Klan Jenderal Cang yang agung berdiri di ujung jurang kehancuran. Titah rahasia Kaisar Yan telah turun, mengincar nyawa setiap anggota keluarga yang memegang kendali militer. Sebagai pewaris tunggal, Cang Qixuan memilih jalan yang paling dibenci dunia demi menyelamatkan klannya: menjadi sampah. Ia menenggelamkan diri dalam lautan arak, judi, dan wanita, menghamburkan emas kekaisaran seolah debu. Di balik cemoohan rakyat dan tawa meremehkan musuh-musuhnya, Qixuan merajut Jaring Bayangan. Setiap keping emas yang ia lempar di rumah bordil adalah investasi intelijen; setiap aib yang ia ciptakan adalah perisai pelindung. Berawal dari kultivasi yang hancur, ia memanjat kembali dari dasar jurang kekuasaan, menelan penghinaan untuk kelak menelan seluruh Kekaisaran Yan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 13 Ekspedisi kemunafikan dan sayembara hujan emas
Angin utara melolong membawa butiran es yang setajam pisau belati, namun di dasar Lembah Ngarai Besi, udara terasa sehangat kawah gunung berapi.
Kepulangan Bahtera Awan Emas membawa perubahan drastis bagi Seratus Ribu Pasukan Naga Hitam. Cang Qixuan tidak hanya membawa pulang dirinya yang telah mencapai tahap akhir Pembentukan Fondasi, melainkan juga memindahkan seluruh fasilitas Paviliun Teratai Api beserta sang pandai besi legendaris, Hong Lian, tepat ke jantung kamp militer.
Di tanah lapang yang telah dibersihkan dari salju, sepuluh tungku peleburan raksasa dibangun dalam waktu kurang dari dua hari. Asap tebal membumbung tinggi, mengalahkan pekatnya awan badai.
Hong Lian, dengan pakaian kulit eksotisnya yang kini sedikit tertutup oleh mantel bulu tebal—meski bahu dan lengannya tetap terbuka—berdiri di atas landasan tempa raksasa. Palu merahnya berayun dengan ritme yang memekakkan telinga. Setiap kali palu itu menghantam logam, percikan api spiritual memancar, menghangatkan puluhan prajurit yang bertugas menjadi asistennya.
"Kurang panas! Tambahkan batu bara spiritual kelas menengah ke tungku nomor tiga!" teriak Hong Lian, suaranya menggelegar mengatasi deru angin dan dentingan logam. "Kalian ini prajurit elit atau pembuat roti?! Gunakan qi kalian untuk memompa alat penghembus itu!"
Wakil Jenderal Leng Yue melangkah mendekati area pandai besi dengan wajah datar. Zirah peraknya memantulkan cahaya api tungku. Ia berhenti di samping tumpukan peti berisi batangan emas murni dan bongkahan besi spiritual dari tambang yang baru saja dikuasai oleh Jaring Bayangan.
"Nona Hong Lian," panggil Leng Yue dengan nada dingin dan formal. "Tuan Muda memerintahkan agar prioritas pertama adalah menempa ulang ujung tombak barisan depan. Suku Barbar mungkin telah mundur, tetapi laporan pengintai menyatakan bahwa pergerakan mencurigakan terjadi di arah selatan. Pasukan dari ibukota mungkin sedang bergerak kemari."
Hong Lian menyeka keringat di dahinya, lalu menyandarkan palu raksasanya. Ia menatap Leng Yue dari atas ke bawah. Dua wanita ini memiliki aura yang bertolak belakang; Leng Yue sedingin dan setenang gletser, sementara Hong Lian seliar dan sepanas magma.
"Aku tahu pekerjaanku, Jenderal Es," dengus Hong Lian sambil menyeringai. Ia menendang sebuah peti kayu hingga terbuka. Di dalamnya bukan besi, melainkan ratusan keping emas murni. "Tapi majikan kita yang gila itu memberiku instruksi khusus. Dia tidak ingin tombak prajuritnya terlihat seperti 'rongsokan besi hitam yang menyedihkan'. Dia menyuruhku melapisi setiap ujung tombak dan pelindung dada dengan campuran paduan emas spiritual."
Alis Leng Yue berkedut. "Emas sangat lunak. Melapisi senjata dengan emas akan mengurangi ketajamannya. Itu murni pemborosan untuk sekadar pamer."
"Secara normal, ya," Hong Lian tertawa kasar, mengangkat sebilah tombak yang baru saja selesai ditempa. Mata tombak itu berwarna hitam pekat, namun memiliki ukiran naga yang diisi dengan cairan emas bersinar. "Tapi jika emas itu dilebur bersama sumsum Tulang Serigala Salju Mata Tiga dan ditempa menggunakan teknik Api Inti Bumi... emas itu berfungsi sebagai konduktor qi yang menakutkan. Saat prajuritmu mengalirkan qi ke dalam tombak ini, daya tembusnya akan meningkat tiga kali lipat. Tuan Muda kalian memang gemar foya-foya, tapi dia sangat mengerti cara membuat uangnya memiliki taring mematikan."
Leng Yue menerima tombak itu. Saat ia mengalirkan sedikit qi elemen es-nya, ukiran naga emas di mata tombak itu menyala. Udara di sekitar ujung tombak seketika membeku, memancarkan niat membunuh yang luar biasa tajam. Mata Leng Yue membelalak. Dengan senjata seperti ini, satu batalion prajurit biasa bisa membantai kavaleri barbar tanpa kesulitan.
"Bagikan senjata ini ke divisi pertama," Leng Yue segera memberi perintah pada ajudannya. Rasa hormatnya pada Tuan Muda Cang semakin dalam. Sang Tuan Muda tidak hanya memberi mereka makan, tapi juga mengubah mereka dari sekadar pion mati menjadi pasukan monster elit yang bergelimang harta.
Sementara Pasukan Naga Hitam sibuk mempersenjatai diri dengan emas dan besi, di dalam Paviliun Besar Sekte Pedang Awan Putih yang terletak lima ratus li di selatan ibukota Jinling, suasana terasa sangat suci sekaligus mematikan.
Ribuan murid sekte berpakaian putih bersih duduk bersila di alun-alun batu giok. Pedang mereka terhunus dan diletakkan melintang di atas pangkuan. Di atas panggung utama, Pemimpin Sekte Pedang Awan Putih, Pendeta Dao Bai He, berdiri dengan jubah kebesaran bermotif bangau terbang. Rambut putih panjangnya berkibar tertiup angin surgawi.
Di samping Pendeta Bai He, berdiri Putri Yan Ling yang mewakili otoritas kekaisaran, serta Jian Wushuang, murid utama sekte yang hidungnya masih menyisakan sedikit bengkok akibat insiden memalukan di Perjamuan Bunga Persik.
"Para pendekar jalan kebenaran!" suara Pendeta Bai He bergema menembus awan, dipenuhi aura kultivasi tingkat Inti Emas (Golden Core) tahap awal—sebuah tingkatan yang sangat langka dan dihormati di Benua Timur. "Kekaisaran kita sedang diancam oleh kegelapan! Seorang pemuda bernama Cang Qixuan telah jatuh ke dalam jalan iblis sesat! Dia menggunakan ilmu hitam untuk mencuci otak Seratus Ribu Pasukan Naga Hitam di perbatasan utara, meracuni pikiran mereka, dan merampas tambang-tambang negara untuk mendanai pemberontakannya!"
Para murid sekte menggeram marah. Bisik-bisik kebencian bergema di alun-alun. Bagi mereka yang dicuci otaknya oleh doktrin sekte, segala bentuk anomali kekuatan yang menentang kekaisaran adalah kejahatan mutlak yang harus ditumpas.
Putri Yan Ling melangkah maju, wajah cantiknya memancarkan kesedihan buatan yang sangat meyakinkan. "Ayahanda Kaisar sedang sakit parah karena kesedihan melihat pahlawan perang seperti Jenderal Baotian ternyata melahirkan cucu seorang iblis. Kami, pihak Istana, memohon bantuan Sekte Awan Putih dan sekte-sekte ortodoks lainnya. Ini bukan lagi urusan politik militer, ini adalah perang suci untuk membersihkan dunia dari kultivator sesat!"
"Bunuh Iblis Cang! Selamatkan Utara! Tegakkan Jalan Pedang Kebenaran!" Jian Wushuang mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, memimpin sorak-sorai ribuan murid. Kebenciannya pada Qixuan sudah mencapai ubun-ubun. Ia berjanji akan memotong urat nadi pemuda itu inci demi inci.
"Hari ini, Ekspedisi Jalan Kebenaran resmi dimulai!" Pendeta Bai He mengibaskan lengan bajunya. "Lima ribu pendekar pedang elit kita akan bergabung dengan tiga ribu murid dari Sekte Langit Berkabut. Kita akan berbaris ke utara. Pasukan fana tidak akan mampu menahan ketajaman pedang spiritual kita! Mari kita bawa kepala iblis itu kembali ke Jinling!"
Genderang perang sekte ditabuh. Delapan ribu kultivator berkumpul, membentuk lautan putih yang memancarkan niat membunuh suci. Mereka yakin akan kemenangan. Bagaimana mungkin sekumpulan prajurit fana yang kelelahan dan seorang tuan muda arogan bisa menahan gempuran ribuan pendekar elit yang dipimpin oleh seorang ahli tingkat Inti Emas?
Rombongan besar itu mulai turun gunung. Langkah mereka tegap, kepala mereka terangkat tinggi, yakin bahwa mereka adalah perwujudan keadilan yang akan dicatat dalam sejarah.
Sayangnya, keadilan mereka belum pernah berhadapan dengan kekuatan kapital tanpa batas.
Tiga hari kemudian.
Di dalam kabin Bahtera Awan Emas yang terparkir di atas Ngarai Besi, Cang Qixuan sedang menikmati pijatan di bahunya oleh dua pelayan cantik. Di depannya, sebuah cermin komunikasi spiritual berbasis formasi proyektor air memancarkan bayangan Nyonya Su Liyin dari ibukota.
"Tuan Muda," suara Liyin terdengar jernih dari balik tirai air. "Ekspedisi Jalan Kebenaran telah melintasi perbatasan Provinsi Angin Utara. Total mereka berjumlah delapan ribu kultivator elit. Pergerakan mereka cukup lambat karena badai salju, namun diprediksi akan tiba di Lembah Ngarai Besi dalam waktu lima hari."
"Delapan ribu burung bangau yang berlagak suci," Qixuan mengunyah buah anggur spiritualnya dengan santai. "Mereka pasti berpikir bisa menghancurkan pasukanku dengan kekuatan spiritual mereka yang tinggi. Kultivator sekte selalu sombong, mereka lupa bahwa mereka tetaplah manusia yang butuh tidur dan makan. Liyin, apakah instruksiku sudah dilaksanakan?"
Senyum rubah yang mematikan merekah di wajah Nyonya Su Liyin. "Tentu saja, Tuan Muda. Berkat akses kekayaan dari tambang dan dana gelap yang kita sita dari musuh-musuh istana, Jaring Bayangan telah bergerak ke seluruh rute yang akan dilewati oleh ekspedisi sekte."
Liyin membuka buku catatan kecilnya. "Pertama, kami telah menyewa seratus kedai penginapan, seluruh lumbung gandum lokal, dan setiap tetes arak di empat kota jalur utara. Kami membayarnya dengan harga tiga kali lipat secara tunai di muka. Saat ini, tidak ada satu pun pedagang yang berani menjual sebutir nasi atau menyewakan selembar selimut kepada rombongan sekte. Alasan yang kami sebar adalah: 'Dermawan Misterius telah memborong semuanya untuk perayaan musim dingin'."
Qixuan terkekeh pelan. Delapan ribu orang yang berbaris di tengah badai salju bersuhu minus dua puluh derajat celcius, tanpa makanan hangat dan tanpa tempat berteduh. Bahkan kultivator tahap Pembentukan Fondasi pun qi pelindungnya akan terkuras habis setelah tiga hari kedinginan dan kelaparan.
"Bagus," Qixuan menjentikkan jarinya. "Bagaimana dengan sayembara hiburanku?"
"Itu adalah bagian yang paling menarik, Tuan Muda," mata Liyin berbinar nakal. "Tadi malam, Jaring Bayangan menyebarkan ribuan selebaran ke dunia bawah tanah, serikat tentara bayaran, dan desa-desa kultivator liar di seluruh Benua Timur."
Liyin memperlihatkan sebuah selebaran dari balik cermin. Tulisan di atasnya dicetak tebal dengan tinta emas:
**SAYEMBARA HUJAN EMAS DEWA KEKAYAAN**
*Dicari: Plakat Kayu Murid Sekte Awan Putih dan Langit Berkabut.*
*Satu plakat murid biasa \= 100 Tael Emas Murni.*
*Satu plakat murid elit \= 1.000 Tael Emas Murni.*
*Satu plakat Tetua Sekte \= 10.000 Tael Emas Murni.*
*Bawa plakat tersebut ke Cabang Kamar Dagang Emas mana pun. Pembayaran tunai. Tidak ada pertanyaan.*
"Tuan Muda, dunia bawah tanah sedang gila," lapor Liyin dengan nada takjub. "Jumlah seratus tael emas cukup untuk membuat seorang pembunuh bayaran tingkat rendah mempertaruhkan nyawa. Sekarang, ada delapan ribu 'kantung emas' yang sedang berjalan kaki di tengah badai salju. Seluruh pembunuh bayaran, perampok, kultivator liar, bahkan petani lokal yang bisa memegang pisau dapur sedang menuju ke utara."
Qixuan tertawa terbahak-bahak hingga harus memegangi perutnya. "Hahahaha! Sangat luar biasa! Mereka ingin memburuku demi reputasi suci? Mari kita lihat bagaimana perasaan mereka saat diburu oleh seluruh dunia fana hanya demi sepotong emas! Putuskan komunikasi, Liyin. Aku tidak sabar menantikan tamu-tamu suciku dengan wajah yang sangat kelelahan."
Sementara Qixuan menikmati arak hangatnya, neraka sedang menimpa Ekspedisi Jalan Kebenaran.
Hari pertama perjalanan mereka berjalan dengan megah. Para penduduk desa bersujud melihat ribuan kultivator berjubah putih terbang menggunakan pedang dan berjalan berbaris. Pendeta Bai He merasa seperti dewa yang turun ke bumi.
Namun, di hari kedua saat mereka memasuki Provinsi Angin Utara, badai salju menerjang. Pasukan yang tadinya terbang dengan elegan terpaksa turun ke tanah karena angin yang terlalu buas mengganggu keseimbangan qi pedang mereka. Mereka berjalan menembus tumpukan salju setinggi lutut.
"Tidak masalah, kita akan beristirahat di Kota Angin Merah malam ini," perintah Pendeta Bai He.
Namun, ketika delapan ribu pendekar itu tiba di kota tersebut dalam keadaan menggigil dan lapar, mereka mendapati sebuah kenyataan yang absurd.
"Maafkan kami yang hina ini, Tetua!" seorang pemilik penginapan terbesar di kota itu bersujud sambil menangis ketakutan di depan pedang Jian Wushuang. "B-Bukan kami tidak mau menyewakan kamar atau memasak makanan! Tapi... tapi seorang saudagar gemuk baru saja membeli seluruh penginapan dan lumbung gandum kami selama sebulan penuh! Dia sudah membayar dengan koper-koper emas! Kami terikat sumpah kontrak dagang spiritual, jika kami melanggarnya, jiwa kami akan hancur!"
Jian Wushuang menggebrak meja hingga hancur. "Kau lebih takut pada kontrak dagang daripada pedangku?!"
"Wushuang, tahan dirimu," Pendeta Bai He muncul, wajah tuanya sedikit berkedut. "Kita adalah pembela jalan kebenaran. Kita tidak merampok rakyat sipil. Jika mereka tidak bisa menjual, kita akan menggunakan qi kita untuk menahan lapar dan dingin. Teruslah berbaris. Kultivator sejati tidak takluk pada cuaca!"
Maka, delapan ribu pendekar itu kembali berbaris menembus malam yang membekukan. Perut mereka merintih. Qi pelindung mereka mulai menipis drastis. Jubah putih bersih mereka kini dipenuhi lumpur salju yang kotor.
Penderitaan kelaparan dan kedinginan hanyalah awal. Mimpi buruk sesungguhnya dimulai pada malam ketiga, ketika mereka terpaksa berkemah di hutan pinus es karena tidak ada satu pun desa yang mau menjual persediaan kayu bakar kepada mereka.
Malam itu, saat para murid yang kelelahan mencoba bermeditasi untuk memulihkan qi, serangan pertama terjadi.
*Sreett!*
Seorang murid rendahan yang bertugas berjaga di tepi kamp ditarik ke dalam kegelapan semak belukar. Tidak ada suara teriakan. Hanya suara tulang leher yang dipatahkan, diikuti bunyi gemerincing sabuk yang digeledah.
Keesokan paginya, kekacauan meledak di kamp sekte.
"Lapor, Tetua!" seorang murid elit berlari panik, wajahnya pucat pasi. "Lima puluh murid kita ditemukan tewas di pinggir hutan! T-Tapi... barang-barang berharga mereka seperti kantong penyimpanan, pedang, dan pil spiritual sama sekali tidak disentuh!"
Pendeta Bai He bergegas memeriksa mayat-mayat tersebut. Alis putihnya bertaut keras. Jika bukan dirampok, lalu apa motifnya? Ia membalikkan salah satu tubuh muridnya dan menyadari satu hal yang hilang.
Plakat kayu identitas sekte yang biasa tergantung di pinggang mereka telah raib. Semuanya.
"Siapa yang membunuh hanya untuk mengambil plakat kayu tak berharga?!" geram Jian Wushuang, matanya memerah karena kurang tidur.
Jawaban itu datang di malam-malam berikutnya. Hutan utara, yang biasanya sunyi dari aktivitas manusia, tiba-tiba dipenuhi oleh ribuan pasang mata serakah yang menyala dalam kegelapan.
Serangan tidak datang dari arah depan, melainkan dari bayangan, dari balik pohon, dari bawah timbunan salju. Para pembunuh bayaran profesional, sekumpulan kultivator liar penguasa gunung, hingga gerombolan perampok jalanan menyerang barisan sekte secara sporadis. Mereka tidak menyerang murid yang kuat. Mereka seperti kawanan hyena kelaparan yang mengincar murid-murid yang paling kelelahan, memotong plakat kayu mereka, lalu melarikan diri ke dalam badai salju.
"Bocah! Serahkan plakatmu dan seratus tael emas akan jadi milikku!" teriak seorang kultivator liar berwajah penuh codet sambil mengayunkan kapak berkarat ke arah seorang murid sekte muda yang kehabisan qi.
Bagi para pemburu bayaran ini, rombongan sekte yang kelelahan itu bukanlah pasukan suci, melainkan ladang emas berjalan.
Kondisi psikologis para murid sekte ortodoks itu hancur berantakan. Mereka dididik untuk bertarung dalam duel pedang yang terhormat di atas arena giok. Mereka tidak pernah diajari bagaimana menghadapi perang gerilya yang biadab dan kotor di mana musuh melempar bubuk cabai, meracuni sumber air kecil di hutan, dan menembakkan panah panah bius hanya demi mencuri sebuah plakat identitas.
Hanya dalam waktu empat hari, Ekspedisi Jalan Kebenaran yang berangkat dengan delapan ribu pendekar gagah berani, kini susut menjadi lima ribu orang. Sebagian besar tewas bukan di medan perang epik, melainkan dibunuh dalam tidur mereka oleh pemburu bayaran, atau mati kedinginan karena tidak berani memejamkan mata di malam hari.
Pendeta Bai He menyadari bahwa mereka telah masuk ke dalam pusaran pembantaian yang dirancang dengan sangat licik. Harga diri dan arogansinya hancur digerogoti oleh rasa frustrasi.
"Cang Qixuan... iblis licik! Dia bahkan belum menunjukkan wajahnya, namun dia telah menggunakan keserakahan manusia untuk memakan sepertiga pasukanku!" raung Bai He, qi Inti Emas-nya meledak menghancurkan puluhan pohon pinus di sekitarnya. "Percepat barisan! Kita harus mencapai Lembah Ngarai Besi sebelum matahari terbenam esok! Aku akan memenggal kepalanya secara pribadi!"
Hari kelima.
Matahari sore memancarkan sinar kemerahan di ujung cakrawala ketika sisa-sisa Ekspedisi Jalan Kebenaran akhirnya tiba di mulut Lembah Ngarai Besi.
Pemandangan rombongan itu sangat menyedihkan. Jubah putih mereka robek dan kotor oleh darah serta lumpur salju. Mata mereka cekung, bibir mereka pecah-pecah karena dehidrasi, dan pedang yang mereka pegang tampak sangat berat untuk diangkat. Jian Wushuang sendiri berjalan terhuyung-huyung, tubuhnya penuh luka gores dari serangan mendadak para tentara bayaran di jalan.
Mereka bersiap menghadapi pertahanan pasukan iblis yang bengis. Pendeta Bai He telah mengumpulkan sisa-sisa qi di dalam Inti Emasnya, siap melancarkan serangan pembuka yang menghancurkan.
Namun, ketika mereka melangkah masuk ke dalam celah lembah, tidak ada barikade tameng besi. Tidak ada hujan panah.
Sebaliknya, tepat di tengah lembah yang lapang, tergelar sebuah karpet beludru merah yang sangat panjang. Di atasnya, berjajar puluhan meja perjamuan yang terbuat dari kayu giok, dipenuhi oleh hidangan mewah yang masih mengepul panas: angsa panggang utuh, babi hutan berbalut madu spiritual, tumpukan buah-buahan eksotis, dan kendi-kendi arak berkualitas kaisar.
Aroma makanan yang luar biasa lezat itu menghantam wajah lima ribu pendekar yang sedang kelaparan. Banyak dari mereka yang langsung meneteskan air liur, lutut mereka nyaris goyah karena godaan aroma tersebut.
Di ujung karpet merah itu, berdiri sebuah singgasana raksasa yang seluruhnya dipahat dari emas murni.
Cang Qixuan duduk di singgasana tersebut, mengenakan jubah sutra emas bermotif naga hitam. Ia memegang secawan anggur merah, diapit oleh Wakil Jenderal Leng Yue di sisi kanannya yang siaga dengan pedang, dan Hong Lian di sisi kirinya yang bersandar santai pada palu besarnya. Di belakang mereka, barisan Pasukan Naga Hitam berdiri diam seperti patung dewa kematian, zirah emas-besi mereka berkilau menyilaukan, sama sekali tidak terlihat seperti prajurit yang sedang kelaparan.
Qixuan mengangkat cawannya ke arah rombongan sekte yang ternganga bodoh.
"Selamat datang, pahlawan-pahlawan jalan kebenaran," suara Qixuan menggema santai melalui formasi pengeras suara, nadanya penuh dengan sarkasme yang memuakkan. "Kalian terlihat... sedikit berantakan. Apakah ada badai di jalan? Aku sudah menyiapkan perjamuan kecil untuk menyambut para tamu suciku. Ah, maaf, kursinya terbatas. Tapi kalian boleh makan sambil berdiri. Jika kalian punya sisa uang logam untuk membayarnya, tentu saja."
Jian Wushuang mengertakkan giginya hingga nyaris patah. Penghinaan ini terlalu mutlak! Pemuda itu menganggap mereka seperti pengemis kelaparan yang datang meminta makan!
"Iblis Cang!" Pendeta Bai He melangkah maju, qi Inti Emasnya meledak, menciptakan pusaran angin es di sekeliling tubuhnya. Matanya memerah menatap kesombongan Qixuan. "Jangan berpikir pameran hartamu bisa menyelamatkan nyawamu! Kau telah menipu rakyat, merampas pasukan kekaisaran, dan menggunakan uang kotormu untuk membantai murid-muridku di perjalanan! Hari ini, langit akan menghukummu!"
"Langit? Langit terlalu tinggi untuk peduli pada cacing tanah seperti kita, Pendeta," Qixuan meletakkan cawannya, auranya mulai berubah serius. Sembilan pusaran di dalam tubuhnya berdengung rendah, menciptakan resonansi yang membuat udara di sekitarnya terdistorsi. Tiga elemen—Bumi, Air Kegelapan (Yin), dan Api Inti Bumi (Yang)—mulai berputar sinkron.
Qixuan perlahan bangkit dari singgasana emasnya. Langkah kakinya menuruni undakan singgasana terasa ringan, namun setiap pijakannya membuat seluruh lembah sedikit bergetar.
"Kau menuduhku menggunakan uang kotor?" Qixuan merentangkan tangannya, dan tiba-tiba, ribuan prajurit Naga Hitam di belakangnya menghunus tombak emas mereka secara serempak. Suara logam yang bergesekan itu menggetarkan gendang telinga. "Pendeta Tua, uang tidak memiliki moral. Uang hanya memperkuat apa yang sudah ada. Jika murid-muridmu benar-benar suci dan kuat, beberapa keping emas tidak akan bisa membunuh mereka. Kalian mati bukan karena uangku, melainkan karena kalian miskin, lemah, dan penuh kepalsuan!"
Pendeta Bai He tidak tahan lagi. "Tebas dia! Formasi Pedang Pembelah Awan!"
Lima ribu murid sekte yang kelaparan memaksakan sisa qi mereka, menghunus pedang dan bersiap membentuk formasi pedang raksasa di udara.
Namun, sebelum pedang mereka sempat mengeluarkan cahaya spiritual, Qixuan menyentak lengan bajunya ke atas.
"Sanniang! Tunjukkan pada mereka hujan rahmat dari dewa kekayaan!" perintah Qixuan.
Dari tebing di kiri dan kanan lembah yang tertutup bayangan, tiba-tiba terdengar suara derak mesin raksasa. Puluhan katapel lontar yang telah dimodifikasi oleh Hong Lian menembakkan muatannya ke langit.
Bukan batu, bukan bom api.
*KLING! KLING! KLING!*
Hujan koin emas, batangan perak, dan permata spiritual jatuh menimpa formasi murid sekte. Bukan sekadar beberapa keping, melainkan ratusan ribu keping koin emas dan permata spiritual menghantam kepala dan bahu mereka. Koin-koin itu memiliki berat fisik yang nyata, mengacaukan konsentrasi para murid yang sudah kelelahan parah.
"Ah! Emas!" seorang murid rendahan yang berasal dari keluarga miskin tiba-tiba menjatuhkan pedangnya, tanpa sadar meraup koin-koin emas yang jatuh ke kakinya.
"Jangan sentuh uang kotor itu! Jaga formasi kalian!" teriak Jian Wushuang panik melihat barisan formasi pedang mereka berantakan total hanya karena hujan emas.
Namun insting dasar manusia sangat sulit dilawan. Berhari-hari kelaparan, kedinginan, dan disiksa oleh ketakutan. Kini di hadapan mereka turun hujan kekayaan yang bisa menjamin kehidupan tujuh turunan, serta meja perjamuan yang menjanjikan keselamatan perut mereka. Moral para murid sekte yang tidak memiliki fondasi kuat langsung runtuh. Banyak dari mereka yang mengabaikan perintah tetua dan sibuk melindungi kepala mereka dari hujan logam berharga sambil diam-diam mengantongi permata spiritual.
Di tengah kekacauan yang absurd dan memalukan itu, Pendeta Bai He meraung frustrasi. Ia melesat terbang, menerjang langsung ke arah Qixuan dengan pedang pusakanya yang memancarkan cahaya putih keemasan sebesar pilar raksasa.
"Jika aku memenggal kepalamu, semua ilusi busuk ini akan berakhir!" teriak Pendeta Bai He, melancarkan jurus pamungkasnya: *Satu Tebasan Pembelah Gunung*. Qi Inti Emas benar-benar menekan ruang, membuat Leng Yue dan Hong Lian tanpa sadar melangkah mundur karena tekanan gravitasi.
Cang Qixuan berdiri diam. Ia tidak mencabut senjata. Ia hanya mengangkat tangan kanannya yang dibungkus oleh perpaduan tiga elemen ekstrem. Tanah, Api, dan Es berpusar di telapak tangannya, membentuk sebuah pusaran lubang hitam kecil yang melahap cahaya di sekitarnya.
"Kau benar, Pendeta Tua," seringai iblis Qixuan merekah sempurna. "Ilusi pahlawan kesiangan kalian akan berakhir hari ini."
Qixuan menyongsong tebasan pedang Inti Emas tersebut bukan dengan menghindar, melainkan menghantamkan telapak tangannya secara langsung ke mata pedang raksasa itu. Benturan antara "Keadilan Suci" tingkat Inti Emas dan "Kekayaan Biadab" tingkat Pembentukan Fondasi milik Tuan Muda Cang siap meledakkan seluruh Lembah Ngarai Besi menjadi saksi bisu runtuhnya pilar kemunafikan Benua Timur.