"Jangan deket-deket gue! Inget, jarak lo satu meter." — Nicktan Megantara.
Nicktan adalah pembalap GT3 yang perfeksionis. Hidupnya diatur dengan ketat oleh ayahnya, Azeus, demi menjaga kondisi jantungnya yang sensitif. Segala bentuk "debaran emosional" adalah terlarang.
Lalu hadirlah Elea. Gadis agresif yang tak kenal takut dan hobi memancing emosi Nick. Satu tahun mereka terpisah oleh benua dan ego, Nick berubah menjadi aktor dingin yang hampa. Namun malam itu, di tengah sunyinya Jakarta, Nicktan menemukan kembali mangsa lamanya.
Sebuah kisah tentang pengabdian, rahasia keluarga Megantara yang terkubur selama dua dekade, dan perjuangan seorang pria yang mencintai wanita hingga ke titik jantungnya berhenti berdetak.
Visualisasi Nicktan terinspirasi dari Wang Yibo, namun seluruh alur cerita dan pengembangan karakter adalah murni fiksi karya penulis.
#wangyibo
Novel ini adalah Season 2 dari novel "Owned By Azeus"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andara Wulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Godaan Bertubi Tubi
Ardan yang duduk di dimeja lain menyeringai. "Ayo, Nick. Tarik napas, buang. Jangan sampe pingsan pas dia baru buka pintu." kata Ardan,
"Diem lo, Dan!" Nick bangkit berdiri dengan gerakan canggung. "Gue... gue ke toilet bentar!"
Nick melarikan diri tepat saat pintu kafe berdenting. Elea masuk dengan langkah santai, jaket kulit hitamnya menambah kesan badass. Ia celingukan dan langsung menghampiri meja Ardan.
"Kak, Kak Nicktan mana?" tanya Elea tanpa basa basi sambil langsung menduduki kursi kosong di dekat Ardan.
Ardan tertawa kecil melihat kegesitan Elea. "Ke toilet dia. Cuci muka mungkin, biar nggak kelihatan salting pas ketemu lo."
"Bisa gitu ya?" Elea terkekeh, meletakkan helmnya.
"Bisa banget. Lo ke mana aja kemarin? Dia sampe nungguin lo, sampe nggak tidur. Tiap detik dia bukain layar hape, ngecek WhatsApp, terus dilempar lagi. Gitu terus sampe pagi," bisik Ardan pelan.
"Oh ya? Kak Nick segitu kangennya sama gue?" Elea menaikkan alisnya, merasa menang.
"Lebih dari kangen, Ele. Dia kayak orang sakau nungguin balasan lo."
"Dan! Berani lo ya ngomong yang enggak enggak!"
Suara bariton yang ketus muncul dari belakang. Nick berdiri di sana dengan wajah segar setelah diguyur air dingin, namun tatapannya tajam menusuk Ardan.
"Lo nggak usah percaya sama dia. Otak dia emang kadang konslet," kata Nick ketus sambil duduk kursi meja tempatnya tadi (meja berbeda dengan Ardan). Ia sengaja memberi jarak dari Elea yang duduk di sebrang meja Ardan.
Elea tidak peduli, ia langsung mendekat dan pindah duduk disamping Nick.
Srettt! Ia menggeser kursinya hingga merapat tanpa celah ke kursi Nick. Nick tersentak, tangannya yang berada di atas meja mendadak kaku.
Tanpa permisi, Elea merangkul lengan kanan Nick dengan manja. Ia menumpu dagu di telapak tangan, menatap Nick dari jarak yang sangat dekat. "Katanya kangen? Nih, gue udah di sini..." Elea menjeda, menatap bibir Nick sesaat. "Cium dong!"
DEG!
Nick membeku. Seluruh sarafnya lumpuh. Wajahnya berubah merah padam dalam hitungan detik.
"Gu-gue... gue haus!" ucap Nick refleks dengan suara cempreng.
Nick berdiri tegak secara tiba tiba, membuat tautan tangan Elea terlepas. Ia melangkah terburu buru menuju meja kasir. Padahal, jelas-jelas di mejanya masih ada jus jeruk yang tersisa setengah.
"Hahahaha! Nick! Jus lo masih banyak itu, bego!" Ardan meledak dalam tawa kencang.
Elea menyeringai puas, menyilangkan tangan di depan dada. "Kak Ardan, temen lo itu... emang selalu lucu begini kalau lagi beneran suka sama orang?"
Ardan menghentikan tawanya sejenak. "Nick itu nggak pernah pacaran, Ele. Dia kaku karena nggak tahu cara ngebales perasaan orang tanpa terlihat bego. Jadi kalau dia sampe kabur begitu... itu artinya lo sukses bikin sistem dia total shutdown."
"Menarik," gumam Elea. "Berarti gue harus bikin dia makin sering shutdown."
Tak lama, Nick kembali dengan segelas air putih. Ia duduk dengan gerakan sangat hati hati, seolah kursi itu penuh duri. Ia tidak berani menatap Elea dan hanya fokus pada gelas airnya.
"Airnya enak, Kak?" goda Elea lagi, mendekatkan wajah ke bahu Nick.
"Diem gak!," gumam Nick rendah.
"Kenapa gue disuruh diem? Takut makin kangen ya kalau gue ngomong terus?"
"Gak. Gue cuma pusing denger suara lo."
"Pusing apa karena jantung lo lagi balapan kak?" Elea menyenggol lengan Nick nakal. "Tadi di telepon berani bilang kangen. Sekarang ketemu malah kayak kucing kejepit."
Nick meletakkan gelasnya dengan dentingan keras. "Gue tadi cuma reflek! Gara gara Ardan!"
"Oh, jadi kalau nggak ada Ardan, lo nggak kangen gitu?" Elea memasang wajah cemberut buatan. "Yaudah, gue balik aja kalau gitu. Percuma gue ngebut ke sini."
Elea berpura pura hendak berdiri, namun tangan Nick refleks memegang pergelangan tangan Elea. "Eh, tunggu!"
Nick langsung melepaskan tangan Elea seolah terkena setruman. "Maksud gue... lo kan belum bayar ganti rugi kemeja gue. Jangan kabur dulu."
Ardan yang sejak tadi menonton hanya bisa memutar bola matanya. "Alasan lo basi banget, Nick. Bilang aja jangan pergi, susah amat."
"Diem lo, Dan!" bentak Nick, lalu beralih ke Elea dengan tatapan ketus yang dipaksakan. "Duduk. Gue laper, temenin makan."
Elea kembali duduk dengan senyum kemenangan. "Mau ditemenin makan atau mau disuapin?"
"Makan sendiri! Emang gue bayi?"
"Tapi muka lo lucu kayak bayi kalau lagi merah gitu, Kak."
Nick menghela napas panjang, mencoba meredam gejolak di dadanya. "Lo... bener-bener cewek paling menyebalkan yang pernah gue kenal."
"Menyebalkan tapi dikangenin, kan?" Elea mengedipkan sebelah matanya.
Nick tidak menjawab. Ia hanya menunduk, menyembunyikan senyum tipis yang hampir lolos dari bibirnya. Ia sadar, di depan gadis ini, imej pembalap sangarnya sama sekali tidak berguna.
"Jadi, Kak," Elea merubah nadanya sedikit serius. "Kemarin lo beneran nungguin gue?"
Nick terdiam sesaat, lalu menjawab pelan tanpa menatap mata Elea. "Gue cuma... penasaran lo kemana. HP lo nggak aktif."
"HP gue disita paman, Kak. Gue baru bisa ambil tadi siang pas dia pergi dinas," jawab Elea jujur, meskipun ia menyembunyikan bagian pahitnya.
Nick menoleh, menatap Elea dengan kening berkerut. "Disita? Emang lo ngapain sampe disita?"
"Biasa lah, masalah nilai sekolah. Paman gue emang agak... ketat," Elea tertawa kaku, mencoba mencairkan suasana.
Nick terdiam, instingnya menangkap ada yang tidak beres dari nada tawa Elea, namun ia memilih tidak mendesak. "Lain kali kalau ada apa apa, lo... lo kabarin gue. Biar gue nggak kayak orang bego nungguin chat nggak dibalas."
Elea terpaku melihat sisi perhatian Nick yang kaku itu. "Ciee... perhatian nih?"
"Bukan perhatian. Gue cuma nggak suka jadwal gue keganggu gara gara mikirin lo takut kabur dari hutang!" Nick kembali ke mode ketusnya.
Elea tertawa bahagia. "Iya, iya. Gue kabarin terus kok. Tiap detik kalau perlu, biar lo makin kangen kak."