hidup ini seringkali begitu kejam dan Mestrius. ada yang lah dalam kemewahan, ada yang tumbuh dalam hangatan kasih sayang. namun, takdir berkata lain bagiku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Komiatun Atun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
"SATU-SATUNYA BUNGA DI TENGAH HUTAN" BAB 7: PERASAAN YANG MULAI BERGEMBIRA
"SATU-SATUNYA BUNGA DI TENGAH HUTAN"
BAB 7: PERASAAN YANG MULAI BERGEMBIRA
Pagi itu, sinar matahari mulai menyelinap masuk melewati celah-celah jendela kayu rumah sederhana itu, menerangi setiap sudut ruangan yang terasa dingin dan sepi. Arefin terbangun lebih awal dari biasanya, hatinya terasa tak tenang, ada sesuatu yang mengganjal dan membuatnya sulit untuk kembali memejamkan mata. Bayangan wajah adik perempuannya, Ria, terus terbayang jelas di benaknya — wajah yang selalu tampak lelah, sedih, dan tertunduk lesu, seolah tak pernah mengenal arti bahagia dan tawa riang.
Perlahan ia bangkit dari pembaringannya, berjalan melangkah pelan menuju dapur, berniat mengambil air minum sekaligus melihat keadaan di sekitar rumah. Namun, langkah kakinya terhenti seketika saat matanya menangkap sosok kecil yang sedang duduk mematung di sudut dapur yang paling gelap dan sempit. Itu Ria. Gadis kecil itu duduk bersila di lantai tanah yang dingin, memeluk kedua lututnya yang kurus kering dengan kedua tangannya yang terlihat begitu kecil dan lemah. Di hadapannya hanya ada sepiring nasi yang sedikit sekali jumlahnya, dengan lauk sisa sayur lodeh yang tinggal kuahnya saja, dan sedikit sambal yang terlihat sangat pedas.
Ria makan dengan sangat pelan dan hati-hati, seolah takut ada suara suapan yang terdengar, takut ada yang marah atau menegurnya. Matanya berkaca-kaca, sesekali ia menyeka air mata yang jatuh menetes perlahan membasahi pipi pucatnya, berusaha menahan isak tangis agar tak ada yang mendengarnya. Tubuhnya tampak semakin kurus, bajunya sudah lusuh dan berlubang di sana-sini, sepatu sekolahnya pun sudah tak beralas lagi, solnya sudah habis karena terlalu lama dipakai.
Melihat pemandangan itu, dada Arefin terasa sesak sekali, seolah ada benda berat yang menimpanya, membuat napasnya terasa sulit dan perih. "Ya Allah... apa yang sudah kami lakukan selama ini? Bagaimana kami bisa membiarkan adik kami sendiri, satu-satunya perempuan di rumah ini, hidup seperti orang buangan di rumahnya sendiri?" batinnya menjerit pilu, air matanya mulai menggenang dan berlinang di pelupuk mata. "Ini adik kita, darah daging kita sendiri, satu-satunya bunga di tengah keluarga kami yang kering dan keras ini. Mengapa kami tega membiarkannya menderita sendirian, makan sisa-sisa makanan kami, tidur di tempat yang sempit dan dingin, sementara kami tidur nyenyak dan makan enak dengan kenyang?"
Perasaan bersalah dan penyesalan mulai merayap masuk ke relung hati terdalamnya, perasaan yang selama dua tahun ini tertutup oleh rasa egois, rasa benci yang salah, dan sikap dingin yang keliru. Ia teringat betapa seringnya ia dan saudara-saudaranya membentak, mengusir, dan memarahi Ria hanya karena hal-hal kecil yang tak berarti. Ia teringat betapa seringnya mereka membiarkan Ria menangis sendirian di pojokan, membiarkannya bekerja berat mengerjakan semua pekerjaan rumah seorang diri tanpa pernah menawarkan bantuan sedikit pun.
"Tuhan... ampuni kami... kami sudah salah besar. Kami telah menyakiti hati gadis kecil yang polos dan tak berdosa ini. Kami sudah menjadi kakak yang buruk, kakak yang tak punya hati nurani," batin Arefin lagi, tangisnya mulai tak terbendung lagi, jatuh berderai di pipinya yang mulai memerah menahan emosi yang meluap-luap.
Dari kejauhan, Hamza dan Ardiansyah yang kebetulan juga bangun dan hendak pergi ke luar rumah, ikut berhenti dan diam terpaku melihat pemandangan yang sama. Mereka pun sama merasakan apa yang dirasakan Arefin. Hati mereka terasa sakit, perih, dan hancur lebur menyadari betapa besar kesalahan yang telah mereka perbuat selama ini. Tak ada satu pun dari mereka yang berani bersuara, tak ada yang berani melangkah maju, karena rasa malu dan rasa bersalah yang begitu besar menyelimuti hati mereka.
Mereka mengamati setiap gerak-gerik Ria yang begitu hati-hati, begitu takut, dan begitu rendah diri. Saat Ria hendak berangkat sekolah, mereka melihat Ria memakai baju seragam yang warnanya sudah pudar, kainnya sudah tipis dan hampir sobek di bagian lengan dan pinggangnya. Baju itu sudah tak layak pakai lagi, terlihat begitu sederhana dan menyedihkan dibandingkan dengan baju saudara-saudaranya yang masih terlihat bagus dan layak. Sepatu yang dipakainya pun sudah tak ada lagi bentuknya, jari-jarinya sampai terlihat keluar karena sol dan bagian depannya sudah rusak parah.
"Baju ini... sudah berapa lama dia pakai? Dua tahun? Tiga tahun? Padahal kami sering beli baju baru dan kami sama sekali tidak pernah memikirkan keadaan dia," batin Hamza sambil menahan amarah pada dirinya sendiri, jemarinya mengepal kuat menahan rasa marah dan kecewa atas kelakuannya sendiri.
Di sekolah pun, mereka tahu betapa berat dan sulitnya hari-hari yang harus dilalui Ria. Mereka sering mendengar bisik-bisik tetangga, atau melihat sendiri betapa Ria sering diejek, dikucilkan, dan disakiti oleh teman-temannya hanya karena dia anak miskin, hanya karena dia terlihat lusuh dan sendirian. Dan yang paling menyakitkan: mereka, kakak-kakaknya sendiri, justru menjadi orang pertama yang membuatnya merasa paling sendirian di dunia ini.
Ria berjalan meninggalkan rumah dengan langkah kecil dan pelan, punggungnya tampak menunduk dalam, seolah memikul beban yang sangat berat di bahu kecilnya. Ia berjalan sendirian di pinggir jalan, tak ada teman bicara, tak ada yang menemaninya. Di sepanjang jalan menuju sekolah, ia sering menyingkir ke pinggir jika ada orang lewat, takut disapa atau diajak bicara, karena ia merasa dirinya tak berharga dan tak pantas dianggap ada.
Setelah sosok kecil itu hilang di tikungan jalan, Arefin, Hamza, dan Ardiansyah masih berdiri diam terpaku di tempatnya, menatap kepergian adik mereka dengan hati yang penuh luka dan penyesalan mendalam.
"Kita salah... kita sudah salah besar, Bang..." ucap Hamza pelan dan parau, suaranya bergetar menahan tangis yang hampir pecah. "Selama ini kita kira kita benar, kita kira kita punya alasan untuk membenci dan menjauhinya. Tapi ternyata... kita adalah penjahat terbesar dalam hidupnya."
Arefin mengangguk berat, menyeka air matanya dengan kasar namun wajahnya masih tampak sangat sedih dan gundah. "Iya, Hamza... Kita baru sadar sekarang, padahal sudah terlambat dua tahun lamanya. Lihatlah dia... dia masih kecil, tapi dia sudah harus merasakan penderitaan yang seharusnya tidak dirasakan oleh anak-anak seusianya. Dia satu-satunya perempuan kita, satu-satunya bunga yang Allah titipkan di keluarga ini untuk kita jaga dan sayangi, tapi malah kita injak-injak dan kita biarkan layu begitu saja."
Ardiansyah yang sedari tadi diam, akhirnya angkat bicara dengan nada tegas namun penuh penyesalan. "Mulai hari ini, semuanya harus berubah. Kita harus menebus semua kesalahan kita, sekecil apa pun. Kita harus buktikan bahwa kita memang pantas disebut kakaknya. Kita harus membuat dia tersenyum kembali, membuat dia merasakan kasih sayang saudara yang selama ini hilang dari hidupnya."
Hati mereka pun mulai bergembira dengan perasaan yang berbeda — gembira karena akhirnya mata hati mereka terbuka, gembira karena mereka sadar dan berniat berubah, meski dibalut rasa sakit dan perih yang mendalam. Mereka sadar, perjalanan menebus kesalahan itu takkan mudah, luka di hati Ria mungkin butuh waktu lama untuk sembuh. Namun mereka berjanji dalam hati, berjanji sepenuh jiwa dan raga: mereka takkan pernah lagi membiarkan Ria menangis, takkan pernah lagi membiarkannya sendirian, dan akan menjaganya mati-matian sebagai satu-satunya bunga yang paling berharga di tengah hutan keluarga mereka.
Matahari semakin tinggi dan bersinar terang, seolah ikut menyaksikan dan merestui perubahan hati yang indah itu. Di sudut rumah yang tadi sepi dan dingin, kini mulai tumbuh secercah harapan baru, harapan akan kasih sayang yang akan kembali tumbuh subur dan mekar indah, demi Ria, putri kecil mereka yang terkasih.