Dante Valtieri, pemimpin organisasi mafia terkuat di Eropa, dikenal dengan julukan "Tangan Besi". Ia tidak pernah ragu menghancurkan siapa saja yang menghalangi jalannya, dan namanya saja sudah cukup membuat orang bergidik ngeri. Namun, di balik sifatnya yang kejam, Dante memiliki tujuan tersembunyi, menyatukan seluruh kelompok kekuasaan di bawah satu payung demi membalas dendam atas kematian keluarganya.
Rencana itu terancam ketika ia terpaksa menyetujui pernikahan perjanjian dengan Elara Sterling, putri tunggal pemimpin kelompok lawan yang dihormati namun terjepit kesulitan keuangan. Elara, seorang wanita cerdas, berpendidikan tinggi, dan memiliki prinsip yang teguh, sama sekali tidak menginginkan pernikahan ini. Ia menganggap Dante hanyalah seorang penjahat yang tidak memiliki hati.
Ketika bahaya mengancam nyawa Elara akibat persaingan kekuasaan, Dante harus memilih antara ambisi balas dendamnya atau melindungi wanita yang mulai ia cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ani.hendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KONSEKUENSI
💌 PERNIKAHAN SANG MAFIA 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
Sinar matahari pagi menyorot masuk melalui celah tirai jendela di ruang kerja utama, menyinari debu-debu halus yang melayang di udara. Suasana di dalam ruangan itu terasa lebih sepi dari biasanya, namun kesunyian itu menyiratkan ketegangan yang tersembunyi. Sudah seminggu berlalu sejak Dante mengumumkan rencananya untuk mengubah haluan organisasi. Di permukaan, segalanya tampak berjalan sebagaimana mestinya, namun di dalam dinding kediaman maupun di dalam lingkaran bisnis yang dijalankannya, bisik-bisik dan perbincangan diam-diam mulai terdengar.
Dante duduk di kursi besarnya, di hadapannya tersebar berbagai dokumen dan berkas yang berisi rencana transisi bisnis. Ia tampak fokus, namun kerutan di dahinya menunjukkan bahwa ia menyadari adanya pergeseran suasana yang tidak menyenangkan. Berita tentang perubahan drastis ini menyebar sangat cepat, tidak hanya di kalangan internal, tetapi juga di telinga rekanan dan kompetitor bisnisnya.
Pintu ruang kerja terbuka, dan Pak Herman masuk dengan wajah yang tampak lebih murung dari biasanya. Ia berjalan mendekati meja kerja Dante, meletakkan seberkas surat dan laporan di atas meja dengan ragu.
"Ada apa, Pak Herman? Ada kabar terbaru?" tanya Dante langsung, menatap wajah orang tua itu.
Pak Herman menghela napas panjang, lalu duduk di kursi di hadapan Dante. "Berita buruk, Tuan. Beberapa mitra bisnis utama kita yang selama ini bekerja sama di jalur khusus mulai menarik diri. Mereka menolak untuk terlibat jika kita beralih ke bisnis yang lebih bersih. Mereka menganggap itu akan merugikan keuntungan mereka yang selama ini besar."
Wajah Dante sedikit mengerdil, namun ia tidak terlalu terkejut. Ia sudah menduga bahwa hal ini akan terjadi. "Jadi, mereka memilih keuntungan jangka pendek daripada keselamatan jangka panjang? Biarkan saja. Kita bisa mencari mitra baru yang lebih sesuai dengan visi kita ke depan."
"Masalahnya bukan hanya itu, Tuan," sambung Pak Herman dengan wajah yang semakin khawatir. "Beberapa di antara mereka tidak hanya sekadar menarik diri. Mereka menyuarakan ketidakpuasan dan kemarahan mereka. Bahkan, ada indikasi bahwa mereka mulai mendekati kompetitor kita atau pihak yang tidak bersahabat dengan kita. Mereka menganggap perubahan Tuan sebagai pengkhianatan terhadap tradisi dan kesepakatan yang sudah berlangsung lama."
Dante mengetuk-ngetuk jarinya di atas meja, wajahnya menjadi serius. "Jadi, mereka berbalik menyerang kita sebelum kita sempat membuktikan bahwa jalan yang kita pilih ini lebih baik? Baiklah, kita harus bersiap menghadapi kemungkinan terburuk. Jangan lengah, perketat pengawasan terhadap aset-aset kita dan orang-orang yang kita percaya."
"Baik, Tuan. Selain itu, ada satu lagi hal yang mengganggu. Beberapa petinggi di dalam organisasi kita sendiri ada yang tidak setuju dengan keputusan Tuan. Mereka merasa hak dan keuntungan mereka terampas. Saya khawatir, jika hal ini dibiarkan, akan terjadi perpecahan di dalam barisan kita sendiri," kata Pak Herman dengan suara yang direndahkan, matanya menatap sekeliling seolah takut ada yang menguping.
Mendengar itu, wajah Dante menjadi semakin muram. Musuh dari luar masih bisa ia hadapi, tetapi musuh dari dalam adalah bahaya yang jauh lebih besar dan sulit ditebak. "Siapa saja mereka? Apakah kau tahu siapa pemimpin kelompok yang menentang ini?"
"Belum pasti, Tuan. Mereka bergerak diam-diam. Tapi ada nama-nama yang mulai disebut-sebut, seperti tuan Rudolf dan tuan Thomson. Mereka adalah orang-orang yang sudah lama di sini, tetapi fokus mereka selalu pada keuntungan materi semata," jawab Pak Herman menjelaskan.
Dante terdiam sejenak, mengingat sosok kedua orang yang disebutkan Pak Herman itu. Mereka memang merupakan tokoh yang memiliki pengaruh di dalam organisasi, tetapi visi mereka selama ini berbeda dengan apa yang diinginkannya sekarang. "Baik, saya akan mengawasi mereka. Sementara itu, Pak Herman, saya harap Bapak tetap berdiri di sisi saya. Saya membutuhkan dukungan orang-orang yang saya percaya saat ini."
Pak Herman mengangguk dengan wajah yang tulus. "Tentu saja, Tuan. Saya sudah berjanji pada Ayah Tuan untuk membantu Tuan. Dan saya percaya, keputusan Tuan ini adalah yang terbaik untuk masa depan kita. Saya akan berusaha sebisa mungkin untuk meredam situasi di dalam."
Setelah Pak Herman keluar dari ruangan, Dante berdiri dan berjalan menghadap jendela. Ia menatap pemandangan kota yang sibuk di kejauhan. Ternyata, jalan untuk mengubah nasib tidak semudah yang ia bayangkan. Banyak rintangan dan cobaan yang menghadang, baik dari dalam maupun luar. Namun, ia tidak boleh mundur. Ia harus tetap berjalan demi keselamatan Elara dan masa depan mereka.
▪️▪️▪️▪️▪️
Di sisi lain, di sebuah kedai kopi yang terletak agak jauh dari pusat kota, dua orang pria duduk di sudut yang agak gelap. Mereka berbisik-bisik dengan wajah yang serius dan penuh amarah. Mereka adalah Rudolf dan Thomson, dua orang petinggi yang disebutkan oleh Pak Herman.
"Kamu dengar kabar terbaru, Rudolf? Tuan Muda kita itu benar-benar gila. Dia mau membuang bisnis yang menguntungkan itu demi bisnis yang kata dia bersih? Itu semua cuma omong kosong!" ujar Thomson dengan nada geram.
Rudolf membenarkan posisi kacamatanya, wajahnya menyeringai sinis. "Benar, Thomson. Kita sudah bekerja keras membangun bisnis ini selama bertahun-tahun, dan sekarang dia mau mengubahnya sesuka hati? Kita tidak boleh diam saja. Kita harus melawan."
"Tapi bagaimana caranya? Dia adalah pemimpin utama di sana. Kita tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk melawannya secara terang-terangan," kata Thomson dengan nada ragu.
Rudolf mendekatkan wajahnya, berbisik lebih pelan. "Kita tidak perlu melawannya sendiri. Bukankah kita tahu ada pihak lain yang sangat menginginkan kekuasaan Dante? Bahkan orang yang dulunya kita anggap musuh sekarang bisa jadi sekutu kita."
"Maksudmu... bekerja sama dengan orang-orang yang tidak bersahabat dengan kita? Itu berbahaya, Rudolf. Jika sampai ketahuan, kita bisa dihukum mati," jawab Thomson dengan wajah ketakutan.
Rudolf tertawa kecil. "Jangan khawatir. Kita bisa menyusun rencana dengan matang. Kita hanya perlu memberikan sedikit informasi atau bantuan kecil saja. Jika rencana kita berhasil, Dante akan tersingkir dan kita bisa mengambil alih kekuasaan. Jika gagal, kita bisa menyangkalnya. Bukankah itu menguntungkan?"
Wajah Thomson berubah serius. Ia tergoda dengan tawaran Rudolf, meskipun ia tahu itu adalah jalan yang berbahaya dan penuh dosa. "Baiklah, aku setuju. Tapi kita harus berhati-hati. Jangan sampai kita yang menjadi korbannya."
Di kediaman utama, Elara duduk di ruang tengah sambil membaca buku. Ia berusaha menyibukkan diri untuk melupakan ketakutan dan kekhawatirannya. Namun, ia menyadari bahwa ada perubahan suasana yang signifikan di dalam rumah itu. Para pekerja dan penjaga tampak lebih tegang dan saling mencurigai. Beberapa wajah yang dulu ramah sekarang menjadi dingin dan menjauh.
Pintu terbuka dan Dante masuk dengan wajah yang terlihat sangat lelah. Ia menghampiri Elara dan duduk di sebelahnya.
"Kamu sudah pulang? Bagaimana situasinya di luar?" tanya Elara dengan khawatir.
Dante tersenyum tipis, berusaha menyembunyikan beban yang di pikirannya. "Sedang dalam proses. Banyak hal yang harus diurus dan diselesaikan. Tapi kamu jangan khawatir, aku bisa mengatasinya."
"Jangan bohong padaku, Dante. Aku tahu ada sesuatu yang tidak beres. Suasana di sini terasa berbeda. Dan aku dengar ada beberapa orang yang tidak setuju dengan keputusanmu. Apa itu benar?" tanya Elara menatap mata Dante.
Dante menghela napas, akhirnya mengangguk. "Benar. Ada beberapa pihak yang merasa dirugikan dan tidak senang dengan perubahan ini. Baik dari dalam maupun dari luar. Tapi aku tidak akan mundur. Aku akan menyelesaikan ini semua."
Elara memegang tangan Dante, memberikan semangat. "Aku tahu kamu pasti bisa, Dante. Tapi kamu harus hati-hati. Jangan sampai orang yang tidak bertanggung jawab memanfaatkan situasi ini untuk mencelakaimu. Dan ingat, aku selalu ada di sini untuk mendukungmu."
Dante memegang erat tangan Elara. Ia bersyukur memiliki Elara di sisinya saat menghadapi masa-masa sulit ini. "Terima kasih, Elara. Berkat dukunganmu, aku merasa lebih kuat. Kita akan menghadapi ini bersama-sama. Dan aku berjanji, kita akan mencapai tujuan kita."
Meskipun mereka berusaha untuk tetap optimis, mereka berdua tahu bahwa perjalanan yang menanti mereka di depan akan semakin terjal dan berbahaya. Musuh dari dalam yang menyamar sebagai teman, ditambah dengan ancaman dari luar yang masih mengintai, membuat situasi semakin rumit. Namun, tekad Dante untuk berubah dan memberikan masa depan yang lebih baik bagi Elara dan orang-orang di sekitarnya tetap menyala, berharap di tengah kegelapan ini mereka bisa menemukan jalan menuju cahaya.
BERSAMBUNG
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini novel ke 14 aku 😍
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^