NovelToon NovelToon
All About Love (Love Story)

All About Love (Love Story)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Terlarang / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: wanudya dahayu

Dari: Renata]
_Malam, Pak. Ini CV calon asisten pengganti saya. Anaknya pinter, cekatan, dan bisa langsung mulai Senin depan. Namanya Harumi Nara. Saya jamin, Bapak nggak akan kecewa.

Devan mengangkat satu alisnya, merasa tidak asing dengan nama yang disebutkan oleh Renata. Tanpa ekspektasi apa pun, ia mengklik lampiran file dan kembali memindahkan pandangannya ke layar laptop.

Detik berikutnya, napasnya tercekat.

Matanya terbelalak, menatap foto 3x4 di pojok kanan CV itu. Jantungnya yang lima tahun ini berdetak datar seperti mesin yang teratur ritmenya, tiba-tiba bergejolak hebat menghantam sampai tulang rusuknya keras-keras.

Tangannya mengepal di atas meja, buku-buku jarinya memutih. Dia mengerjap, sekali, dua kali, mencoba meyakinkan bahwa matanya tidak salah lihat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wanudya dahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

you're mine 10

Sementara itu.

Pintu itu tertutup di belakangnya dengan suara yang pelan, tapi bagi Nara, bunyinya seperti palu hakim yang mengetuk vonis.

Ia berjalan tanpa arah di koridor yang tiba-tiba terasa terlalu panjang, terlalu dingin. Punggungnya tegak karena harga diri, tapi dadanya runtuh. Setiap langkah menjauh dari Devan rasanya seperti menguliti jantungnya sendiri.

_Salah_. Kata itu berputar-putar di kepalanya, menyayat. Salah karena Nara tidak seharusnya datang di saat Devan telah menjadi tunangan perempuan lain. Salah karena dia masih, dan selalu, merindukan laki-laki itu. Salah karena membiarkan Devan menciumnya, meski hanya sesaat, tapi sesaat itu cukup untuk membuatnya merasa hidup lagi setelah lima tahun menjadi mayat hidup yang berjalan.

Tangannya meremas dada kiri, berharap bisa menekan keluar rasa sakit itu. Tapi yang keluar justru air mata. Jatuh tanpa suara. Deras. Seperti mengakui dosa.

_Dia tunangan orang, Ra. Kamu racun bagi dia, bagi Nathan, bagi semua orang._ Suara Sandra tadi menjadi gema yang memekakkan telinga.

Tapi Tuhan... kalau memang dia racun, kenapa takdir membawanya kembali ke sini? Untuk apa?

Ia bersandar di dinding yang dingin. Lututnya lemas. Di satu sisi ia ingin lari sejauh mungkin, menghilang, mengubur dirinya seperti yang Sandra minta. Tapi di sisi lain, seluruh jiwanya berteriak ingin pulang. Ke pelukan yang tadi melindunginya. Ke punggung yang tadi menjadi bentengnya.

Nara menutup mulutnya, menahan isak. Karena untuk pertama kalinya setelah lima tahun, ia sadar... rasa bersalahnya tidak pernah bisa membunuh cintanya. Dan itu yang paling menyakitkan.

---

*Sore hari berikutnya.*

Gorden berbahan beludru berwarna champagne ditutup rapat. Di dalam ruangan hanya ada Mama, Sandra, dan segelas teh yang sudah mendingin.

Sandra duduk dengan anggun di sofa, jemarinya membelai renda gaun pengantin yang tersampir di manekin. "Tante," ujarnya perlahan, nyaris berbisik. "Aku sudah tidak bisa menunggu lagi. Secepatnya kita harus membereskan Nara."

Mama yang semula tengah memperhatikan daftar tamu undangan seketika terdiam. Nama itu selalu menjadi nama keramat yang membuat hatinya terasa diremas setiap kali disebut.

Sandra tidak menunggu dipersilakan untuk melanjutkan. Ia pandai membaca situasi. "Kali ini perempuan itu harus benar-benar pergi. Menurut Tante, kita harus mulai dari mana dulu?"

Mama meletakkan kertas undangan. Jemarinya bergetar tipis, namun raut wajahnya tetap tenang dan terkendali. "Sandra, Tante tidak akan membiarkan dia kembali bersama Devan. Pernikahan kalian harus tetap lanjut. Tante yakin Devan tidak akan membantah Tante."

"Aku mengerti, tapi aku takut, Tante." Sandra bergeser, lalu menggenggam tangan Mama. Hangat.

Mata Mama mulai memerah. Dia sudah cukup menahan amarah yang selama lima tahun ini dia pendam sendiri. Sudah sejauh ini dia berusaha menjauhkan Nara dari kehidupan kedua putranya, dan dia hampir berhasil mempertahankan kedua putranya tetap hidup baik-baik saja tanpa Nara. Maka kali ini pun dia tidak akan membiarkan kehadiran Nara merusak segalanya.

"Tetapi, Tante..." Sandra menggigit bibirnya, seolah ragu. "Karena Nara, Devan seperti kehilangan kendali kemarin. Dia bahkan membentakku di kantor kemarin. Dan itu hanya demi perempuan itu, Tante."

Kalimat "demi Nara" itu bagaikan sembilu. Menancap tepat di dada Mama. Kenapa perempuan itu selalu menjadi pemenang di hati anak laki-lakinya?

"Tante sudah meminta Devan untuk memecat Nara," bisik Mama. "Tetapi anak itu... dia keras kepala. Persis seperti papanya."

"Devan tidak akan mungkin memecat Nara, Tante," potong Sandra lembut. "Tante tahu sendiri, kan? Kalau Devan sudah menyukai sesuatu, dia tidak akan peduli pada apa pun." Ia berhenti sejenak, memberi jeda. "Karena itu kita tidak dapat membereskan Nara melalui Devan. Kita harus melalui... Nathan."

Mama menatap Sandra. Dahinya berkerut. "Maksud kamu?"

"Kita harus membuat Nara menjauh dengan sendirinya, dengan Nathan sebagai senjatanya," suara Sandra merendah, terdengar berat. "Kita gunakan kondisi Nathan lima tahun lalu untuk membuat Nara berpikir ulang. Jika dia tetap keras kepala ingin bersama Devan, aku yakin Nara tidak ingin hal yang sama terulang lagi pada Nathan. Dan kita bisa memanfaatkan itu."

Mama menutup mulutnya. Dunia terasa berputar. Ingatan tentang Nathan lima tahun lalu membuat dadanya seperti ditimpa benda yang sangat berat. Itu hal yang paling menyakitkan, dan demi apa pun Mama tidak akan membiarkan hal yang sama terulang lagi.

Mama menggeleng kuat-kuat. Air matanya jatuh. "Jangan... jangan, San. Tante tidak sanggup..."

"Karena itu kita harus bertindak sekarang, Tante. Sebelum terlambat." Sandra menarik napas. "Kita tidak perlu memecat Nara. Tidak perlu memfitnah. Kita hanya perlu... memberitahukan Nara kenyataan yang sesungguhnya."

"Kenyataan yang sesungguhnya apa?"

"Bahwa Nathan masih belum pulih, Tante. Bahwa Nara masih menjadi obsesinya. Bahwa Nara adalah luka bagi Nathan." Sandra menggenggam tangan Mama semakin erat. "Jika Nara masih punya hati dan pikiran, dia pasti akan pergi. Dengan sukarela. Tanpa kita usir. Tanpa Devan dapat menyalahkan kita."

Sandra menggenggam tangan Mama semakin erat, mencoba menyalurkan energi yang kuat. "Kita hanya berbicara. Aku dan Tante menemui Nara. Kita ceritakan kondisi Nathan. Bukankah dia pergi lima tahun yang lalu karena tidak ingin Nathan terluka? Dia pasti akan pergi lagi sekarang, dengan alasan yang sama."

Hening. Hanya suara detik jam dinding yang terdengar.

Akhirnya Mama mengangguk. Pelan. Satu kali. Namun itu sudah cukup.

"Di mana dia tinggal?" tanya Mama akhirnya.

"Saya sudah mengetahui alamat rumahnya, Tante," jawab Sandra. Senyumnya lembut. "Besok pagi kita ke sana. Dan jangan sampai Devan tahu."

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!