NovelToon NovelToon
KEBAYA PUTIH YANG TERNODA

KEBAYA PUTIH YANG TERNODA

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:74k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy Ghina

"Sejak awal aku memang tidak pernah mencintaimu, Alin! Hatiku sepenuhnya masih milik Cindy!"

Kalimat kejam dari Elang menjadi penutup malam pertama yang dingin bagi Alin. Hanya karena rasa hormat pada Nenek Aisyah, sang CEO angkuh itu sudi mengikat Alin dalam pernikahan sepihak. Bagi Elang, menyelamatkan Cindy dan bocah kecil bernama Ega dari jalanan adalah segalanya, meskipun ia harus menginjak-injak martabat Alin sebagai istri sah.

Namun, Elang melupakan satu hal: Alin bukanlah wanita lemah yang akan mengemis cinta. Saat Alin benar-benar melepaskan cincin pernikahan mereka dan menghilang untuk menata hidupnya sendiri, dunia Elang justru runtuh seketika. Terlebih saat sebuah rahasia medis terbongkar dan membuktikan bahwa anak yang ia agungkan selama ini adalah sebuah kebohongan besar yang dirancang oleh mantannya.

Penyesalan itu datang terlambat. Elang yang dulu arogan kini harus melepaskan seluruh harga dirinya, merangkak di tengah badai, hanya untuk mendapatkan secuil maaf Alin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26. Komplain Langsung Saja

Karena terlampau kecewa dan tidak bisa menahan egonya yang tinggi, Cindy langsung melayangkan protes dengan nada suara yang meninggi tanpa disaring terlebih dahulu.

"Lho ... Denis? Kok barang-barangnya belinya di department store biasa begini sih?" tanya Cindy dengan raut wajah tidak percaya, menuding kantong plastik di tangan Denis. "Maksudnya apa ya? Biasanya kan kalau Mas Elang belanja baju atau barang untukku itu selalu di toko ternama atau butik desainer papan atas di mal elite! Kenapa sekarang malah dikasih barang-barang kelas menengah begini?!"

Denis, yang sudah bekerja sangat lama dengan Elang bahkan sejak era pria itu masih berpacaran dengan Cindy empat tahun lalu, sama sekali tidak terkejut mendengar protes tersebut. Ia sudah sangat hapal di luar kepala bagaimana gaya hidup Cindy yang selalu menuntut kemewahan yang serba bermerek mahal demi gengsi semata.

Dan, barang-barang yang ia beli untuk Cindy di mall tersebut masih di departemen store ternama. Namun, memang Denis tidak belanja di toko Kremes, Luis Piton, atau toko yang berkelas lainnya.

Denis menarik napasnya dalam-dalam secara perlahan, lalu menatap Cindy dengan pandangan mata yang teramat datar, profesional, namun terselip sindiran halus yang menusuk. Ia menyerahkan tumpukan kantong belanja itu ke atas meja konsol dengan ketukan yang tegas.

"Maaf, Mbak Cindy," jawab Denis dengan nada suara yang teramat formal, dingin, dan lempeng tanpa ekspresi. "Saya di sini hanya bertindak sebagai asisten yang menjalankan perintah langsung dari Bos saya, Pak Elang. Tidak kurang, tidak lebih."

"Tapi tidak mungkin Mas Elang membelikan barang murahan seperti ini, Denis! Kamu pasti salah beli atau sengaja mengurangi anggarannya, kan?!" tuduh Cindy beralih sengit, wajahnya kian menegang karena merasa terhina dengan merek pakaian tersebut.

"Pak Elang sendiri yang menginstruksikan saya secara spesifik untuk membelikan pakaian ini secara cepat siang tadi di mal terdekat karena posisi beliau sedang sibuk," balas Denis tenang, melipat kedua tangannya di balik punggung. "Jadi, kalau sekiranya Mbak Cindy merasa kurang puas, merasa ini murahan, atau mau mengajukan komplain terkait merek dan tempat pembeliannya, silakan Mbak bisa langsung menghubungi dan bicara sendiri saja ke Pak Elang di ponsel pribadinya. Saya tidak punya wewenang untuk mengganti barang yang sudah dibeli. Dan, perlu Mbak ketahui saya juga memilih barang yang bagus, tidak murahan!"

"Kamu—" Cindy menggantung kalimatnya, napasnya memburu kencang.

"Jika tidak ada hal lain lagi yang perlu dipertanyakan, saya permisi undur diri dulu, Mbak Cindy. Masih ada urusan pekerjaan kantor yang harus saya selesaikan," potong Denis tegas, menundukkan kepalanya sedikit sebagai tanda hormat formal yang kaku.

Cindy seketika bungkam seribu bahasa, wajah tirusnya memerah padam menahan rasa kesal sekaligus malu yang bergejolak hebat di dadanya. Ia hanya bisa menatap punggung Denis yang melangkah lebar keluar dari pintu utama dengan perasaan dongkol yang luar biasa. Di dalam hatinya, ia terus menggerutu dan menyumpah serapah, karena tidak menyangka Elang akan menurunkannya ke kelas *department store* biasa setelah ia kembali. Sementara itu, tumpukan baju baru di atas meja konsol kini tampak teronggok lesu, menjadi bukti awal bahwa posisinya di mata Elang tidak lagi seistimewa empat tahun yang lalu.

***

Alin sudah duduk dengan nyaman di salah satu kursi kayu jati yang mengitari meja makan panjang tersebut. Di hadapannya, semangkuk sapo tahu seafood yang masih mengepulkan uap hangat dan sepiring gurame saus asam manis hasil buatannya sendiri tampak begitu menggugah selera. Meskipun para Asisten Rumah Tangga di rumah besar ini juga memasak beberapa menu harian lainnya, Alin lebih memilih untuk menikmati hasil masakannya sendiri demi memulihkan ketenangan pikirannya.

Sementara itu, di koridor luar, Elang baru saja melangkah keluar dari kamar tidur Nenek Aisyah dengan wajah yang masih tampak sedikit kusut. Rambut tebalnya yang basah mulai mengering alami.

"Den Elang," panggil Mbok Darmi yang kebetulan sedang melintas membawa nampan bersih. "Mari silakan langsung ke ruang makan saja, Den. Makan malamnya sudah disiapkan semuanya di atas meja."

"Ya, Mbok. Terima kasih," jawab Elang pendek, melangkah tegap menuju ruang makan.

Namun, begitu kakinya menginjak lantai marmer ruang makan, langkah Elang sempat tertahan selama beberapa detik. Sepasang mata elangnya langsung menatap lurus ke arah Alin yang sedang menyendok kuah sapo tahu ke piringnya. Di bawah pendar lampu gantung yang temaram, Alin bersikap seolah-olah ruangan itu kosong. Ia pura-pura tidak melihat kehadiran Elang sama sekali, bahkan tidak menunjukkan niat untuk menawarkan makanan atau sekadar berbasa-basi menyapa suaminya.

Elang merasa geram. Kerutan di dahinya kian mendalam dan rahangnya mengatup rapat saat ia menarik kursi tepat di hadapan Alin dengan sentakan yang sedikit kasar. Atmosfer di meja makan itu mendadak berubah menjadi sangat kaku dan mencekam.

Melihat ketegangan yang kasat mata tersebut, Mbok Darmi bergegas mendekati meja makan. Dengan sigap, ia mengambil sebuah piring porselen kosong untuk Elang.

"Den Elang mau makan malam sekarang? Mau Mbok siapkan nasi dan lauknya? Ingin makan dengan apa, Den?" tanya Mbok Darmi dengan nada suara yang teramat sopan, mencoba mencairkan kebekuan udara di antara kedua majikan mudanya.

Elang menurunkan pandangannya, meneliti deretan menu yang tersaji di atas meja. Tepat di hadapannya, ada semangkuk besar sop bening dan sepiring ayam goreng rempah—menu rumahan yang dimasak oleh ART lain di rumah itu. Namun, pandangan mata Elang justru beralih melirik ke arah mangkuk dan piring yang berada di dekat jangkauan tangan Alin. Menunya sangat berbeda jauh dengan apa yang ada di depannya. Aroma gurih dari sapo tahu dan wangi segar dari saus gurame asam manis milik Alin mendadak mengusik indra penciumannya.

"Aku tidak mau ayam goreng itu, Mbok," ucap Elang tiba-tiba, suaranya berat dan bariton, matanya masih tertuju pada piring Alin. "Aku mau makanan yang sama dengan yang dimakan sama Alin saja. Tolong ambilkan sapo tahu dan ikan gurame asam manis itu."

Mbok Darmi seketika tertegun di tempatnya berdiri. Tangannya yang memegang centong nasi sempat melayang di udara, merasa teramat sungkan dan tidak enak hati jika harus meminta lauk tersebut. Pasalnya, Mbok Darmi tahu betul kalau kedua menu itu adalah masakan khusus yang dibuat sendiri oleh Alin, bukan masakan ART rumah.

"M-maaf, Den Elang ... tapi lauk yang itu ...." Mbok Darmi berucap ragu, melirik Alin dengan perasaan tidak enak.

Sebelum Mbok Darmi menyelesaikan kalimatnya yang canggung, Alin bergerak tanpa suara. Wajahnya tetap tenang, datar, dan tanpa riak emosi sedikit pun. Dengan gerakan tangan yang teramat santai dan anggun, ia menggeser mangkuk sapo tahu seafood serta piring ikan gurame asam manis miliknya ke arah tengah meja, mendekatkannya ke jangkauan tangan Elang. Ia membiarkan suaminya menikmati hidangan tersebut tanpa mengeluarkan sepatah kata pun dari bibirnya.

Bersambung...

1
Kar Genjreng
astagaa ya Lang loe si yang mulai duluan,,, kalau di pikir Lang sakitnya Lin banget nget,,,coba di bayangke. coba loe bisa membedakan yang stri sah dan mantan mana malam pertama,,,belum lagi pelaminan nya geger dan memalukan s x,,
siapa npun akan marah sekarang di nikmati saja sikap Alin terhadap mu loe tidak boleh TREMOSI ya 🤣 coba sekarang buktinya mantan loe pakaian beli di departemen store saja protes,,,coba loe baik sama Alin pasti akan membalas seribu lebih baik tidak tamak dan bukan sandiwara ,,,angel wis Lang Leh darani kadung mungkal Alin,,, padahal Alin cantik muda sarjana,, mandiri. lemah lembut asal Ojo di centok wadine tapi neh di srempet ,, jangan tanya bar bar yang muncul 😇
Teti Hayati
Diiih... ada yg kepengen Lin... gak usah dikasih Lin. kekepin aja... 🤣🤣🤣
Puput Assyfa
ngarep yg ketinggian km Cindy,liat kebawah statusmu itu apa,gak capek apa dangak trs berharap yg lebih tp ujung2nya nyesek tanpa nenek Elang itu kere Cindy
Rarik Srihastuty
elang pengen sama yg di makan istrinya, menggiurkan ya aromanya. suruh aja masakin mbak pacar yg lg uring2an di rumah gegara merek baju 😂😂😂
Dcy Sukma
Hmmm... jatuh cinta duluan lewat masakan..🫣
Dcy Sukma
Untung Denis dah tau sifat matre si Cindil../Chuckle/..
Setyowati Setyowati
lanjut lagi yuk mom
Teh Euis Tea
si elang sebenarnya minta di layani am alin tuh tp malu
Mutaharotin Rotin
dasar g tau diri,g punya terima kasih,mau nuntut,emang kamu bininya elang sombong amat sok kaya🤦
Sugiharti Rusli
bagi Alin prinsipnya sekarang dia hanya fokus membuat nenek Aisyah pulih, dan urusan rumah tangganya ga terlalu dia pikirkan dengan serius dan Elang dianggap kasat mata saja sekarang😷😷😷
Sugiharti Rusli
dan sekarang si Elang seperti tertantang dengan sikap Alin yang tidak terintimidasi lagi berhadapan dengan dirinya yah,,,
Sugiharti Rusli
susah sih yah kalo orang sudah merasa jatuh cinta, yang dia lihat hanya kebaikan yang sejatinya hanya topeng saja,,,
yuni ati
Terlalu PD Cindy🤣
Sugiharti Rusli
entah pemikiran bodoh mana yang si Elang punya yah sampai bisanya jatuh cinta sama modelan spek kek si Cindy😏😏😏
Sugiharti Rusli
yah kali mau dianggap siapa kamu Cindy di sisi Elang sekarang dengan berharap dapat apa yang sesuai keinginan kamu,,,
Halimatus Syadiah
bagus alin, terus bersikap cuek sama elang, agar dia tidak seenaknya sendiri
Sugiharti Rusli
wah mantab mommy Ghina, dua bab langsung hari ini🥰🥰🥰
Elsa Hasanah
ih dikit amat sih up nya 🤭
jadi penasarankan 😄
Fa Yun
PD sekali kamu Cindy dibeliin pakaian branded 😄
dyah EkaPratiwi
yah ternyata kepengen makanan alin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!