Vince adalah seorang guru sekaligus pemilik saham terbesar di SMA Taruna. Awalnya ia mau untuk menjadi kepala sekolah, namun setelah kedatangan murid dengan paras yang begitu mirip dengan cinta pertamanya.
Vince mengurungkan niatnya untuk menjadi kepala sekolah.
Ternyata muridnya itu adalah anak kandung dari cinta pertamanya yang bernama Naura, Naura di paksa menikah dengan vampir.
Murid Vince yang menjadi cinta pertamanya adalah Maura, Maura tidak tahu jika dia bukanlah anak kandung dari Stela.
Maura adalah anak dari raja vampir Liam, Lian dan juga Naura.
Lian maupun Liam dulu sangat mencintai Naura, namun Naura meninggal dunia setelah beberapa hari melahirkan bayi Maura.
Naura meninggal dengan cara mengenaskan dengan menjadi tawanan raja vampir.
Lian sendiri menikah dengan Stela, namun detik detik meninggalnya Naura. Lian mengatakan hal yang menyakitkan Stela, membuat Stela menaruh dendam kesumat bahkan kebencian pada Maura, apalagi wajah Maura itu sama persis dengan ibunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4.
Di dalam sebuah kamar yang ada di dalam rumah keluarga Bouven.
Seorang pria nampak menunggu istrinya sembari berjalan mondar mandir di dalam kamarnya.
Ceklek
"Kenapa Mamah mencambuk Maura? Apa salahnya? Dia hanya melakukan kenakalan kecil!"
"Kenakalan yang Maura lakukan memang awalnya itu kecil, tapi lama lama akan menjadi besar! Mamah tidak akan membiarkan dia menjadi urakan seperti ibunya!"
Wajah Lian berubah sedih, jika istrinya membicarakan keburukan Naura.
Padahal keburukan yang barusan Stela ucapkan hanya sebuah fitnah belaka. Karena Naura sewaktu muda jauh dari kata urakan, ia hanya seorang wanita yang pemberani, cerdas dan juga cantik.
"Lebih baik sekarang kamu itu memijit ku! Aku sangat capek dengan urusan perusahaan hari ini! Dan sebenarnya aku tidak pernah berniat untuk menyekolahkan anakmu itu! Tapi anakmu malah membangkang dengan mendaftar sekolah dengan ibu angkatnya!" Stela terlihat menanggalkan kain yang menempel di tubuhnya. Lalu merebahkan tubuhnya itu di atas ranjang kamarnya.
Lian hanya diam, ia terlihat menurut dan berjalan ke arah ranjang. Langsung memijat punggung istrinya itu.
Setelah 15 menit berlalu. Lian pun bangkit berdiri lalu mencuci tangannya di wastafel yang ada di kamarnya.
Setalah mencuci tangannya, Lian memilih merebahkan tubuhnya itu di samping istrinya.
Air mata nampak terus mengalir dari ke dua pelupuk mata Stela, bahkan ia terlihat mengepalkan ke dua tangannya.
"Inilah yang menjadikan ku terus membenci anakmu Maura! Sampai kapan kau itu dingin padaku seperti ini? Sampai kapan kau itu bisa melupakan Naura?" bebarapa pertanyaan yang selalu muncul di dalam benak Stela.
Berkali kali Stela memberikan kode pada suaminya, berkali kali ia melepaskan kain yang menempel di tubuhnya di depan suaminya. Namun semua itu nihil, alias tidak ada hasilnya suaminya seperti tidak peka, bahkan saat ia sedang melakukan ninu ninu dengan suaminya pun.
Lian berekspresi datar dan seperti orang yang terpaksa.
******
**
Pagi pun tiba.
"Maura bangun sayang," ujar seseorang dengan suara yang terdengar begitu asing di telinga Maura.
"Apakah itu suara Mamah Stela? Apakah ia merasa bersalah pada ku? Karena semalaman menyuruhku untuk tidur di dalam kamar mandi. Mangkanya sekarang ia bersikap lembut padaku!"
Lantas Maura pun buru buru bangun dari posisi tidur tengkurapnya, ia pun terlihat dalam posisi terduduk.
Namun ke dua bola matanya di buat membulat sempurna, kala melihat wanita yang mirip dengan dirinya itu berdiri tepat di hadapannya. Bahkan yang lebih membuat Maura di syok, wanita yang berparas sama seperti dengannya itu tidak menginjakkan kakinya di lantai. Gaun putih yang melilit di tubuhnya nampak mengambang.
Deg
Jantung Maura seakan berhenti berdetak seketika.
Ceklek
Dalam posisi terduduk sembari mengumpulkan beberapa nyawanya yang memang belum terkumpul, pintu kamar mandi pun di buka.
"Bagus kalau sudah bangun, buruan siap siap? Nanti Cherly akan datang kesini mengantarmu berangkat ke sekolah pukul 6 pagi," kata Stela dengan suara ketus.
Lalu menutup kembali pintu kamar mandi itu dengan suara yang terdengar begitu keras.
Jderr
"Maura ayo buruan siap siap! Jangan biarkan bayangan wanita yang mirip dengan dirimu itu sampai menggangu pikiran mu!" Maura lebih memilih fokus untuk segera bersiap siap berangkat ke sekolah nya. Ia tidak mau terlambat atau pun mendapatkan amukan dari Mamah Stela.
Maura memilih untuk tidak mandi, ia menyibin sebagian tubuhnya saja. Apalagi bekas cambukan yang di berikan oleh Mamahnya itu sudah terasa perih dan mulai teras sakit.
Setelah selesai menyibin sebagian tubuhnya, Maura pun mengambil baju SMP nya di walk in closet, lalu ia memakai baju SMP nya itu.
Setelah selesai, ia duduk di kursi rias.
"Bagaimana pun Mamih Cherly tidak boleh tahu perihal luka cambuk atau pun memar di pipi dan juga tanganku!" gumam Maura dengan suara pelan.
Maura terlihat mengambil foundation kebanggaannya, untuk mengoleskannya pada wajah dan juga tangan. Lalu ia menutup bekas sembab di matanya itu dengan maskara dan juga eyeliner. Walaupun nanti Maura yakin akan mendapatkan teguran dari SMA barunya. Namun Maura benar benar tidak ada pilihan lain.
Maura benar benar takut, jika Cherly itu tahu dan menegur Mamah nya. Membuat dirinya akan kembali di hukum oleh Stela.
Maura terlihat memakai tas punggung yang biasanya di bawa ke sekolah, ia terlihat meringis kesakitan kala tas punggung itu menempel di punggungnya.
"Astaga kenapa sakit sekali? Apa lebih baik aku bawa aja pakai tangan? Karena semua tas ku itu model punggung!" gumam Maura.
Lantas Maura pun melepaskan tas itu punggungnya, lalu membawa tas itu dengan tangannya.
Naura memilih untuk kembali melihat ke arah kaca, guna memastikan apakah wajahnya itu masih kelihatan memar atau tidak.
"Ternyata beli foundation mahal gak sia sia, hasilnya okey punya!" gumam Maura dengan senyuman manis.
Dengan ekspresi wajah yang terlihat begitu ceria, Maura keluar dari dalam kamarnya.
Lalu ia terlihat menuruni tangga rumahnya.
"Maura, sarapan di rumah Mamih saja ya! Ada yang perlu Mamih bicarakan padamu, bolehkan Stela?" tanya Cherly yang sudah berdiri di dekat sofa yang ada di ruang tamu.
Sementara Aron suami Cherly sendiri terlihat berbicara empat mata dengan Lian.
Maura sendiri malah diam mematung, ia terlihat mengigit bibir bawahnya, sembari melihat ke arah Stela, namun Stela malah terlihat memalingkan pandangan itu ke arah lain.