"Sejak awal aku memang tidak pernah mencintaimu, Alin! Hatiku sepenuhnya masih milik Cindy!"
Kalimat kejam dari Elang menjadi penutup malam pertama yang dingin bagi Alin. Hanya karena rasa hormat pada Nenek Aisyah, sang CEO angkuh itu sudi mengikat Alin dalam pernikahan sepihak. Bagi Elang, menyelamatkan Cindy dan bocah kecil bernama Ega dari jalanan adalah segalanya, meskipun ia harus menginjak-injak martabat Alin sebagai istri sah.
Namun, Elang melupakan satu hal: Alin bukanlah wanita lemah yang akan mengemis cinta. Saat Alin benar-benar melepaskan cincin pernikahan mereka dan menghilang untuk menata hidupnya sendiri, dunia Elang justru runtuh seketika. Terlebih saat sebuah rahasia medis terbongkar dan membuktikan bahwa anak yang ia agungkan selama ini adalah sebuah kebohongan besar yang dirancang oleh mantannya.
Penyesalan itu datang terlambat. Elang yang dulu arogan kini harus melepaskan seluruh harga dirinya, merangkak di tengah badai, hanya untuk mendapatkan secuil maaf Alin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32. Sandiwara di Balik Pagar Belakang
Elang melangkah lebar melewati pintu kaca yang membatasi dapur kering dengan koridor samping. Langkah kakinya dihentak kaku di atas lantai selasar, membawa tubuh tegapnya menjauh beberapa meter dari area dapur agar para Asisten Rumah Tangga dan terutama Alin tidak bisa mendengar kelanjutan pembicaraannya. Namun, sisa rasa sakit akibat punggung kakinya yang baru saja diinjak dengan sengaja, ditambah rentetan cerocosan tajam Alin yang meruntuhkan harga dirinya di depan pelayan, membuat darah Elang masih mendidih hingga ke ubun-ubun. Perasaannya teramat kesal, dongkol, dan murka pada istri sahnya itu.
Dengan tangan yang mencengkeram ponselnya erat-erat, Elang menempelkan gawai itu ke telinga kanannya setelah menggeser tombol hijau. Ia bahkan tidak berniat menyapa dengan kelembutan yang biasa ia tunjukkan.
"Ada apa pagi-pagi meneleponku, Cindy?!"
Suara bariton Elang mendadak naik satu oktaf, memecah kesunyian selasar samping rumah besar dengan nada yang teramat ketus, dingin, dan sarat akan emosi yang siap meledak. Hantaman suara kasar dari Elang seketika membuat Cindy yang berada di seberang sambungan telepon terkejut setengah mati. Ia sempat terdiam selama beberapa detik, tidak menyangka pria yang biasanya selalu bertutur kata manis dan memperlakukannya layaknya ratu itu bisa membentaknya sekejam ini di subuh hari.
"M-maaf ... Maafkan aku, Mas, kalau aku lancang meneleponmu pagi-pagi buta begini," suara Cindy mengalun dari seberang sana, mendadak berubah menjadi teramat lirih, bergetar halus seolah-olah ia adalah korban yang teraniaya oleh keadaan. "Aku ... aku menelepon hanya karena merasa cemas, Mas. Aku cuma mau bilang kalau sejak semalam Alin tidak pulang ke rumah baru kita. Kamarnya kosong melompong. Apa Mas tahu dia sekarang sedang ada di mana? Mau bagaimanapun juga keadaan hubungan kalian, Alin itu sekarang sudah sah menjadi istrimu, Mas. Benar-benar tidak baik dan tidak etis kalau seorang istri pergi melarikan diri dari rumah tanpa ada persetujuan atau sepengetahuan dari kamu sebagai suaminya."
Bisa-bisanya Cindy berkata: Rumah baru kita. Dan, Cindy sengaja menekankan kata "istri yang melarikan diri tanpa izin" untuk memicu kembali kemarahan Elang kepada Alin. Di dalam hatinya yang culas, ia sangat berharap Elang akan ikut mengutuk tindakan pembangkangan Alin dan menganggap gadis muda itu sebagai wanita egois yang tidak tahu diri.
Namun, reaksi yang diberikan Elang justru di luar ekspektasi Cindy. Pria itu menarik napasnya dalam-dalam seolah pasokan oksigen di sekitarnya menipis, sembari jari telunjuk dan ibu jari tangan kirinya memijat pangkal hidungnya yang terasa kian berdenyut pening akibat tekanan beruntun dari segala penjuru.
"Alin ada bersamaku di rumah besar saat ini, Cindy. Kamu tidak usah khawatir atau memikirkan keberadaannya lagi," jawab Elang pendek, datar, dan teramat dingin, mencoba memotong spekulasi lebih jauh.
Deg.
Sontak saja, Cindy langsung terdiam membeku di tengah ruang tengah rumah mewah baru milik Elang. Seluruh tubuhnya mendadak kaku, dan hatinya mendadak terasa teramat panas membara, seperti disiram bensin lalu disulut api cemburu yang luar biasa. Sepasang matanya berkilat penuh kemurkaan yang tertahan. Bukan jawaban seperti ini yang ia harapkan keluar dari mulut Elang. Di dalam benak culasnya, ia mengira Alin kabur dengan penuh rasa frustrasi ke rumah orang tuanya, yang akan mempermudah jalannya untuk menghasut Elang agar segera mengurus perceraian. Namun kenyataannya, Alin justru berada di tempat yang sama dengan Elang, berbagi malam di bawah atap rumah besar keluarga besar mereka.
Meskipun hatinya bergejolak hebat dilanda rasa dengki yang teramat pekat, Cindy dengan sangat rapi kembali memasang topeng sucinya. Ia memaksakan sebuah helaan napas lega buatan yang sengaja diperdengarkan di dekat mikrofon ponsel.
"Oh ... syukurlah kalau Alin ternyata sedang ada bersama kamu, Mas," bohong Cindy, nadanya diatur sedemikian rupa agar terdengar tulus, padahal jemarinya sedang meremas ujung blusnya dengan sangat kencang. "Pikiranku semalam sudah berjalan ke mana-mana, takut ia kenapa-kenapa di luar sana. Oh iya, Mas ... kalau begitu, bagaimana dengan keadaan kesehatan Nenek Aisyah sekarang di rumah besar? Apakah kondisi jantung beliau sudah menjadi lebih baik?"
Cindy kembali menunjukkan perhatiannya yang mendalam pada keluarga Elang, mencoba mengambil hati pria itu seperti yang selalu ia lakukan dulu. Namun, isi hatinya yang paling dalam justru berteriak sebaliknya, penuh dengan kutukan agar wanita tua bangka itu tidak usah bangun lagi dari ranjangnya.
Elang bersandar pada pilar pembatas selasar, menatap kosong ke arah halaman samping tempat kabut pagi mulai menipis ditiup angin. Rasa jengahnya pada perhatian yang berlebihan dari Cindy mendadak mencuat, terutama setelah ia mengingat kembali ancaman pencopotan jabatan CEO yang dilayangkan Nenek Aisyah kemarin sore akibat keberadaan perempuan itu di rumah barunya.
"Hari ini aku harus membawa Nenek ke rumah sakit untuk melakukan kontrol EKG secara menyeluruh, Cindy. Dan aku harap kamu bisa paham dan tahu diri dengan keadaanku saat ini," tegas Elang, jika posisi Cindy di dalam hidupnya mulai bergeser. Pria itu menjeda kalimatnya, menegakkan pundaknya yang tegap sembari memberikan penekanan yang menusuk langsung pada batas posisi Cindy. "Nenekku adalah segalanya bagiku di dunia ini. Beliau adalah satu-satunya orang tua yang aku miliki setelah ibuku tiada. Jadi, jangan menggangguku dengan urusan kamu dulu untuk hari ini."
Mendengar ketegasan Elang yang terlampau bariton dan tidak menyisakan ruang untuk bermanja-manja, Cindy kembali terbungkam seribu bahasa di seberang telepon. Rasa kecewa, terhina, dan tersisih seketika menghantam dadanya. Sebelum ia sempat mengeluarkan satu kata pembelaan diri atau kalimat manis lainnya untuk meredakan ketegangan, Elang sudah terlebih dahulu mematikan sambungan telepon tersebut secara sepihak dengan satu sentakan kasar pada layar ponselnya.
Elang memasukkan kembali gawainya ke dalam saku kemeja hitamnya dengan rahang yang mengatup rapat. Pria itu memutar tubuhnya, berniat kembali melangkah masuk ke dalam area dapur kering untuk melanjutkan aktivitas paginya yang sempat tertunda. Namun, begitu ia menggeser pintu kaca pembatas, langkah kakinya langsung terkunci sempurna di atas lantai marmer.
Alin sudah berdiri bersandar di tepi meja bar dapur kering. Kedua tangannya dilipat dengan santai di depan dada, sementara jemarinya masih memegang sudit besi yang digunakan untuk menumis nasi goreng gila tadi. Sepasang mata bulatnya menatap Elang dengan binar penuh ejekan, sementara sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman sinis yang teramat meremehkan.
"Wah, sudah selesai ya, Mas, sesi laporan pagi dengan nyonya kesayangan di rumah baru?" sela Alin tiba-tiba. Suaranya mengalun begitu tenang, namun setiap intonasinya sarat akan sindiran halus yang menusuk telak. "Cepat sekali. Saya kira Mas Elang butuh waktu berjam-jam untuk menenangkan Mbak Cindy yang sepertinya panik setengah mati mendapati saya tidak ada di rumah semalam."
Bersambung ...
beristri duaaaaaaa??????
😡😤
😄😄