Varendra Malik Atmadja, seorang arsitek muda yang tampan, ramah, dan sangat telaten, baru saja pindah ke Blok C-17. Sebagai penganut paham "tetangga adalah saudara", Malik bertekad untuk menjalin hubungan baik dengan seluruh penghuni kompleks.
Namun, rencananya membentur tembok tinggi setinggi pagar Blok C-18.
Di sanalah tinggal Vanya Ayudia Paramitha, seorang Game Developer yang lebih suka berinteraksi dengan baris kode daripada manusia. Baginya, ketenangan adalah segalanya, dan tetangga baru yang terlalu ramah seperti Malik adalah gangguan sinyal bagi kedamaian hidupnya.
Awalnya, Malik hanya berniat memberikan camilan sebagai tanda perkenalan. Tapi, setiap sapaan Malik dibalas dengan debuman pintu, dan setiap perhatiannya dianggap sebagai gangguan oleh Ayu.
Lalu, bagaimana jika sebuah paket yang salah alamat dan aroma masakan dari dapur Malik perlahan mulai meruntuhkan pertahanan Ayu? Bisakah Malik merancang fondasi cinta di hati gadis yang bahkan enggan membuka pintu rumahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dalgichigo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Prank Berujung Bahagia
Suasana di studio Ara yang biasanya dingin dan penuh peralatan teknis, mendadak terasa pengap bagi Malik. Hari itu, Adit dengan segala ide liarnya, berhasil menjalankan rencana "Operasi Mak Comblang" yang sudah ia susun rapi di kepalanya.
Adit awalnya mengirim pesan ke Malik, katanya Ara butuh bantuan darurat untuk membetulkan instalasi kabel mixer-nya yang konslet. Di saat yang bersamaan, Ara membujuk Ayu untuk mampir ke studio Ara dengan alasan ada file game baru yang harus di-copy langsung.
Begitu Malik dan Ayu masuk ke ruang kedap suara Ara, Adit yang berada di balik pintu langsung menarik tuas kunci dari luar. KLIK.
"Woy Dit! Buka! Apa-apaan ini?!" seru Malik sambil menggedor pintu.
"Sori lik, sori Mbak Ayu! Pintunya lagi 'rusak' nih, butuh waktu satu jam buat benerinnya. Enjoy your time, guys!" teriak Adit sambil lari terbirit-birit bareng Vino.
Sekarang, di dalam ruangan itu, hanya ada Malik dan Ayu. Suasana yang tadinya bising mendadak senyap total karena studio Ara memang didesain untuk meredam suara hingga 0 dB.
Malik berdiri mematung di dekat pintu, sementara Ayu duduk di kursi gaming Ara dengan tangan yang meremas ujung kaosnya. Detak jantung mereka masing-masing terdengar sangat keras di telinga mereka sendiri.
"Mbak Ayu... maaf ya. Si Adit emang otaknya lagi gesrek," ucap Malik memecah keheningan. Suaranya terdengar sangat berat di ruangan yang sunyi itu.
"I-iya, Mas... nggak apa-apa," jawab Ayu sangat pelan, wajahnya sudah merah padam sampai ke leher. Ia menunduk dalam-dalam, pura-pura sangat tertarik dengan susunan kabel di lantai.
Karena tidak tahan dengan suasana kaku, Malik mencoba melakukan sesuatu. Ia berjongkok di dekat kaki Ayu untuk mengecek kabel yang tadi dibilang rusak.
"Kabelnya nggak ada yang putus kok, Mbak," ucap Malik. Saat ia menoleh ke atas, wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari tangan Ayu yang sedang memegang meja.
Ayu refleks menarik tangannya, membuat sebuah botol minum di meja terjatuh. Malik dengan sigap menangkap botol itu, tapi karena jarak yang terlalu dekat, mereka malah saling bertatapan selama beberapa detik.
Ayu merasa oksigen di studio Ara mendadak habis. Sedangkan Malik, untuk pertama kalinya, melihat betapa indahnya mata Ayu tanpa penghalang layar monitor.
Sementara itu, di luar studio, grup WhatsApp sudah meledak.
[Grup WA Warga Guweh]
Adit: "LAPORAN PANDANGAN MATA! Dua insan sedang terjebak dalam ruang hampa udara. @Malik dan Mbak @Ayu sedang menjalani masa karantina asmara!" 🕺✨
Vino: "Hebat kau Adit! Kupastikan mereka keluar dari situ minimal sudah panggil 'Sayang'! Aku sudah siap dengan kamera zoom 600mm kalau mereka buka pintu!"
Sarah: "ADIT! Lu gila ya?! Kasihan kak Ayu, anaknya pasti panik banget itu di dalem!"
Hani: "Tapi jujur gue penasaran... di ruang kedap suara gitu, Malik bakal ngomong apa ya? Apa dia bakal ngutip puisi atau malah bahas struktur bangunan?!"
Pak RT: "ADIT! Buka pintunya! Jangan kelamaan, nanti mereka pingsan kekurangan oksigen! Tapi... ya sudah, lima menit lagi baru dibuka ya." 😎
Di dalam studio, Malik akhirnya duduk di lantai, tidak jauh dari kursi Ayu. Ia mulai bercerita tentang pekerjaan kemarin, mencoba mencairkan suasana. Ayu, meski masih irit bicara, mulai berani menanggapi dengan senyum tipis.
"Mbak Ayu... soal undangan kemarin," Malik menjeda kalimatnya, membuat Ayu menoleh. "Kalau saya minta Mbak jadi 'partner' saya ke sana... Mbak keberatan nggak?"
Ayu membeku. Pertanyaan itu lebih mengejutkan daripada suara ledakan speaker. Belum sempat Ayu menjawab, pintu studio tiba-tiba terbuka lebar.
"WAKTUNYA HABIS!" teriak Adit sambil nyengir lebar.
Ayu langsung lari keluar melewati Adit tanpa berkata-kata, sementara Malik berdiri dengan wajah yang sulit diartikan antara ingin menghajar Adit atau ingin berterima kasih karena jebakan ini membuatnya berani bertanya.
Griya Visual hari itu benar-benar gempar. Malik sudah melempar umpan, sekarang tinggal menunggu apakah Ayu akan memberikan jawabannya lewat chat atau kembali sembunyi di balik gorden
Setelah berhasil melesat keluar dari studio Ara, Ayu langsung mengunci pintu rumahnya rapat-rapat. Ia bersandar di balik pintu, jantungnya berdegup begitu kencang sampai ia merasa suaranya bergema di seluruh ruangan yang sepi itu.
"Partner? Kondangan?" gumam Ayu dengan suara bergetar.
Ayu berjalan menuju kamarnya dengan langkah limbung. Ia melempar tubuhnya ke atas kasur, menutupi wajahnya dengan bantal, lalu berguling ke kanan dan ke kiri. Ada perasaan hangat yang menggelitik di perutnya sesuatu yang belum pernah ia rasakan selama ia menjadi "pertapa" di Griya Visual. Ia kesal karena tidak bisa mengendalikan wajahnya yang panas, tapi ia juga bingung kenapa pertanyaan Malik terus berputar-putar di kepalanya seperti lag pada koneksi internet yang buruk.
Di tengah rasa bingungnya, Ayu teringat satu hal ialah Ara. Ara adalah satu-satunya orang yang ia percayai masuk ke dunianya, dan sekarang ia sadar bahwa Ara adalah "otak" di balik kunci pintu tadi.
[Chat Pribadi Ara]
Ayu: Ra... tega banget.
Ayu: Lu tau gue nggak suka diginiin.
Ara: Sori, Yu. Adit yang maksa. Tapi jujur, lu butuh didorong dikit. Kalau nggak digituin, lu ama Malik bakal jadi tetangga yang cuma saling sapa lewat jemuran sampe tahun depan.
Ayu: Tapi nggak dikunci juga! Aku tadi hampir nggak bisa napas! 😡
Ara: Nggak bisa napas gara-gara AC mati, atau gara-gara…..? Tadi gue liat Malik mukanya juga kayak udang rebus pas keluar. Yu, he likes you. Jawab aja jujur.
Ayu melempar ponselnya ke ujung kasur. Ia menarik selimut sampai menutupi kepala. "Ara pengkhianat!" umpatnya pelan, meski di dalam hati ia tahu Ara melakukannya karena peduli.
Malam harinya, Ayu mencoba kembali ke rutinitasnya—bermain game. Namun, konsentrasinya hancur total. Ia berkali-kali kalah karena jarinya tidak sinkron dengan pikirannya. Setiap kali ia melihat karakter pria di game, ia malah teringat tatapan Malik di studio tadi.
Ayu beranjak ke jendela, mengintip sedikit lewat celah gorden. Di seberang, lampu studio Malik masih menyala. Ia melihat bayangan Malik yang sedang duduk di depan meja gambar, tampak sedang melamun juga.
Selama ini, standar pria di mata Ayu terbentuk dari piksel dan barisan kode. Ia terbiasa mengagumi karakter game yang sempurna seperti ksatria yang tak pernah salah bicara, karakter RPG dengan dialog yang selalu pas, atau sosok misterius yang punya kekuatan pelindung absolut. Di dunia digital, semuanya terukur dan terprediksi.
Namun, Malik? Malik adalah anomali yang nyata.
Malik bukan pria yang keluar dari karakter game-nya. Dia tidak punya kekuatan sihir. Dia hanyalah seorang arsitek yang kadang terlalu kaku dan sering digoda oleh teman-temannya.
"Dia nggak sempurna," pikir Ayu sambil memeluk lututnya di atas kursi gaming. "Tapi dia nyata. Dia punya aroma kopi, dia bisa berkeringat, dan dia bisa merasa malu."
Bagi Ayu, Malik adalah sebuah glitch dalam sistem hidupnya yang selama ini tertutup rapat. Jika karakter game adalah pelarian, maka Malik adalah alasan untuk kembali ke dunia nyata.
Ayu teringat saat Malik bertanya soal "partner" tadi. Di dalam game, ada tombol pilihan [YES] atau [NO]. Tapi di dunia nyata, tidak semudah itu. Dadanya sesak, tangannya dingin, dan pikirannya kacau hal-hal yang tidak pernah ia rasakan saat hanya berinteraksi dengan karakter fiksi.
Ayu menatap ponselnya, lalu menatap lagi ke arah jendela rumah Malik. Di sana, Malik sedang duduk di teras, menatap bintang dengan wajah melamun—mungkin sedang menunggu jawaban. Untuk pertama kalinya, Ayu merasa bahwa pria yang "cacat" dengan segala kecanggungannya jauh lebih menarik daripada pahlawan digital yang paling sempurna sekalipun.
Malik sedang mengalami "runtuhnya" pertahanan diri. Ia duduk merosot di kursi kerjanya, telapak tangannya masih menempel kuat di dada kiri, berusaha meredam detak jantung yang ritmenya sudah tidak beraturan sejak keluar dari studio Ara.
"Gila... jantung gue bisa copot kalau begini terus," bisiknya pada ruangan yang sepi.
Malik memejamkan mata, tapi yang muncul justru rekaman slow motion kejadian tadi. Selama ini, ia hanya melihat Ayu dari kejauhan sosok mungil yang tertutup gorden atau tetangga yang menyapa seadanya. Namun tadi, di ruang kedap suara yang sempit itu, Malik melihat realitas yang menghantamnya telak.
Ia teringat bagaimana helai rambut Ayu yang sedikit berantakan tertiup AC studio, dan yang paling membuatnya tak berdaya adalah Mata Ayu.
Tak peduli seberapa tebal bingkai kacamata yang dipakai gadis itu, mata Ayu tetap memancarkan sinar yang tulus, jernih, dan entah bagaimana terasa sangat "menyilaukan" bagi Malik. Cahaya itu bukan seperti lampu sorot proyek yang menyakitkan, tapi seperti fajar di kampung halamannya yang menenangkan namun kuat.
"Dia... kenapa bisa secantik itu kalau dilihat dari dekat?" Malik bergumam sendiri, senyum tipis mulai mengembang meski wajahnya kembali memanas.
Sebagai arsitek, Malik terbiasa mengukur skala dan proporsi. Tapi di depan Ayu, semua ilmunya mendadak tidak berguna. Jarak beberapa sentimeter di antara mereka tadi terasa lebih luas daripada proyek gedung pencakar langit mana pun yang pernah ia kerjakan.
Malik meraih ponselnya, hendak mengirim pesan ke grup warga untuk menghajar Adit, tapi urung. Ia justru membuka ruang obrolannya dengan Ayu yang masih kosong melompong.
"Mbak Ayu, maaf ya soal Adit tadi... Tapi soal ajakan saya, saya serius."
Malik mengetik kalimat itu, lalu menghapusnya lagi. Ketik lagi, hapus lagi. Arsitek kebanggaan Amak ini mendadak jadi pengecut hanya untuk menekan tombol send.