Demi uang sepuluh milyar, Sean Yuritama rela bekerja sama dengan Christaly Jane untuk menemukan anak dari seorang miliarder yang telah lama menghilang. Jika bukan demi melunasi hutang-hutangnya, detektif swasta berparas tampan itu tidak akan sudi bekerja sama dengan gadis cerewet dengan segudang masalah. Sehingga mereka terlibat perdebatan hampir setiap waktu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azura Cimory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pria Misterius
Christaly terbangun dari tidurnya dengan perlahan, karena sinar matahari yang lembut yang menyelinap masuk dari celah-celah jendela kamarnya jatuh tepat di wajahnya.
Cahaya itu menyapu perlahan seluruh sudut ruangan, membawa kesegaran dan kehangatan pagi yang masih basah bekas hujan badai semalam.
Christaly mengangkat tangannya ke atas kepala, meregangkan diri seolah-olah menyambut sang matahari. Tubuhnya yang masih lemas akibat kejadian semalam mulai menggeliat perlahan di atas tempat tidur yang empuk sambil mengerjap-ngerjapkan mata dengan malas.
Dia ingat persis kejadian semalam, saat Sean menolak untuk tidur berdua dengannya, menolak menghangatkan tubuhnya. Christaly benar-benar tidak habis pikir bagaimana bisa Sean bisa begitu tega kepada dirinya.
Padahal dia sendiri tahu jika kondisinya semalam itu benar-benar sedang tidak baik-baik saja, Christaly kedinginan setengah mati.
Gara-gara kejadian itu, semalam Christaly memakai semua pakaian lengan panjangnya, lalu memakai jaket dan kaus kaki. Setelah itu dia membungkus tubuhnya dengan selimut sebelum meringkuk mencoba tidur.
“Padahal kalau Sean mau tidur denganku semalam aku nggak perlu berpakaian seperti orang Eskimo begini,” gumam Christaly sambil menguap dan mengucek matanya. “Dasar brengsek! Sekarang dia bahkan nggak membangunkan aku. Awas saja nanti, aku balas kamu, Sean.”
Pagi itu, sinar matahari pertama sudah mulai merayap lembut ke dalam kamar tidur Christaly. Dengan mata masih setengah terpejam, dia memutar tubuhnya perlahan menuju jendela besar yang menghadap ke luar.
Christaly duduk perlahan di atas tempat tidur. Dia membiarkan sinar matahari menyapu wajahnya agar dia merasa hangat dan terjaga sepenuhnya. Dia lalu meraih gorden dan perlahan-lahan menariknya ke samping, mengungkapkan pemandangan di luar yang menakjubkan.
Pohon-pohon di halaman samping berayun-ayun dengan lembut oleh angin, dan butiran sisa hujan tampak berkilauan saat jatuh ke tanah sebelum menghilang. Akan tetapi, fokus Christaly sama sekali bukan pada pemandangan pagi yang menakjubkan itu.
Melainkan kepada Sean yang dia lihat tampak sedang berbicara dengan seorang pria yang tidak dia kenal siapa. Christaly menyipitkan mata, melihat lebih fokus lagi ke arah pria bertubuh kurus kering, berkulit cukup gelap, dan rambutnya sudah berubah menjadi uban.
“Sean lagi bicara sama siapa itu? Kenapa mereka bicara di sana, nggak di dalam rumah?” Christaly bertanya-tanya pada dirinya sendiri. “Apa mungkin dia cuma penduduk desa biasa, atau jangan-jangan dia salah satu dari orangnya Tuan W?”
Christaly mengernyitkan dahinya, mencoba lebih fokus. Dia merasa tidak nyaman karena tidak bisa melihat wajah pria asing itu dengan jelas. “Apa sebenarnya yang lagi mereka bicarakan? Dan mengapa Sean tampak begitu serius?”
Dengan perasaan bingung yang memenuhi pikirannya, Christaly meraih ponsel di meja sebelahnya dan mulai mengambil gambar dengan zoom pada sosok di bawah itu. Dia berharap bisa mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang pria asing tersebut.
Pikirannya dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab, dan dia merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Sean sewaktu dirinya sedang pinsan. Apalagi dengan kejadian aneh semalam menguatkan dugaan Christaly kalau pria tua itu jelas bukan warga sekitar.
Sialnya, meski dia sudah berusaha keras agar bisa melihat wajah pria tua misterius yang dicurigainya sebagai salah satu kaki tangan Tuan Wiyoko menggunakan kamera ponsel genggamnya, tapi, usahanya itu sama sekali tidak membuahkan hasil. Dia tetap tidak bisa melihat wajah pria tua itu karena jaraknya terlalu jauh.
Oleh karena Christaly tidak mungkin tiba-tiba saja keluar dan menghampiri Sean, akhirnya dia memutuskan untuk terus mengawasi dari balik jendela kamarnya. Dia berencana akan menanyakannya langsung ke Sean nanti.
“Awas saja kalau nanti Sean masih nggak mau jujur sama aku dan nggak mau cerita apa-apa soal pria tua itu, akan kubuat dia tersiksa saat libidonya tinggi,” gumam Christaly penuh tekad. “Sean, kamu pikir kamu bisa bermain-main sama aku? Kamu salah besar, aku nggak sebodoh yang kamu pikirkan.”
Pada saat Christaly bangun dari tempatnya duduk mengawasi Sean, seketika dia merasakan nyeri tajam yang menusuk di pangkal pahanya, yang berdenyut-denyut seperti jarum tajam menusuk-nusuk. Sontak, dia pun kembali duduk lagi di tepi tempat tidur, mencoba meredakan rasa sakit yang memancar dari pangkal pahanya. Tidak ada tanda-tanda ini sebelumnya, dan Christaly merasa heran apa yang bisa menyebabkan sakit seperti itu.
Christaly mengertakkan gigi. “Astaga, apa jangan-jangan ini yang Sean bicarakan semalam? Alasan dia kenapa bersikeras nggak mau tidur berdua denganku karena dia takut nggak bisa menahan dirinya untuk mencumbuku. Tapi kenapa bisa seperti ini? Uh!”
Dengan perasaan yang tak nyaman Christaly mulai berpikir kalau yang terjadi pada dirinya adalah akibat percumbuan gila sewaktu mereka terjebak hujan badai semalam.
“Ah, tapi masa gara-gara itu, sih? Rasanya nggak mungkin,” sangkal Christaly pada dirinya sendiri. “Sebelum ini aku pernah bercinta gila-gilaan dengan Riko, tapi, nggak terjadi apa-apa. Kalau hanya sedikit sakit dan perih, itu hal yang biasa. Normal. Tapi, sakitnya nggak separah ini. Uh!”
Untuk memastikan apa sebenarnya yang terjadi pada dirinya Christaly pun langsung membuka semua celana yang dikenakannya. Kemudian dia membuka kakinya, menunduk melihat langsung apa yang salah dengan pangkal pahanya. Dan, alangkah terkejutnya Christaly saat dia melihat bagian dalam pahanya kemerahan dan ada bekas lecet-lecet di area sensitifnya.
“Astaga, apa yang sudah Sean lakukan padaku? Kenapa bisa sampai begini?” Christaly menggeram. “Pantas saja semalam dia bersikeras nggak mau tidur denganku, karena dia tahu dia nggak akan bisa menahan diri untuk nggak bercinta denganku, dan nggak mungkin bercinta dengan kondisiku yang seperti ini. Sialan! Rupanya itu yang dia maksud kalau nanti aku akan tahu sendiri pas aku aku bangun pagi.”
Christaly menoleh ke arah jendela dan menatap marah Sean yang masih berbicara dengan pria tua misterius di luar sana. “Awas kamu, Sean. Lihat saja nanti, aku pasti balas perbuatanmu ini. Tunggu tanggal mainnya.”
Christaly sebenarnya sadar jika Sean sama sekali tidak bersalah, jika yang terjadi bukan kesalahan mereka berdua. Christaly ingat sewaktu dia dan Sean sedang bercinta di tengah hujan badai dan udara yang dingin luar biasa semalam itu, Sean mengatakan kalau dia tidak bisa bergerak lebih cepat lagi sesuai yang Christaly minta karena Chrsitaly seolah menyusut, berubah menjadi terlalu sempit.
Sean takut jika dia mempercepat gerakkannya hal itu bisa menyakiti Christaly. Dan ya, semua yang dikatakan oleh Sean benar-benar terjadi. Sekarang Christaly merasakan akibatnya.
Sepertinya karena suhu udara yang terlalu dingin yang entah bagaimana mempengaruhi elastisitas bagian kewanitaannya. Bukan ereksi Sean yang membesar, melainkan justru Christaly yang menyempit.
Christaly menggeram kesal. “Sialan! Kalau begini keadaannya, untuk sementara waktu aku nggak boleh bercumbu dulu. Huh! Benar-benar sial aku ini!”