Para dewa tidak membawa kedamaian-mereka membawa penindasan.
Di bawah kekuasaan Vasilias, langit menginjak manusia tanpa ampun. Ketika Dewa Matahari sejati dijatuhkan dan seorang wanita manusia dibunuh demi menjaga "kemurnian", seorang anak lahir dari pengkhianatan.
Setengah dewa. Setengah manusia.
Dan penuh dendam.
Dengan api matahari dalam darahnya, ia bangkit untuk memburu para dewa-termasuk pewaris palsu langit, Filius.
Namun semakin dekat pada balas dendam, ia mulai menyadari:
Tidak semua dewa layak dibunuh.
Dan tidak semua manusia layak diselamatkan.
Ketika langit mulai retak, satu pertanyaan tersisa-
Apakah ia akan menghancurkan para dewa...
atau menjadi yang paling kejam di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Franzzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6
Waktu berjalan tanpa suara.
Hutan yang dulu menjadi dunia kecil seorang anak… kini terasa berbeda.
Bukan karena berubah—
tapi karena yang melihatnya… telah berubah.
Di tepi sungai yang sama, berdiri seorang pria.
Tinggi.
Tubuhnya terbentuk oleh latihan bertahun-tahun—padat, kuat, tanpa berlebihan. Rambut putihnya panjang, terikat rapi di belakang, dengan semburat merah dan kuning yang menyala samar saat terkena cahaya matahari.
Matanya tenang.
Namun di balik ketenangan itu… tersembunyi sesuatu yang dalam.
Grachius.
Air sungai mengalir seperti dulu.
Jernih.
Tenang.
Namun saat Grachius melangkah masuk—
permukaan air itu bergetar halus.
Bukan karena langkahnya.
Tapi karena sesuatu… yang mengikuti setiap gerakannya.
Energi.
Ia menutup mata.
Menarik napas.
Sekejap—
dunia menjadi sunyi.
Namun bukan sunyi yang kosong.
Melainkan sunyi yang penuh.
Ia bisa merasakan semuanya.
Aliran air.
Gerakan angin.
Getaran tanah.
Bahkan… sesuatu yang lebih besar dari itu semua.
Fatum.
Jalan yang tidak terlihat.
Jalan yang tidak bisa dipahami sepenuhnya—
namun bisa dirasakan.
Grachius membuka matanya.
Dan untuk sesaat—
ia tahu.
Bukan tentang masa depan.
Bukan tentang takdir.
Tapi tentang… langkah berikutnya.
Swish.
Tanpa peringatan—
tubuhnya bergerak.
Tangannya mengayun.
Air di sekitarnya terbelah.
Bukan karena kekuatan kasar.
Tapi karena keselarasan.
Gerakan yang mengikuti, bukan melawan.
Ten'i Ryū.
Beberapa detik kemudian—
ia sudah berdiri di tepi sungai.
Kering.
Setetes air pun tidak menempel di tubuhnya.
“Sudah selesai?”
Suara tenang itu datang dari belakang.
Grachius tidak menoleh.
“Sudah.”
Beberapa langkah terdengar.
Lalu Purus berdiri di sampingnya.
Keduanya menatap sungai yang sama.
Namun melihat hal yang berbeda.
“Ulangi.”
Grachius mengangkat tangannya.
Energi mengalir.
Tidak liar.
Tidak berat.
Hanya… ada.
Ia menggerakkannya—
dan udara di sekitarnya bergetar pelan.
Tidak ada ledakan.
Tidak ada cahaya berlebihan.
Namun dampaknya… nyata.
Tanah di bawah kakinya retak halus.
Purus mengamati.
Tanpa ekspresi.
Tanpa pujian.
Namun juga… tanpa koreksi.
Sunyi beberapa saat.
Lalu—
“Cukup.”
Grachius menurunkan tangannya.
Menarik napas.
Untuk pertama kalinya dalam waktu lama—
ia bertanya.
“…aku sudah selesai?”
Purus tidak langsung menjawab.
Matanya menatap Grachius.
Dalam.
Seolah melihat perjalanan panjang yang telah dilalui—
dari seorang anak kecil…
hingga menjadi sesuatu yang jauh lebih dari itu.
“Ya.”
Satu kata.
Namun berbeda dari sebelumnya.
Bukan “cukup”.
Bukan “lanjutkan”.
Melainkan—
selesai.
Angin berhembus.
Daun-daun berguguran.
Grachius menatap tangannya sendiri.
Tidak ada luka.
Tidak ada bekas.
Namun ia tahu…
tubuhnya telah berubah.
Jiwanya telah ditempa.
Energi dalam dirinya mengalir stabil.
Tenang.
Namun dalam.
“Tubuhmu,” kata Purus pelan, “tidak lagi terikat seperti manusia biasa.”
Grachius tidak menjawab.
“Jiwamu telah diperkuat.”
“Energi dalam dirimu stabil.”
“Fatum telah mulai terbuka untukmu.”
Setiap kata itu jatuh dengan berat.
Namun Grachius menerimanya tanpa ekspresi berlebihan.
Ia hanya… mengerti.
“Umurmu,” lanjut Purus, “akan melampaui manusia.”
“Kau tidak akan mati karena waktu.”
“Dan membunuhmu… tidak akan mudah.”
Sunyi.
Grachius menoleh sedikit.
“…tapi tetap bisa mati?”
Purus menatapnya.
“Ya.”
Tidak ada kebohongan.
Tidak ada penenang.
Hanya kebenaran.
Grachius mengangguk pelan.
“Itu cukup.”
Beberapa saat berlalu.
Lalu ia bertanya lagi.
“…sekarang apa?”
Pertanyaan sederhana.
Namun berbeda dari sebelumnya.
Bukan anak kecil yang penasaran.
Melainkan seseorang… yang siap melangkah.
Purus tidak langsung menjawab.
Ia menatap langit.
Untuk pertama kalinya dalam waktu lama—
tatapannya terasa… berat.
“Sekarang…”
Ia berhenti sejenak.
“…kau memilih.”
Grachius mengernyit.
“Memilih apa?”
Purus menoleh.
“Jalanmu.”
Sunyi.
Angin berhenti.
Dunia seakan menunggu.
Grachius menatap ke depan.
Ke arah hutan.
Ke arah dunia yang belum pernah ia lihat.
Ke arah sesuatu… yang selalu terasa jauh.
Namun kini—
dekat.
Tanpa sadar—
jari-jarinya mengepal.
Bukan karena ragu.
Tapi karena sesuatu di dalam dirinya… mulai bangkit.
Sesuatu yang telah lama tertidur.
“Purus.”
“Ya.”
Grachius tidak langsung melanjutkan.
Namun suaranya…
lebih dalam dari sebelumnya.
“…aku ingin tahu.”
Purus tidak bertanya apa.
Ia sudah tahu.
Grachius menatap lurus ke depan.
Matanya tajam.
Tidak lagi seperti anak kecil yang bertanya tentang langit.
Melainkan seseorang…
yang siap menantangnya.
“…tentang diriku.”
Angin kembali berhembus.
Namun kali ini—
membawa sesuatu yang berbeda.
Bukan ketenangan.
Melainkan…
awal dari perubahan.
Dan di langit yang jauh—
sesuatu bergerak.
Pelan.
Namun pasti.
Seolah menyadari—
bahwa yang selama ini disembunyikan…
telah selesai dipersiapkan.
Perjalanan telah berakhir.
Dan untuk pertama kalinya—
kisah yang sebenarnya…
akan dimulai.