Para dewa tidak membawa kedamaian-mereka membawa penindasan.
Di bawah kekuasaan Vasilias, langit menginjak manusia tanpa ampun. Ketika Dewa Matahari sejati dijatuhkan dan seorang wanita manusia dibunuh demi menjaga "kemurnian", seorang anak lahir dari pengkhianatan.
Setengah dewa. Setengah manusia.
Dan penuh dendam.
Dengan api matahari dalam darahnya, ia bangkit untuk memburu para dewa-termasuk pewaris palsu langit, Filius.
Namun semakin dekat pada balas dendam, ia mulai menyadari:
Tidak semua dewa layak dibunuh.
Dan tidak semua manusia layak diselamatkan.
Ketika langit mulai retak, satu pertanyaan tersisa-
Apakah ia akan menghancurkan para dewa...
atau menjadi yang paling kejam di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Franzzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
(ARC 1) Chapter 6: Akhir dari Keheningan
Waktu telah berlalu.
Tidak ada yang mencatatnya.
Tidak ada yang menghitung berapa lama hari telah berganti, berapa banyak pagi yang datang dan pergi. Hutan itu tetap sama—pohon-pohon masih berdiri di tempatnya, sungai masih mengalir dengan suara yang sama, dan angin masih berhembus dengan ritme yang tidak pernah berubah.
Namun—
tidak semua hal tetap.
Di tempat yang sama, di tepi sungai yang pernah menjadi saksi langkah kecil seorang anak—
seorang pria berdiri.
Grachius.
Usianya kini dua puluh tahun.
Tubuhnya tidak lagi kecil dan ringan seperti dulu. Bahunya lebar, posturnya tegak tanpa perlu dipaksakan. Otot-ototnya terbentuk bukan karena pamer kekuatan, melainkan karena penggunaan yang terus-menerus—efisien, terlatih, dan tanpa kelebihan.
Rambutnya panjang, berwarna putih.
Namun tidak sepenuhnya.
Di antara helai-helai itu, ada bagian tipis yang berwarna kuning kemerahan—seperti sisa cahaya yang tidak pernah benar-benar padam. Rambutnya diikat ke belakang dalam sebuah ponytail sederhana, memperlihatkan wajah yang kini jauh lebih tenang dari sebelumnya.
Matanya—tidak lagi gelisah. Tidak lagi mencari. Ia hanya… melihat. Dan memahami.
Ia berdiri di tepi sungai. Air mengalir seperti biasa. Namun tidak sepenuhnya.
Ketika Grachius melangkah masuk—permukaan air bergetar pelan. Bukan karena berat tubuhnya. Melainkan karena sesuatu yang lebih halus. Seperti air itu… menyadari kehadirannya.
Grachius tidak berhenti.
Ia melangkah lebih dalam, hingga air mencapai pinggangnya.
Dingin itu masih ada. Namun tidak lagi berarti.
Ia menutup matanya. Dan dunia… terbuka. Bukan dalam bentuk suara. Bukan dalam bentuk gambar. Melainkan dalam keberadaan.
Air.
Mengalir.
Tidak terputus.
Angin.
Bergerak.
Menyentuh permukaan.
Tanah.
Diam.
Namun menopang segalanya.
Dan di antara semua itu—ada sesuatu yang tidak terlihat.
Namun terasa.
Fatum.
Bukan sebagai konsep.
Bukan sebagai pertanyaan.
Melainkan… arah.
Grachius tidak mencoba memahami. Ia hanya… mengizinkannya ada.
Dan untuk pertama kalinya—ia tidak hanya merasakan.
Ia mengerti.
Bukan dengan kata. Melainkan dengan keheningan yang tidak lagi kosong.
Matanya terbuka perlahan. Dan tanpa suara—ia bergerak.
Kakinya melangkah ringan di dalam air. Tangannya terangkat.
Tidak ada tekanan.
Tidak ada paksaan.
Namun setiap gerakan—
tepat.
Ia mengayunkan tangannya.
Perlahan.
Air di depannya terbelah.
Bukan karena kekuatan.
Tidak ada percikan besar.
Tidak ada benturan.
Hanya… terpisah.
Seolah mengikuti sesuatu yang tidak terlihat.
Grachius tidak berhenti.
Ia melanjutkan.
Gerakan demi gerakan.
Ten'i Ryū.
Namun bukan seperti sebelumnya.
Tidak lagi latihan.
Tidak lagi pencarian.
Ini… sudah menjadi bagian dari dirinya.
Setiap langkah selaras. Setiap ayunan tidak berlebihan. Tidak ada gerakan yang sia-sia.
Air bergerak mengikuti. Angin tidak mengganggu.
Dan untuk beberapa saat—dunia itu sendiri terasa… seimbang.
Ia berhenti.
Air kembali menyatu.
Tidak ada bekas.
Tidak ada tanda.
Seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Grachius melangkah keluar dari sungai. Pakaiannya tetap kering. Tidak ada tetesan air yang menempel di tubuhnya. Bukan karena ia menghindari air. Melainkan karena ia… tidak membiarkannya tinggal.
Di kejauhan, Purus berdiri. Sama seperti dulu. Tidak berubah. Namun kini—perannya berbeda.
Ia tidak lagi membimbing.
Ia… mengamati.
“Ulangi.”
Suaranya pelan.
Tidak memerintah.
Namun tidak perlu diabaikan.
Grachius mengangguk.
Ia kembali melangkah. Kali ini di daratan.
Tidak ada air.
Tidak ada medium yang terlihat.
Namun gerakannya tetap.
Halus.
Terarah.
Tangannya bergerak—
dan udara di sekitarnya bergetar tipis.
Tidak terlihat jelas.
Namun cukup untuk membuat daun-daun di tanah bergerak pelan.
Ia berhenti.
Tidak kelelahan.
Tidak terganggu.
Purus memperhatikannya.
Tidak ada koreksi.
Tidak ada tambahan.
Hanya… diam.
Beberapa saat berlalu.
Lalu—
“Cukup.”
Grachius menurunkan tangannya.
Ia menatap Purus.
“Sudah?”
Purus mengangguk.
“Ya.”
Satu kata.
Namun mengakhiri sesuatu yang panjang. Grachius tidak langsung berbicara.
Ia berdiri diam.
Merasakan sesuatu yang… berbeda.
Bukan di luar.
Di dalam dirinya.
Tubuhnya—
tidak lagi seperti dulu.
Ia tidak cepat lelah seperti manusia biasa.
Napasnya stabil tanpa usaha.
Gerakannya tidak membutuhkan koreksi.
Qi dalam dirinya—
tidak lagi terputus-putus.
Ia mengalir.
Stabil.
Tenang.
Tidak berlebihan.
Tidak kurang.
Dan jiwanya—
tidak lagi goyah.
Ia telah ditempa.
Melalui keheningan.
Melalui jatuh.
Melalui pengulangan yang tidak terhitung.
Fatum—
tidak lagi terasa jauh.
Ia tidak sepenuhnya jelas.
Namun sudah… terbuka.
Grachius menatap tangannya sendiri. Lalu mengepalkannya perlahan.
Lapisan Qi muncul.
Terlihat jelas.
Dan terasa.
Zhànqì.
Qi yang menyelimuti.
Tidak kasar.
Namun cukup untuk mengubah segalanya.
Ia melepasnya kembali.
Tanpa kesulitan.
Tanpa sisa.
“...Aku tidak akan mati karena usia.”
"Dan penyakit."
Ia mengatakannya seperti menyebut fakta biasa.
Purus mengangguk.
“Tidak.”
“Namun aku bisa dibunuh.”
“Ya.”
Grachius tidak bereaksi.
Tidak ada ketakutan.
Tidak ada kebingungan.
Hanya penerimaan.
“Masuk akal.”
Ia mengangkat pandangannya.
Menatap Purus.
“Sekarang apa?”
Pertanyaan itu berbeda dari sebelumnya. Tidak lagi penuh rasa ingin tahu. Tidak lagi mencari jawaban. Melainkan… menunggu arah.
Purus menatapnya lama.
Lalu berkata—
“Sekarang… kau memilih.”
Hening.
Angin bergerak pelan. Grachius menatap ke arah hutan. Ke arah yang belum pernah ia datangi. Ke arah yang selama ini… tidak pernah ia butuhkan.
Namun sekarang—
ia tahu.
Ia tidak bisa tinggal.
“...Aku ingin tahu.”
Suaranya pelan.
Namun jelas.
“Siapa aku.”
Ia tidak menoleh.
Tidak menunggu persetujuan.
Karena ia tahu—
itu bukan sesuatu yang bisa diberikan.
Purus tidak menghentikannya.
Tidak menyuruh.
Tidak melarang.
Ia hanya berdiri.
Mengamati.
Seperti sebelumnya.
Namun kali ini—
dengan jarak yang berbeda.
...A Novel by Franzzz...