NovelToon NovelToon
OM CEO Itu Suamiku

OM CEO Itu Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Perjodohan
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: jlianty

Aku tidak pernah menyangka pria yang kupanggil “Om” akan menjadi suamiku.

Pernikahan ini bukan karena cinta, tapi karena sebuah rahasia yang mengikat kami.
Dia dingin, kejam, dan penuh aturan. Tapi semakin aku mencoba menjauh… dia justru tidak pernah melepasku.

Di balik sikapnya yang kejam, ada sesuatu yang tidak bisa aku pahami. Apakah aku hanya permainan… atau benar-benar miliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jlianty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menunjukkan Sisi Peduli

Sesuatu berubah setelah pertengkaran itu. Bukan dramatis. Bukan tiba-tiba Rafandra jadi romantis atau mulai bawa bunga setiap pulang kerja, karena itu bukan Rafandra dan Zahra sudah cukup kenal dia untuk tahu itu tidak akan terjadi.

Tapi ada yang berbeda.

Zahra baru sadar waktu pagi ketiga setelah pertengkaran itu, dia turun ke dapur dan menemukan meja sarapan sudah ada buku catatannya di sana yang kemarin ketinggalan di ruang tamu diletakkan rapi di sebelah piring dengan pulpen di atasnya.

Mbak Reni belum datang. Berarti Rafandra yang meletakkannya.

Hari itu Zahra kerja di ruang baca sampai sore. Skripsi bab empat sudah mulai terbentuk, masih jauh dari sempurna, tapi setidaknya sudah ada wujudnya. Zahra sedang berkutat dengan satu paragraf yang tidak mau selesai waktu pintu ruang baca diketuk.

"Masuk."

"Teh?" Zahra mengernyit.

"Mbak Reni bilang kamu belum minum apapun sejak siang." Dia meletakkan gelas itu di meja, di sebelah laptop Zahra. Lalu berbalik.

"Om yang minta Mbak Reni bikinin?"

"Aku yang membuatnya."

Zahra menatap gelas itu. Lalu menatap punggung Rafandra yang sudah hampir di pintu.

"Om bisa bikin teh?"

Rafandra berhenti. Menoleh. "Apa itu mengejutkan?"

"Sedikit."

"Ada banyak hal yang bisa aku lakukan yang mungkin mengejutkanmu." Lalu ia keluar.

Zahra menatap gelas teh itu dan meminumnya.

Rasanya lumayan. Tidak terlalu mania, tidak terlalu hambar, dengan...jahe? yang membuat tenggorokannya hangat.

"Dia hapal selera gue."

.

.

.

Dua hari kemudian Zahra kena hujan. Bodoh dia tahu cuacanya tidak bagus dari pagi tapi tetap keluar ke kampus tanpa bawa payung karena yakin bisa pulang sebelum hujan turun. Keyakinan yang ternyata keliru total waktu jam dua siang langit Jakarta membuktikan dirinya tidak bisa diprediksi.

Zahra berteduh di depan gedung kampus, menatap hujan yang turun dengan serius, dan menimbang apakah ojek online layak dipesan dalam kondisi seperti ini.

HPnya bergetar. Rafandra.

"Halo?"

"Kamu di mana?"

"Kampus. Kena hujan." Zahra menyipitkan mata menatap hujan. "Lagi nunggu reda."

Hening dua detik.

"Supir sudah dalam perjalanan ke sana."

"Mas nggak perlu—"

"Dua puluh menit lagi sampai." Sambungan terputus.

Zahra menatap HPnya.

"Dia tau gue di kampus tanpa gue bilang."

Lalu ingat tadi pagi Mbak Reni tanya Zahra mau ke mana, dan Zahra jawab kampus. Jadi Rafandra tanya ke Mbak Reni. Lalu kirim supir tanpa bilang dulu. Tanpa tanya apakah Zahra mau atau tidak.

Zahra menghela napas.

Supir datang dua puluh tiga menit kemudian dengan payung besar yang langsung dibuka untuk Zahra.

.

.

.

Malam itu Zahra bersin tiga kali berturut-turut di meja makan. Rafandra mendongak dari makanannya.

"Kamu masuk angin."

"Gue nggak—" Zahra bersin lagi. "Oke mungkin sedikit."

Rafandra tidak berkomentar. Melanjutkan makannya. Tapi setelah makan, waktu Zahra mau naik ke kamar, Mbak Reni muncul dari dapur dengan segelas air jahe hangat dan satu strip obat masuk angin.

"Dari Bapak, Mbak."

Zahra menatap gelas dan obat itu. Rafandra sudah tidak ada di ruang makan sudah masuk studio.

Zahra mengambil keduanya. Naik ke kamar. Duduk di kasur. Minum obatnya. Minum jahe hangatnya yang rasanya lebih kuat dari teh kemarin, jelas dibuat khusus.

.

.

.

Keesokan paginya Zahra turun dengan kepala yang lebih ringan, obatnya bekerja dan menemukan Rafandra masih di meja makan, padahal biasanya jam segini dia sudah pergi.

"Om belum berangkat?"

"Meeting pertama digeser." Rafandra mendongak dari laptopnya. "Kamu sudah lebih baik?"

"Udah. Obatnya manjur." Zahra menuang kopi. "Makasih, Om."

"Mbak Reni yang mengantarkan."

"Tapi Om yang minta." Zahra duduk. "Sama aja."

Rafandra tidak menjawab, kembali ke laptopnya. Tapi telinganya sedikit bergerak, cara yang Zahra mulai pelajari artinya Ia mendengar dan mencerna tapi tidak mau menunjukkannya terlalu jelas.

Mereka sarapan dalam diam yang sudah tidak lagi terasa asinng, di tengah-tengah, tanpa mendongak dari laptopnya, Rafandra berkata:

"Bawa payung kalau keluar, cuaca sekarang kurang mendukung."

Zahra menatapnya. "Iya, Om."

"Dan bilang kalau mau ke mana. Supaya tidak perlu aku yang cari tahu sendiri."

Zahra menahan senyum. "Jadi Om mau gue laporan?"

"Aku mau tahu kalau kamu perlu sesuatu." Rafandra menutup laptopnya, menatap Zahra langsung. "Ada bedanya."

Zahra menatap balik. "Ada bedanya?" Antara laporan dan bilang kalau perlu sesuatu. Antara kontrol dan kepedulian.

Rafandra tahu bedanya dan ia mau Zahra tahu juga.

"Oke," kata Zahra pelan. "Gue akan bilang."

Rafandra mengangguk. Membuka laptopnya kembali. Zahra meneguk kopinya.

Di luar jendela dapur, Jakarta pagi sudah mulai ramai. Tapi di dalam sini di meja yang tadinya selalu terasa terlalu panjang untuk dua orang, jaraknya terasa sedikit lebih pendek dari kemarin.

Bukan karena kursinya bergeser. Tapi karena sesuatu yang lain ang tidak punya nama yang tepat, yang keduanya belum siap menyebutnya sudah mulai mengisi ruang di antara mereka.

Perlaha. Diam-diam. Mulai muncul.

.

.

.

1
Liadjamileba 08
bagussss bangettt
plisss lanjut ceritanya kak🥰🙏🏼🙏🏼
jlianty: sabar ya, masih dalam peninjauan bab selanjutnya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!