NovelToon NovelToon
THE UNOFFICIAL HOUSEMATE

THE UNOFFICIAL HOUSEMATE

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:882
Nilai: 5
Nama Author: Senja_Puan

Nala hanya ingin memulai hidup baru, bukan malah terjebak satu atap dengan Saga—arsitek dingin yang memperlakukan apartemennya seperti museum suci. Akibat ditipu agen properti, keduanya terpaksa berbagi unit 402 dengan satu garis imajiner sebagai batas perang.
Nala yang berantakan adalah "polusi" bagi hidup Saga yang simetris. Mereka saling benci, saling mengusir, namun dipaksa bernapas di ruang yang sama setiap hari. Tapi, saat jarak hanya sebatas dinding tipis dan rahasia mulai bocor, garis pembatas itu tak lagi cukup untuk menahan debaran yang salah alamat.
Di Unit 402, aturan nomor satu sangat jelas: Jangan sampai jatuh cinta. Tapi di antara mereka, siapa yang akan melanggar kontrak itu lebih dulu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16. Viral

Pesta housewarming dadakan itu akhirnya berakhir pukul sembilan malam. Begitu pintu tertutup dan suara tawa Maya, Riri, dan Dika menghilang di lorong apartemen, Nala langsung merosot di balik pintu.

Napasnya memburu, sementara Saga berdiri di tengah ruang tamu dengan tangan bersedekap, menatap tumpukan kotak piza kosong dan remahan keripik di atas karpet mewahnya.

"Mati aku, Mas. Kali ini aku beneran mati," gumam Nala sambil menatap layar ponselnya yang terus-menerus bergetar.

Saga menaikkan sebelah alisnya. "Kenapa?

Teman-temanmu menuntut piza tambahan?"

Nala mengangkat ponselnya dengan tangan gemetar.

"Lebih parah. Maya... si mulut ember itu... dia memposting foto Mas tadi pas lagi bukain pintu balkon ke grup WhatsApp alumni sekolah kita. Dan entah gimana caranya, foto itu sampai ke tangan sepupu aku, lalu disebar ke GRUP KELUARGA BESAR!"

Saga tertegun. Ia merebut ponsel Nala dan melihat sebuah foto dirinya yang sedang tersenyum kaku (hasil paksaan Nala) dengan caption: "Calon Suami Nala di Jakarta. Arsitek ganteng, punya unit loft! Fix nikah bulan depan!"

Di bawahnya, rentetan komentar dari "Tante

Girang", "Uwa Nanang", sampai "Mama" membanjiri layar.

Mama: "Nala! Kenapa nggak bilang-bilang kalau calonnya seganteng ini? Mama sudah sujud syukur!"

Uwa Nanang: "Kapan lamaran resminya? Uwa siap jadi saksi!"

Saga melempar ponsel itu ke sofa seolah benda itu beracun.

"Nala, ini sudah di luar kendali. Foto saya sekarang tersebar di seluruh garis keturunanmu! Kamu tahu apa artinya? Reputasi saya sebagai pria lajang yang berwibawa hancur dalam satu kali klik!"

"Mas pikir aku nggak panik?!" Nala berdiri, wajahnya memerah.

"Mas tadi juga kenapa pakai ngaku-ngaku jadi calon pengantin segala di depan mereka? Harusnya Mas bilang aja Mas itu... itu pemilik apartemen yang lagi inspeksi!"

"Inspeksi di bawah kasur?!" bentak Saga, suaranya menggema di langit-langit loft.

"Logika macam apa itu? Saya terpaksa mengikuti kebohonganmu supaya kamu tidak diseret ke kantor polisi karena membawa laki-laki asing!"

Mereka berdua terengah-engah, saling tatap di tengah ruangan yang kini berantakan.

Perlahan, emosi Saga mulai mereda, berganti dengan rasa lelah yang luar biasa. Ia duduk di kursi kerjanya, memijat pelipisnya yang berdenyut.

"Duduk, Nala. Kita harus bicara serius," ujar Saga, suaranya kini rendah dan dingin.

Nala menurut. Ia duduk di tepi sofa, menjaga jarak aman dari "zona merah" milik Saga.

"Kita terjebak," Saga memulai.

"Mama saya sudah pesan gedung. Keluarga kamu sudah syukuran di kampung. Foto saya sudah jadi konsumsi publik keluarga besar Rizki. Kita tidak bisa sekadar bilang 'ini cuma salah paham' tanpa menghancurkan hati orang tua kita."

Nala menunduk, memainkan jari-jarinya. "Aku tahu. Tapi kita nggak mungkin nikah beneran, Mas. Kita baru kenal seminggu. Kita bahkan nggak bisa sepakat soal cara motong apel!

Gimana mau sepakat soal cicilan rumah dan pendidikan anak?"

Saga terdiam sejenak mendengar kata "anak". Ia berdeham keras untuk menghilangkan bayangan aneh yang mendadak muncul di kepalanya.

"Saya punya usul. Kita jalani saja sandiwara ini sampai hari pernikahan itu makin dekat. Selama tiga puluh hari ini, kamu cari kerja. Saya akan bantu kamu terlihat sukses di depan teman-temanmu."

"Terus pas hari H-nya gimana? Kita kabur? Mas mau kita jadi buron?"

"Bukan kabur. Kita akan buat alasan yang logis untuk 'menunda' pernikahan tanpa menyalahkan satu sama lain. Misalnya... proyek luar negeri yang mendadak, atau apa pun itu. Tapi untuk sekarang, demi ketenangan Mama saya dan keselamatan namamu di depan keluargamu, kita harus tetap menjadi 'calon pengantin'."

Nala menatap Saga dengan ragu. "Mas beneran mau bantuin aku? Kenapa? Bukannya Mas benci banget sama aku?"

Saga menatap mata Nala. Ada jeda panjang di mana hanya suara detak jam dinding yang terdengar.

"Saya tidak benci kamu, Nala. Saya cuma benci kekacauan yang kamu bawa. Tapi melihat kamu tadi gemetaran saat teman-temanmu hampir naik ke atas... saya sadar kalau kamu juga korban di sini."

Nala tertegun. Ini pertama kalinya Saga berbicara dengan nada yang hampir manusiawi—bukan robot beton yang biasanya.

"Makasih, Mas. Dan... maaf soal selotipnya yang sering aku injak."

"Selotipnya akan tetap ada," potong Saga cepat, kembali ke sifat aslinya.

"Mulai besok, kamu tidak boleh bawa tamu tanpa izin saya. Dan kamu harus mulai belajar sedikit tentang arsitektur supaya kalau ditanya keluargamu, kamu nggak bilang saya kerja sebagai 'tukang gambar istana boneka'."

Nala mendengus, tapi kali ini sambil tersenyum tipis. "Oke, Arsitek Robot. Kesepakatan diterima."

Saga bangkit dari kursinya. "Sekarang, bersihkan sisa piza ini. Bau saus tomatnya mulai merusak konsentrasi saya."

"Iya, iya! Dasar perfeksionis!"

Nala mulai memunguti kotak piza, sementara Saga berjalan ke balkon, menatap lampu-lampu Jakarta. Di dalam hatinya, Saga bertanya-tanda: apakah tiga puluh hari benar-benar cukup untuk mempersiapkan perpisahan, atau justru waktu yang terlalu lama untuk menghindari perasaan yang mulai tumbuh di Unit 402?

Tepat saat itu, sebuah notifikasi masuk ke ponsel Saga. Dari Ibunya.

Mama: "Saga, Mama sudah DP kateringnya. Nala suka rendang atau opor untuk menu utama?"

Saga hanya bisa menghela napas panjang. Gencatan senjata mereka baru saja dimulai, tapi sepertinya medan perang yang sebenarnya adalah hati mereka sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!