Seorang gadis polos kehilangan harta warisannya akibat kelicikan saudara tiri, ia dipaksa menikah dengan seorang pria dari keluarga perwira tinggi, namun pria tersebut pergi di hari pernikahan hingga akhirnya adik pria tersebut yang notabene seorang duda harus menyelamatkan nama besar keluarga dengan menyembunyikan identitas aslinya. Ayah gadis itu pun seorang tentara tapi seolah tak pernah menyayanginya.
Saat tau kabar kabur tentang identitas pria tersebut. Ibu tiri gadis itu menyesal dan iri setengah mati.
Kesakitan yang di alami gadis itu membuatnya trauma hingga sangat waspada dan sulit percaya. Kini pria tersebut harus berjuang sekuat tenaga untuk menembus tembok pertahanan hati istrinya yang selalu berpura-pura di balik tingkah randomnya, padahal ia tidak tau.. siapa pria yang bersamanya saat ini.
SKIP bagi yang tidak tahan dengan KONFLIK.
.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Lebih terang.
"Kania juga janji tidak akan membahas apapun lagi yang berkaitan dengan Bang Reigar, termasuk anaknya."
Seketika suasana hening. Jilly menoleh tak paham akan perkataan Kania. Ekspresi wajahnya seolah menuntut jawaban pasti dari suaminya tersebut.
"Anak yang di maksud, adalah anak yang Abang temukan di depan Batalyon. Sekarang anak itu tinggal bersama Papa karena Abang dan Reina bukan lagi suami istri. Abang tidak bisa merawatnya secara langsung karena Abang duda. Lagipula anak itu juga terlanjur dekat dengan Papa dan Mama." Jawab Bang Reigar tanpa ada sedikit pun hal yang di tutupi.
"Kenapa Abang tidak cerita??"
"Abang bukannya tidak cerita, Abang hanya mencari waktu yang tepat agar kamu tidak kaget. Belakangan ini banyak hal yang terjadi, apalagi sekarang kamu hamil, Abang nggak mau ada permasalah baru dalam pernikahan kita." Kata Bang Reigar menjelaskan.
"Mengangkat anak pun, nggak ada masalah. Yang menjadi masalah adalah kalau anak itu adalah anak Abang tapi Abang tidak mengakuinya." Ujar Jilly. "Jadi, siapa namanya?"
"Gian. Namanya Virgian."
"Jill mau bertemu dengan Virgian..!!" Pinta Jilly.
Bang Reigar hanya mampu menatap wajah sang istri dengan pandang sendu.
:
Permasalah keluarga sudah clear, kini mereka hanya melanjutkan informasi untuk menangani Ibu Mauria.
Sore hari itu Bang Reigar sibuk sendiri, rumahnya dua kali lipat lebih bersih. Ada beberapa pasang obat nyamuk elektrik dan perangkap nyamuk. Seakan masih belum puas, Bang Reigar masih memasang selambu berwarna baby pink.
"Rapatkan lagi lubangnya, jangan sampai ada celah dan nyamuk..!!" Perintahnya, suaranya berusaha untuk pelan.
"Siap, Dan."
"Bagaimana persiapan untuk idul qurban besok??" Tanya Bang Reigar masih stabil menjaga suara.
"Aman, Dan. Sapi dan kambingnya gemuk, semua sehat." Jawab Prada Danu.
Bang Reigar mengangguk, istri kecilnya sudah nyenyak tidur dengan ranjang dan kasur yang baru.
...
Jilly syok melihat Bang Reigar menyiapkan banyak makanan. Ada salad buah, jus buah, nasi ayam bumbu merah, sop matahari, dan dimsum.
"Buat apa makanan sebanyak ini, Bang?" Tanya Jilly heran.
"Abang takut anak kita kelaparan. Makan dulu, ya..!!"
Jilly ternganga. Entah sejak kapan suaminya mulai serepot ini. Segala sesuatunya nampak begitu genting di tangan Bang Reigar.
"Tapi lambung juga butuh kapasitas, Bang. Jilly juga sudah kenyang." Kata Jilly.
"Tapi Abang makan segini belum kenyang, dek." Ujar Bang Reigar dengan nada meyakinkan.
"Itu kan Abang. Jill sudah kenyang, lagian masih nggak enak makan." Jawab Jill.
"Abang panggil dokter ya, selera makanmu buruk." Bang Reigar mengambil ponselnya tapi Jilly melarang.
Tatap mata Jill masih heran dengan apapun perubahan diri Bang Reigar. "Abang kenapa sih?? Abang berubah."
"Berubah jadi apa, dek?? Batman?? Pahlawan bertopeng??" Kata Bang Reigar juga tak habis pikir karena Jilly selalu menolak perhatiannya.
Jilly memalingkan wajahnya.
Bang Reigar pun mengusap puncak kepala sang istri dengan lembut. "Abang hanya ingin kamu kenyang, sehat dan tidak ada masalah berarti untuk menjalani kehamilan mu. Abang tau rasanya mual sangat menyiksa Abang saja belum tentu kuat."
Jilly menelan segala apa yang ia rasakan, ingin rasanya bertanya tapi hatinya seakan ragu.
"Apa yang kamu pikirkan??" Tanya Bang Reigar.
"Jill nggak tau, apakah laki-laki hanya akan perhatian pada istrinya saat akan punya anak saja??"
"Kamu merasa begitu?? Apa kamu merasa Abang banyak aturan?? Abang hanya bisa marah di setiap harinya?? Itu yang membuatmu merasa tidak di sayangi??" Kata Bang Reigar melembutkan nada suaranya.
"Jill tidak tau pasti sebab perpisahan Abang dan Mbak Reina. Abang bilang dia tidak punya anak dari Abang tapi malah punya anak dari Pratu Alfred. Mbak Kania, mantan Abang tapi tidak menikah dan malah memilih Bang Huda."
"Masa lalu tidak perlu menjadi tontonan dan bahasan. Tidak ada perpisahan yang indah, apalagi perkara orang ketiga." Ujar Bang Reigar tenang namun penuh ketegasan.
Jilly menunduk, jari-jarinya memainkan ujung baju tidurnya. "Tapi banyak hal yang tidak Jill pahami. Tentang Virgian, tentang Mbak Reina, dan juga Mbak Kania… semuanya terasa memusingkan pikiran."
Bang Reigar menghela napas panjang, lalu mengangkat dagu Jilly agar saling bertatapan. Kedua bola matanya sendu, tak ada jejak kemarahan lagi di sana. "Virgian bukan darah daging Abang, dek. Abang menemukannya terlantar menangis di depan gerbang Batalyon saat sedang bertugas. Dia lapar, kurus, tidak ada identitas, tidak ada yang menjemput. Abang membawa ke rumah orang tua, dan sejak itu Papa serta Mama yang mengasuhnya. Abang hanya mantan suami, status Abang duda. Menurut aturan dan pandangan orang, sulit bagi Abang merawat anak kecil sendirian tanpa, karena Reina punya jalan hidup sendiri."
"Kalau soal Mbak Kania?" tanya Jilly pelan, masih ada rasa penasaran yang tersisa.
"Dulu kami sempat dekat, tapi tak pernah sampai ke pelaminan. Jalan kami beda, dia memilih Huda, Abang memilih kamu. Itu saja. Tidak ada yang tersisa bahkan jejak di antara kami, tidak ada juga rasa yang tertinggal. Semua hanya kepahitan hingga saat ini dan Abang tidak pernah ingin mengingatnya." jawabnya tenang.
"Apakah itu sebabnya Abang selalu berusaha menjaga dan melindungi Jill dan anak ini??" tanya Jilly tiba-tiba, suaranya melembut.
Bang Reigar terdiam sejenak, lalu mengangguk perlahan. "Anak ini apanya?? Ini anak kita. Tapi kamu benar, setiap orang yang berjuang memulai keluarga pasti punya rasa takut itu, Dek. Terutama Abang yang sudah melihat banyak hal sulit di luar sana. Abang ingin menjadi tempat pulang dan beristirahat paling aman, makanan yang Abang berikan dan masuk ke perutmu adalah makanan yang paling baik, dan nafas yang kamu hirup paling bersih. Itu bukan aturan semata, tapi cara Abang menjaga apa yang paling berharga dalam hidup Abang."
Belum sempat Jilly menjawab, terdengar ketukan pintu pelan. Prada Danu mengintip sedikit. "Selamat malam, ijin.... Maaf mengganggu, Dan. Persiapan Idul Qurban sudah selesai diperiksa. Semua ternak aman, hewan sehat, petugas sudah disusun sesuai jadwal ketentuan yang Komandan minta."
"Bagus. Besok pagi kita berangkat ke lokasi penyembelihan, jangan sampai terlambat." jawab Bang Reigar dengan nada tegas namun tetap rendah, seolah takut suara kerasnya mengejutkan istrinya. "Istri saya baru boleh ke lokasi saat hewan qurban sudah di jagal..!!"
"Siap..!!!!" Jawab Prada Danu.
.
.
.
.
lanjut mba Nara
lanjut mba Nara
lanjut mba Nara
lanjut mba Nara💪💪