Tujuh tahun Pamela bertahan menjadi istri dari Zidan yang playboy, menantu yang ditindas, dan ibu yang tak dihargai anak-anaknya sendiri. Dia mengabdi dalam diam, hanya bermodalkan cinta.
Puncaknya hancur saat Zidan membawa selingkuhannya yang hamil tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka. Tanpa air mata, Pamela meletakkan surat cerai di meja makan, lalu pergi menghilang di tengah malam.
Awalnya keluarga Zidan bersorak senang si "miskin" telah pergi. Namun dalam hitungan minggu, rumah megah itu berubah menjadi neraka yang kacau tanpa kehadiran Pamela. Saat penyesalan mereka datang terlambat, Pamela ditemukan telah menjelma menjadi wanita sukses yang bersinar dan bahagia tanpa mereka.
Saat mereka bersujud memohon maaf, sanggupkah Zidan memenangkan kembali hati "mantan istri miskin" yang kini telah menjadi ratu?
...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 Air Mata Bus
...
Pintu bus antar-kota bermesin tua itu tertutup dengan deburan kasar, menyisakan kepulan asap solar yang kelabu di pelataran terminal yang bising. Begitu roda-roda besar kendaraan itu mulai bergerak meninggalkan aspal kota, Pamela menyandarkan tubuh lelahnya pada kursi penumpang di baris paling belakang, tepat di sudut dekat jendela kaca yang buram oleh debu jalanan.
Sweter krem yang dikenakannya terasa sedikit longgar, seolah-olah berat badannya telah menyusut drastis hanya dalam hitungan hari. Rambut panjangnya yang hitam kecokelatan ia biarkan tergerai ke depan, menutupi sebagian wajah manisnya yang kini tampak pucat pasi.
Sepanjang sisa hari itu, langit di luar sana perlahan berubah menjadi kelabu mendung, seakan ikut merasakan pekatnya atmosfer yang dibawa oleh wanita yang baru saja melarikan diri dari pusaran luka lamanya.
Saat bus mulai melaju membelah jalanan lingkar luar kota menuju pesisir pantai, pertahanan es yang sejak subuh tadi Pamela bangun dengan begitu kokoh, mendadak runtuh tanpa sisa. Tembok ketegaran yang ia pamerkan di depan Zidan, Keysha, dan Mama mertuanya di kamar rawat VIP tadi kini retak, hancur berkeping-keping menjadi debu yang menyesakkan dada.
Air mata yang sejak di kantin rumah sakit ia tahan dengan taruhan sisa harga dirinya, kini lolos begitu saja. Mengalir deras membasahi pipinya yang mulus, jatuh berlapik-lapik di atas permukaan kain sweternya.
Pamela tidak menangis dengan raungan histeris. Dia menangis dalam sunyi yang teramat menyakitkan sebuah tangisan khas seorang wanita dewasa yang sudah terlalu kenyang dihantam oleh kekerasan emosional dan ketidakadilan hidup. Bahunya bergetar hebat, tangannya yang sedikit kasar karena sering memegang sodet di dapur kedai kini ia gunakan untuk membekap mulutnya sendiri, menahan agar isak tangisnya tidak memecah keheningan kabin bus yang hanya diisi oleh beberapa penumpang yang tertidur.
"Ryan... Riana..." bisik Pamela lirih di sela-sela napasnya yang tercekat.
Setiap kali bus berguncang melewati lubang jalanan, bayangan jeritan histeris kedua anak kembarnya di kantin rumah sakit tadi kembali terngiang di telinganya bagai teror yang menyiksa batin. Suara cicitan Riana yang kelaparan, genggaman erat tangan Ryan yang menolak melepaskan baju ibunya, hingga tatapan mata bulat mereka yang penuh ketakutan saat melihat bibi dan nenek mereka marah, terus berputar-putar di dalam kepala Pamela tanpa ampun.
Rasa rindu seorang ibu adalah jenis siksaan yang paling kejam di dunia ini. Pamela memeluk tas anyaman bambunya erat-erat ke dada, meringkuk ke arah jendela kaca yang bergetar. Jiwanya meronta, separuh dari dirinya berteriak menyuruhnya untuk turun dari bus ini, kembali ke kota, dan merangkak memeluk anak-anaknya di rumah sakit.
Namun, belahan jiwanya yang lain sisa-sisa kewarasan dan harga dirinya mengingatkannya pada kenyataan pahit yang sesungguhnya. Jika dia kembali ke rumah besar Arkatama sekarang, semua perlakuan kejam, cemoohan dari Keysha tentang 'wanita miskin yang mencari keuntungan', dan sikap narsis Zidan yang selalu menganggap kepatuhannya sebagai hal yang murah, akan kembali terulang tanpa akhir.
Dia harus pergi. Kehidupannya di tepi pantai adalah satu-satunya cara untuk menyembuhkan luka batinnya sebelum dia benar-benar siap menjemput anak-anaknya dengan cara yang terhormat di mata hukum nanti.
Ratusan kilometer di belakangnya, di dalam kamar rawat VIP nomor 402, suasana sore itu terasa begitu mencekam dan dingin, jauh lebih dingin daripada AC ruangan yang menyala.
Zidan duduk di atas kursi plastik di sudut ruangan dengan kepala yang tertunduk dalam, kedua telapak tangannya menangkup wajahnya yang kuyu. Kemeja putihnya yang kusut tampak semakin berantakan. Di atas ranjang, Papa sudah kembali terbangun, namun pria tua itu hanya menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong, menolak untuk berbicara pada siapa pun sejak tahu Pamela telah pergi kembali ke pantai.
Sementara itu, Ryan dan Riana akhirnya tertidur karena kelelahan menangis di sofa, dengan sisa-sisa air mata yang masih mengering di pipi sembab mereka.
"Kak Zidan, kamu lihat sendiri kan kelakuan mantan istrimu itu?" Keysha kembali membuka suara dari balik meja saji, mencoba memecah keheningan dengan nada suaranya yang manja namun sarat akan racun gengsi. "Dia sengaja bikin anak-anak histeris begitu cuma biar kamu ngerasa bersalah. Wanita kayak dia itu—"
Brak!
Zidan berdiri dengan sentakan yang begitu kasar hingga kursi plastiknya terlempar ke belakang, menghantam dinding marmer. Pria itu melangkah lebar, mendekati Keysha dengan sepasang mata yang merah menyala, memancarkan aura dingin dan emosi pekat yang begitu menakutkan hingga membuat adiknya seketika mundur selangkah dengan wajah pucat.
"Cukup, Keysha! Jaga mulut busukmu itu!" bentak Zidan, suaranya bergetar hebat karena amarah yang sudah mencapai ubun-ubun. "Kamu tahu kenapa Pamela pergi?! Kamu tahu kenapa dia menolak menyentuh satu sendok pun makanan di ruangan ini?! Itu karena kelakuan binatangmu dan Mama tadi! Kalian bertingkah seolah-olah uang kita bisa membeli segalanya, padahal wanita yang kalian sebut miskin itu baru saja menyelamatkan nyawa Papa dengan ketulusannya!"
"Zidan! Jaga bahasamu pada adikmu!" bentak Mama, ikut berdiri membela anak perempuannya dengan sisa-sisa kesombongan lamanya.
Zidan menoleh ke arah ibunya, seulas senyuman sinis dan penuh keputusasaan terukir di bibirnya yang kering. "Mama juga sama saja. Selama tujuh tahun ini, Zidan selalu menutup mata setiap kali Mama dan Keysha memperlakukan Pamela seperti pembantu di rumah kita. Zidan pikir... Zidan bisa abai karena Zidan yang memberi dia uang belanja. Tapi hari ini... hari ini di kantin itu, Zidan dipaksa sadar... bahwa uang miliaran yang kita punya tidak ada harganya sama sekali di mata Pamela yang hatinya sudah mati karena kita."
Zidan mencengkeram dadanya sendiri yang terasa begitu sesak dan nyeri. Penyesalannya yang teramat dalam kini benar-benar telah meresap ke dalam sumsum tulangnya. Dia teringat bagaimana tenangnya wajah Pamela saat menyebutnya sebagai 'mantan suami' sebuah sebutan yang menegaskan bahwa bagi Pamela, Zidan Arkatama kini tidak lebih berharga dari orang asing di jalanan.
Kekerasan emosional yang selama tujuh tahun ini mereka tanam di dalam hidup Pamela, kini telah berbuah menjadi badai penyesalan keluarga yang berbalik menghancurkan ketenangan mereka sendiri tanpa ampun.
...
Bus tua yang membawa Pamela akhirnya memasuki area terminal kecil di pinggir pantai saat malam telah sepenuhnya laruh. Lampu-lampu jalanan kota kecil itu bergoyang ditiup angin laut yang kencang, memantulkan cahaya kuning yang suram di atas genangan air sisa hujan sore.
Pamela turun dari bus dengan langkah kaki yang terasa begitu berat dan kaku. Dia menghapus sisa air mata di pipinya yang kering dengan ujung lengan sweternya, mencoba mengatur napasnya agar kembali stabil. Wajah manisnya kembali berubah menjadi topeng es yang datar dan dingin saat dia berjalan menyusuri jalan setapak menuju Kedai "Selasih".
Dari kejauhan, lampu teras kedai tampak masih menyala, memancarkan pendaran kuning yang hangat di tengah kegelapan malam pantai. Sosok Ibu Sarah terlihat sedang duduk di kursi kayu teras, tampaknya sengaja belum tidur demi menunggu kepulangan karyawannya itu.
Begitu Pamela melangkah masuk ke area pekarangan kedai, Ibu Sarah langsung bangkit berdiri, menatap wajah kuyu dan sepasang mata sembap Pamela dengan pandangan seorang ibu yang dipenuhi rasa iba yang teramat dalam.
"Pamela..." panggil Ibu Sarah lembut, berjalan mendekat dan langsung menarik tubuh ramping wanita itu ke dalam pelukannya yang hangat.
Di dalam pelukan pemilik kedai yang baik hati itu, bahu Pamela kembali bergetar pelan. Namun, kali ini tidak ada air mata yang keluar; air matanya tampaknya sudah habis terkuras sepanjang perjalanan bus tadi. Yang tersisa di dalam dada Pamela kini hanyalah sebuah kekosongan yang teramat pekat, sebuah ketetapan hati yang semakin membeku.
"Saya sudah kembali, Bu," bisik Pamela, suaranya terdengar sangat datar, dingin, namun memiliki jiwa ketegasan yang tak tergoyahkan. "Mulai besok pagi... saya akan bekerja lebih giat lagi. Urusan di kota... sudah benar-benar selesai bagi saya." ucapnya walau sesak dalam hati.
...
🟥🟥🟥⬜🟥🟥🟥
🟥🟥🟥🟥🟥🟥🟥
⬜🟥🟥🟥🟥🟥⬜
⬜⬜🟥🟥🟥⬜⬜
⬜⬜⬜🟥⬜⬜⬜
🌷🌸🌷🌸
🌸🌷🌸🌷🌸
Λ🌷🌸🌷🌸🌷
( ˘ ᵕ ˘🌷🌸🌷
ヽ つ\ /
UU / 🎀 \
masa orang kaya bodoh gitu
jangan diulang ulang
makasih
🟥🟥🟥⬜🟥🟥🟥
🟥🟥🟥🟥🟥🟥🟥
⬜🟥🟥🟥🟥🟥⬜
⬜⬜🟥🟥🟥⬜⬜
⬜⬜⬜🟥⬜⬜⬜
🌷🌸🌷🌸
🌸🌷🌸🌷🌸
Λ🌷🌸🌷🌸🌷
( ˘ ᵕ ˘🌷🌸🌷
ヽ つ\ /
UU / 🎀 \
🌸🌷🌸🌷🌸
Λ🌷🌸🌷🌸🌷
( ˘ ᵕ ˘🌷🌸🌷
ヽ つ\ /
UU / 🎀 \
⬜🟥⬜⬜⬜🟥⬜
🟥🟥🟥⬜🟥🟥🟥
🟥🟥🟥🟥🟥🟥🟥
⬜🟥🟥🟥🟥🟥⬜
⬜⬜🟥🟥🟥⬜⬜
⬜⬜⬜🟥⬜⬜⬜
🟥🟥🟥⬜🟥🟥🟥
🟥🟥🟥🟥🟥🟥🟥
⬜🟥🟥🟥🟥🟥⬜
⬜⬜🟥🟥🟥⬜⬜
⬜⬜⬜🟥⬜⬜⬜
🌷🌸🌷🌸
🌸🌷🌸🌷🌸
Λ🌷🌸🌷🌸🌷
( ˘ ᵕ ˘🌷🌸🌷
ヽ つ\ /
UU / 🎀 \
🌸🌷🌸🌷🌸
Λ🌷🌸🌷🌸🌷
( ˘ ᵕ ˘🌷🌸🌷
ヽ つ\ /
UU / 🎀 \
⬜🟥⬜⬜⬜🟥⬜
🟥🟥🟥⬜🟥🟥🟥
🟥🟥🟥🟥🟥🟥🟥
⬜🟥🟥🟥🟥🟥⬜
⬜⬜🟥🟥🟥⬜⬜
⬜⬜⬜🟥⬜⬜⬜