NovelToon NovelToon
Diantara Dua Hati

Diantara Dua Hati

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Balas Dendam / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Candra Arista

Rara Wijaya, seorang perawat muda berbakat di RS Bunda, hidup dengan luka yang dalam akibat kehilangan kedua orang tuanya. Ibu yang berhati lembut meninggal karena penyakit langka, sementara ayahnya, seorang dokter, tewas dalam kecelakaan mobil saat menolong korban tabrakan. Meskipun penuh dendam, Rara tumbuh menjadi perawat yang sangat berdedikasi.

Namun, kehidupannya berubah total ketika RS Bunda mendatangkan dokter spesialis bedah baru, dr. Arkan Pratama. Dokter muda ini dikenal dingin dan perfeksionis, yang sering meremehkan perawat. Awalnya, Rara dan Arkan selalu bertikai, sampai suatu hari Rara mengetahui bahwa Arkan adalah putra dari dokter yang menyebabkan kematian ayahnya 15 tahun lalu.

Konflik mereka memuncak ketika mereka harus bekerja sama menangani pasien kritis. Di tengah badai, mereka terjebak di rumah sakit tua yang sudah tidak terpakai - tempat yang sama di mana ayah Rara terakhir kali bekerja. Di sana, rahasia keluarga mereka terbongkar satu per satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Candra Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 : Dua Kubu yang Berseteru

Hari Senin pagi, RS Bunda tampak lebih ramai daripada biasanya. Rara yang baru datang segera didekati Sisi yang tampak panik.

"Kamu tidak mendengar? " Sisi menariknya ke sudut.

"Mendengar apa? " Rara mengernyitkan dahi.

"Dr. Arkan diusulkan untuk menjadi kepala bagian bedah! " Sisi berbisik. "Tapi dr. Fahri juga menginginkan posisi itu! "

Rara menghela napas. Dr. Fahri adalah dokter senior yang telah bekerja di RS Bunda selama 15 tahun. Ia dikenal memiliki ambisi tinggi dan sering bertentangan dengan perawat.

"Dan apa masalahnya? "

"Dr. Fahri sedang mencari 'bukti' tentang ketidakprofesionalan dr. Arkan," jelas Sisi. "Dan dia mulai dengan staf yang paling banyak berinteraksi dengan dr. Arkan—artinya kamu! "

"Apa? " Rara terkejut.

"Dia sudah bertanya kepada beberapa perawat tentang bagaimana interaksimu dengan dr. Arkan," Sisi melanjutkan. "Aku dengar dia berusaha menemukan konflik antara kalian untuk menjatuhkan dr. Arkan. "

Rara mengepalkan tangan. "Dia tidak akan mendapatkannya dariku. "

"Hati-hati, Ra," Sisi memperingatkan. "Dr. Fahri sangat licik. Dia bisa memutarbalikkan fakta. "

Percakapan mereka terhenti saat dr. Fahri muncul di lorong. Pria berusia 40-an itu tersenyum lebar melihat Rara.

"Perawat Rara," sapanya dengan ramah. "Bolehkah aku minta waktumu sejenak? "

"Ada apa, Dok? " Rara menjawab dengan profesional.

"Aku sedang mencari masukan untuk evaluasi staf," ujar dr. Fahri dengan lancar. "Bagaimana pengalamanmu bekerja dengan dr. Arkan? "

"Dr. Arkan adalah dokter yang profesional," Rara memberikan jawaban diplomatis. "Aku tidak ada keluhan. "

"Oh? " dr. Fahri mengangkat alisnya. "Beberapa perawat mengatakan kalian sering berselisih. "

"Perbedaan pendapat profesional itu biasa," Rara tersenyum tipis. "Tidak lebih dari itu."

"Baiklah," dr. Fahri mencatat sesuatu di tabletnya. "Jika kamu teringat hal yang penting, aku ada di ruanganku. "

Setelah dr. Fahri pergi, Sisi menatap Rara dengan kagum.

"Wow," Sisi berbisik. "Kamu benar-benar membela dr. Arkan. "

"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya," Rara membela diri.

"Tapi beberapa bulan yang lalu, kamu pasti akan dengan senang hati memberikan daftar kesalahan dr. Arkan," Sisi tersenyum licik.

"Diam saja," Rara mendorongnya sambil tersipu.

Pada pagi itu, Rara bertugas di ruang operasi bersama dr. Arkan. Ketika mereka sebentar sendirian saat persiapan operasi, Rara menceritakan percakapannya dengan dr. Fahri.

"Aku sudah tahu tentang itu," Arkan menjawab sambil memeriksa instrumen bedah. "Dr. Fahri sudah lama mengincar posisi kepala bagian. "

"Dia licik," Rara mengingatkan. "Kamu harus berhati-hati. "

"Aku bisa menghadapi dr. Fahri," Arkan menatapnya. "Tapi terima kasih telah membelaku. "

"Aku tidak membelamu," Rara segera merespons. "Aku hanya tidak suka dengan orang yang memutarbalikkan fakta. "

"Apapun alasannya," Arkan tersenyum kecil. "Aku menghargainya. "

Operasi berjalan dengan baik. Namun, saat mereka keluar dari ruang operasi, mereka melihat pemandangan tidak menyenangkan: dr. Fahri sedang berbincang dengan direktur rumah sakit di lorong, dan dari ekspresi wajah direktur, jelas bahwa dr. Fahri sedang menjatuhkan nama Arkan.

"Jangan sekarang," Arkan berbisik ketika Rara ingin maju.

"Tapi dia—"

"Aku tahu apa yang dia lakukan," Arkan memotongnya. "Tapi kita tidak bisa berbuat apa-apa saat ini."

Rara menghela napas dengan frustrasi, tetapi mengikuti saran Arkan.

Siang itu, saat makan siang di kantin, situasi semakin memanas ketika dr. Fahri 'tidak sengaja' menumpahkan kopinya ke berkas yang dibawa Arkan.

"Maafkan aku, dr. Arkan," dr. Fahri berkata dengan nada yang tidak tulus. "Usia membuatku kurang hati-hati. "

"Semua baik-baik saja, Dok," Arkan menjawab dengan tenang sambil membersihkan noda. "Kopi itu tidak sebanding dengan kesehatan Anda. "

Dr. Fahri tampak kecewa karena usahanya untuk memprovokasi tidak berhasil. Dia pergi dengan ekspresi cemberut.

"Kamu benar-benar memiliki kesabaran," ujar Rara.

"Melawan orang seperti dia tidak ada gunanya," Arkan menjelaskan. "Semakin kita bereaksi, semakin banyak senjata yang dia punya untuk menjatuhkan kita. "

"Tapi dia pasti akan terus mencoba," kata Rara dengan khawatir.

"Aku sudah punya rencana," Arkan tersenyum tipis. "Tapi aku memerlukan bantuanmu. "

"Bantuan jenis apa? "

"Besok ada operasi besar," Arkan menjelaskan. "Pasien VIP yang merupakan anak direktur utama rumah sakit. Dr. Fahri akan menjadi asistanku. "

"Dan? "

"Dan aku akan memberinya cukup bukti untuk menjatuhkan dirinya sendiri," Arkan berkata dengan tatapan bersemangat. "Tapi aku perlu kamu dan beberapa perawat yang dapat dipercaya untuk menjadi saksi. "

Rara mengangguk pelan. "Aku paham. Kamu ingin membuka tindakan tidak profesionalnya. "

"Benar," Arkan menegaskan. "Tapi ini berisiko. Jika tidak berhasil, posisiku akan semakin terjepit. "

"Aku akan membantumu," Rara menjawab dengan tegas. "Bukan untukmu, tapi untuk membersihkan rumah sakit dari orang-orang seperti Dr. Fahri. "

"Apapun motivasimu," Arkan tersenyum. "Aku sangat menghargainya. "

Saat keduanya meninggalkan kantin, tidak ada yang menyadari bahwa hari esok akan menjadi titik penting bagi mereka berdua—dan juga untuk masa depan RS Bunda.

Besok, saat matahari mulai terbit dan rumah sakit perlahan terbangun dari istirahatnya, Rara akan berdiri di depan pintu kantor direktur dengan tangan bergetar memegang dokumen penting—dokumen yang dapat mengubah banyak hal. Besok, Arkan akan mengetuk pintu kamarnya dengan wajah pucat karena tidak bisa tidur.

Di malam sebelum operasi penting, Rara merasa tidak bisa tidur. Pikirannya terus menerus memikirkan rencana Arkan untuk esok. Ini sangat berisiko—jika gagal, karir Arkan di rumah sakit ini mungkin akan berakhir.

Ia menatap foto ayahnya di meja samping ranjang. "Ayah, apa yang harus kulakukan? " Rara berbisik ke foto itu. "Haruskah aku membantu Dr. Arkan? "

Tiba-tiba, ponselnya berbunyi. Nomor yang tidak dikenal.

"Halo? " Rara menjawab dengan cermat.

"Perawat Rara? " suara seorang wanita tua terdengar dari ujung telepon.

"Ya, siapa ini? "

"Aku Ibu Santoso," wanita itu memperkenalkan dirinya. "Aku pernah bekerja di RS Bunda bersama ayahmu. "

Rara merasa terkejut. Dr. Santoso adalah dokter senior yang sudah pensiun, satu-satunya dokter yang masih hidup dari trio ayahnya, Dr. Reza dan Dr. Santoso.

"Ibu Santoso," Rara berusaha menyembunyikan keterkejutannya. "Ada urusan apa? "

"Aku baru saja bertemu Dr. Arkan," Ibu Santoso menjelaskan. "Dia memberitahu tentang rencananya untuk besok. Dan. . . aku menemukan sesuatu yang mungkin bisa membantumu. "

"Apa itu? " Rara bertanya dengan rasa ingin tahu.

"Ada buku harian lain milik ayahmu," Ibu Santoso menjelaskan. "Yang ia simpan di rumahku sebelum kecelakaan itu."

"Apa ini? " Rara merasa terkejut. "Aku tidak mengetahui hal itu."

"Ayahmu memberikannya kepadaku untuk disimpan," kata ibu Santoso. "Dia berkata bahwa ada sesuatu yang sangat signifikan di dalamnya. Namun setelah dia meninggal, aku lupa menyerahkannya padamu. "

"Bolehkah aku melihatnya? " Rara bertanya dengan rasa cemas.

"Tentu saja," ibu Santoso menjawab. "Tetapi buku itu kini berada di rumah sakit lama—di ruang bawah tanah tepat di bawah ruang kerja ayahmu. "

"Kenapa bisa ada di sana? "

"Aku menyimpannya di sana tahun lalu saat aku merapikan rumah," jelas ibu Santoso. "Aku berencana memberikan itu padamu saat ulang tahunmu, tetapi aku jatuh sakit dan harus dirawat. "

"Aku akan mengambilnya," Rara memutuskan. "Tapi mengapa ibu meneleponku sekarang? "

"Karena aku merasa ini juga penting untuk dr. Arkan," jawab ibu Santoso. "Aku tidak tahu isinya, tetapi ayahmu menyebutkan bahwa itu bisa memberikan banyak penjelasan. "

"Terima kasih, Bu," kata Rara dengan tulus. "Aku akan pergi sekarang. "

"Jaga dirimu, nak," ibu Santoso mengingatkan. "Rumah sakit lama itu tidak aman di malam hari. "

Setelah menutup telepon, Rara merenung sejenak. Dia perlu mengambil buku harian itu—siapa tahu mungkin ada petunjuk penting di dalamnya. Namun, dia tidak mau pergi sendirian di malam hari.

Tanpa ragu, Rara menelepon Arkan.

"Rara? " Suara Arkan terdengar mengantuk. "Ada apa? "

"Aku perlu ke rumah sakit lama sekarang," Rara menjelaskan dengan cepat. "Ibu Santoso memberi tahu ada buku harianku di sana—yang mungkin bisa membantu kita besok. "

"Tunggu sejenak, pelan-pelan," Arkan terdengar mulai lebih waspada. "Buku harian? "

"Ya," Rara menjelaskan semua yang disampaikan ibu Santoso. "Aku butuh bantuanmu. "

"Baiklah," Arkan menghela napas. "Aku akan menjemputmu dalam 20 menit. "

"Terima kasih," Rara menutup telepon dengan lega.

Dua puluh menit kemudian, Arkan sudah menunggu di luar apartemennya dengan mobil. Rara segera masuk.

Saat mereka meninggalkan kantor direktur, hujan mulai turun lagi. Mungkin ini tanda bahwa mereka harus berhenti menghindar dari masa lalu.

Mungkin saatnya bagi mereka untuk menghadapi semua yang sempat mereka elakkan—kematian ayah Rara, rasa bersalah Arkan, serta perasaan benci dan cinta yang saling terkait tanpa mereka sadari.

Di bawah hujan yang semakin deras—Arkan dengan jas dokternya yang basah, Rara dengan rambut lengket menutupi wajahnya—mereka saling memandang tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Tidak ada yang perlu diucapkan. Karena di antara mereka kini terdapat pengertian yang lebih mendalam dibandingkan sekadar kata-kata—terdapat pengakuan bahwa mereka telah berubah, bahwa mereka tidak bisa kembali seperti dulu, dan bahwa mereka telah saling mengobati luka masing-masing tanpa disadari.

Ketika tangan Arkan yang hangat menggenggam tangan Rara yang dingin di bawah hujan—tanpa alasan jelas, tanpa tujuan tertentu—mereka berdua menyadari: mereka tidak bisa mundur sekarang. Mereka telah melangkah terlalu jauh untuk kembali. Satu-satunya pilihan adalah terus maju—bersama.

"Apakah kamu yakin tentang ini? " Arkan bertanya saat mereka mulai melaju.

"Tidak," Rara menjawab dengan jujur. "Tapi aku harus mencoba. "

"Aku juga ingin tahu apa isinya," Arkan mengakui. "Ayahmu pasti menyimpan sesuatu yang signifikan. "

Ketika mereka tiba di rumah sakit tua, suasananya sangat berbeda dibandingkan kunjungan terakhir mereka. Malam ini, rumah sakit tersebut tampak lebih menakutkan—bayangan pohon yang bergoyang di depan bangunan menyerupai tangan besar yang mencengkeram.

"Siap? " Arkan bertanya saat mereka berdiri di depan pintu utama.

"Tidak," Rara menjawab dengan menarik napas dalam-dalam. "Namun, kita perlu melakukannya. "

Mereka melangkah ke dalam rumah sakit yang gelap. Hanya cahaya dari ponsel mereka yang menerangi jalan. Bunyi langkah mereka menciptakan gema di koridor yang sepi.

"Ruang kerja ayahmu berada di lantai tiga," Rara berbisik. "Sedangkan ruang bawah tanah terletak di bawahnya. "

"Aku sadar," Arkan mengangguk. "Kita patut menjaga kewaspadaan. "

Saat mereka mendekati ruang kerja ayah Rara, perasaan aneh menaungi Rara. Seolah-olah ayahnya masih ada di sana, mengawasinya.

"Akses ke ruang bawah tanah di mana? " tanya Arkan.

"Seharusnya terdapat pintu kecil di ujung koridor," Rara menjelaskan.

Mereka menemukan pintu kecil yang hampir tidak terlihat di balik rak buku tua. Pintu itu terkunci, tetapi Arkan dengan cepat mendorongnya hingga terbuka.

"Bagaimana kamu bisa melakukan itu? " Rara bertanya dengan rasa ingin tahu.

"Ayahku mengajarkanku hal itu," Arkan menjawab singkat saat ia melangkah menuruni tangga sempit.

Ruangan bawah tanah terasa dingin dan lembap. Banyak kotak berdebu dan dokumen-dokumen kuno tersebar di sana. Di tengah ruangan, ada meja kecil dengan sebuah kotak kayu di atasnya.

"Itu pasti milik ayahku," Rara melangkah menghampiri dengan jantung berdebar.

Setelah membuka kotak tersebut, dia menemukan sebuah buku harian berwarna cokelat tua yang tertera nama ayahnya di sampul. Dengan tangan bergetar, Rara membukanya.

"Apa yang tertulis di dalamnya? " Arkan bertanya dengan rasa ingin tahu yang tinggi.

"Ini. . . " Rara membalik halaman satu per satu. "Ini adalah catatannya tentang insiden tersebut. "

"Insiden yang merenggut nyawanya? " tanya Arkan.

"Ya," Rara mengangguk sambil melanjutkan membaca. "Ayahku menuliskan. . . bahwa kecelakaan itu bukan salah dr. Reza. "

"Apa? " Arkan terlihat terkejut. "Apa maksudmu? "

"Di sini, ayahku mencatat," Rara membaca dengan suara bergetar, _"Aku percaya Reza tidak bersalah. Kendaraannya telah dimanipulasi. Seseorang berusaha menghilangkan kami berdua. "

"Siapa? " tanya Arkan dengan nada tegang.

"Nama orang itu tidak dicantumkan oleh ayahku," Rara membalik halaman berikutnya. "Namun, dia menuliskan. . . bahwa orang itu masih bekerja di RS Bunda. "

"RS Bunda? " Arkan mengulang dengan nada bimbang. "Artinya, pelaku masih ada di sana. "

"Ya," Rara menatap Arkan dengan mata penuh ketakutan. "Dan dia mungkin orang yang sama yang berusaha mencelakakan mu. "

"Dr. Fahri," Arkan berbisik dengan wajah tampak pucat.

"Kita perlu pergi," Rara merasa ketakutan yang mendalam. "Sekarang juga! "

Namun, sebelum mereka sempat bergerak, suara langkah kaki terdengar dari arah tangga. Seseorang mendekat.

"Siapa itu? " Rara berbisik dalam ketakutan.

"Diam," Arkan menarik Rara untuk bersembunyi di balik tumpukan kotak.

Bersambung....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!