⚠️ ***+ | Kisah Cinta segitiga
Valencia kehormatannya direnggut, hatinya terbelah.
Valencia hancur saat kehormatannya direnggut oleh Ansel—pria yang hadir diantara cinta Valencia dan Zyro,. Namun Zyro, kekasihnya yang sangat mencintainya, tetap ingin menerima apa adanya dan ingin menikahinya.
Keduanya mengaku mencintainya, keduanya tak ada mau mengalah. Perkelahian sengit pun terjadi, hingga di batas keputusasaan, Valentina harus melukai dirinya sendiri hanya agar mereka mau berhenti...
Melihat wanita yang mereka cintai terbaring penuh darah, akhirnya kedua pria itu mengambil keputusan berat: mereka berdua akan menikahi Valen dan berjanji menjaganya bersama-sama.
Dua pria, satu wanita.
Akankah cinta bisa menyatukan mereka, atau malah membawa pada kehancuran yang lebih dalam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Wisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keseriusan Zyro
Pak Darma menarik napas panjang, matanya menatap Zyro dengan pandangan yang bercampur antara keraguan, kekhawatiran, namun juga rasa hormat yang besar. Ia berbicara dengan nada yang sangat hati-hati, penuh pertimbangan, seolah takut sedikit saja ucapannya akan menyinggung perasaan pemuda di hadapannya—terutama setelah ia mengetahui siapa sebenarnya Zyro dan seberapa besar pengaruh keluarganya.
"Hmm..." desisnya perlahan.
"Nak Zyro, apakah kau sudah benar-benar mempertimbangkan semuanya dengan matang-matang? Apakah kau yakin kau sudah mengenal Valencia sedalam-dalamnya? Jangan sampai di kemudian hari kau menyesal, Nak. Apa tidak sebaiknya kau lebih dulu mengenal Clara, seperti nya kau lebih cocok jika kau bersanding dengan Clara? Dia memiliki latar belakang yang jelas, dikenal banyak orang, berpenampilan menarik, dan karirnya pun sudah mapan. Bukankah Dia jauh lebih pantas mendampingi mu"
Belum selesai Pak Darma berbicara, wajah Zyro seketika berubah dingin dan tegas. Hatinya terasa panas mendengar ucapan itu, seolah ada sesuatu yang menusuk tajam di dadanya. Ia merasa sangat tidak terima melihat wanita yang paling dicintainya direndahkan dan dianggap rendah begitu saja oleh ayahnya sendiri. Dengan pandangan yang tajam namun tetap menjaga sopan santun, Zyro menatap lurus ke arah Pak Darma dan menjawab dengan suara yang tenang namun penuh penekanan, seolah setiap kata yang keluar dari mulutnya memiliki bobot yang berat dan tak terbantahkan.
"Tuan Darma, dengan segala hormat saya ucapkan kepada Tuan... Saya sungguh-sungguh dan serius dengan semua yang telah saya katakan. Tidak ada sedikitpun unsur main-main atau keraguan di hati saya. Dan percayalah, Tuan... Saya yakin seratus persen bahwa sayalah orang yang paling mengenal Valencia, jauh lebih baik dan jauh lebih dalam dibandingkan keluarganya sendiri. Saya tahu siapa dia, seperti apa hatinya, seberapa besar kemampuannya, dan seberapa mulia jiwanya. Semua hal baik yang ada pada dirinya, saya tahu dan saya paham betul. Sebaliknya, hal-hal yang dianggap kekurangan oleh orang lain, justru itulah yang membuat saya semakin mencintainya dan ingin melindunginya seumur hidup saya."
Ucapan Zyro itu terasa bagaikan tamparan keras yang terasa menyengat di hati dan pikiran Pak Darma. Ia terdiam terpaku, tak mampu menjawab sepatah kata pun. Kata-kata itu begitu tegas, begitu meyakinkan, dan penuh keyakinan yang tak tergoyahkan, membuatnya sadar bahwa ia tidak akan pernah bisa mengubah keputusan pemuda itu. Ia menyadari bahwa bagi Zyro, Valencia adalah wanita paling sempurna di dunia, dan tidak ada satu pun orang lain yang bisa menggantikannya, betapapun hebat atau terpandang orang itu.
Setelah hening yang cukup lama, Pak Darma akhirnya menghela napas panjang dan berat. Ia menyadari bahwa perlawanannya sia-sia, dan bahwa keputusan Zyro sudah bulat dan tak bisa diubah lagi. Dengan berat hati, namun berusaha menerima kenyataan itu dengan lapang dada, Pak Darma akhirnya mengangguk perlahan.
"Baiklah... Jika memang itu yang menjadi keinginan dan kemauan hatimu, Nak Zyro," ujarnya pelan namun jelas.
"Aku tidak berhak lagi untuk melarang atau memaksakan kehendak ku. Jika kau yakin dan sungguh-sungguh mencintai Valencia, maka aku merestuinya. Terimalah dia sebagai istrimu, dan jagalah dia sebaik-baiknya..."
Mendengar itu, wajah Zyro seketika bersinar lega dan bahagia. Di sisi lain, Clara dan Sania hanya bisa terdiam dengan wajah pucat dan kecewa, sementara Valencia meneteskan air mata bahagia karena akhirnya ia mendapatkan pengakuan sekaligus kebebasan untuk menentukan nasibnya sendiri bersama orang-orang yang dicintainya.
Pak Darma baru saja menghela napas panjang dan hendak menarik kembali tangannya, ketika Ansel perlahan melangkah maju. Wajahnya tenang namun matanya memancarkan keteguhan yang sama kuatnya dengan Zyro. Sebelum ada yang sempat bicara, suaranya terdengar jelas dan berwibawa, memecah keheningan yang baru saja tercipta.
"Mohon maaf mengganggu sejenak, Tuan Darma. Sebenarnya kedatangan kami hari ini tidak hanya membawa maksud dari saya sendiri atau dari Zyro saja," ujar Ansel perlahan namun tegas.
"Apa yang disampaikan Zyro tadi adalah kebenaran, namun itu baru sebagian dari maksud kami yang sebenarnya."
Pak Darma mengerutkan kening, menatap Ansel dengan bingung. Di benaknya kembali teringat percakapan mereka tempo hari, saat ia menawarkan Sania untuk dijodohkan dengan Ansel. Ia mengira kedatangan Ansel saat ini adalah tanda bahwa pemuda itu akhirnya menyetujui tawarannya itu. Rasa senang mulai tumbuh di hatinya, dan ia segera menoleh ke arah Sania yang berdiri di sampingnya.
Begitu juga dengan Sania, ia mendengar ucapan Ansel itu seketika hatinya berbunga-bunga penuh harapan. Wajahnya berseri-seri, matanya berbinar bahagia, dan senyum lebar tak lepas dari bibirnya. Ia sudah membayangkan bahwa Ansel akan berbicara tentang rencana pernikahan mereka, dan ia merasa seolah menjadi wanita paling beruntung di dunia saat itu. Ia bahkan sudah membetulkan posisi berdiri dan merapikan pakaiannya dengan penuh percaya diri, menunggu saat Ansel menyebut namanya.
"Apa Tuan Ansel telah memikirkan pembicaraan kita tempo lalu?" tanya Pak Darma dengan nada yang terdengar lega dan senang.
"Apakah kau datang kemari untuk menyampaikan persetujuan mu atas tawaran yang pernah aku sampaikan tempo hari? Apakah kau bersedia menjalin hubungan pernikahan dengan Sania?"
Senyum Sania semakin melebar mendengar pertanyaan ayahnya, ia menundukkan wajahnya dengan malu-malu seolah menerima kenyataan yang sudah ditunggu-tunggu itu. Namun, jawaban Ansel selanjutnya seolah menyiramkan air dingin ke atas kepala mereka berdua.
"Tidak, Tuan Darma," jawab Ansel tegas namun sopan.
"Maksud kedatangan saya sama persis dengan apa yang disampaikan oleh Zyro tadi. Saya juga datang ke sini untuk melamar putri Bapak. Dan wanita yang saya maksud adalah Valencia. Bukan Sania."
Seketika, senyum di wajah Pak Darma lenyap seketika, digantikan oleh rasa kaget yang luar biasa. Namun, Sania terlihat jauh lebih parah. Tubuhnya menegang kaku, matanya terbelalak lebar menatap Ansel seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Rasa kaget, kecewa, dan amarah meledak di dadanya seketika. Wajahnya yang tadinya ceria kini berubah merah padam menahan murka, dan tanpa mempedulikan tata krama atau siapa saja yang ada di sana, ia langsung menoleh ke arah ayahnya dan mulai memaki Valencia dengan kata-kata yang sangat kasar, menjijikkan, dan menyakitkan hati.
"Papa lihat sendirikan?! Pasti benar dugaan kita selama ini! Pasti di luar sana dia sudah menjual dirinya sendiri ke sana ke mari! Dia pasti sudah menjadi perempuan murahan, perempuan ca*ul yang tidak tahu malu! Hanya perempuan seperti dia yang tidak pernah puas dengan satu laki-laki saja! Dia pasti punya penyakit s*x yang mengerikan, makanya dia sampai mengeruk dua orang sekaligus! Dasar perempuan hiper! Tidak tahu malu!"
"Papa! Kau dengar itu, Pa?!" seru Sania dengan suara melengking dan penuh amarah, jarinya menunjuk tajam ke arah Valencia yang berdiri diam di sudut ruangan.
Sania terus mengumpat dan memaki dengan kata-kata yang semakin kasar dan kotor, matanya menatap Valencia dengan penuh kebencian dan rasa jijik seolah wanita itu adalah sesuatu yang paling hina di dunia ini.
Pak Darma terperangah mendengar ucapan putrinya, ia mencoba menahan Sania agar diam namun wanita itu seolah sudah hilang kendali dan terus melepaskan segala kemarahannya.
"Apakah aku tidak salah dengar, Tuan Ansel?" tanya Pak Darma terbata-bata, suaranya terdengar gemetar karena kaget luar biasa sekaligus malu melihat tingkah Sania. "Kau juga ingin melamar Valencia? Kalian berdua... bersamaan?"
"Benar, Tuan," jawab Ansel tanpa ragu sedikitpun, wajahnya terlihat sangat dingin dan tegas mendengar makian Sania yang begitu kejam. Ia lalu perlahan mengeluarkan sebuah kotak perhiasan kecil yang elegan dari saku jasnya, lalu membukanya di hadapan semua orang. Di dalamnya terdapat sepasang cincin indah yang berkilauan, terlihat sangat mahal dan berkelas.