Luka pengkhianatan ibu membuat hati Anandara membeku. Sinta adalah satu-satunya "rumah" baginya. Namun, kehadiran mahasiswa baru bernama Angga memicu badai. Anandara rela memendam cinta demi Sinta, menciptakan kebohongan dan permusuhan yang menyayat hati. Mampukah persahabatan mereka bertahan saat rahasia terkuak, dan dapatkah Dimas menyembuhkan luka Sinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Tangis yang Tertahan
Di dalam bilik toilet wanita yang beraroma karbol dan lavender sintetik, waktu terasa berhenti. Dinding-dinding porselen putih yang mengelilingi Anandara seolah menjadi saksi bisu dari runtuhnya sebuah kerajaan es yang selama ini ia bangun dengan keangkuhan dan logika.
Nyonya Es itu duduk meringkuk di atas penutup kloset, memeluk kedua lututnya erat-erat, menenggelamkan wajahnya di antara lengannya. Tubuhnya bergetar hebat, diguncang oleh isakan tangis yang berusaha mati-matian ia redam agar tak terdengar hingga ke luar bilik. Air mata yang terasa panas dan perih terus mengalir deras, membasahi kain kemeja biru mudanya, membawa serta pecahan-pecahan hatinya yang baru saja ia hancurkan sendiri.
Sakit. Rasanya luar biasa sakit.
Anandara Arunika, mahasiswi jenius yang mampu membedah laporan keuangan paling rumit dan menghitung probabilitas statistik dengan mata tertutup, kini dihadapkan pada sebuah persamaan matematika hati yang tidak memiliki solusi. Otaknya tahu betul bahwa mengalah adalah langkah yang paling rasional demi membalas budi pada Sinta. Logikanya membenarkan setiap kalimat kasar yang ia lontarkan pada Angga sebagai bentuk perlindungan diri. Namun, mengapa dadanya terasa seperti dirobek paksa? Mengapa mengubur perasaannya hidup-hidup harus terasa sekejam ini?
"Kamu benar, Nanda. Ini benar," bisik Anandara pada dirinya sendiri, suaranya parau dan terputus-putus oleh isakan. Ia meremas kemejanya di bagian dada, seolah mencoba menahan jantungnya agar tidak meledak. "Cinta itu ilusi. Persahabatan adalah segalanya. Jangan egois. Jangan jadi seperti ibumu."
Ia mengulang mantra itu berkali-kali, menyuntikkan doktrin rasa bersalah ke dalam otaknya sendiri. Ia meyakinkan dirinya bahwa rasa sakit ini hanyalah reaksi sementara, sebuah efek samping dari mematikan saraf perasaannya. Tidak ada yang tahu rahasianya. Tidak ayahnya, tidak Rehan, tidak Kiera, dan tentu saja, tidak Sinta. Penderitaan ini adalah rahasia absolut yang akan ia bawa hingga mati.
Setelah menghabiskan waktu hampir sepuluh menit membiarkan badai emosinya mereda, Anandara akhirnya memaksa dirinya untuk berdiri. Ia mengambil selembar tisu dari dispenser di dinding, menyeka air matanya dengan kasar, lalu menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan.
Ia keluar dari bilik dan melangkah menuju wastafel besar di depan cermin.
Saat ia menatap pantulan dirinya, Anandara meringis pedih. Wajah cantiknya terlihat berantakan. Matanya memerah dan sedikit sembab. Hidungnya merah. Concealer yang ia pakai tadi pagi telah luntur tersapu air mata, menampilkan gurat kelelahan yang nyata.
Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, ia menyalakan keran air. Ia menangkup air dingin itu dan membasuh wajahnya berulang kali, mencoba menghilangkan jejak-jejak kelemahannya. Hawa dingin dari air itu perlahan membantu menetralkan suhu wajahnya. Ia merapikan kembali anak rambutnya yang berantakan, menepuk-nepuk pipinya agar rona merahnya terlihat lebih natural, dan menarik napas dalam-dalam.
Di depan cermin toilet itu, Anandara kembali memahat topengnya. Ia membekukan kembali senyumnya, mengeraskan kembali sorot matanya, dan mematikan kembali hatinya. Sisa-sisa tangis yang masih tertahan di tenggorokannya ia telan bulat-bulat, mengubahnya menjadi racun yang harus ia biasakan.
"Sempurna," gumamnya datar menatap cermin. "Tidak ada yang terjadi."
Anandara berbalik dan berjalan keluar dari toilet, melangkah menyusuri koridor FEB dengan postur tegak dan angkuh, layaknya seorang ratu yang baru saja memenangkan peperangan, padahal ia baru saja kalah telak melawan hatinya sendiri.
Ruang kelas Pengantar Akuntansi masih dipenuhi oleh suara penjelasan Bu Santi saat Anandara membuka pintu depan dan melangkah masuk. Beberapa mahasiswa sempat menoleh sekilas, namun segera kembali fokus ke depan saat Bu Santi melanjutkan materinya tentang pelanggaran etika korporat.
Anandara berjalan menyusuri lorong menuju kursinya di barisan tengah. Ekspresinya sangat datar, sedingin es, seolah-olah lima belas menit yang lalu ia tidak mengalami gangguan mental apa pun.
Namun, ada satu pasang mata di ruangan itu yang tidak tertipu oleh sandiwara kelas wahid yang dimainkan Anandara.
Jauh di kursi sudut paling belakang, Dimas menghentikan ketikannya di laptop. Pemuda berkacamata itu menatap lekat-lekat sosok Anandara yang sedang berjalan menunduk menuju mejanya. Meski Anandara telah berusaha keras membasuh wajahnya, mata elang Dimas—yang selalu dilatih untuk membaca gestur mikroskopis manusia—menangkap kejanggalan itu dalam sedetik.
Langkahnya terlalu kaku, analisis Dimas dalam hati. Posturnya dipaksakan tegak. Dan matanya...
Dimas memicingkan matanya sedikit di balik lensa kacamatanya saat Anandara menoleh untuk menarik kursinya. Ya. Bagian putih di mata gadis itu dihiasi jaring urat-urat merah yang samar, dan kelopak matanya sedikit membengkak, memantulkan sisa-sisa kesedihan yang gagal disembunyikan secara sempurna. Itu bukan mata orang yang baru saja mual atau sakit perut. Itu adalah mata seseorang yang baru saja menangis habis-habisan dalam kesunyian. Tangis yang tertahan, yang air matanya dipaksa berhenti sebelum tuntas.
Sebuah helaan napas berat nyaris lolos dari bibir Dimas. Teori deduktifnya terbukti benar. Kepergian Anandara ke toilet tadi bukanlah karena sakit perut, melainkan pelarian dari rasa sakit yang tak tertahankan setelah ia dengan sengaja membuang pemuda yang dicintainya ke tangan sahabatnya sendiri.
Dimas merasa perutnya melilit. Ia seolah sedang melihat tragedi cermin dirinya sendiri. Di depan sana, Anandara duduk kembali di samping Sinta, mengubur perasaannya hidup-hidup demi sebuah persahabatan, sama persis seperti Dimas yang mengubur cintanya demi membiarkan Sinta mengejar Angga. Mereka berdua adalah martir bodoh yang sama-sama tersiksa di kelas ini.
Saat Anandara duduk kembali di kursinya, Sinta yang sedari tadi mencatat, langsung menoleh dengan raut wajah penuh kekhawatiran.
"Nan? Lo udah mendingan? Mualnya udah hilang?" bisik Sinta sambil menyentuh lengan sahabatnya.
Anandara memaksa sudut bibirnya sedikit terangkat, membentuk senyum tipis yang meyakinkan. "Udah mendingan kok, Sin. Cuma asam lambung naik aja kayaknya gara-gara belum sarapan benar."
Sinta menatap wajah Anandara lebih lekat. Kekhawatiran di wajah gadis ceria itu perlahan berubah menjadi keheranan. Jarak mereka yang sangat dekat membuat Sinta bisa melihat apa yang berusaha disembunyikan Anandara.
"Nan..." Sinta mengerutkan dahinya, mendekatkan wajahnya. "Mata lo kenapa? Kok merah banget? Terus kelopaknya agak bengkak gitu. Lo habis nangis di toilet ya gara-gara perut lo sakit banget?"
Deg.
Jantung Anandara berdetak satu ketukan lebih cepat. Kepanikan merayap naik, namun insting bertahannya yang jenius langsung mengambil alih. Ia tidak boleh ketahuan. Jika Sinta tahu ia menangis, Sinta akan mencecarnya, dan ada probabilitas rahasianya akan terbongkar.
Dengan sangat natural, Anandara mengusap salah satu matanya dengan punggung tangan, lalu mendesis pelan seolah sedang menahan perih.
"Nangis apaan sih, lebay lo," kilah Anandara dengan nada sedikit ketus namun diselipkan tawa kecil yang meremehkan. Ia menatap Sinta dengan sebelah mata yang setengah terpejam. "Tadi pas gue cuci tangan di wastafel, sabun cuci tangannya muncrat. Kena mata gue dikit. Perih banget gila, gue kucek-kucek malah makin merah gini rasanya. Sialan emang tuh botol sabun."
Mendengar penjelasan yang sangat masuk akal itu, raut keheranan di wajah Sinta seketika menguap, digantikan oleh simpati yang polos dan sedikit tawa geli.
"Ya ampun, Nanda! Lo itu ya, otak aja yang sekelas Einstein, tapi buka botol sabun cuci tangan aja bisa muncrat ke mata!" Sinta tertawa tertahan sambil menepuk lengan Anandara. Ia segera merogoh tasnya dan mengeluarkan tisu basah kecil. "Makanya jangan barbar dong kalau cuci tangan. Sini, gue bersihin sisa sabunnya, siapa tau masih ada di sekitar kelopak mata."
"Nggak usah, Sin, udah gue bilas pakai air banyak-banyak tadi. Udah mendingan kok, cuma sisa merahnya aja," tolak Anandara halus, mengambil tisu itu dari tangan Sinta. "Udah ah, perhatiin lagi tuh Bu Santi. Nanti kalau ditunjuk buat jawab studi kasus lo malah plongo."
Sinta terkikik pelan, kembali menghadap ke depan dan fokus pada catatannya. "Iya, iya, Nyonya Es."
Anandara menghela napas yang sangat tipis dan tak kentara. Selamat. Alibinya berhasil dengan sempurna. Kebohongan kecil tentang sabun cuci tangan itu telah menyelamatkan rahasia besarnya. Ia menatap Sinta dari sudut matanya, melihat sahabatnya itu tersenyum-senyum sendiri menatap catatannya.
Maafkan aku, Sinta. Aku harus berbohong padamu, batin Anandara merintih pedih. Ini semua demi kita.
Di barisan paling belakang, interaksi kecil antara Sinta dan Anandara itu tidak luput dari pengawasan Dimas. Meski ia tidak bisa mendengar obrolan mereka secara detail karena jarak, Dimas bisa membaca gerak bibir mereka dengan cukup jelas, dan ia melihat bagaimana Sinta tertawa kecil setelah menunjuk mata Anandara.
Dimas menghela napas panjang. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan lambat. Sebuah senyum sinis yang sarat akan ironi dan rasa kasihan tersungging di bibir pemuda berkacamata itu.
Sabun cuci tangan? batin Dimas mengejek dalam diam. Alasan klasik macam apa itu? Seorang jenius sekelas Anandara hanya bisa membuat alasan sebodoh sabun cuci tangan untuk menutupi tangisnya? Dan yang lebih menyedihkan, Sinta percaya begitu saja.
Dimas kembali menggelengkan kepalanya, merasa takjub dengan betapa butanya orang-orang jika sudah dihadapkan pada realita yang tak ingin mereka lihat. Sinta terlalu dibutakan oleh perasaannya pada Angga hingga gagal melihat penderitaan sahabat karibnya sendiri. Dan Anandara terlalu cerdas dalam menipu dirinya sendiri hingga bersedia hancur demi sebuah ilusi kebahagiaan.
Gerakan kepala Dimas yang berulang-ulang itu ternyata menarik perhatian orang di sebelahnya.
Angga, yang sejak Anandara kembali ke kelas memilih untuk fokus pada layar laptopnya dengan wajah dingin dan rahang yang masih sedikit mengeras akibat penolakan brutal tadi, melirik ke arah Dimas. Pemuda tampan itu mengerutkan alisnya melihat temannya menggeleng-gelengkan kepala dengan ekspresi frustrasi menatap ke arah depan.
"Kenapa lo?" tanya Angga dengan suara baritonnya yang rendah dan datar.
Dimas tersentak pelan. Ia menoleh ke arah Angga. Ia melihat wajah sahabat barunya itu masih memendam kekecewaan dan amarah yang tertahan pada Anandara. Angga sama sekali tidak tahu bahwa gadis yang baru saja meneriakinya dan mengusirnya itu sebenarnya pergi ke toilet untuk menangisinya. Angga tidak tahu bahwa penolakan tadi adalah bentuk pengorbanan yang berdarah-darah.
Selama sepersekian detik, Dimas merasa ingin membongkar semuanya. Ia ingin mencondongkan tubuhnya dan berbisik pada Angga, Gadis yang lo suka itu nangis di toilet gara-gara nolak lo demi temannya. Dimas ingin menghancurkan sandiwara konyol ini agar semuanya jelas, agar Angga berhenti membenci Anandara, dan agar Sinta sadar akan posisinya.
Namun, Dimas adalah pengamat, bukan penghancur. Jika ia membuka rahasia itu, ia tidak hanya akan mengkhianati penderitaan Anandara yang mati-matian disembunyikan, tetapi ia juga akan menghancurkan hati Sinta—gadis yang paling ia cintai di dunia ini. Sinta akan hancur mengetahui bahwa cinta pertamanya menyukai sahabatnya sendiri, dan bahwa sahabatnya berbohong padanya. Dimas tidak sanggup melihat Sinta menangis.
Maka, seperti halnya Anandara, Dimas memilih untuk menelan ludah dan melindungi kebohongan ini dengan kebohongan lainnya.
Dimas membenarkan letak kacamatanya, memutus kontak mata dengan Angga, dan membuang pandangannya kembali ke layar laptop. Ia memasang wajah datar andalannya.
"Nggak apa-apa," jawab Dimas singkat, suaranya dibuat semalas mungkin. "Gue laper lagi. Sialan, padahal baru aja makan bubur ayam sebelum kelas mulai."
Angga mendengus pelan, rasa herannya menguap seketika mendengar alasan konyol itu. Ia mengalihkan pandangannya kembali ke layar laptopnya, tak menaruh curiga sedikit pun. "Perut lo karung goni apa gimana? Tahan bentar, lima belas menit lagi kelas bubar."
"Hm," gumam Dimas tak acuh.
Kelas Pengantar Akuntansi siang itu pun berlanjut menuju menit-menit akhirnya, membawa serta rahasia-rahasia gelap yang tersimpan rapi di bawah meja dan di sudut-sudut ruangan.
Di barisan depan, Rehan dan Reza berbisik merencanakan taktik game untuk nanti malam. Di barisan tengah, Sinta tersenyum menatap masa depannya yang ia pikir akan indah bersama Angga, sementara Anandara duduk membeku di sebelahnya, memasang wajah sedingin es untuk menyembunyikan hatinya yang sedang berdarah dan hancur berkeping-keping.
Dan di barisan belakang, Angga menekan tuts keyboard laptopnya dengan sedikit kasar, menahan rasa kecewa pada gadis yang ia anggap tak punya hati, sementara Dimas duduk dalam diam, menjadi satu-satunya saksi bisu dari panggung sandiwara paling menyayat hati di fakultas ini. Tangis yang tertahan, cinta yang tak terucap, dan pengorbanan yang sia-sia, semuanya berpadu menjadi sebuah bom waktu yang terus berdetak, menunggu saat yang tepat untuk meledak dan menghancurkan mereka semua.
pengamat Senja_