NovelToon NovelToon
ISTRI JAMINAN CEO

ISTRI JAMINAN CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Balas Dendam
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Gendis Pitaloka

Demi membebaskan Ayahnya yang dijebak ke penjara, Kanaya terpaksa setuju dijadikan jaminan perusahaan dan menikah dengan Arkananta, CEO angkuh dari kalangan terpandang.

​Hidup Kanaya hancur seketika. Di saat ia harus menghadapi pernikahan kontrak yang dingin, ia justru mendapati kekasihnya berselingkuh. Penderitaannya memuncak saat ia dinyatakan hamil, namun di saat yang sama ia mengetahui fakta pahit. Arkan-lah pria yang telah menjebak ayahnya demi bisa memilikinya.

​"Kita cerai! Aku bukan barang yang bisa kamu beli!"

​Kanaya memilih pergi membawa kandungannya. Namun, sang CEO tidak tinggal diam. Ia akan melakukan apa pun untuk menyeret kembali wanita yang dianggap sebagai miliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gendis Pitaloka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Harga Sebuah Kebebasan

​"Tanda tangan di sini, Naya. Jangan membuat pena ini menunggu lebih lama lagi."

​Arkan menggeser map berwarna biru tua ke hadapan Naya. Mereka berada di ruang kerja Arkan yang luas. Tidak ada suara selain detak jam dinding yang terdengar seperti hitungan mundur bagi Naya. Di seberang meja, Arkan duduk dengan santai, menyilangkan kaki sambil memperhatikan setiap gerak-gerik Naya.

​Naya menatap kertas di depannya. "Penyerahan hak milik permanen? Kamu bilang ini hanya jaminan sementara, Arkan."

​"Itu sebelum kamu mencoba merampok server pribadiku semalam. Aturannya sudah berubah. Kamu melanggar kesepakatan, jadi dendanya adalah seluruh aset keluargamu yang tersisa," sahut Arkan tanpa beban.

​"Kamu sudah menghancurkan perusahaan Ayah. Kamu sudah mengambil martabatku. Sekarang kamu mau mengambil rumah tempat aku tumbuh besar juga?" suara Naya bergetar, tapi matanya tetap menatap tajam.

​Naya meraih pulpen itu dengan tangan gemetar. Ia membubuhkan tanda tangan di atas materai. "Puas?"

​Arkan menarik kembali map itu, memeriksanya sejenak, lalu tersenyum tipis. Siang ini, kita ada pertemuan dengan notaris dan keluarga besar. Ibu akan ikut. Pastikan kamu tidak menunjukkan wajah seperti korban penculikan."

​"Kenapa keluarga besar harus ikut?"

​"Karena mereka perlu tahu bahwa Arkan Group sudah sepenuhnya mengambil alih sisa-sisa kejayaan keluargamu. Dan kamu, sebagai istriku, akan mengumumkan bahwa penyerahan ini adalah bentuk 'dukungan' keluarga istrimu untuk ekspansi bisnisku. Publik menyukai narasi keluarga yang solid."

​"Kamu benar-benar ingin aku mempermalukan diriku sendiri di depan keluargamu?"

​"Bukan mempermalukan, Naya. Ini namanya diplomasi bisnis. Sekarang, keluar. Janu sudah menunggumu untuk persiapan."

​Di luar ruangan, Janu berdiri dengan wajah yang masih pucat. Begitu melihat Naya keluar, ia mencoba mendekat.

​"Mbak Naya... saya benar-benar—"

​"Jangan minta maaf lagi, Janu. Itu terdengar menjijikkan," potong Naya cepat. Ia berjalan menuju lift tanpa berhenti.

​"Mbak, Pak Arkan benar-benar serius soal ancamannya. Saya harus melakukannya demi Ibu saya," Janu mengekor di belakangnya.

​Naya berhenti mendadak dan berbalik. "Dan aku harus kehilangan segalanya demi keegoisanmu dan Arkan. Jadi, berhenti bersikap seolah kamu punya beban moral. Kamu sudah memilih pihak yang menang. Jalankan saja tugasmu sebagai penjaga penjara ini."

​"Apa yang akan Mbak lakukan sekarang?" tanya Janu lirih.

​"Melakukan apa yang Arkan mau. Bukankah itu yang kalian semua inginkan? Melihatku hancur?" Naya masuk ke dalam lift dan membiarkan pintu tertutup di depan wajah Janu.

​Ruang pertemuan hotel tempat acara berlangsung sudah dipenuhi oleh kerabat Arkan dan beberapa kolega dekat. Sofia, ibu Arkan, langsung menghampiri Naya begitu ia tiba.

​"Ingat apa yang kubilang tadi pagi. Jangan ada drama. Tersenyum saat namamu dipanggil," bisik Sofia sambil mencengkeram lengan Naya cukup kuat.

​"Aku tahu, Ibu Mertua," jawab Naya dengan nada sinis pada kata terakhirnya.

​"Bagus. Dan jangan berani-berani bicara pada paman Arkan, Pak Baskoro. Dia orang yang skeptis. Jangan berikan dia alasan untuk meragukan pernikahan ini," Sofia melepaskan cengkeramannya saat Arkan mendekat.

​"Tamu sudah lengkap. Mari kita mulai," ajak Arkan.

​Di depan semua orang, Arkan berdiri di podium kecil. "Terima kasih sudah hadir. Hari ini adalah tonggak sejarah bagi Arkan Group. Dengan dukungan penuh dari istri tercinta saya, Kanaya, kami telah mencapai kesepakatan untuk mengintegrasikan seluruh aset keluarganya ke dalam perusahaan kami. Ini adalah bentuk kepercayaan yang sangat besar."

​Tepuk tangan riuh terdengar. Arkan memberi isyarat agar Naya naik ke atas panggung.

​"Silakan, Sayang. Katakan sesuatu," ucap Arkan sambil menyerahkan mik dengan senyum kemenangan.

​Naya menatap kerumunan orang-orang kaya yang menatapnya dengan pandangan menilai. Ia menarik napas panjang.

​"Seperti yang dikatakan suami saya," ucap Naya, suaranya terdengar sangat stabil, "Keputusan ini diambil demi masa depan yang lebih baik. Saya percaya bahwa di bawah kepemimpinan Arkan, aset keluarga saya akan dikelola dengan... sebagaimana mestinya. Saya hanya berharap, kerja sama ini membawa kedamaian bagi semua pihak."

​"Kedamaian atau penyerahan diri, Naya?" suara lantang seorang pria tua memotong dari barisan depan. Itu Pak Baskoro.

​Arkan menegang, tapi senyumnya tidak hilang. "Paman Baskoro selalu suka bercanda. Tentu saja kedamaian, bukan?"

​"Aku hanya bertanya-tanya, Arkan. Karena kudengar ayah istrimu masih di rumah sakit dan semua hartanya kini pindah tangan ke namamu secara pribadi, bukan ke perusahaan. Apa itu yang disebut dukungan keluarga?" Pak Baskoro berdiri, menatap Naya dengan tajam. "Nak, apa kamu dipaksa melakukan ini?"

​Keheningan total melanda ruangan. Sofia tampak pucat. Arkan meremas pinggang Naya di balik podium, kuku-kukunya menekan kulit Naya.

​"Jawab, Naya," bisik Arkan di telinganya, sangat pelan hingga hanya Naya yang dengar. "Ingat Ayahmu."

​Naya menelan ludah. Ia menatap Pak Baskoro. "Tidak, Pak. Ini murni keputusan saya. Saya merasa beban mengelola aset itu terlalu berat bagi keluarga saya saat ini. Arkan adalah pria yang paling saya percayai untuk menangani semuanya."

​Pak Baskoro mendengus pelan lalu duduk kembali. "Baiklah kalau itu maumu. Semoga kamu tidak menyesal, Nak."

​Setelah acara selesai, Arkan membawa Naya ke area balkon yang sepi. Begitu hanya ada mereka berdua, Arkan melepaskan rangkulannya dengan kasar.

​"Hampir saja. Kamu lambat sekali merespons Baskoro," tegur Arkan.

​"Aku sudah menjawab sesuai naskahmu, Arkan! Apa lagi yang kamu mau?"

​"Aku mau kamu lebih meyakinkan. Kamu terlihat ragu tadi. Kalau Baskoro terus menggali, dia bisa merusak reputasi transaksimu ini."

​"Kamu hanya takut hartanya tidak sah masuk ke kantongmu, kan?" Naya tertawa getir. "Kamu sudah mendapatkan semuanya. Rumah, perusahaan, aset... bahkan suaraku di depan publik. Apa kamu masih merasa terancam?"

​"Aku tidak pernah merasa terancam olehmu, Naya. Aku hanya tidak suka ketidakteraturan." Besok, aku akan pergi ke Singapura selama tiga hari. Kamu akan tetap di apartemen di bawah pengawasan ketat Ibu dan Janu. Jangan coba-coba keluar tanpa izin."

​"Tiga hari? Kenapa aku tidak ikut?"

​"Untuk apa? Agar kamu bisa mencari bantuan dari relasiku di sana? Tidak. Kamu tetap di sini. Belajarlah menjadi istri rumahan yang baik. Mungkin Ibu akan mengajarimu cara memasak atau mengatur rumah, agar otakmu tidak terus-menerus memikirkan cara mengkhianatiku."

​"Kamu memenjarakanku lagi?"

​"Anggap saja ini masa percobaan untuk perilaku burukmu semalam di ruang arsip. Kalau selama tiga hari ini kamu bersikap baik, mungkin aku akan mengizinkanmu mengunjungi ayahmu di akhir pekan."

​Mata Naya berbinar mendengar kata 'Ayah'. "Kamu serius? Aku bisa bertemu Ayah?"

​"Tergantung kelakuanmu. Dan ingat, setiap gerak-gerikmu dilaporkan padaku setiap jam," Arkan memutar tubuhnya, hendak pergi.

​"Arkan!" panggil Naya.

​Arkan berhenti namun tidak menoleh.

​"Kenapa kamu melakukan ini padaku? Bukankah dari awal kamu hanya butuh uang dan aset itu? Kamu sudah punya semuanya. Kenapa kamu tetap mengikatku?"

​"Karena melihatmu mencoba memberontak lalu gagal adalah bagian paling menyenangkan dari kesepakatan ini, Naya. Itu membuat kemenanganku terasa lebih nyata."

​Pria itu pergi, meninggalkan Naya sendirian di balkon yang dingin. Naya menatap tangannya yang kosong. Ia sudah kehilangan segalanya. Hartanya, rumahnya, dan kini ia harus menghadapi Sofia tanpa perlindungan Arkan selama tiga hari.

​"Tiga hari," gumam Naya. "Tiga hari tanpa Arkan."

​Tiba-tiba, Janu muncul di ambang pintu balkon. "Mbak... Pak Arkan sudah pergi ke mobil."

​Naya menatap Janu dengan dingin. "Kamu dengar tadi? Dia akan pergi ke Singapura."

​"Iya, Mbak. Saya akan berjaga di apartemen."

​"Bagus," Naya mendekati Janu, suaranya merendah. "Janu, kalau kamu benar-benar merasa bersalah soal semalam, ini kesempatan terakhirmu. Aku tidak butuh kartu akses server lagi. Aku butuh ponsel. Berikan ponselmu padaku hanya untuk sepuluh menit malam ini, saat Ibu Mertua tidur."

​Janu tampak sangat ketakutan. "Mbak, kalau Pak Arkan tahu..."

​"Dia di Singapura, Janu! Dia tidak akan tahu kalau kamu tidak lapor. Kamu bilang ingin menebus kesalahanmu, kan? Ini caranya. Berikan aku ponsel untuk menghubungi pengacara lama Ayah. Aku tahu ada sesuatu yang tidak beres dengan surat penyerahan aset tadi."

​"Mbak... saya tidak bisa."

​"Kalau begitu berhenti memasang wajah sedih di depanku! Kamu sama saja dengan Arkan!" Naya berjalan melewati Janu dengan kasar.

​Malam harinya di apartemen, Sofia benar-benar menjalankan perannya sebagai sipir penjara. Ia menyuruh pelayan membuang semua barang-barang lama milik Naya yang dibawa dari rumahnya.

​"Barang-barang murahan ini tidak pantas ada di apartemen Arkan," ucap Sofia sambil menunjuk tumpukan buku dan album foto tua milik Naya.

​"Itu album foto Ibuku, Tante! Jangan dibuang!" Naya mencoba merebut album itu dari tangan pelayan.

​"Panggil aku Ibu Mertua! Dan barang-barang ini sudah tidak ada gunanya. Kamu sudah tidak punya masa lalu, Naya. Masa lalumu sudah habis saat kamu menandatangani surat tadi pagi," Sofia menatap Naya dengan dingin. "Sekarang, masuk ke dapur. Masak makan malam untukku. Aku ingin tahu sejauh mana kemampuanmu melayani."

​Naya menahan amarah yang meledak di dadanya. Ia mengambil album foto itu dari lantai, memeluknya erat, lalu menatap Sofia dengan tajam.

​"Aku akan memasak. Tapi kalau ada satu lagi barangku yang kamu buang, aku bersumpah akan merusak acara jamuan makan malam besar bulan depan dan menceritakan pada semua orang bagaimana Arkan mendapatkan hartanya," ancam Naya dengan suara tenang namun mematikan.

​Sofia tertegun, tidak menyangka Naya akan melawan seberani itu. "Kamu... berani mengancamku?"

​"Aku sudah tidak punya apa-apa lagi untuk dipertaruhkan, Ibu Mertua. Jadi jangan uji batas kesabaranku," Naya berjalan menuju dapur tanpa menoleh lagi.

​Di balik tembok dapur, Janu melihat semuanya. Ia merogoh sakunya, menggenggam ponselnya erat-erat. Ia tahu, tiga hari ini akan menjadi awal dari badai yang sesungguhnya

1
Fitri Zee
wih galak woy
Fitri Zee
hai aku mampir
Gendis Pitaloka: Hai.. terimakasih ya sudah mampir semoga suka dengan cerita nya ❤️
total 1 replies
sindi
thor, lanjut nulisnya udah gasabar lagi baca kelanjutannya
Gendis Pitaloka: Besok pagi update lagi,masih di ketik ini 😁
total 1 replies
fara sina
Lanjut kak. semangat terus nulisnya 🥰🥰🥰
Gendis Pitaloka: Harus selalu semangat 🤩
total 1 replies
fara sina
sudah kuduga emang Arkan sengaja biarin kamu gitu nay. duhhh mnaa ini kedua kalinya kamu gini nay.
fara sina
malah aku mikir justru Arkan sengaja membiarkan kamu masuk ke kantornya hari itu. pls jangan gegabah lagi nay.
fara sina
waduh, aku pikir bakal bela Kanaya ternyata gini. ibunya Arkan juga perlakuan ke Kanaya terlalu merendahkan. semoga cepet selesai kontraknya nay. pasti gabetah ngadepin kehidupan kaya gini
fara sina
💪💪💪 semangat.btw kamu seyakin ini nay? urusannya sama Arkan. tapi aku masih bingung sama Arkan sebenernya baik apa jahat
fara sina
Arkan emang CEO pria jenius pantes dijuluki. gini ajah gerak Kanaya udah ketebak 🤭
fara sina
belajar dari kesalahan nay
fara sina
hampir ajah Kanaya percaya. bau bau Arkan sebenernya ga jahat
fara sina
kan jadi gini😭 Arkan serem ya kalo marah begini
fara sina
tetep waspada nay.
fara sina
menarik nih. bagus
fara sina
bahaya kalo jebakan jangan kesana sendirian nay. takutnya mata mata komisaris yang jahat
fara sina
aktingnya keren banget ya Arkan
fara sina
waduh ada skenario lengkap nay kamu siap siap jadi aktris lagi yang di sutradara Arkan 😭
fara sina
hati hati Kanaya jangan sendirian bahaya
fara sina
sudah kuduga sepertinya Arkan gak sejahat yang dikira kamu Naya.
fara sina
anggapa ajah kamu sedang kerja untuk Arkan. Harus professional. gausah dimasukin ke hati omongan yang nyakitin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!