Setelah bertahun-tahun menanti buah hati, badai besar menghancurkan rumah tangga Lani.
Ia diceraikan oleh suaminya, Alex, yang berselingkuh dengan sahabat karib Lani sendiri.
Di tengah usaha menyembuhkan luka hati dan bangkit dari keterpurukan, takdir mempertemukan Lani dengan Afrain—pria berjiwa bebas yang merupakan mantan suami dari kakak Alex.
Sama-sama membawa trauma masa lalu, pertemuan tak sengaja itu perlahan berubah menjadi ikatan emosional yang dalam.
Afrain menjadi tempat bersandar yang memahami kepedihan Lani, dan benih-benih cinta pun mulai tumbuh di antara mereka. Namun, hubungan baru ini berada di lingkaran keluarga yang rumit dan penuh kecanggungan.
Di hadapan restu yang dipertanyakan dan bayang-bayang masa lalu yang saling berkaitan, akankah Lani berhasil melepaskan diri dari jerat trauma dan menemukan kebahagiaan sejatinya bersama Afrain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Tanpa mempedulikan teriakan ibunya yang menyuruhnya untuk tenang, amarah Alex sudah benar-benar memuncak.
Ia menyambar kunci motornya dengan kasar, lalu memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi menuju kediaman mewah milik Afrain.
Di pikirannya hanya ada satu tujuan: melampiaskan kekesalan atas pemecatannya.
Sesampainya di depan gerbang tinggi rumah Afrain, Alex langsung turun dan berteriak sekuat tenaga, mengabaikan ketenangan lingkungan sekitar.
"LANI! KELUAR KAMU!! SIALAN!!" seru Alex berulang kali sambil menggedor pagar besi itu dengan brutal.
Wajahnya merah padam, urat-urat di lehernya menonjol, dan matanya berkilat penuh kebencian.
Tak lama kemudian, pintu gerbang terbuka sedikit, menampilkan Mbok Mar yang melangkah keluar dengan wajah tenang namun tatapan yang sangat tajam.
Melihat Alex yang mengamuk layaknya orang kesurupan, Mbok Mar sama sekali tidak menunjukkan rasa takut.
"Eh, ada ular lagi datang rupanya," ucap Mbok Mar dengan nada dingin dan penuh sarkasme, membuat Alex tersentak.
Mbok Mar berdiri tegak di balik pagar, menatap Alex dengan pandangan merendahkan.
"Non Lani tidak ada di sini. Den Afrain sudah membawanya pergi bulan madu ke suatu tempat yang jauh dari orang-orang beracun seperti kalian."
Alex terdiam sejenak, napasnya masih memburu. Namun, sebelum ia sempat membalas, Mbok Mar menambahkan dengan nada peringatan yang sangat tegas.
"Dan saya ingatkan, jangan teriak-teriak di depan rumah majikan saya atau saya langsung hubungi polisi sekarang juga. Mereka sedang menanti laporan saya kalau ada orang gila yang mengganggu ketenangan," lanjut Mbok Mar sambil mengeluarkan ponselnya, siap menekan tombol panggil jika Alex berani melangkah lebih jauh.
"Aku akan membalas kalian semuanya! Lihat saja nanti!" ancam Alex dengan mata melotot, menunjuk wajah Mbok Mar sebelum akhirnya berbalik dengan sisa amarah yang membakar dada.
Ia menyambar stang motornya, menyalakan mesin dengan kasar, lalu mengemudikan motornya dengan sangat kencang meninggalkan area perumahan mewah tersebut.
Deru knalpotnya memekat di udara, mencerminkan frustrasi yang mendalam karena gagal menemui Lani.
Melihat kepergian Alex yang penuh ancaman, Mbok Mar tidak mau ambil risiko.
Mengingat pesan tegas dari sang majikan sebelum berangkat, Mbok Mar segera membuka aplikasi pesan di ponselnya dan mengirimkan pesan singkat kepada Afrain, melaporkan kedatangan "ular" yang mengamuk di depan pagar rumah.
Sementara itu, beribu-ribu kilometer jauhnya di kawasan Danau Kawaguchiko, Jepang, ponsel di saku mantel Afrain bergetar.
Afrain merogoh ponselnya sejenak demi membaca pesan dari Mbok Mar. Bukannya panik atau marah, Afrain justru tersenyum tipis—senyuman meremehkan yang sangat tenang.
Di matanya, gertakan Alex tak lebih dari sekadar angin lalu yang menggelikan.
Afrain dengan cepat mengetik balasan, meminta Mbok Mar untuk tetap berjaga-jaga dan langsung mengunci gerbang rapat-rapat tanpa perlu meladeni pria itu lagi.
Lani, yang sedang berdiri di sampingnya sambil memegang kamera saku mengagumi kemegahan Gunung Fuji, menyadari perubahan ekspresi suaminya. Ia menoleh dengan kening berkerut penasaran.
"Ada apa, Mas? Kok senyum-senyum sendiri?" tanya Lani lembut, menatap wajah tampan Afrain yang tampak sangat rileks.
Afrain langsung menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku.
Ia merangkul pundak Lani, menarik tubuh istrinya agar mendekat ke dalam dekapannya yang hangat untuk menghalau embusan angin danau.
"Tidak ada apa-apa, Sayang. Hanya masalah kecil di kantor," bohong Afrain dengan nada suara yang begitu tenang dan meyakinkan.
Ia sengaja menyembunyikan hal itu karena tidak ingin merusak momen bahagia dan ketenangan pikiran istrinya selama mereka berada di Jepang.
"Ayo, kita foto berdua di sebelah sana. Pemandangan bunganya sedang bagus sekali."
Lani menganggukkan kepalanya sambil tersenyum manis, memercayai sepenuhnya ucapan sang suami.
Rasa penasaran tentang pesan di ponsel tadi seketika menguap, digantikan oleh rasa antusias saat Afrain menuntunnya menuju sebuah butik penyewaan pakaian tradisional yang terletak tak jauh dari tepi danau.
Di dalam butik yang bernuansa kayu yang hangat itu, Lani dibantu oleh seorang penata busana lokal untuk mengenakan sehelai kimono Jepang bermotif kelopak bunga sakura yang sangat anggun.
Perpaduan warna merah muda dan putih pada kain sutra itu membuat kecantikan alami Lani kian terpancar terpuji.
Tak lama kemudian, tirai pembatas ruangan sebelah terbuka. Lani menoleh dan seketika menahan napasnya sesaat melihat penampilan suaminya.
Afrain melangkah keluar dengan gagah, mengenakan yukata formal pria berwarna biru dongker tua yang dipadukan dengan haori—outerwear tradisional Jepang—berwarna hitam legam dengan aksen garis perak di tepiannya.
Pakaian itu melekat sempurna pada tubuh tegap dan atletis milik sang CEO, memancarkan aura ketampanan yang begitu karismatik dan berwibawa bak bangsawan Jepang modern.
"Bagaimana, Sayang? Cocok tidak?" tanya Afrain sambil membetulkan letak simpul sabuk obi-nya, lalu berjalan mendekati Lani dengan tatapan mata yang dipenuhi rasa kagum yang tak disembunyikan.
Lani merasakan pipinya kembali memanas. Sambil memegang ujung lengan kimononya yang lebar, ia menganggukkan kepala dengan cepat.
"Sangat cocok, Mas. Kamu, tampan sekali," puji Lani jujur dengan suara cicitan malu-malu.
Afrain tertawa rendah, merasa sangat gemas. Ia mengulurkan lengannya yang kokoh untuk dilingkari oleh jemari lentik Lani.
Dengan langkah serasi, sepasang suami istri yang serasi itu melangkah keluar butik menuju hamparan taman bunga, siap mengabadikan momen bulan madu mereka yang sempurna dengan latar belakang kemegahan Gunung Fuji.
Sambil tersenyum lebar menghadap kamera, mereka berdiri berdampingan dan berfoto bersama di bawah langit Tokyo yang cerah.
Di tengah salah satu jepretan, Afrain tiba-tiba menoleh dan mencium pipi istrinya dengan lembut, membuat Lani terkejut sekaligus tersenyum malu-malu karena gemas.
Setelah beberapa kali mengambil foto dengan berbagai pose yang romantis, mereka akhirnya kembali ke butik untuk mengganti pakaian mereka dengan pakaian kasual yang nyaman.
Perjalanan hari itu berlanjut dengan penuh tawa dan kebahagiaan.
"Sekarang kita lanjut ke rencana kita yang lainnya, Sayang," ujar Afrain penuh teka-teki saat hari mulai beranjak malam.
Ternyata, Afrain membawa Lani ke sebuah restoran mewah di lantai atas gedung pencakar langit yang menyajikan pemandangan malam kota Tokyo secara 360 derajat.
Ruangan itu telah dipesan secara privat oleh Afrain untuk makan malam romantis mereka.
Cahaya lilin yang temaram menambah syahdu suasana, diiringi alunan musik klasik yang lembut dari petikan harpa.
Di sela-sela makan malam, Afrain tiba-tiba berdiri dari kursinya dan berjalan memutari meja.
Ia merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah kotak beludru hitam kecil, lalu membukanya di hadapan Lani.
Di dalamnya, berkilau sebuah kalung berlian dengan desain yang sangat anggun dan mewah, memancarkan kilau indah di bawah temaram lampu restoran.
"Ini untuk istriku tercinta. Bukti bahwa kamu adalah permata paling berharga di hidupku," ucap Afrain tulus seraya memasangkan kalung itu di leher jenjang Lani.
Lani terpaku, tangannya menyentuh berlian yang kini menggantung di dadanya.
Rasa haru, bahagia, dan rasa dihargai yang belum pernah ia rasakan sebelumnya membuncah hebat di dalam dadanya.
Lani menangis sesenggukan, air matanya menetes perlahan mengekspresikan seluruh rasa syukur atas kehadiran Afrain yang begitu luar biasa menyembuhkan luka masa lalunya.
"Sayang, jangan menangis..." bisik Afrain lembut, berlutut satu kaki di samping kursi Lani lalu menghapus air mata di pipi istrinya dengan ibu jari.
Tanpa mempedulikan hal lain, Lani langsung berhambur memeluk tubuh suaminya dengan sangat erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk
leher Afrain sambil terus terisak bahagia.
Tepat pada momen romantis itu, beberapa staf restoran dan pemain musik yang sejak tadi menyaksikan ketulusan cinta sepasang suami istri itu tidak bisa menahan rasa haru mereka.
Semua orang bertepuk tangan dengan meriah, memberikan penghormatan dan doa terbaik untuk kebahagiaan abadi Afrain dan Lani di malam yang begitu indah itu.