Di sekolah elit yang dipenuhi anak pejabat dan keluarga terpandang, Leon Knight de Arther dikenal sebagai murid paling tenang sekaligus paling sulit didekati. Tatapannya dingin, hidupnya sempurna, dan tak seorang pun berani mencari masalah dengannya.
Namun tidak ada yang tahu bahwa di balik seragam putih dan sikap tenangnya, Leon adalah putra kedua dari keluarga mafia paling berpengaruh di kota.
Sebagai putra kedua, Leon hidup di bawah bayang-bayang keluarganya sendiri. Ia tidak pernah benar-benar dianggap, tetapi juga tidak pernah bisa bebas dari dunia gelap yang diwariskan kepadanya. Hingga kedatangan seorang siswi pindahan mengubah segalanya.
Rachael Velencia.
Gadis itu berbeda dari semua orang yang pernah ditemui Leon. Rachael tidak takut padanya, tidak peduli pada rumor tentang dirinya, dan perlahan masuk ke hidup Leon yang selama ini dipenuhi kekosongan.
Untuk pertama kalinya, Leon mulai merasakan kehidupan normal yang selalu ia inginkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zehn hart, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 14 - Misi Sukses Tapi Masalah Lainnya Muncul
Bus berhenti pelan di pinggir jalan.
Suara pintu otomatis terbuka memecah suasana malam yang mulai sunyi.
Rachael langsung berdiri sambil memperbaiki posisi tas di bahunya. Earphone masih terpasang di telinganya. Ekspresinya kembali datar seperti biasa.
Sementara beberapa kursi di belakang—Axel langsung refleks ikut berdiri saat melihat gadis itu turun dari bus.
Namun ia sengaja memberi jarak sangat hati-hati.
Karena sebelum pergi tadi—Leon sudah memberinya satu peringatan penting. “Rachael sensitif sama sekitarnya.”
“Kalau dia sadar diikuti, dia langsung waspada.” Dan sekarang Axel mulai memahami maksud ucapan itu.
Karena bahkan sejak di bus tadi, Rachael beberapa kali refleks melihat sekitar tanpa alasan jelas.
Tatapannya tajam, cepat seperti seseorang yang terbiasa selalu memperhatikan lingkungan sekitar.
Maka dari itu, Axel tidak boleh ceroboh. Ia turun dari pintu belakang bus beberapa detik setelah Rachael berjalan lebih dulu.
Malam terasa dingin.
Lampu jalan memantulkan cahaya kekuningan di trotoar basah bekas hujan.
Rachael berjalan sendirian di depan sambil sesekali memasukkan tangannya ke saku hoodie.
Langkahnya cukup cepat. Dan beberapa kali gadis itu refleks menoleh kecil ke belakang.
Axel langsung berhenti setiap kali itu terjadi.
Kadang pura-pura melihat ponsel.
Kadang berdiri dekat mesin minuman otomatis.
Kadang pura-pura menunggu kendaraan lewat.
“Anjir...” gumamnya pelan. “Instingnya serem juga.”
Rachael memang tidak melihatnya.
Namun Axel yakin sedikit saja ia salah gerak, gadis itu pasti langsung sadar sedang diikuti.
Mereka terus berjalan melewati beberapa gang kecil kota sampai akhirnya Rachael berhenti di depan sebuah gedung apartemen.
Bangunannya tidak terlalu besar. Namun terlihat cukup modern dan tenang. Lampu lobby menyala hangat di tengah malam yang dingin.
Rachael masuk ke dalam gedung sambil tetap terlihat waspada kecil pada sekitarnya.
Axel berhenti cukup jauh di seberang jalan. Ia menunggu beberapa menit. Memastikan Rachael benar-benar masuk dengan aman.
Lalu akhirnya—lampu salah satu unit apartemen di lantai tiga menyala.
Axel memperhatikan arah nomor unit di dekat balkon luar gedung.
“Oh.” Ia langsung mengeluarkan ponsel dari saku hoodie. Zoom kamera perlahan diarahkan ke pintu unit apartemen yang terlihat dari lorong luar.
Klik.
Foto berhasil diambil. Nomor apartemen terlihat jelas.
Axel langsung membuka chat Leon.
Tanpa banyak kata, ia mengirim foto itu.
"Sampai dengan aman. Unit apartemen 135."
Beberapa detik kemudian, pesan langsung terbaca.
Tidak lama setelah itu, balasan Leon muncul singkat.
"Bagus. Terima kasih."
Axel menatap layar ponselnya beberapa detik sebelum akhirnya terkekeh kecil sendiri.
“Parah.” gumamnya sambil memasukkan ponsel kembali ke saku. “Lu bener-bener jatuh cinta ternyata, Leon.”
...----------------...
Malam di mansion keluarga de Arther selalu terasa terlalu sunyi.
Lampu kristal besar di ruang utama memantulkan cahaya dingin ke seluruh ruangan luas bernuansa hitam dan emas itu. Semuanya terlihat megah, mahal dan menekan.
Leon berjalan masuk melewati lorong panjang mansion dengan ekspresi datar seperti biasa. Tapi langkahnya sedikit lebih berat malam ini. Karena ia sudah tahu apa yang menunggunya.
Begitu pintu ruang kerja utama terbuka, Arthur de Arther sudah berdiri di sana.
Tinggi dan rapi. Tatapan tajam yang selalu terasa mengintimidasi. Aura pria itu memenuhi seluruh ruangan bahkan tanpa perlu meninggikan suara.
Leon berhenti beberapa langkah dari meja kerja besar di tengah ruangan. “Ada apa?”
Arthur tidak langsung menjawab. Ia justru menutup dokumen di tangannya pelan sebelum akhirnya menatap Leon lurus. “Duduk.” Nada perintah bukan permintaan.
Leon tetap berdiri. “Aku bisa dengar sambil berdiri.”
Tatapan Arthur langsung menajam sedikit.
Namun ia tidak membahasnya. “Kamu semakin sering mengabaikan urusan keluarga.”
Leon diam.
“Aku dengar kamu menghabiskan banyak waktu dengan gadis itu.” Nada suara Arthur tetap tenang.
Tetapi justru itu yang membuat suasana terasa lebih menekan.
Leon perlahan mengepalkan tangannya kecil di samping tubuh. “Itu bukan urusan besar.”
“Salah.” Arthur berjalan mendekat beberapa langkah.
“Segala sesuatu yang bisa menjadi kelemahanmu adalah urusan besar.”
Kalimat itu langsung membuat rahang Leon menegang.
Selalu itu, kelemahan, perasaan dan hubungan dengan orang lain.
Arthur selalu melihat semuanya seperti ancaman.
“Kamu pewaris keluarga de Arther, Leon.” Tatapan Arthur tetap dingin. “Aku tidak membesarkan mu untuk sibuk bermain kehidupan sekolah.”
Leon akhirnya bicara pelan. “Aku tetap menjalankan semuanya.”
“Tapi fokusmu mulai terbagi.” Arthur menatap putranya lurus. “Keluarga Moretti masih bergerak.”
“Bisnis kita masih perlu dijaga. Dan kamu malah sibuk menjaga seorang gadis.” Suasana ruangan langsung terasa lebih dingin.
Leon perlahan mengangkat pandangan. Tatapannya sekarang sama tajamnya dengan Arthur. “Aku tahu apa yang aku lakukan.”
Arthur tertawa kecil samar sama sekali tidak terdengar hangat.
“Tidak.” suaranya rendah. “Kamu mulai bertindak berdasarkan emosi.” Itu adalah hal yang paling dibenci Arthur de Arther.
Namun sebelum suasana semakin buruk, suara langkah kaki pelan terdengar dari luar ruangan.
Pintu terbuka perlahan.
Seorang wanita tua elegan dengan rambut perak masuk sambil membawa senyum tipis.
Evelyn de Arther. Neneknya Leon.
Di belakangnya berjalan seorang pria tua berwibawa dengan tongkat hitam khas keluarga de Arther.
Sebastian de Arther. Kakeknya Leon.
“Kalian bertengkar begitu kami datang?” tanya Evelyn santai.
Arthur langsung menarik napas kecil lalu memalingkan wajah.
“Nenek.” Ekspresi Leon sedikit berubah lebih tenang.
Karena berbeda dengan Arthur, kakek dan neneknya jauh lebih manusiawi.
Evelyn langsung berjalan mendekati Leon lalu memperhatikan wajah cucunya beberapa detik.
“Hm.” Tatapannya menyipit penasaran. “Kamu kelihatan berbeda.”
Leon langsung mengernyit kecil. “Berbeda bagaimana?”
Evelyn tersenyum kecil penuh arti. “Lebih hidup.”
Arthur langsung berdecak pelan. “Dia hanya terlalu terdistraksi.”
Namun Evelyn malah terlihat semakin tertarik. “Oh?” Ia langsung menoleh cepat ke Leon. “Distraksi seperti apa?”
Leon diam justru membuat neneknya semakin curiga. Sebastian yang sejak tadi diam akhirnya duduk pelan di sofa besar sambil memperhatikan situasi.
“Jarang sekali Arthur mengeluh soal urusan pribadi Leon.” Tatapan pria tua itu perlahan berpindah ke cucunya. “Jadi... siapa gadisnya?”
Leon langsung memijat pelipis kecil. “Nggak ada apa-apa.”
Arthur langsung menyela dingin. “Seorang siswi pindahan yang terlalu menarik perhatian Leon.”
Dan kalimat itu sukses membuat Evelyn langsung tersenyum lebar. “OH.”
Leon langsung merasa situasi memburuk. “Nenek jangan mulai.”
Namun Evelyn justru tertawa kecil sambil duduk di sofa. “Sudah berapa lama aku menunggu cucuku tertarik pada seseorang.”
Arthur langsung menatap ibunya tidak setuju. “Ibu—”
“Apa?” Evelyn mengangkat alis santai. “Leon bukan robot.”
Sebastian ikut mengangguk kecil. “Perasaan tidak selalu menjadi kelemahan.”
Arthur langsung menghela napas kasar. “Di dunia kita, itu bisa membunuh.” Suasana kembali sedikit hening.
Namun kali ini, Leon justru memikirkan hal lain.
Karena di balik semua tekanan itu, bayangan Rachael yang duduk sendirian di bus tadi malam terus muncul di kepalanya.
Dan semakin ia mencoba menyangkal semakin jelas satu hal dalam dirinya: ia tidak ingin menjauh dari gadis itu.
Suasana ruang kerja keluarga de Arther berubah sedikit aneh setelah ucapan Arthur tadi.
Tapi sekarang tatapan Evelyn de Arther justru penuh rasa penasaran. Wanita tua elegan itu menyandarkan tubuh santai di sofa sambil memperhatikan Leon dari atas sampai bawah.
Lalu perlahan senyum kecil muncul di wajahnya. “Menarik sekali.”
Leon langsung punya firasat buruk. “Nenek.”
“Aku serius.” Evelyn menyilangkan kaki anggun. “Sudah bertahun-tahun kamu tidak pernah terlihat tertarik pada siapa pun.”
Sebastian terkekeh kecil dari sofa sebelah. “Itu benar.”
Arthur langsung memijat pelipis pelan seolah mulai lelah. “Ibu tidak perlu ikut membesar-besarkan ini.”
“Oh diamlah, Arthur.” Evelyn melirik putranya malas. “Kamu bahkan menikah dengan wajah lebih dingin daripada kulkas.”
“Nenek.” Namun Evelyn sama sekali tidak peduli dengan protes Leon sekarang.
Tatapannya justru semakin tajam penuh rasa ingin tahu. “Jadi?” Ia menopang dagu. “Gadis seperti apa dia?”
Leon langsung diam.
Dan itu membuat Evelyn membelalakkan mata dramatis. “Ya Tuhan.” Ia langsung menunjuk Leon.
“Kamu benar-benar suka.”
“Aku nggak bilang begitu.”
“Tapi kamu juga nggak menyangkal.”
Leon terdiam lagi, ia membuat kesalahan besar.
Karena Evelyn langsung tertawa puas. Sebastian bahkan sampai mengangguk kecil sambil tersenyum samar. “Cucu kita akhirnya normal juga.”
Arthur menghela napas berat. “Dia hanya terlalu terlibat.”
Evelyn sama sekali tidak mendengarkan. Ia sekarang jauh lebih tertarik pada satu hal lain. “Aku ingin bertemu dengannya.”
Ruangan langsung hening sepersekian detik.
Leon langsung mengangkat kepala cepat. “Apa?”
“Aku ingin lihat gadis yang bisa membuat Leon Knight de Arther berubah seperti ini.”
“Nenek serius?”
“Tentu saja.” Evelyn terlihat benar-benar antusias sekarang. “Dia pasti menarik.”
Arthur langsung memotong dingin, “Itu tidak perlu.”
Evelyn melirik tajam ke arah putranya. “Arthur.” nada suaranya berubah lebih serius sedikit. “Anakmu bukan mesin.”
Arthur tidak membalas.
Sebastian akhirnya ikut bicara pelan, “Lagipula aku juga penasaran.”
Leon memijat pelipis lebih keras sekarang. Karena situasinya benar-benar bergerak ke arah yang tidak ia inginkan. “Nggak perlu ketemu.”
Evelyn langsung menyipitkan mata. “Kamu malu?”
“Nggak."
"Atau takut kami menakutinya?”
Leon diam. Reaksi itu justru menjadi jawaban paling jelas.
Evelyn langsung tertawa kecil tidak percaya. “Oh astaga.” Ia menatap Sebastian sambil tersenyum lebar. “Dia benar-benar jatuh cinta.”
“Aku belum pernah lihat Leon seperti ini,” gumam Sebastian sambil mengangguk pelan.
Arthur berdiri diam dekat meja kerjanya dengan rahang sedikit menegang. Ia jelas tidak suka arah pembicaraan ini.
Karena semakin keluarga mereka tertarik pada Rachael semakin besar kemungkinan gadis itu ikut terseret ke dunia keluarga de Arther. Dan itu justru hal yang ingin Arthur hindari.
“Perasaan hanya akan mengganggu keputusanmu.” Arthur kembali berkata dingin.
Leon akhirnya membalas tanpa menunduk sedikit pun. “Aku tetap bisa berpikir jernih.”
Tatapan ayah dan anak itu langsung bertemu tajam.
Ruangan kembali terasa menekan.
Evelyn malah menghela napas kecil malas. “Kalian berdua keras kepala sekali.”
Lalu wanita itu kembali menoleh ke Leon dengan mata berbinar penasaran. “Namanya siapa?”
Leon langsung diam beberapa detik. Namun akhirnya ia menjawab pelan. “Rachael.”
Evelyn tersenyum kecil. “Nama yang cantik.”
Sebastian mengangguk setuju. “Hm. Kedengarannya tenang.”
Leon langsung teringat wajah Rachael yang berubah-ubah begitu cepat. Kadang datar, tertawa tiba-tiba, kadang terlihat seperti menyembunyikan ribuan hal sendiri.
Entah kenapa sudut bibir Leon naik sangat tipis tanpa sadar.
Gerakan kecil itu langsung ditangkap Evelyn. “NAH.”
Wanita itu langsung menunjuk Leon heboh. “Kamu senyum pas nyebut namanya!”
Leon langsung tersadar lalu kembali memasang wajah datar. Namun semuanya sudah terlambat, bahkan Arthur pun melihatnya.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, Arthur mulai sadar kalau masalah ini mungkin jauh lebih serius daripada yang ia kira sebelumnya.
...****************...
Bersambung...
iklan buat kamu
Jika berkenan boleh mampir dan baca ceritaku hehe