NovelToon NovelToon
Rahasia Terbesar

Rahasia Terbesar

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Misteri / Epik Petualangan
Popularitas:10.7k
Nilai: 5
Nama Author: YUKARO

Lin Tian sadar dari tidur panjangnya selama 200 tahun dan mendapati tubuhnya masih seperti pemuda 18 tahun. Satu hal yang paling mengganjal: di istana ratu ular, semua makhluk memiliki tubuh ular, tapi ia berkaki dua sempurna. Siapa ayahnya? Siapa sebenarnya Kakek Han yang begitu ia rindukan? Ibunya, Ratu Medusa, mengurungnya berabad lamanya hanya untuk menyembunyikan sesuatu. Kini Lin Tian pergi ke dunia manusia. Bukan untuk bertualang, tapi untuk menggali satu rahasia yang ibunya lebih memilih membekukannya daripada mengakuinya. Rahasia terbesar tentang siapa dirinya yang sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua Teknik

Dua hari berlalu sejak cerita tentang pria malang. Setiap sore, Lin Tian dan Bai Feng duduk di gazebo bambu dekat kolam ikan, mendengarkan Lao Hui berbicara tentang berbagai hal. Tentang sebab akibat, tentang pilihan hidup, tentang bagaimana sebuah keputusan kecil bisa mengubah segalanya. Bai Feng menikmati sesi ini karena tidak perlu mengeluarkan keringat, cukup duduk dan mendengar. Lin Tian menikmatinya karena setiap kata Lao Hui terasa seperti membuka jendela baru di pikirannya.

Namun di hari ketiga, Bai Feng tidak ikut. Ia sudah tahu tanpa diberitahu bahwa latihan kali ini berbeda. Lao Hui hanya tersenyum saat melihat Bai Feng melambatkan langkahnya di depan pintu halaman belakang.

"Selamat berlatih, Pak Tua. Selamat berlatih, Lin Tian," ucap Bai Feng lalu berbalik menuju kantin.

Lin Tian berdiri di tengah lapangan rumput di belakang gazebo. Lao Hui berdiri di hadapannya dengan selembar kertas kuning tua di tangan. Kertas itu tidak besar, hanya seukuran telapak tangan, tapi dipenuhi huruf kecil yang rapi.

"Ini adalah teknik pertama yang akan kau pelajari dariku," ucap Lao Hui sambil menyerahkan kertas itu. "Baca, pahami, resapi. Kau punya waktu satu jam."

Lin Tian menerima kertas itu dengan hati-hati lalu duduk bersila di atas rumput. Matanya membaca setiap kata, setiap kalimat, setiap instruksi yang tertulis. Teknik ini bernama Pedang Seribu Cahaya. Prinsip kerjanya sederhana: mengubah energi spiritual menjadi pedang-pedang kecil berwujud cahaya, lalu melesatkannya ke target dengan kecepatan tinggi. Semakin banyak pedang yang tercipta, semakin besar daya rusaknya.

Satu jam berlalu, Lin Tian tidak bergerak sedikit pun. Ia membaca ulang tiga kali, lalu menutup matanya untuk membayangkan aliran Qi di dalam tubuhnya sesuai petunjuk di kertas itu. Setelah merasa yakin, ia berdiri.

"Aku siap, Pak Tua."

Lao Hui mengangguk. Ia maju tiga langkah kemudian membentuk segel tangan dengan cepat. Jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya menunjuk ke atas langit.

Sszzttt!

Ribuan titik cahaya muncul di atas tubuh Lao Hui. Dalam sekejap, titik-titik itu berubah menjadi pedang-pedang kecil sepanjang jari, berwarna putih keemasan, berbaris rapi seperti pasukan yang menunggu perintah. Jumlahnya sulit dihitung, tapi Lin Tian bisa memperkirakan sekitar tiga hingga empat ribu pedang.

"Perhatikan baik-baik, Lin Tian," ucap Lao Hui tanpa menoleh. "Aku sengaja mengajarimu teknik ber elemen cahaya, agar di masa depan kau bisa menghilangkan kegelapan. Termasuk makhluk kegelapan yang baru baru ini meneror wilayah selatan."

Lin Tian mengangguk pelan. Matanya tidak berkedip, merekam setiap detail dari pedang-pedang cahaya itu. Bentuknya, ukurannya, intensitas cahayanya, serta bagaimana mereka melayang dengan sempurna di udara tanpa bergerak sedikit pun meski tertiup angin.

"Pergi!" perintah Lao Hui.

SREEEET!

Ribuan pedang cahaya melesat ke depan dengan kecepatan yang luar biasa. Mereka menghujam sebuah bukit kecil di kejauhan, sekitar lima ratus meter dari tempat mereka berdiri.

Boom! Boom! Boom!

Suara dentuman bergema puluhan kali dalam hitungan detik. Namun ketika debu beterbangan dan tanah berhamburan, bukit itu masih berdiri. Tidak hancur, hanya berlubang-lubang seperti sarang tawon.

Lao Hui menurunkan tangannya lalu menghela napas. "Sayang sekali, aku sangat lemah dalam elemen cahaya. Seharusnya bukit itu rata dengan tanah, tapi yang terjadi hanya lubang lubang kecil. Namun jika hanya untuk belajar, ini sudah cukup. Kau lihat sendiri cara kerjanya."

Lin Tian mengangguk. "Aku mengerti, Pak Tua. Sekarang giliranku."

"Coba praktikkan sampai bisa. Aku akan duduk di gazebo sambil minum teh. Panggil aku jika kau sudah berhasil menciptakan seribu pedang."

Lin Tian mengangguk.

Lao Hui berjalan ke gazebo lalu duduk dengan tenang. Seorang pelayan sekte datang membawakan teko kecil dan satu cangkir. Lao Hui menuang teh untuk dirinya sendiri lalu menyeruput pelan sambil mengamati Lin Tian dari kejauhan.

Lin Tian berdiri di tempat yang sama. Ia menutup mata, mengatur napas, lalu membentuk segel tangan seperti yang ditunjukkan Lao Hui. Jari telunjuk dan jari tengah kanan menunjuk ke atas. Qi di dalam tubuhnya bergerak mengikuti aliran yang ia pelajari dari kertas itu. Rasanya seperti menarik air dari sumur yang dalam, tapi air itu terlalu berat untuk naik.

Percobaan pertama. Dua pedang cahaya muncul.

Lin Tian membuka mata, melihat dua titik cahaya kecil di atas kepalanya, lalu tersenyum. Setidaknya ia berhasil menciptakan sesuatu.

Percobaan kedua. Sepuluh pedang.

Percobaan ketiga. Tiga puluh pedang.

Lin Tian terus mengulang dari awal setiap kali ia merasa ada yang salah. Ia tidak terburu buru. Ia hanya fokus pada aliran Qi di setiap meridian, bagaimana energi itu keluar dari tubuhnya, lalu berubah bentuk menjadi pedang.

Setengah jam berlalu. Seratus pedang.

Satu jam. Lima ratus pedang.

Lao Hui dari gazebo hanya diam sesekali mengangguk kecil. Tidak ada komentar, tidak ada koreksi. Ia membiarkan Lin Tian menemukan jalannya sendiri.

Dua jam setelah latihan dimulai, Lin Tian berhasil menciptakan seribu pedang. Tubuhnya berkeringat, napasnya sedikit tersengal karena menguras Qi dalam jumlah besar, tapi ia tersenyum lebar. Ia menunjuk ke arah bukit yang sama yang dihujam Lao Hui tadi.

"Pergi!" teriak Lin Tian.

Seribu pedang cahaya melesat. Suara desingan menusuk udara terdengar seperti kawanan lebah yang marah. Pedang pedang itu menghujam bukit dengan akurasi yang cukup baik, tidak ada yang melesat ke arah lain.

BRAKK! BRAKK! BRAKK!

Kali ini berbeda. Bukit itu tidak hanya berlubang. Ujung bukit setinggi sepuluh meter ambruk ke samping, tanah dan batu batu besar berguling ke bawah. Ketika debu menghilang, tampak bahwa bagian atas bukit itu benar-benar hancur. Tidak rata dengan tanah, tapi hancur cukup parah sehingga bentuk bukit berubah.

Lin Tian tersenyum lebar, puas dengan hasil latihan pertamanya.

Tiba tiba kakinya lemas, seluruh energi spiritual di tubuhnya habis terkuras. Lin Tian terhuyung lalu hampir tersungkur ke tanah. Sebuah kekuatan tak terlihat menahannya di udara, membuatnya melayang perlahan menuju pohon besar di dekat gazebo.

Lao Hui menggerakkan jarinya, dan tubuh Lin Tian disandarkan dengan lembut ke batang pohon. Kendi air minum yang tergeletak di meja gazebo ikut melayang lalu terbang ke arah Lin Tian.

Lin Tian menangkap kendi itu, membuka tutupnya, lalu meminum airnya dengan lahap. Setelah setengah kendi habis, ia menghela napas lega.

"Terima kasih, Pak Tua."

Lao Hui menggelengkan kepala. "Kau terlalu memaksakan diri. Seribu pedang dalam sekali serangan sudah bagus untuk ukuran Pendirian Fondasi menengah. Tapi kau harus belajar mengatur konsumsi Qi. Jika tidak... satu serangan dan kau akan kehabisan energi. Itu bunuh diri di medan pertempuran."

Lin Tian mengangguk. "Aku akan belajar mengontrolnya."

Istirahat pun berlangsung cukup lama. Lao Hui memanfaatkan waktu ini untuk memberikan arahan, berbicara tentang cara terbaik belajar teknik Pedang Seribu Cahaya dengan cepat. Ia menjelaskan bahwa teknik ini akan meningkat seiring naiknya tingkat kultivasi penggunanya. Saat Lin Tian mencapai Inti Emas, pedang yang tercipta bisa mencapai lima ribu. Saat Jiwa Awal, bisa mencapai sepuluh ribu atau lebih tergantung pemahaman Dao masing masing.

Setelah Qi Lin Tian pulih, latihan dilanjutkan.

Hari demi hari berlalu.

Lin Tian berlatih teknik yang sama setiap sore, tidak pernah berpindah ke teknik baru sebelum ia benar benar menguasai yang lama.

Lao Hui tidak pernah terburu buru mengajarkan hal berikutnya. Ia hanya duduk di gazebo, minum teh, sesekali memberikan komentar atau koreksi kecil.

Tepat seminggu berlalu. Lin Tian sudah menguasai Pedang Seribu Cahaya dengan baik. Ia bisa menciptakan seribu pedang dalam waktu tiga napas, dan ia tidak lagi kehabisan Qi setelah satu serangan. Tubuhnya sudah terbiasa dengan konsumsi energi yang dibutuhkan. Namun ia sadar bahwa teknik ini belum sempurna, dan masih ada yang kurang. Mungkin perlu waktu berbulan bulan atau bahkan bertahun tahun, untuk mencapai tingkat di mana pedang pedang itu bisa bergerak dengan pikirannya, tanpa perlu membentuk segel tangan terlebih dahulu.

Lao Hui kemudian memberikan gulungan kedua. Gulungan itu terbuat dari kain sutra berwarna krem, ujung ujungnya sudah sedikit robek karena usia. Lin Tian membuka gulungan itu perlahan lalu membaca judul di bagian atas.

"Teknik Perisai Tubuh Emas."

Ia membaca lebih lanjut. Teknik ini adalah teknik pertahanan murni. Pengguna mengubah energi spiritual menjadi lapisan cahaya berwarna emas yang membungkus seluruh tubuh. Lapisan ini sangat keras dan mampu menahan serangan fisik maupun serangan yang menyerang jiwa. Dalam kondisi aktif, tubuh pengguna menjadi kebal terhadap serangan dari lawan dengan tingkat yang sama. Untuk serangan dari tingkat yang lebih tinggi, ketahanannya tergantung pada seberapa kuat fondasi dan pemahaman Dao pengguna. Beberapa kultivator jenius mampu menahan serangan dari satu atau dua tahap di atas mereka, selama mereka memiliki cukup energi spiritual.

Lin Tian mempelajari gulungan itu dengan saksama. Ia membaca setiap baris, menghafal setiap instruksi, lalu menutup matanya untuk membayangkan bagaimana rasanya memiliki perisai emas di sekujur tubuh.

Latihan dimulai. Pada hari pertama, Lin Tian hanya bisa menciptakan lapisan tipis di punggung tangannya. Warna emasnya pucat, hampir tidak terlihat.

Pada hari ketiga, lapisan itu sudah menutupi kedua lengan bawahnya.

Pada hari kelima, seluruh lengan dan dadanya tertutup.

Pada hari kedelapan tubuhnya sudah seluruhnya tertutup perisai emas, tapi warnanya masih agak pudar dan cepat habis hanya dalam lima menit.

Dua bulan berlalu sejak Lin Tian mulai belajar di bawah bimbingan Lao Hui. Selama waktu itu ia berlatih tanpa henti, bergantian antara Pedang Seribu Cahaya dan Perisai Tubuh Emas. Kedua teknik itu sudah ia kuasai dengan baik dan sempurna.

Perisai Emasnya sekarang berwarna terang seperti emas cair, dan ia bisa mempertahankannya selama satu jam penuh tanpa kehabisan Qi.

Pedang Seribu Cahaya bisa ia luncurkan dalam satu napas, dan jumlah pedangnya sudah mencapai dua ribu dua ratus, melebihi target awal yang ditetapkan Lao Hui.

Hubungan mereka pun menjadi semakin dekat. Lin Tian yang awalnya hanya memanggil Pak Tua, secara perlahan mulai memanggil Guru. Bukan karena formalitas, tapi karena rasa hormat yang tumbuh dari dalam hatinya. Lao Hui tidak pernah memintanya untuk berganti panggilan, tapi setiap kali Lin Tian menyebut kata Guru, mata pria tua itu tampak lebih bersinar dari biasanya.

Suatu sore setelah latihan selesai, Lao Hui duduk di gazebo dengan Lin Tian di sampingnya. Kendi teh sudah disiapkan, angin sore berhembus pelan membawa aroma bunga dari kejauhan.

Lao Hui menuang teh ke dua cangkir, satu untuk dirinya, satu untuk Lin Tian.

"Sebulan lagi tahun baru akan datang," ucap Lao Hui sambil menyeruput tehnya. "Kau mau hadiah apa dari guru?"

Lin Tian terdiam. Belum pernah ada yang menanyakan hal ini kepadanya. Ibunya tidak pernah bertanya soal hadiah, kakek Han dulu juga tidak. Mereka hanya memberi apa yang mereka anggap baik untuknya tanpa bertanya apa yang ia inginkan.

"Aku tidak tahu, Guru," jawab Lin Tian jujur. "Aku belum pernah memikirkan tentang hadiah."

Lao Hui tertawa kecil. Suara tawanya pelan tapi hangat. "Maka pikirkanlah. Kau masih punya sebulan. Saat tahun baru tiba, beri tahu aku jawabanmu."

Lin Tian mengangguk.

1
Bagas Jionju
👍👍👍👍👍🙏🙏🙏🙏🙏🙏👍
Bagas Jionju
👍👍👍👍👍🙏🙏🙏🙏🙏
Bagas Jionju
👍👍👍👍🙏🙏🙏🙏🙏
Bagas Jionju
👍👍👍👍🙏🙏🙏
Bagas Jionju
👍👍👍👍🙏🙏🙏🙏🙏
Bagas Jionju
👍👍👍👍👍🙏🙏🙏🙏🙏
Dragon🐉 gate🐉
perumpamaan macam apa ini🤣🤣🤣🤣🤣
Dragon🐉 gate🐉
heh! sesama kuntet dilarang body shaming 🤣
Dragon🐉 gate🐉
gw kok bayangin pterodaktil🤔
xi tole
saya lupa
xi tole
saya kaget
🧚Shi Yin 🧚
Eyu.. Lin Han pernah menyebutnya 🤔🤔
🧚Shi Yin 🧚
jangan2 pemimpin kegelapan itu Lin Han 🤔🤔🤔
🧚Shi Yin 🧚
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🧚Shi Yin 🧚
😎😎😎😎😎😎
🔵༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Hadir..
Aiby Kushina Uzumaki
kalau di bandung mah jigong itu jejak iler kalau bangun tidur 😅🤣🤣🤣
YAKARO: Waduh🤣🤣🤣
Anggota nya tian ada yang jigongan berarti/Facepalm/
total 1 replies
🧚Shi Yin 🧚
udah kehabisan nama ya Thor 😁😁
🧚Shi Yin 🧚: hehe kirain arti yg lain, aroma terapi 🤣🤣
total 2 replies
🧚Shi Yin 🧚
panggillah dia bibi Mu Wan, dia tu seniornya ayahmu 😁
YAKARO: Adik Tian gak tau itu kak🤣
total 1 replies
🧚Shi Yin 🧚
tiap kali baca lavender saya teringat obat nyamuk 🤣🤣 lavender salah satu tanaman pengusir nyamuk 😁
YAKARO: Wkwkwk. Warnanya ungu lavender soalnya😆
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!