Empat tahun Inara menjadi ibu susu bagi Zidan. Selama itu pula, ia mendapatkan cinta dari Reno, ayah Zidan, bahkan mereka berencana untuk menikah.
Namun semuanya berubah saat Zoya, mantan istri Reno sekaligus ibu kandung Zidan, kembali dengan niat menebus kesalahan. Sejak saat itu, kehidupan Reno dan Zidan perlahan berpusat pada Zoya. Sementara Inara justru merasa tersisih dan selalu menjadi pihak yang disalahkan.
Inara tidak pernah tahu di mana letak kesalahannya, hingga membuat Reno yang dulu mencintainya kini berubah dingin.
Apa yang sebenarnya terjadi? Akankah Inara memilih bertahan atau justru akan pergi karena merasa sudah tidak dipilih lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Suasana di sekitar meja mulai terasa menegang.
Bahkan Baba yang tadi banyak bicara kini ikut diam sambil memperhatikan mereka bergantian.
"Semuanya salah aku," lanjut Inara lirih. "Apa pun yang terjadi sama Zidan atau Zoya pasti ujung-ujungnya aku."
"Tapi memang itu salah kamu!" sahut Reno cepat dengan emosi yang ikut naik.
Mata Inara langsung memerah mendengar itu.
"Apa kamu yakin?" tanyanya pelan. "Kamu sendiri tahu Zidan sakit karena Zoya ngajak dia berenang sampai demamnya kambuh dan akhirnya kejang."
Reno langsung menyela. "Inara, dokter bilang—"
"Dokter bilang Zidan syok karena aku?" potong Inara cepat. "Apa kamu benar-benar cari tahu semuanya?"
Reno terdiam sesaat. Dan jeda sekecil itu cukup membuat hati Inara makin sakit.
"Ah iya," lanjutnya sambil tertawa kecil penuh getir. "Kamu bahkan gak ada di sisi Zidan waktu dia demam dan kejang lagi."
Rahang Reno langsung mengeras. "Inara, jangan muter balik kesalahan."
"Aku gak muter balik apa pun, Mas." Kali ini suara Inara terdengar jauh lebih tenang, tetapi justru terasa lebih menyakitkan. "Kamu aja yang gak pernah benar-benar mau cari tahu apa yang sebenarnya terjadi."
Tatapan Inara perlahan turun sebelum kembali menatap Reno dengan mata penuh kecewa.
"Kamu gak pernah lihat siapa yang ada di sisi Zidan waktu dia sakit," ucapnya lirih. Tenggorokannya tercekat sesaat sebelum melanjutkan, "dan untuk masalah diare itu… benar-benar bukan aku."
Setelah mengatakan itu, Inara merasa tenaganya seperti habis begitu saja. Ia menatap sekeliling dan baru sadar beberapa pasang mata kini memperhatikan mereka. Rasa malu bercampur sedih membuat dadanya semakin sesak. Ia sudah terlalu lelah untuk terus menjelaskan. Tanpa menunggu Reno berbicara lagi, Inara langsung menoleh pada Altaf dan Baba.
"Pak Altaf, Baba… maaf jadi harus lihat semua ini," ucapnya pelan sambil menarik tasnya. "Saya pamit dulu."
Setelah itu Inara berbalik dan pergi begitu saja tanpa menoleh lagi.
"Inara!"
Baru saat itu Reno seperti tersadar dari emosinya sendiri. Ia spontan hendak mengejar, tetapi langkah Inara sudah lebih dulu menjauh dan sama sekali tidak menghiraukan panggilannya. Reno berdiri kaku di tempatnya.
Sementara di sisi lain, Altaf justru tertawa kecil penuh sindiran melihat semua itu.
Reno langsung menoleh tajam. Rahangnya mengeras mendengar tawa tersebut.
"Dari dulu sampai sekarang kamu ternyata gak pernah berubah," ucap Altaf santai, tetapi menusuk. "Masih terlalu percaya diri dan egois."
Reno menggertakkan giginya kuat. "Seolah kamu lebih baik dari aku."
Altaf hanya menarik sudut bibir tipis, tetapi sebelum pria itu sempat membalas, Baba sudah lebih dulu menyela dengan wajah polosnya.
"Tentu aja Ayah lebih baik dari Om," celetuknya tanpa dosa. "Ayah tampan, pinter, dan paling pengertian."
Altaf langsung melirik putranya datar, sementara Reno semakin menahan emosi.
Namun beberapa detik kemudian, Baba malah menundukkan kepala sambil bergumam pelan, "Bohong dikit gak apa-apa, kan? Tuhan gak marah demi kebaikan."
Kalimat polos itu membuat Altaf spontan menutup wajahnya frustrasi. Sementara beberapa orang di sekitar mereka mulai menahan tawa mendengar celotehan jujur anak kecil itu.
Reno justru tertawa mengejek. Tatapannya beralih penuh sindiran ke arah Altaf.
"Anakmu aja kayak gini. Didikan macam apa yang kamu kasih?" cibirnya tajam. "Lagian orang gak pernah nikah tapi punya anak sebesar ini."
Seketika rahang Altaf menegang tipis. Ucapan itu tepat mengenai bagian hidup yang paling tidak suka ia bahas. Baba memang bukan anak kandungnya. Anak itu adalah putra kakaknya yang meninggal beberapa tahun lalu, sementara ibu Baba menghilang begitu saja setelah melahirkan, tepat ketika kakaknya sudah tidak ada.
Karena itulah Altaf selalu sensitif jika ada yang menyinggung soal ibu Baba, terlebih di depan anak itu sendiri. Bagaimanapun juga, selama ini dialah yang membesarkan Baba seorang diri tanpa bantuan sosok yang disebut ibu.
Namun berbeda dari Reno yang meluapkan emosinya terang-terangan, Altaf justru terlihat jauh lebih tenang.
"Wah," gumamnya santai sambil mengangguk kecil. "Lama gak ketemu ternyata kamu cukup update juga soal hidupku."
Tatapannya kemudian berubah lebih tajam. "Tapi sekarang ini bukan soal aku." Suaranya tetap rendah, tetapi menusuk. "Ini soal kamu dan wanitamu itu."
Reno langsung mengeras rahangnya.
"Ingat satu hal, Ren," lanjut Altaf tenang. "Wanita itu butuh dimengerti, bukan diabaikan. Apalagi dijadiin pilihan kedua."
Setelah mengatakan itu, Altaf langsung berdiri lalu menoleh pada Baba. "Ayo, kita pergi."
Baba yang sejak tadi menikmati drama itu langsung turun dari kursinya dengan semangat.
"Iya, Yah." Ia lalu melirik Reno tanpa takut sedikit pun. "Om ini gak bagus gabung sama circle kita."
Altaf sampai menarik napas panjang mendengar celetukan putranya, tetapi sebelum benar-benar pergi, pria itu kembali menatap Reno sekilas.
"Aku pikir Inara cukup bagus," ucapnya datar. "Kalau kamu memang gak serius sama dia dan gak bisa berdiri di sisinya, Baba siap nerima dia jadi ibunya."
Reno langsung meradang. "Altaf!"
Suara keras itu membuat beberapa pengunjung restoran kembali menoleh ke arah mereka. Namun Altaf sama sekali tidak terlihat terganggu. Ia hanya memandang Reno sekilas dengan ekspresi datar, seolah ledakan emosi pria itu bukan sesuatu yang penting untuk dipermasalahkan.
Sementara Baba malah menepuk pundak ayahnya pelan.
"Ayah jangan berantem," bisiknya sok bijak. "Kata guru Baba, orang dewasa gak boleh teriak-teriak di tempat umum."
Altaf mengangguk tipis. "Nah, denger sendiri."
Reno semakin mengeras rahangnya. "Aku serius, Altaf," ucapnya rendah penuh tekanan. "Jangan bawa-bawa Inara."
Altaf justru tersenyum tipis penuh sindiran. "Lucu," gumamnya santai. "Barusan kamu sendiri bentak dia di depan banyak orang, sekarang malah gak suka kalau orang lain nyebut namanya."
Reno terdiam sesaat.
"Tapi tenang aja," lanjut Altaf sambil meraih tangan Baba. "Aku gak tertarik ikut campur hubungan orang. Aku cuma kasihan lihat perempuan yang terus-terusan disalahin padahal jelas kamu sendiri tidak yakin duduk permasalahannya."
Kalimat itu membuat tangan Reno mengepal semakin kuat.
Sementara Baba yang sejak tadi memperhatikan wajah Reno tiba-tiba kembali berkata polos, "Om, kalau Tante Inara nangis terus nanti cepat tua loh."
"Baba," tegur Altaf pelan.
"Tapi bener kan, Yah?" sahut anak itu santai. "Tadi mata Tante merah."
Ucapan polos Baba justru membuat Reno kembali teringat tatapan Inara beberapa menit lalu. Cara wanita itu menatapnya penuh kecewa sebelum akhirnya pergi begitu saja. Entah kenapa dadanya mendadak terasa sesak. Namun sebelum Reno sempat mengatakan apa pun lagi, Altaf sudah lebih dulu melangkah pergi bersama Baba.
"Ayo."
Baba melambaikan tangan kecilnya ke arah Reno dengan wajah polos tanpa rasa takut sedikit pun.
"Bye, Om emosian."
Langkah Reno seketika terhenti mendengar itu, sementara Altaf langsung menahan tengkuk Baba agar anak itu berhenti bicara sembarangan.
Restoran yang tadi sempat dipenuhi ketegangan justru berubah ramai oleh tawa kecil beberapa pengunjung yang sejak tadi diam-diam memperhatikan drama mereka.