahan itu tidak lebih dari sebuah Janji memuakkan.
Puncaknya, harga diri Emmeline sebagai seorang wanita diinjak-injak ketika dia mendapati Edward membawa wanita selingkuhannya ke atas ranjang mereka.
Emmeline tidak menangis. Dia tidak mengemis. Sebaliknya, api dendam yang dingin menyala di dadanya. Dia memilih membalas dendam dengan menyerahkan tubuhnya pada masa lalunya: Kingdom Kyle Stone.
Kini, di antara ego suaminya dan gairah protektif sang mantan agen rahasia, Emmeline memilih untuk berdansa di dalam neraka yang dia ciptakan.
Happy reading 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#22
Fajar menyingsing di pinggiran kota Los Angeles dengan langit yang bersih, seolah-olah sisa-sisa asap kerusuhan dari hari-hari sebelumnya telah tersapu bersih oleh angin pasifik.
Di bawah pengamanan super ketat yang tidak kasat mata, Katedral Santo Petrus berdiri dengan anggun. Di luar perimeter, jajaran mobil SUV hitam milik Unit Wraith berbaur sempurna dengan sedan-sedan mewah bermerek Rolls-Royce dan Bentley milik Dinasti Valerio.
Jaxx telah menempatkan penembak runduk terbaik di setiap sudut menara lonceng, memastikan tidak ada satu pun gangguan yang bisa mendekati area sakral ini.
Di dalam ruang rias katedral, Dr. Emmeline Valerio berdiri di depan cermin besar. Dia tampak luar biasa menawan dalam balutan gaun pengantin putih klasik berbahan renda Prancis sutra.
Potongan gaun itu melekat sempurna di tubuh rampingnya, sedikit longgar di bagian perut untuk memberikan ruang bagi kenyamanan janin kecilnya yang mulai bertumbuh. Wajah aristokratnya yang biasa tampak dingin kini terlihat memancarkan kebahagiaan yang murni, meskipun ada sedikit riak ketegangan di matanya.
Pintu ruangan terbuka, menampilkan Daddy Kensington Valerio dengan setelan jas formal hitam yang sangat berwibawa. Pria tua penguasa dinasti itu menatap putrinya dengan tatapan bangga yang dalam. Dia mengulurkan siku lengannya yang kokoh.
"Dokumen perceraianmu sudah bersih secara hukum, Emmeline. Hari ini, kau melangkah sebagai seorang Valerio sejati untuk menjemput takdir barumu. Mari turun," ucap sang ayah dengan suara baritonnya yang menenangkan.
Emmeline tersenyum manis, menyandarkan jemari tangannya di lengan sang ayah.
"Terima kasih, Dad."
Ketika pintu ganda katedral yang terbuat dari kayu ek tebal dibuka perlahan, alunan musik organ pipa yang megah menggema, memenuhi langit-langit tinggi bangunan bergaya gotik tersebut. Langkah kaki Emmeline yang anggun mulai menyusuri karpet merah panjang menuju altar.
Di ujung sana, berdiri seorang pria raksasa yang seketika membuat napas Emmeline tertahan.
Kingdom Kyle Stone berdiri dengan tegak, gagah, dan luar biasa tampan dalam balutan setelan tuksedo hitam formal yang dirancang khusus untuk membingkai tubuh masifnya yang setinggi 190 sentimeter.
Tidak ada tanda-tanda kelemahan atau rasa sakit pada kaki kanannya. Korset taktis medis yang dipasang Emmeline semalam bekerja dengan sangat sempurna, menstabilkan otot pahanya sehingga sang Alpha bisa berdiri sekokoh karang di atas kakinya sendiri demi menyambut sang ratu.
Aura dominan Kyle malam ini melunak, digantikan oleh binar pemujaan yang absolut saat matanya mengunci sosok Emmeline yang berjalan mendekat.
Daddy Kensington menyerahkan tangan Emmeline ke dalam genggaman tangan kekar Kyle yang hangat dan besar. Kedua pria berkuasa itu saling bertukar tatapan mata yang sarat akan pemahaman maskulin yang mendalam, sebelum Kensington melangkah mundur untuk duduk di samping Mommy Audrey.
Suasana di dalam katedral terasa begitu sakral dan khidmat ketika pendeta mulai memimpin jalannya upacara pernikahan. Di barisan kursi jemaat, seluruh keluarga besar Valerio hadir dengan lengkap.
Namun, berbeda dengan kaku dan dinginnya pernikahan politik Emmeline yang dulu, atmosfer kali ini jauh lebih hangat dan hidup. Suara tawa kecil dan derap langkah kaki mungil terdengar di lorong samping katedral; beberapa anak kecil dan sepupu-sepupu dari Keluarga Valerio tampak berlarian kecil dengan ceria, membawa keranjang bunga dengan tawa polos mereka yang menghidupkan suasana gereja tua itu.
Sumpah pernikahan diucapkan oleh Kyle dengan suara bariton yang berat, mantap, dan tanpa keraguan sedikit pun, disusul oleh suara lembut Emmeline yang bergetar menahan haru.
Ketika pendeta akhirnya berkata, "Aku menyatakan kalian sebagai sepasang suami istri yang sah. Silakan cium pengantin Anda," Kyle langsung melangkah maju tanpa membuang waktu.
Tangan kekar Kyle merayap naik, menangkup rahang lembut Emmeline dengan posesif, lalu menarik tubuh ramping wanitanya hingga menempel tanpa jarak pada tubuh masifnya.
Sebelum bibir mereka menyatu, Kyle menundukkan wajahnya sedikit, berbisik dengan nada bariton yang teramat rendah, seksi, dan sarat akan obrolan mesum yang konyol tepat di depan bibir ranum Emmeline.
"Tuksedo ini terlalu ketat, Baby... dan melihatmu memakai gaun ini membuat asetku di bawah sana menegang dan tidak sabar untuk merobek gaun mahalmu ini malam nanti di atas ranjang."
Emmeline membelalakkan matanya seketika, pipinya merona merah padam seperti kepiting rebus di depan altar. "Kyle! Jaga bicaramu—"
Sebelum Emmeline sempat memprotes, Kyle sudah membekap bibirnya dalam sebuah ciuman yang dalam, panas, dan penuh dengan gairah kepemilikan yang absolut.
Ciuman sakral itu berlangsung cukup lama hingga membuat Jaxx, yang berdiri di barisan depan sebagai saksi dari Unit Wraith, tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa pelan melihat kelakuan mesum komandannya yang biasanya sedingin es di medan tempur.
Setelah upacara sakral selesai, seluruh keluarga besar Valerio berkumpul di aula samping katedral untuk memberikan ucapan selamat.
Suasana sangat ramai oleh tawa bahagia dan pelukan hangat. Namun, di tengah keriuhan itu, Emmeline menyadari satu hal yang ganjil. Dari sekian banyak tamu yang hadir, tidak ada satu pun perwakilan dari pihak pengantin pria.
Emmeline mendekat ke arah Kyle yang sedang meneguk segelas sampanye, lalu melingkarkan tangannya di pinggang kokoh suaminya. Dia mendongak, menatap mata kelam Kyle dengan rasa penasaran yang tulus.
"Di mana ibu dan ayahmu, K?" tanya Emmeline lembut, matanya menyapu sekeliling aula yang kosong dari atribut keluarga Stone.
Kyle menurunkan gelasnya, lalu sebuah senyuman tipis yang hangat terukir di wajah tegasnya. Dia membawa Emmeline ke dalam pelukan sampingnya yang protektif, jemari besarnya secara otomatis kembali turun untuk mengelus perut rata Emmeline dengan gerakan sirkular yang manja di balik gaun pengantin.
"Mereka ada di Chicago, Sayang," jawab Kyle santai, suaranya terdengar begitu manis. "Pernikahan mendadak yang diatur oleh ayahmu dalam waktu dua puluh empat jam sepertinya tidak memberikan cukup waktu bagi mereka untuk terbang ke pantai barat. Lagipula, ibuku tidak akan suka jika harus menghadiri pernikahan yang dijaga oleh penembak runduk di atap gedung."
Emmeline terkekeh pelan, merasa jawaban itu sangat masuk akal bagi latar belakang Kyle sebagai komandan militer hitam.
"Tapi jangan khawatir," Kyle menunduk, mengecup pucuk hidung Emmeline dengan posesif. "Setelah bulan madu kita selesai, dan setelah aku memastikan seluruh sisa-sisa bajingan kartel itu bersih dari kota ini, aku akan membawamu langsung ke Chicago. Aku akan mengenalkanmu secara resmi sebagai menantu mereka, dan mengenalkan anak-anak kita di dalam perutmu ini kepada kakek dan neneknya."
Emmeline tersenyum malu, membiarkan tangan Kyle terus mengelus perutnya dengan penuh kasih sayang.
Di bawah lampu kristal katedral, nama Snowden telah menguap sepenuhnya dari takdirnya, berganti dengan nama Mrs. Emmeline Stone—sang ratu yang kini berdiri tegak di samping sang Alpha tertinggi yang siap melindunginya dengan segenap jiwa dan raga.