Di tengah gemerlap Jakarta yang kontras, Nara Indira (25) menjalani kehidupan ganda yang berbahaya. Di bawah cahaya aula megah, ia adalah penari tradisional yang agung, namun di kegelapan Club Black Rose, ia bertransformasi menjadi penari erotis demi membiayai pengobatan kanker darah ibunya. Nara adalah wanita yang dingin, efisien, dan sangat menjaga harga dirinya di tengah profesi yang dianggap nista oleh dunia.
Takdir mempertemukannya dengan Bagaskara, CEO muda dari Prawijaya Group yang baru saja melangsungkan pertunangan bisnis dengan Sinta Mahadewi. Pertemuan tak sengaja di klub malam memicu obsesi gelap dalam diri Bagaskara. Terpesona oleh misteri dan ketegasan Nara, Bagaskara menawarkan harta demi satu malam bersama, sebuah tawaran yang ditolak mentah-mentah oleh Nara meski ia sedang terhimpit kebutuhan medis yang mendesak.
Konflik memuncak saat rahasia Nara mulai terancam dan Sinta menyadari perhatian tunangannya terbagi. Di antara perbedaan status sosial yang jurang dan tekanan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lemari Kertas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Runtuhnya Takhta Sang Dewi
Jakarta tidak butuh waktu lama untuk terbakar. Begitu mentari mencapai puncaknya, sebuah berita digital meluncur seperti rudal balistik, menghantam dinding-dinding kaca gedung pencakar langit hingga gang-gang sempit di pinggiran kota.
"BREAKING NEWS! DINASTI PRAWIJAYA BERGUNCANG! BAGASKARA BATALKAN PERTUNANGAN DENGAN SINTA SECARA SEPIHAK!"
Headline itu, dengan huruf kapital yang tebal dan provokatif, terpampang di laman utama portal berita milik Tomi. Foto Sinta yang anggun bersanding dengan Bagas di sebuah gala beberapa bulan lalu sengaja dibuat hitam-putih, memberi kesan duka pada sebuah hubungan yang baru saja diputus napasnya melalui satu pesan singkat.
Studio Foto, Jakarta Pusat , 11:00 WIB.
Lampu flash kamera menyambar berkali-kali, namun Sinta merasa seperti sedang dibidik oleh senapan mesin. Ia sedang berpose mengenakan gaun sutra merah karya desainer ternama untuk sampul majalah bulan depan. Wajahnya yang biasanya terlihat angkuh dan sempurna kini entah mengapa terasa kaku.
Tiba-tiba, aktivitas di studio itu seolah terhenti. Maya, penata rias pribadinya, menjatuhkan kuas powder-nya. Wajah wanita itu pucat saat menatap layar ponsel di tangannya.
"Sinta..." gumam Maya lirih.
"Ada apa? Fokus, Maya! Alisku belum simetris," bentak Sinta, matanya masih menatap tajam ke lensa kamera.
Namun, fotografer yang tadinya penuh semangat tiba-tiba menurunkan kameranya. Di sudut ruangan, beberapa model pendatang baru berkerumun. Suara bisikan mereka seperti desis ular yang masuk ke telinga Sinta.
"Serius? Dibatalkan sepihak?"
"Lihat deh, katanya Bagas sendiri yang konfirmasi ke Tomi."
"Kasihan ya, citra 'calon menantu idaman' langsung ludes dalam semenit. Ternyata cuma dianggap sampah sama Bagas."
Tawa kecil yang tertahan pecah di antara mereka. Sinta merasa aliran darahnya tersumbat di leher. Jantungnya berdegup tidak beraturan, menciptakan sensasi panas-dingin yang mengerikan di sekujur tubuhnya.
"Apa yang kalian bicarakan?!" Sinta berteriak, suaranya melengking memecah keheningan studio. Ia menyambar ponsel Maya dengan kasar.
Matanya membelalak. Dunia seolah berputar 180 derajat. Tulisan itu, nama Bagas yang disandingkan dengan kata 'Pembatalan Sepihak' adalah penghinaan paling brutal yang pernah ia terima sepanjang hidupnya. Ia merasa seolah ditelanjangi di depan publik.
"Ini palsu! Tomi gila! Dia pasti dibayar oleh jalang itu untuk mengarang cerita!" teriak Sinta. Ia tidak sudi percaya. Bagas yang dingin memang sulit ditaklukkan, tapi Bagas yang mempermalukannya seperti ini? Itu tidak mungkin.
Gedung Media Utama
Sinta mengemudikan mobilnya seperti orang kesetanan. Ia mengabaikan panggilan telepon ibunya yang berdering tanpa henti, pasti ibunya sudah histeris karena berita yang sudah viral atau sekadar malu pada geng sosialitanya.
Ia masuk ke lobi gedung media milik Tomi dengan langkah menghentak, sepatu hak tingginya berbunyi nyaring di lantai marmer. Para wartawan yang mencium bau berita besar segera mengerubunginya, tapi Sinta menerjang mereka dengan sikut dan tas mahalnya.
"Tomi! Keluar kau, brengsek!" teriah Sinta saat sampai di lantai redaksi.
Tomi, seorang pria berkacamata dengan raut wajah tenang namun licik, keluar dari ruangannya. Ia memberi isyarat agar stafnya kembali bekerja.
"Tenang, Sinta. Kau menghancurkan suasana kerjaku," ujar Tomi santai.
"Kau yang menghancurkan hidupku dengan berita sampah itu! Siapa yang membayarmu? Nara? Perempuan miskin itu memberimu apa? Tubuhnya? Sampai kau berani menulis kebohongan tentang aku dan Bagas?!" Sinta mencengkeram kerah kemeja Tomi, matanya merah karena amarah dan air mata yang ditahannya.
Tomi melepaskan tangan Sinta dengan perlahan. Ia menghela napas, seolah merasa kasihan namun tetap profesional.
"Sinta, kau tahu aku tidak pernah menulis berita tanpa bukti. Apalagi jika menyangkut Prawijaya Group."
Ia mengeluarkan ponselnya, membuka riwayat pesan, dan menyodorkannya tepat di depan wajah Sinta.
'Tom, ini Bagas. Muat di headline besok pagi: Pertunangan Bagaskara Prawijaya dan Sinta resmi dibatalkan secara sepihak. Tidak ada ruang untuk negosiasi. Kau dapat eksklusifnya.'
Sinta terdiam. Tubuhnya membeku. Itu nomor Bagas. Itu gaya bicara Bagas yang singkat, padat, dan mematikan. Harapan tipis bahwa ini adalah ulah Nara hancur berkeping-keping.
"Bagas... dia benar-benar melakukannya?" bisik Sinta, suaranya bergetar hebat. "Dia menghancurkanku demi perempuan itu?"
"Dia tidak hanya memutuskanmu, Sinta. Dia sedang mengumumkan pada dunia bahwa posisimu sudah digantikan," tambah Tomi kejam. "Saran dariku, sembunyilah dulu. Para investor brand yang kau bintangi mulai menelepon dan mungkin akan melakuka. pertemuan untuk memutus kontrak."
Sinta mundur perlahan. Rasa sakitnya melampaui patah hati, ini adalah luka pada harga diri yang sudah mendarah daging. Ia lari keluar dari gedung itu, menghindari kilatan lampu kamera wartawan di lobi yang kini memandangnya bukan sebagai ikon kecantikan, melainkan sebagai objek kegagalan dan keangkuhan yang runtuh.
Dalam keputusasaan, Sinta menghubungi satu-satunya orang yang selalu ada saat ia merasa rendah: Rama.
"Rama... Bagas... dia jahat sekali, Rama..." Sinta terisak di balik kemudi.
Di ujung telepon, terdengar tawa kecil yang sinis.
"Sudah kubilang, bukan? Jangan terlalu tinggi menggantungkan harapan pada pria seperti Bagas. Kau hanya bidak catur baginya, Sinta. Dan sekarang, dia menemukan ratu yang lebih menarik, meski berasal dari selokan."
"Diam kau! Ini pasti karena Nara! Dia memakai guna-guna, dia melacur di depan Bagas sampai Bagas gila!" Sinta berteriak histeris, memukul kemudi mobilnya. "Aku akan membunuhnya, Rama! Aku akan menghancurkan wajah cantiknya itu!"
"Datanglah ke tempatku. Kau butuh pelampiasan, bukan rencana pembunuhan yang amatir," ujar Rama dingin sebelum memutus sambungan.
Sinta menginjak gas sedalam mungkin. Ia butuh rasa sakit yang lain untuk menutupi rasa malu ini.
Berbeda dengan badai yang melanda kehidupan Sinta, suasana di lingkungan tempat tinggal Nara terasa berbeda. Sebuah mobil mewah hitam berhenti di mulut gang. Pintu terbuka, dan Bagas turun lebih dulu, mengulurkan tangan dengan protektif.
Nara keluar dari mobil. Ia tampak luar biasa. Kemeja putih ketat yang ia kenakan menonjolkan lekuk tubuhnya yang indah dan lentur hasil bertahun-tahun menari, dipadukan dengan jeans cutbray yang membuat kakinya terlihat jenjang tak berujung. Rambutnya dibiarkan tergerai, berkilau di bawah sinar matahari sore.
Beberapa tetangga yang biasanya duduk di teras sambil bergunjing tiba-tiba bungkam. Ibu-ibu yang kemarin sempat meludahi jalan saat Nara lewat, kini mendadak sibuk mengangkat jemuran atau menyapu halaman yang sebenarnya sudah bersih. Mereka malu, tapi juga takjub.
Nara tidak membalas dendam dengan makian. Ia justru berjalan menuju sekumpulan anak kecil yang sedang bermain kelereng di tanah lapang sempit.
"Halo, adik-adik," sapa Nara lembut. Ia berjongkok, mengabaikan debu yang mungkin mengotori jeans mahalnya. Dari tas belanjaan di tangannya, ia mengeluarkan kotak-kotak makanan dari restoran ternama, kue enak-enak berwarna-warni dan cokelat impor yang harganya mungkin setara dengan upah buruh seminggu di sana.
"Ini untuk kalian. Dimakan bersama ya," ucap Nara sambil tersenyum manis.
Anak-anak itu bersorak kegirangan. "Wah, Kak Nara baik banget! Makasih, Kak!"
Bagas berdiri di belakang Nara, menyandarkan tubuhnya pada tiang listrik yang kusam, namun kehadirannya membuat gang sempit itu terasa seperti lobi hotel bintang lima. Kemejanya yang berwarna senada dengan Nara sengaja dibuka dua kancing atasnya, memperlihatkan dada bidang yang kokoh. Matanya tidak pernah lepas dari Nara, sorot matanya penuh dengan kebanggaan, keramahan sekaligus tantangan bagi siapa pun yang berani mengganggu wanitanya.
Seorang ibu tua yang tadinya pura-pura menyapu, akhirnya berhenti. Ia menatap Nara dengan tatapan campur aduk.
"Nara... kau... kau terlihat sangat bahagia."
Nara berdiri, menggenggam tangan Bagas yang besar.
"Aku hanya sedang memulai hidup yang seharusnya, Bu. Terima kasih sudah memperhatikan."
Kalimat itu sederhana, tapi penuh sindiran halus bagi mereka yang selama ini hanya bisa melihat sisi gelap hidupnya. Nara tidak lagi menunduk. Ia berjalan melewati warga dengan kepala tegak, jemarinya bertaut erat dengan jemari Bagas.
"Kau lihat mereka?" bisik Bagas di telinga Nara. "Mereka tidak lagi melihatmu sebagai gadis malang. Mereka melihatmu sebagai wanita yang tak terjangkau."
Nara tersenyum kecil, menatap Bagas dengan mata yang berbinar.
"Itu karena kau di sampingku, tapi lebih dari itu, aku senang karena sekarang aku tahu cara memegang kendali. Biarkan Sinta dan dunianya runtuh. Aku punya duniaku sendiri di sini, bersamamu."
"Dunia ini baru permulaan, Sayang," balas Bagas tegas. "Setelah ini, kita akan membangun kerajaan yang tak bisa disentuh oleh siapa pun."
Mereka terus melangkah, meninggalkan jejak kekaguman dan rasa iri di belakang mereka, menyongsong badai yang baru saja mereka ciptakan sendiri dengan penuh kemenangan. Di tangan Nara, papan catur itu kini bergerak sesuai keinginannya.