Apa yang paling menyakitkan dari pengkhianatan?
Bukan saat musuh menusukmu dari belakang, tapi saat orang yang kau anggap saudara justru merebut duniamu.
Kinanti harus menelan kenyataan pahit bahwa suaminya, Arkan, telah menikahi sahabatnya sendiri yang bernama Alana, di belakang punggungnya. Kini, dengan kehadiran anak di rahim Alana, Kinanti dipaksa untuk berbagi segalanya.
Tapi, Kinanti bukan wanita yang akan diam saja. Jika mereka ingin berbagi, Kinanti akan memastikan mereka menyesali keputusan itu.
Kita simak kisah selanjutnya di Cerita Novel => Duri Dalam Pernikahan.
By - Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 22
Malam di Jakarta tidak pernah benar-benar gelap, namun di kediaman Wiratama, cahaya lampu kristal yang memantul di lantai marmer terasa menyilaukan dan hambar. Pukul dua dini hari, suara deru mobil sport yang mengerem mendadak di depan lobi rumah memecah keheningan yang kaku.
Pagar besi raksasa setinggi empat meter yang mengelilingi rumah itu berdenting pelan saat menutup otomatis, sebuah gerbang yang dirancang bukan hanya untuk menghalau orang asing masuk, tapi untuk memastikan tidak ada penghuninya yang bisa keluar tanpa izin.
Arkan turun dari mobil dengan langkah terhuyung. Jas Bespoke seharga puluhan juta yang ia banggakan kini tampak menyedihkan, kancingnya terbuka, dan aroma alkohol yang tajam menguar dari tubuhnya.
Di tangannya, ia masih menggenggam ponsel yang layarnya retak, layar yang terakhir kali menampilkan foto boks bayi Arjuna.
"Kinanti! Keluar kamu, Kinanti!" teriak Arkan, suaranya bergema di ruang tamu yang luas dan kosong.
Ia tersandung kaki meja jati, membuatnya terjatuh berlutut di atas karpet Persia. Ia merasa seperti pecundang yang paling hina. Bayangan Alana yang memikul beban berat di pasar Tegal terus berputar di kepalanya seperti film horor.
Kinanti muncul di puncak tangga. Ia tidak mengenakan piyama, ia masih mengenakan gaun sutra berwarna champagne yang dingin, memegang segelas anggur putih seolah-olah ia memang sedang menunggu kepulangan suaminya.
Ia turun perlahan, suara ketukan hak sepatunya di atas anak tangga marmer terdengar seperti detak jam menuju eksekusi.
"Kamu terlambat tiga jam, Arkan. Dan baumu seperti selokan," ujar Kinanti tenang, suaranya sangat stabil, kontras dengan kondisi Arkan yang berantakan.
"Aku bukan robot, Kinanti!" Arkan berteriak sambil mencoba berdiri, meski ia berakhir bersandar pada pilar besar di tengah ruangan. "Aku merasa seperti boneka yang kamu gerakkan dengan benang emas!"
Kinanti sampai di anak tangga terakhir. Ia tidak mendekat, ia menjaga jarak yang cukup untuk menunjukkan martabatnya. "Kamu diam bukan karena takut padaku, Arkan. Kamu diam karena kamu mencintai kenyamanan ini lebih dari wanita itu. Jangan limpahkan rasa bersalahmu padaku."
"Aku benci hidup ini! Aku benci rumah ini! Ini bukan rumah, ini penjara!" Arkan meraung, merobek dasi sutranya dan melemparnya ke lantai. "Aku ingin hidup bebas, Kinanti! Aku ingin menjadi manusia lagi!"
Kinanti menyesap anggurnya, matanya menatap Arkan dengan kelembutan yang mematikan. "Bebas? Silakan, Arkan. Pintu gerbang itu tidak dikunci dari dalam. Kamu bisa keluar sekarang juga."
Kinanti berjalan menuju meja kerja kecil di sudut ruangan, mengambil sebuah map transparan yang berisi akta kelahiran Arjuna yang baru.
"Tapi sebelum kamu pergi, ingat ini," suara Kinanti mendingin. "Cinta yang kamu agung-agungkan itu tidak bisa membayar segalanya."
Kinanti meletakkan akta itu di bawah lampu meja, membuat nama 'Kinanti Wiratama' sebagai ibu kandung terlihat sangat jelas.
"Di luar sana, kamu bukan siapa-siapa tanpa namaku di belakangmu. Kamu akan menjadi sampah di jalanan, pria pengangguran dengan catatan hitam karena telah mengkhianati istri sahnya. Alana tidak akan melihatmu sebagai pahlawan, dia akan melihatmu sebagai beban tambahan di pundaknya yang sudah luka."
Arkan terdiam. Napasnya memburu, keringat dingin membasahi pelipisnya. Kata-kata Kinanti seperti pisau bedah yang menguliti harga dirinya hingga ke tulang. Ia menatap jas mahalnya yang kini tergeletak di lantai, simbol kekuasaan yang ternyata adalah baju besi yang merantai jiwanya.
"Pilihannya selalu ada di tanganmu, Arkan," Kinanti melangkah mendekat, aroma parfumnya yang mahal mulai mendominasi penciuman Arkan, mengusir bau alkohol. "Jadilah ayah yang hebat dan suami yang terhormat di istana ini. Nikmati jabatan Direktur Utamamu, nikmati penghormatan dunia, dan besarkan Arjuna sebagai pangeran."
Kinanti berhenti tepat di depan Arkan, menyentuh rahang suaminya dengan jemari yang dingin.
"Atau, jadilah sampah di selokan bersama Alana. Kehilangan anakmu, kehilangan namamu, dan kehilangan setiap rupiah yang pernah kamu banggakan. Mana yang lebih menyakitkan, Arkan? Menjadi manusia yang kaya, atau menjadi manusia yang membusuk di trotoar?"
Ruangan itu mendadak sunyi. Arkan menatap mata Kinanti yang tak memiliki celah empati. Ia merasa lumpuh. Secara fisik ia jauh lebih kuat dari Kinanti, ia bisa saja meronta atau pergi begitu saja. Namun, mentalnya telah lumpuh oleh ketergantungan finansial dan ego yang tak ingin jatuh miskin.
Lutut Arkan gemetar. Keberanian mabuknya menguap, digantikan oleh kenyataan pahit bahwa ia adalah seorang pengecut yang lebih takut pada kelaparan daripada pada dosa.
Perlahan, Arkan jatuh berlutut di hadapan Kinanti. Tangannya mencengkeram ujung gaun sutra istrinya. Ia mulai menangis sesenggukan, suara tangis seorang pria yang baru saja menyerahkan sisa harga dirinya untuk ditukar dengan status sosial.
"Maafkan aku, Kin... maafkan semua kesalahanku," isak Arkan, wajahnya terbenam di kaki Kinanti. "Aku tidak ingin pergi... Aku hanya ingin semuanya kembali lagi seperti dulu... tolong jangan ambil Arjuna... jangan ambil posisiku..."
Kinanti tersenyum, sebuah senyum yang tidak sampai ke mata, namun penuh dengan kepuasan kemenangan. Ia membelai rambut Arkan dengan gerakan mekanis, seperti seorang sipir yang sedang mengelus kepala tahanan yang baru saja menyerah setelah mencoba melarikan diri.
"Anak pintar," bisik Kinanti. "Sekarang, berdirilah. Bersihkan dirimu. Besok pagi kamu harus memimpin rapat besar. Pastikan wajahmu terlihat seperti pria yang memiliki segalanya, karena memang itulah peran yang harus kamu mainkan selamanya."
Arkan berdiri dengan sisa tenaga yang ada. Ia tidak lagi menentang. Ia mengambil jasnya dari lantai, menyampirkannya di lengan, dan berjalan menuju tangga dengan punggung yang membungkuk, terbebani oleh beratnya emas yang kini merantai hidupnya.
Di bawah lampu kristal yang bersinar dingin, Kinanti menatap punggung suaminya dengan tatapan kosong. Ia telah memenangkan segalanya.
Suaminya telah menjadi tahanan sukarela, dan rahasianya terkunci rapat di balik pagar besi yang tinggi. Di rumah ini, kebahagiaan mungkin tidak pernah ada lagi, tapi kekuasaan mereka mutlak.
Malam itu, Arkan resmi menjadi bayangan di rumahnya sendiri. Seorang sipir telah berhasil menaklukkan satu-satunya tahanan yang mencoba memberontak, dan kini, sunyi kembali menguasai istana Wiratama, sebuah sunyi yang lebih mengerikan dari kematian.
...----------------...
To Be Continue ....
jng sampai pezina Dan pelakor menang. mereka hrs ttp di injak kinanti.
berarti yudha mendukung per selingkuh an dong, wah semoga ikut dpt karma km yudha.
nnti kl Arjuna sdh besar Dan tau semua bilang saja ibu kandung mu Alana wanita murahan, ngangkang ma laki orang jd pelakor yakin lah Arjuna akn malu krn anak hasil zina 🤣 alias anak haram 🤣
jelas kinanti dadi moster Wong koe selingkuh kr konco ne. Wong ra sadar diri.
mkne kondosikan burung mu itu arkan jng masuk Goa pelakor.
pingin Kaya Raya Dua istri.
Wes selingkuh tp gk ngroso Salah.
Arkan itu ingine hidup mewah dng Istri sah Dan pelakor e iuhhh mnjijikkan.
Dan Satu lagi pelakor Alana juga gk tobat mlh ingin balas dendam. aneh pelakor kalah kok sakit hati.
Arkan Dan Alana itu ciri ciri manusia gk punya hati, dah selengki tp merasa korban waktu di balas kinanti. tp pas bhgia gk ingat nyakiti hati kinanti.
mnding hancurkan arkan Dan Alana sekarang drpd nnti membalas.
mnding hancurkan arkan Dan Alana sekarang drpd nnti membalas.
apalagi Arkan gk bisa move on Dr Alana.