NovelToon NovelToon
Cinta dalam Diam, Rindu dalam Sentuh.

Cinta dalam Diam, Rindu dalam Sentuh.

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Romantis
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: RosaSantika

Pernikahan kontrak antara Elvano dan Aira awalnya hanya sandiwara. Namun, kebersamaan perlahan mengubah rasa benci menjadi cinta, dan sikap dingin Elvano berubah menjadi posesif serta sangat romantis.

Sayangnya, kebahagiaan mereka terusik saat mantan kekasih Elvano, Natasha, kembali dengan niat merebutnya kembali. Ditambah kedatangan Ardi, mantan gebetan Aira, serta berbagai fitnah yang memicu kesalahpahaman.

Mampukah mereka melewati semua ujian dan membuktikan bahwa cinta mereka adalah yang terkuat? Ikuti kisah manis, sedih, dan romantis abadi mereka! 💖🔥

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RosaSantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5

“Wih… galak banget sih Bos Besar hari ini?” ledek Raka saat Elvano masuk. “Apa karena lagi mikirin calon istri ya? Hati-hati lho Van, nanti kalau ketemu ceweknya jangan kaku banget gitu dong. Nanti dia lari ketakutan.”

Elvano menatap datar ke arah Raka, lalu berjalan mendekati kursi kebesarannya dan duduk dengan santai namun anggun.

“Urusi kerjaan lo sendiri. Lo udah siapin semua keperluan buat lamaran nanti? hadiah, dan semua perlengkapannya? Jangan sampai ada yang kurang atau salah."

"Udah dong! Siap semua serba lengkap!" Raka mengacungkan jempol. "Tim gue udah kerja lembur semalam suntuk demi acara besok. Cincinnya juga udah dipilih yang paling mewah dan cantik sesuai selera lo yang elegan itu."

" Kalo cincinnya gak sesuai sama ekspektasi gue, nanti biar gue aja yang milih sendiri." lanjut Elvano

"Siap boss"

Raka berjalan mendekati meja, lalu duduk santai di sofa tamu di sudut ruangan.

"Tapi gue heran deh sama lo, Van. Kenapa buru-buru banget sih? Kenapa gak kenalan dulu? Jalan bareng dulu, nonton bioskop, makan malam romantis gitu? Biar ada rasanya dikit."

Elvano membuka laptopnya, jari-jarinya mulai mengetik cepat di atas keyboard, tampak sangat sibuk dan fokus.

"Awalnya sih gitu, tapi kalo dipikir-pikir buat apa?" sahutnya dingin tanpa menoleh. "Gue cuma butuh dia ada di sana, berdiri tegak, jadi pajangan yang cantik dan sopan di depan keluarga dan rekan bisnis. Nanti juga setelah kontrak habis kita pisah. Gak perlu banyak basa-basi, gak perlu banyak drama, gak perlu pura-pura mesra. Semuanya jelas dari awal."

Raka terkekeh pelan mendengar jawaban datar itu.

"Yeee... ngomong doang keren! Mulut sih setajam silet, hati siapa yang tahu?" Raka menggeleng-gelengkan kepala. "Tadi gue lewat daerah rumah Aira lho, mau ngecek kondisi rumahnya... wah sahabatnya itu lho! Dinda kan? Heboh parah sumpah!"

Mendengar nama Dinda, jari-jari Elvano berhenti mengetik sejenak. Dia menoleh sedikit, mengangkat sebelah alisnya.

"Terus kenapa sama dia?" tanyanya datar.

"Ya ampun lucu banget sih cewek itu!" Raka tertawa terbahak-bahak mengingat kejadian tadi. "Gue denger dari jauh dia teriak-teriak nyaring banget! 'HATI-HATI JANDA MUDA!!' Huahaha! Kocak banget! Gak takut apa dia teriak gitu di rumah calon istri Bos Besar, mana suaranya kedengaran sampek ke luar rumah lagi"

Mata Elvano menyipit, mendengar kalimat itu. Sudut bibirnya tersenyum miring, senyum yang terlihat sinis namun ada sedikit geli di sana.

"Janda muda? Berani banget dia ngomong gitu," gumam Elvano pelan, suaranya terdengar rendah dan berwibawa. "Gue pastiin itu nggak akan pernah terjadi selama kontrak berjalan. Selama dia jadi istri gue, statusnya istri sah. Gue gak main-main sama status sosial dan nama baik keluarga. Janda itu urusan nanti, dan gue harap gak perlu terjadi."

"Ah elah sombong!" Raka melipat tangannya di dada. "Tapi serius Van... lo yakin lo bakal tahan hidup sama cewek polos kayak gitu? Lo yakin lo gak bakal jatuh hati duluan? Lo tahu kan cewek baik-baik itu bahaya buat hati cowok dingin kayak lo?"

Elvano langsung memalingkan wajahnya, ia menatap pemandangan kota dari kaca jendela besar itu dengan tatapan yang dingin.

"Mimpi." Jawabannya singkat, padat, dan jelas. "Gue udah bilang berkali-kali. Cinta itu omong kosong yang bikin sakit hati. Gue nikahin dia karena dia pas, karena dia butuh, dan karena gue butuh. Cuma itu. Sekarang lo keluar dari sini, gue sibuk banyak kerjaan."

"Yah galak lagi!" Raka berdiri sambil tertawa. "Yaudah ya Bos, gue pamit mau ngecek persiapan terakhir. Istirahat yang cukup ya, beberapa hari lagi lo bakal lamaran dan lo harus tampil ganteng maksimal!"

Raka berlari kecil keluar dari ruangan itu sebelum Elvano sempat melayangkan tatapan membunuhnya lagi.

Setelah pintu tertutup, keheningan kembali menyelimuti ruangan kerja yang luas itu. Elvano kembali menatap layar komputernya, tapi entah kenapa fokusnya buyar. Bayangan wajah gadis bernama Aira yang polos dan ketakutan, serta teriakan heboh sahabatnya soal 'janda muda' tadi, entah kenapa terus berputar di kepalanya dan sedikit saja mengganggu konsentrasinya.

****

Kembali di kamar Aira, matahari sudah benar-benar terbenam. Langit di luar jendela sudah berubah warna menjadi ungu gelap, dan lampu-lampu jalan mulai dinyalakan satu per satu, menerangi jalanan kecil di perumahan itu.

Aira dan Dinda kini sudah duduk bersandar di kepala ranjang, selimut menutupi pinggang mereka berdua. Suasana sudah jauh lebih tenang dibandingkan tadi saat badai emosi melanda. Mereka sudah menangis, sudah tertawa, dan sudah membicarakan segalanya.

"Jadi gitu deh ceritanya, Din..." Aira menghela napas panjang, menatap bayangan dirinya di cermin lemari yang ada di seberang kamar. "Beberapa hari lagi keluarga mereka datang buat lamaran resmi. Keluarga Mas Elvano dan orang tuanya bakal datang langsung ke sini."

Aira memainkan ujung jarinya sendiri dengan gugup.

"Setelah acara lamaran selesai dan resmi, katanya Aira bakal diajak pindah dulu tinggal sebentar di rumah orang tuanya, biar bisa kenalan sama keluarga besar dan belajar tata krama di lingkungan mereka. Terus nanti pas hari H akad nikah, setelah sah, Aira langsung tinggal di rumah pribadi milik Mas Elvano yang terpisah."

Dinda mengangguk-anggukkan kepalanya perlahan, mencoba mencerna semua informasi itu. Matanya menatap Aira lekat-lekat, penuh dengan perhatian.

"Oke deh Ra... kalau itu jalan yang lo pilih dan itu yang terbaik buat Papa dan keluarga lo, gue dukung seratus persen. Gue gak bakal ngelarang-larang lo lagi karena gue tahu seberat apa beban di pundak lo sekarang."

Dinda memegang tangan Aira erat-erat, lalu menatapnya dengan wajah sangat serius, kali ini nadanya lembut namun penuh dengan penekanan.

"Tapi inget terus kata gue tadi ya... HATI-HATI JANDA MUDA!"

Aira mendengus kesal tapi tersenyum. "Iya iya... Aira inget kok Din. Ribet amat yak."

"Bukan ribet, tapi peringatan!" Dinda mencubit pelan pipi Aira. "Lo itu cewek cantik, baik, lembut, dan punya aura yang bikin nyaman. Cowok mana sih yang gak luluh diliatin mata lo kayak gitu? Jadi lo harus jaga hati lo baik-baik. Jangan sampai lo yang baper duluan. Jangan sampai lo berharap lebih. Inget terus di otak lo kalau ini cuma kerja sama, cuma kontrak, dan nanti pasti berakhir."

"Aira janji, Din..." Aira tersenyum lemah, menundukkan pandangannya. "Aira bakal jaga hati Aira sebaik mungkin. Aira gak bakal berharap lebih dari yang seharusnya."

"Nah gitu dong! Pinter!" Dinda tersenyum lebar, kembali ceria seperti semula. "Udah ah jangan sedih-sedih lagi! Mulai sekarang lo calon Nyonya Besar! Calon Ibu Praditya! Lo harus percaya diri! Lo cantik kok Ra! Pantes banget sama dia walaupun dia dingin kayak es batu!"

Dinda langsung merangkul bahu Aira, lalu berteriak sedikit heboh.

"Ayo dong senyum! Beberapa hari lagi kan hari besar! Lo harus tampil secantik mungkin biar mereka semua terpana! Biar si Bos Besar itu juga melongo liat calon istrinya cantiknya masyaallah!"

Aira akhirnya tertawa kecil, rasa cemasnya sedikit berkurang karena tingkah lucu sahabatnya itu.

"Makasih ya Din... makasih udah ada di sini nemenin Aira. Kalau gak ada kamu, mungkin Aira udah nangis seharian nggak berhenti."

"Ah elah masa sih!" Dinda tertawa. "Tugas sahabat itu emang gitu, Ra. Di saat senang kita ikut senang, di saat susah kita ada buat saling menguatkan. Lagian siapa lagi yang bakal ngeledek lo kalau bukan gue?"

Malam itu berlalu begitu saja. Dinda memutuskan untuk menginap di rumah Aira untuk menemani sahabatnya itu, dan sesekali tertawa atau berhenti sejenak untuk saling menguatkan.

Di bawah langit malam yang gelap, di dua tempat yang berbeda, dua hati itu sedang bersiap. Satu dengan logika dan kesombongan, satu dengan ketulusan dan pengorbanan.

Beberapa hari lagi adalah hari di mana takdir mereka akan resmi diikat. Dan permainan cinta yang sesungguhnya baru saja akan dimulai.

1
🍒⃞⃟🦅 Gami
mantap
Rosa Santika: makasih udah komen kk xixixi
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!