Dua saudari terjatuh ke sumur tua—terbangun di hutan belantara, menjadi buruan para pemburu; berusaha bertahan hidup ditengah intrik istana dan konflik asmara.
(Jika berkenan, follow Author di ig&tiktok untuk dapat melihat ilustrasi karakter dan berbagai cerita Author yang lain)
ig = @refinawriters
tiktok = @refinawriters
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R. Seftia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tinggal Bersama Bai Yun
"Mei, cepat bawa mereka berdua bersembunyi. Jangan sampai keberadaan mereka diketahui. Cepat!" Guru Bai Yun memerintahkan Mei untuk membawa Li Hua dan juga Shu Hua pergi bersembunyi, dan saat mereka bersembunyi, Guru Bai Yun menghadapi para pemburu yang kebetulan lewat di depan gubuk sederhananya.
Para pemburu itu tidak memiliki niat untuk menyakiti orang biasa, jadi Guru Bai Yun aman saja untuk menghadapi mereka.
"Ada apa ini?" Guru Bai Yun bertanya, seakan-akan dia penasaran dengan kedatangan beberapa pemburu itu yang tampak tengah mencari sesuatu.
"Maaf Pak Tua, kami hanya sedang mencari dua orang kriminal yang melarikan diri setelah membuat kekacauan di Istana Kekaisaran. Mereka sekarang telah ditetapkan sebagai buronan dengan imbalan 100 keping koin emas."
"Oh benarkah? Tapi sayangnya mereka mungkin tidak ada di sini. Kebetulan seharian aku di rumah dan tidak melihat ada orang yang lewat."
"Baiklah kalau begitu. Kami akan pergi mencari ke tempat lain. Jika nanti melihat mereka, harap langsung jauhi. Mereka sangat berbahaya!"
Setelah memberikan peringatan kepada Guru Bai Yun, para pemburu itu pergi. Dan setelah memastikan semua bahaya itu menjauh, Guru Bai Yun kembali ke dalam pondoknya, meminta Mei untuk membawa Li Hua dan juga Shu Hua untuk menghadap kepada dirinya.
→→→
Li Hua dan Shu Hua hanya diam saja tanpa berani membuka mulut mereka saat mereka telah menyadari jika Guru Bai Yun bukan orang biasa. Justru, dia jauh dari kata biasa. Dia seseorang dengan ilmu yang tinggi, dan luar biasanya lagi, Guru Bai Yun bisa mengontrol semua itu dengan baik.
"Kalian sadar kekacauan macam apa yang telah kalian perbuat? Kalian benar-benar telah mengacaukan satu negeri, terutama kamu, Shu Hua!" Guru Bai Yun tampak marah saat matanya melihat kepada Shu Hua.
Shu Hua ketakutan, menggenggam erat tangan sang Kakak, Li Hua.
"Maaf, Guru. Ini semua karena kesalahanku. Shu Hua tidak melakukan kesalahan apapun. Dia melakukannya karena ingin menyelamatkanku. Dan semua kekacauan ini tidak akan terjadi andai saja aku tidak lancang ingin langsung mengobati Kaisar. Saat itu aku benar-benar telah tergoda oleh pikiranku sendiri. Aku seperti telah digerakan oleh orang lain," ungkap Li Hua.
"Itu adalah hal yang sangat wajar. Itu terjadi karena kamu belum bisa mengendalikan kekuatan yang kamu miliki. Kekuatan itu bersifat kebalikan. Jika tidak bisa mengendalikannya, maka dirimu lah yang akan dia kendalikan. Dan tentu saja dia akan mengendalikan ke hal yang salah dan bukannya benar," jelas Guru Bai Yun.
"Hal yang sama juga berlaku kepadamu, Shu Hua!" tekan Guru Bai Yun.
"Pedang itu bukan mainan yang bisa kamu mainkan. Pedang itu benda suci yang haus darah. Kamu harus pikirkan baik-baik sebelum kamu ingin menggunakannya. Jika tidak, nyawa akan terus jatuh. Jika kamu tidak bisa mengendalikan rasa hausnya akan darah, kemungkinan besar dia akan meminta darah dari dirimu sendiri. Jadi, berhati-hatilah!" seru Guru Bai Yun.
Sejak tadi, Li Hua dan juga Shu Hua hanya diam saja mendengarkan begitu banyak nasehat dari Guru Bai Yun. Dan saat itu mereka berdua memiliki satu pertanyaan besar yang sama yang harus segera mereka ajukan kepada Guru Bai Yun.
"Guru Bai begitu banyak tahu tentang kemampuan kami berdua. Dan tampaknya Guru Bai juga bukan orang biasa. Bagaimana Guru Bai bisa tahu tentang semua itu? Dan apakah mungkin, Guru Bai bisa memberitahu kepadaku dan Adikku, kenapa kami berdua bisa sampai ke tempat ini?" tanya Li Hua, langsung mewakilkan Shu Hua yang juga ingin mengajukan pertanyaan yang sama.
"Semua itu aku pelajari dari buku yang diwariskan oleh leluhur keluargaku. Sejak beribu-ribu tahun yang lalu, setiap 100 tahun sekali, langit akan mengirimkan dua orang pilihan untuk membantu menangani musibah yang akan datang di negeri ini. Dan kalian berdua adalah dua orang yang telah dipilih oleh langit," ungkap Guru Bai Yun.
Mendengar jawaban itu, Shu Hua merasa jika jawaban itu sangat konyol dan tidak masuk akal. Tetapi setelah dipikirkan lagi, lebih tidak masuk saat sadar jika dirinya berada di tempat itu dan saat itu.
"Benar-benar sangat konyol! Pilihan langit? Yang benar saja! Aku bahkan belum mendapatkan first kiss di duniaku yang asli. Dan apa ini? Kenapa aku harus mempertaruhkan nyawaku hanya untuk menangani musibah yang akan datang?!" Shu Hua kesal.
Di sisi lain, Li Hua tampak tenang, diam untuk mencerna baik-baik maksud dari semua yang Guru Bai Yun katakan kepada dirinya dan Shu Hua saat itu.
"Jika memang kami berdua diutus kemari untuk menangani musibah, maka musibah itu pasti akan segera datang dan mungkin sudah terjadi!" Li Hua langsung terkejut saat ia menyadari hal penting itu.
"Benar. Sejak pertama kali kalian datang, musibah pertama sudah terjadi. Dan dari musibah itu, Mei kehilangan keluarganya," ungkap Guru Bai Yun.
Mendengar kebenaran itu, Li Hua dan Shu Hua langsung menatap Mei. Mereka berdua merasa sangat bersalah kepada Mei karena tidak bisa membantu.
"Kami berdua sudah gagal mencegah musibah pertama karena kami berdua terlalu pengecut dan tidak berani keluar dari hutan itu." Li Hua merasa sangat kecewa kepada dirinya sendiri.
"Maafkan kami, Mei. Andai saja saat itu kami berdua punya keberanian untuk keluar, mungkin saat ini kamu masih bisa berkumpul bersama dengan keluargamu," lirih Li Hua.
Mei tersenyum getir. "Kakak tidak perlu merasa bersalah. Lagipula, itu semua sudah takdir. Dan mungkin memang itu yang terbaik bagi mereka. Yang terpenting sekarang, Kak Li Hua dan Kak Shu Hua sudah tahu tentang tugas kalian. Jadi aku harap, kalian berdua bisa mencegah musibah selanjutnya terjadi."
"Mengenai musibah selanjutnya... kira-kira hal itu sudah terjadi atau belum?" tanya Shu Hua.
"Sudah terjadi," jawab Li Hua.
Guru Bai Yun membenarkan jawaban Li Hua.
"Li Hua benar. Musibah kedua sudah terjadi," sahut Guru Bai Yun.
"Sudah terjadi? Kakak tahu dari mana? Apa dari penglihatan Kakak? Tapi penglihatan Kakak itu 'kan masih belum stabil. Kakak yakin?"
"Iya. Kali ini Kakak yakin. Musibah kedua itu benar-benar telah terjadi."
"Musibah apa?"
"Perang."
"Perang?!"
"Iya, perang. Kamu ingat kali pertama kita bertemu dengan Hao Lin dan Xiao Yan? Mereka bilang, perbatasan saat ini sedang tidak bisa dilewati karena hubungan yang memanas antara dua negara. Dan perang itu pasti akan segera pecah! Cepat atau lambat!" tegas Li Hua.
"Jadi, apa yang harus kita lakukan? Bagaimana mungkin kita bisa menghentikan perang terjadi?" tanya Shu Hua.
"Perang itu tidak bisa dihentikan. Tugas kalian bukan menghentikan perang, tetapi menyelamatkan orang-orang yang terdampak perang!" ungkap Guru Bai Yun.
"Dan sebelum perang itu benar-benar terjadi, kalian harus mempersiapkan diri kalian. Dan mulai besok, aku akan langsung mengajari kalian bagaimana caranya menggunakan kekuatan kalian," ucap Guru Bai Yun.
"Mulai sekarang dan juga seterusnya, kalian akan tinggal di sini!"
-Bersambung-
Sungguh penasaran pasti shu hua bakal ngecincang Hao Lin dan Xiao Yan bakal kena nih 😄