NovelToon NovelToon
Kehilangan Di Hari Pelantikan

Kehilangan Di Hari Pelantikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Dark Romance / Balas Dendam
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: linda huang

Nathan Han yang mengejar ambisinya sehingga mengabaikan tunangannya. Pada hari ia terpilih sebagai pemimpin organisasi terbesar di kota itu, tunangannya, Calista Li, ditemukan terjun ke laut dan dinyatakan meninggal. Tanpa pesan. Tanpa alasan.

Lima tahun kemudian, Nathan Han menjadi pemimpin yang ditakuti. Dingin dan tanpa belas kasihan. Suatu malam, saat ia diburu musuh, ia bertemu dengan seorang gadis. Wajah gadis itu sangat mirip dengan Calista yang telah mati.

Siapakah gadis itu sebenarnya? Dan apakah Nathan akan mencintai gadis yang begitu mirip dengan tunangannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Darah terus mengalir dari luka tembak di perut Nathan, merembes hangat di balik kemejanya. Napasnya mulai berat, pandangannya mengabur, namun tangannya tetap menekan luka itu sekuat mungkin.

Ia tahu, jika terus bertahan di mobil, ia hanya akan mati di sana.

Dengan sisa kesadaran, ia membelok keluar dari jalan utama dan berhenti di gang gelap yang sepi. Tanpa membuang waktu, ia mengenakan masker, menarik topi rendah, lalu turun dari mobil dan meninggalkannya begitu saja.

Langkahnya berat. Setiap pijakan terasa goyah, darah masih mengalir meski tersembunyi oleh jas hitamnya. Ia berjalan tanpa arah pasti, hanya mencari tempat aman sebelum kesadarannya benar-benar hilang.

Di tikungan sempit, tubuhnya bertabrakan dengan seseorang.

Seorang wanita.

Kantong di tangannya jatuh, isinya berserakan. Nathan hampir roboh, namun refleks mencengkeram bahu wanita itu untuk menahan diri. Napasnya berat, hangat, dengan aroma darah yang samar.

Wanita itu terdiam sesaat.

Lalu menyadari sesuatu yang tidak wajar.

Tangannya yang menyentuh sisi jas pria itu… basah.

Darah.

“…Kau terluka?”

Nathan tidak menjawab.

Tubuhnya kembali goyah, namun sebelum jatuh, pandangannya tanpa sengaja terangkat.

Dan saat itu... Ia melihat wajah wanita di hadapannya dengan jelas.

Waktu seolah berhenti.

Tatapannya membeku.

Napasnya tertahan.

Wajah itu…

Begitu familiar.

Garis wajahnya. Sorot matanya. Bahkan ekspresi bingungnya—

Semuanya terlalu mirip.

“…Calista…?” suaranya nyaris tak terdengar, serak dan tidak percaya.

Wanita itu mengernyit, jelas tidak mengerti.

“Siapa…?” gumamnya pelan.

Tiba-tiba, suara berisik terdengar dari kejauhan.

“Cepat, berpencar! Dia ada di sekitar sini. Dia sudah terluka, tidak akan bisa lari jauh!”

Langkah kaki mulai mendekat.

Tatapan Nathan langsung menajam. Tanpa ragu, ia menarik Liora masuk ke dalam gang sempit di samping mereka. Tubuh wanita itu terbentur dinding, napasnya tertahan.

Dalam satu gerakan cepat, Nathan menodongkan pistol ke arahnya.

“Jangan bersuara,” desisnya rendah.

Liora membeku. Jantungnya berdegup kencang, namun ia tidak berani bergerak. Pria di depannya mengenakan masker dan topi, wajahnya tersembunyi, hanya menyisakan sepasang mata tajam yang dipenuhi tekanan dan rasa sakit.

Langkah para pengejar semakin dekat.

Suara mereka kini jelas, hanya beberapa meter dari tempat persembunyian itu.

Nathan menahan napas, tubuhnya menegang. Tangan yang memegang pistol tetap stabil, meski darah terus mengalir dari lukanya.

Dalam diam, ia kembali melirik Liora.

Wajahnya dan sepasang mata itu.

Beberapa saat kemudian, suara langkah kaki itu benar-benar menghilang. Gang kembali sunyi, seolah tidak pernah terjadi apa pun.

Nathan perlahan menurunkan pistolnya, namun kewaspadaannya belum hilang.

Napasnya masih berat, tubuhnya semakin lemah.

“Siapa namamu?” tanyanya singkat.

Wanita itu menatapnya sejenak sebelum menjawab, “Margaku Meng. Namaku Liora.”

Nathan terdiam.

Meng…

"Sepertinya aku pernah mendengar nama ini," gumam Nathan.

"Kenapa wajahnya mirip dengan Calista, tapi sifatnya berbeda?" batin Nathan.

Suara Liora memutus lamunannya.

“Kalau kau percaya padaku, aku bisa mengobati lukamu. Jika dibiarkan, kau akan kehilangan terlalu banyak darah. Itu berbahaya.”

Nathan tidak langsung menjawab. Ia menatap wanita itu sejenak, seolah menilai.

Dalam kondisinya sekarang, ia tidak punya banyak pilihan.

“Di mana rumahmu?” tanyanya akhirnya.

“Di seberang jalan,” jawab Liora pelan.

Nathan terdiam sesaat, lalu perlahan mengangguk.

Tanpa berkata lagi, ia menurunkan tangannya sepenuhnya. Namun tubuhnya hampir goyah saat mencoba melangkah.

Liora refleks menahannya.

Dan kali ini, Nathan tidak menolak.

Beberapa saat kemudian.

Nathan bersandar di atas ranjang, napasnya tertahan saat rasa sakit dari peluru yang masih bersarang di tubuhnya semakin menusuk. Kemejanya terbuka sebagian, darah masih merembes dari luka di sisi perutnya.

Di sampingnya, Liora menyiapkan jarum dan alat seadanya yang telah ia bersihkan.

“Kau seorang dokter?” tanya Nathan lemah.

“Bukan,” jawab Liora tenang. “Tapi aku belajar pengobatan dari kakak angkatku selama lima tahun. Untuk luka seperti ini… aku masih bisa.”

Tanpa menunggu lagi, ia menyuntikkan obat bius di sekitar luka.

Nathan sedikit mengernyit, namun tidak banyak bereaksi. Masker dan topinya masih menutupi wajahnya. Tatapannya tetap tertuju pada Liora, tajam meski tubuhnya mulai melemah.

“Selama ini kau tinggal di mana?” tanyanya pelan.

“Di desa. Lalu ke kota untuk bekerja sambil belajar,” jawab Liora singkat. “Aku akan keluarkan pelurunya. Tahan.”

Tangannya bergerak hati-hati namun pasti.

Beberapa saat kemudian peluru itu berhasil dikeluarkan.

Darah dibersihkan, luka dijahit, lalu dibalut rapi.

Napas Nathan semakin berat.

Rasa sakit mulai mereda, namun tubuhnya justru terasa semakin ringan… terlalu ringan.

Pandangan di balik masker itu perlahan mengabur.

Bukan hanya karena obat, tetapi juga karena darah yang telah banyak hilang.

Untuk sesaat, ia masih berusaha bertahan.

Namun akhirnya, kelopak matanya tertutup. Dan ia pun tertidur.

Dua jam kemudian.

Nathan perlahan membuka matanya.

Ruangan asing menyambut pandangannya. Napasnya masih berat, namun lebih stabil. Saat menunduk, ia melihat lukanya sudah terbalut rapi.

Ia duduk perlahan, menahan nyeri, lalu turun dari ranjang. Kemeja bernoda darah kembali ia kenakan seadanya.

Dengan langkah pelan, ia keluar dari kamar.

Rumah itu sunyi.

Lampu ruang tamu menyala redup.

Di sofa ... Liora tertidur.

Tubuhnya meringkuk kecil, tampak kelelahan.

Nathan terdiam.

Tatapannya tertuju pada gadis itu cukup lama.

“Tidak mungkin…” gumamnya pelan. “Di dunia ini… tidak mungkin ada dua orang yang begitu mirip…”

Ia melangkah mendekat.

Wajah Liora terlihat jelas di bawah cahaya lampu.

Dan sekali lagi ... dadanya terasa sesak.

“…Calista?” bisiknya lirih.

Tangannya perlahan terangkat, ragu. Namun tetap ia ulurkan.

Ujung jarinya menyentuh rambut Liora dengan sangat hati-hati dan kemudian mencabut rambut gadis itu.

"Liora Meng, walau kau mirip dengannya, aku ingin memastikan apakah kau adalah orang yang aku cari atau bukan. Kalau bukan ... maka pertemuan ini anggap saja angin lalu. kalau kau adalah tunanganku...maka aku tidak akan melepaskanmu lagi," ucap Nathan dengan nada rendah.

1
Kinara Widya
jadi perawat Nathan selamanya..liora
Fortu
Tanda tanda ingatan mulai pulih ini
Fortu
semoga musuh Nathan tidak menyakiti Liora lagi
Fortu
syukurlah kalau tes DNA
dan semoga tidak menjadi korban lagi sebab musuh Nathan banyak
Fortu
ketemu ehh
Fortu
Ternyata hilang ingatan
Fortu
lalu ceritanya gimana identitas Calista bisa ada dimayat satunya, apakah ada orang yang memindahkan??
trus yang nolong Calista kerumah sakit itu siapa??
Fortu
bener kan si pak Tua ini
ckckck
Fortu
wahhhh tragedi berdarah
apakah Calista korban juga dari james
Fortu
licik juga Tuan James

btw apakah jims pelaku utama kekerasan terhadap Calista???

wah Nathan main halus ini
Fortu
Apakah james ayahnya jims yang melakukan itu🤔🤔
Fortu
Pasti diperkosa oleh Jims🤔🤔🤔
Fortu
Apa dia dapat kekerasan dari jim??
Fortu
Masalah Calista Li apa ya sampai buruh diri
Fortu
Yang ditemukan dilaut itu ada dua ya🤔
yang pertama ditemukan nelayan masih hidup
terus yang ditemukan polisi Calista Li
Apa identitas tertukar???
Fortu
mampir
Kinara Widya
iya...itu namamu Liora...
Kinara Widya
Nathan d lawan
Dini Anggraini
Marcus maaf salah tadi bunda🙏
Dini Anggraini
Nathan saat kamu menemui calista sebaiknya kamu dan Marco menyamar menjadi cewek atau apapun itu jadi saat kalian ke rumah sakit tidak ada yang mengenali kalian jangan sampai musuh2 mu menargetkan calista dan kamu kehilangan calista untuk kedua kalinya. 🙏🙏😍😍😍
Dini Anggraini: q kasihan calista bila jadi incaran musuhnya nathan kakak author dulu dia masih punya kesempatan kedua hidup lagi bila sekarang di incar kelemahan nathan q gak tahu lagi bagaimana jadi calista nanti kak. 👍👍👍😂😂😂
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!